Tuesday, December 05, 2017

Sebuah Pengalaman Pribadi; Batasan Bercanda dan Pelecehan Verbal



Image: smartwomeninspiredlives.com

Bercanda adalah ketika kita sama-sama menikmati candaan itu. Ketika satu di antara kita sudah mengungkapkan ketidaknyamanannya dan kita masih menggunakan hal itu untuk bercanda, maka kita tidak sedang bercanda, kita sedang melecehkan.

Ini berawal ketika saya menangis pada sebuah liputan malam di akhir Oktober, waktu itu saya merasa benar-benar lelah, tidak tahan lagi, saya merasa sendirian dan asing di tengah keramaian, ditambah PMS yang membuat mood saya rusak sejak pagi, benar-benar hari yang buruk.

Saya menangis di pojokan sementara ruangan itu sangat ramai. Ketika itu saya bertemu seorang teman dari media lain (oke setidaknya saat itu saya menganggapnya teman) dan dia melihat saya menangis, kemudian dia mengambil foto padahal saya sudah melarangnya. Tapi ya sudahlah, saya rasa tidak akan ada hal buruk yang terjadi hanya karena orang-orang tahu saya menangis, bagi saya menangis itu normal. Palingan saya dibercandain di grup, pikiran saya seperti itu.

Fyi saya belum genap dua bulan bekerja waktu itu, masih baru-barunya. 

Sejak peristiwa itu terjadi saya jadi sering bahan bercanda bagi teman-teman jurnalis lain ketika bertemu saat liputan maupun mengetik berita di warung kopi. Itu tidak masalah sama sekali, saya menganggap itu biasa dan saya sering tertawa bersama mereka ketika candaan itu dilempar. 

Tapi semakin hari arah dari candaan itu sepertinya membuat saya merasa dipojokkan, awalnya mereka bercanda tapi lama-kelamaan itu seperti sebuah ejekan. lambat-laun saya merasa seperti sedang dibully. Candaan mereka mulai tidak lucu bagi saya, apalagi ketika mereka membawa-bawa nama seorang teman yang memang saya akui sering saya ajak berdiskusi. Di antara teman-teman jurnalis yang saya kenal, dia yang banyak membaca buku, sehingga saya lebih sering mengobrol dengannya. Teman saya ini sudah bertunangan. Of course dia cowok.

Oleh teman-teman lainnya, kami sering diseret pada humor mereka. Walaupun saya sudah diam dan berusaha untuk tidak terlibat obrolan panjang. Sudah berkali-kali saya mengatakan langsung di depan mereka bahwa saya tidak suka gurauan itu, saya merasa tidak nyaman. Tapi tetap saja, hal itu terjadi berulang-ulang bahkan ketika saya sudah menunjukkan ekspresi tidak senang.

Sampai pada suatu malam, mereka bercanda di sebuah grup yang diisi jurnalis dari berbagai media dan didominasi laki-laki. Gurauan mereka melukai harga diri saya. Bukan hanya perasaan.

Seperti ini.

"Bang di mana? aku takut. Takut kedinginan bang, mau gak hangatin aku?"
"Bang temani aku yaaaa,"
"Aku takut, jembut bang ***** lebat, kayak brewok bang ****
"Tapi ***** bang ***** jangan ngaceng ya,"

Saya menangis ketika membacanya. Itu bukan bercanda, itu pelecehan, pelecehan verbal. Seketika saya merasa marah, malu, sedih, merasa rendah, sebuah perasaan yang tidak bisa saya tuangkan di sini. Saya orangnya humoris, saya biasa bercanda, teman-teman saya juga, tapi kami tahu batas bercanda adalah ketika orang tersebut telah mengungkapkan ketidaksukaannya maka candaan itu harus dihentikan, kalau masih dilanjutkan itu bukan lagi bercanda tapi melecehkan.

Saya sudah sering menerima berbagai candaan,  mulai dari yang rasis hingga body shaming, dan saya tidak marah. Berbeda dengan candaan ini, saya sudah berkali-kali mengungkapkan ketidaksukaan saya tapi mereka tetap melakukannya. Saya merasa harga diri saya sebagai perempuan tidak dipertimbangkan sama sekali, dan saya berhak marah.

Saya menangis karena merasa itulah satu-satunya yang bisa saya lakukan. Tangisan saya semakin menjadi waktu pacar saya menelpon. Saya tahu dia juga merasa sedih, saya jadi merasa tidak bisa menjaga diri di hadapan mereka, seakan selama ini saya bersikap sebagai perempuan murahan yang bisa mereka gunakan sebagai alat untuk memuaskan hasrat mereka melalui kalimat-kalimat itu, saya merasa selama ini kekurangan saya digunakan mereka untuk menciptakan humor-humor seksis, dan saya merasa semakin rendah diri karena di grup itu ada beberapa orang yang saya anggap teman tapi mereka membiarkan pelecehan itu berlanjut seakan mereka juga menikmatinya.

Perasaan sedih meliputi saya hingga keesokan harinya.

Saya bangun dengan keadaan yang sangat buruk. Seperti biasa mamak menelpon, saya tidak bicara sama sekali hingga beberapa menit sampai akhirnya dia tahu ada yang tidak beres. Saya menangis lagi, lebih dalam karena kekhawatiran keluarga akhirnya terjadi. Bapak mengambilalih pembicaraan setelah mamak mengungkapkan semua pendapatnya.

"Nak, tidak ada yang tidak bisa dikomunikasikan, kita selesaikan urusan dengan mereka. Kamu jangan bekerja di bidang ini lagi, bapak tidak mau kamu mendapat masalah," kalimat itu keluar dari mulutnya, terdengar berat, saya tahu dia khawatir.

Bapak memintaku berhenti menangis, berhenti bekerja dan pulang, saya tahu dia tidak pernah membiarkan saya menangis lama-lama.

Satu dari pelaku bullying bekerja di sebuah media yang dipimpin oleh teman baik paman, pembicaraan mengenai kejadian yang saya alami langsung merebak di keluarga. Semua menyarankan untuk keluar dari pekerjaan ini, dan paman akan bicara dengan temannya.

Akhirnya surat resign saya diketikkan kakak, keesokan harinya surat itu saya bawa ke kantor.

Sebelum saya serahkan, saya bertemu koordinator liputan, kami mengobrol banyak hingga saya mengungkapkan tujuan saya untuk mengantar surat pengunduran diri. Singkatnya saya mengungkapkan rentetan kejadian yang saya alami, mental saya belum siap.

Dia langsung mengambil tindakan, memanggil salah satu teman di kantor yang juga ada di grup itu. Selang beberapa menit kemudian sebuah pesan masuk, berisi permintaan maaf, pengirimnya adalah salah satu pelaku bullying.

Saya tidak ingin membalasnya, kalimat yang mereka tulis terlintas lagi. Suara mereka terngiang, seakan mereka mengungkapkannya langsung dan saya dapat melihat bagaimana mereka tertawa, menikmati pelecehan itu. Apalagi pelakunya adalah orang-orang yang rentang usianya jauh di atas saya, bahkan ada yang telah berkeluarga dan memiliki anak. Ya, memang, dewasa itu pilihan.

Korlip menahan saya, dia tidak menganjurkan untuk resign, dia mencoba membangun harga diri saya, membuat saya merasa lebih baik. Surat resign masih aman di map merah.

Setelah sharing itu, kejadian yang saya alami tersebar ke teman-teman kantor lainnya, satu per satu mengirimi saya pesan. Ada yang bertanya, ada yang memberi motivasi, ada juga yang menyarankan untuk bertindak serius. Hari itu kesedihan saya berubah jadi kegalauan, bagaimana mungkin saya meninggalkan tempat bekerja yang diisi orang-orang peduli seperti mereka.

Sore harinya salah satu redaktur di kantor sekaligus ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Pontianak, Dian Lestari mengajak saya bertemu untuk membicarakan ini.

Dia membagikan pengalamannya, membagikan keberaniannya pada saya. Darinya saya akhirnya sadar, korban bullying harus melawan.

Mungkin saya akan dianggap seorang pengadu, tapi saya sarankan pada siapa saja yang mengalami bullying, baik itu pelecehan verbal maupun fisik, jangan sembunyikan kejadian yang kalian alami. Speak up, karena itu membantu diri kita untuk pulih dari rasa rendah diri.

Dengan berani menceritakan apa yang kita alami, kita akan mendapat banyak keberanian, dan itulah yang saya dapatkan.

Setelah merasa rendah diri, mengutuk diri sendiri mengapa saya harus jadi perempuan penakut sehingga jadi korban bullying, merasa malu karena mereka menganggap saya ini murahan, saya akhirnya sadar,bullying itu tidak bisa dihindari, bullying harus dihadapi.

Kak Dian mengajak saya untuk berani.

Banyak yang memberi support supaya saya tidak terus-terusan menyalahkan diri sendiri dan merasa malu. Hingga hari ini saya masih bekerja, dan keluarga bisa menerima keputusan saya. Saya juga meminta supaya paman tidak memperpanjang masalah ini. Saya bisa menghadapi mereka.

Saya menulis ini untuk berbagi pengalaman, sebelumnya saya juga diskusikan ini dengan beberapa teman. Saya harus menuliskan ini supaya orang-orang yang mengalami hal serupa tidak memilih bungkam karena merasa malu menceritakan pelecehan yang mereka alami. Meski sampai saat ini saya masih menyalahkan diri saya mengapa saya harus menangis malam itu.

Kalau kalian menganggap ini hal biasa, ya tidak masalah. Tapi kalau ada yang mengatakan saya berlebihan, saya marah. Apa yang saya alami adalah pelecehan verbal, pelecehan melalui gurauan, menggoda secara terus menerus dengan kata-kata yang berkaitan dengan seks dan saya berhak untuk marah karena saya adalah korban. Saya tidak nyaman bahkan ini membebani psikis saya.

Terlebih pelakunya adalah orang-orang yang selama ini saya anggap bisa membimbing saya, membantu saya berproses karena saya masih baru di pekerjaan ini. Ternyata saya keliru.

Apa yang mereka lakukan membuat saya merasa rendah diri, menyalahkan diri sendiri, merasa dianggap perempuan murahan dan ini benar-benar menyiksa saya.

Mengapa ini terjadi? mengapa mereka bisa menikmati kalimat-kalimat seperti itu? karena mereka hanya menganggap perempuan sebagai objek. Perempuan bisa di-apakan saja, tidak perlu dipikirkan bagaimana perasaannya. Laki-laki merasa memegang kendali.

Mengapa pelecehan verbal terus terjadi? karena tidak banyak yang berani marah ketika menjadi korban sehingga pelaku merasa hal ini biasa-biasa saja, hal ini tidak melukai harga diri seseorang. Padahal dampak dari kalimat-kalimat itu sangat menyiksa korban.

Pelecehan verbal melalui candaan bisa jadi awal untuk melakukan pelecehan yang lebih serius. Karena itu perempuan harus berani bicara mengenai apa yang dialaminya. Dengan berani bicara dan membahas pelecehan yang dialami, perempuan lain bisa belajar dan tahu cara mengantisipasinya, ini seperti gerakan Hollaback di Jakarta. Sebuah gerakan melawan pelecehan verbal.

Pelecehan verbal itu selalu dilakukan beramai-ramai, kita tidak bisa menghindarinya, karena itu kita harus berani untuk melawannya.

Jangan diam ketika menjadi korban. Bicaralah supaya perempuan tidak hanya dijadikan objek, supaya lebih banyak yang memahami permasalahan gender dan mengerti perihal consent.

Bicaralah supaya batas antara candaan dan pelecehan jadi jelas, supaya mereka tidak melakukan hal itu lagi, membuat harga diri kita diinjak-injak karena mereka merasa memiliki kuasa untuk mengendalikan keadaan di lingkungan sosial. 

Thursday, November 23, 2017

Ilegal Logging dan Ingatan-Ingatan di Masa Kecil

Ratusan kubik kayu disita tim Mabes Polri di sebuah gudang penyimpanan kayu milik tersangka A di Jalan Trans Kalimantan, Desa Korek, Kecamatan Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Jumat (17/11/2017).
Empat hari sebelum peringatan hari pohon sedunia, kasus ilegal logging kembali terungkap di Kalbar. Saat itu yang turun langsung menangani kasus ini adalah Tim Mabes Polri, mereka mengamankan ratusan kubik kayu di sebuah gudang penyimpanan kayu di Ambawang, tepatnya di Jalan Trans Kalimantan, Desa Korek, Kecamatan Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Jumat (17/11).

Kasubit 3 Direktorat Tindak Pidana Tertentu, Kombes Pol Irsan S.H mengatakan kayu-kayu ini berasal dari Sandai, sebuah kecamatan di Kabupaten Ketapang. Kayu-kayu ini dianggap hasil pembalakan liar karena pelaku usaha atas nama A menggunakan IPK yang tidak sesuai peruntukkan. Kayu-kayu didapat dari berbagai sumber, mulai dari masyarakat lokal, pembalakan di hutan hak, bahkan hutan lindung. 
“Ilegal logging dengan modus dokumen palsu sebenarnya bukan hal baru,” ujarnya saat memberi press release dua hari setelah kejadian, Minggu (19/11).
Ini bukan kali pertama, kasus pembalakan liar terus terjadi dengan berbagai motif, seperti drama panjang Setya Novanto yang tidak kunjung selesai. Ini memberikan perspektif tersendiri bagi saya. 
Saya menghabiskan masa kecil selama tiga belas tahun di daerah yang dilimpahi hutan rimbun di Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu. Waktu saya SD bapak jarang pulang, saya ingat dia hanya pulang pada bulan-bulan tertentu, Desember ketika Natal, bulan Februari saat kakak ulang tahun, dan akhir Mei untuk merayakan ulangtahun saya. Yang saya tahu bapak menghabiskan banyak waktu di sawmill, jauh, di dekat perbatasan Sarawak, Malaysia..

Fyi, waktu saya SD transportasi utama di Kapuas Hulu harus ditempuh melalui jalur sungai, jalan darat baru dibangun ketika saya SMP itu juga masih ala kadarnya, jadi mobilisasi sangat sulit dilakukan makanya banyak kepala keluarga yang meninggalkan rumah untuk bekerja. Saat itu saya tidak tahu kalau pekerjaan mereka adalah menjarah hutan.
Saya tumbuh dengan ingatan tentang Hengking dan Apeng yang sering disebut dalam obrolan kakek dan bapak. Bertahun-tahun setelah saya tamat SD dan ilegal logging benar-benar dilarang, saya baru tahu Hengking dan Apeng ini adalah dua cukong yang berperan besar dalam penjarahan kayu di Kapuas Hulu. Mereka dekat dengan pemerintah sehingga berkali-kali lolos dari jerat hukum. 
Menjelang SMP, sebelum saya tamat SD bapak sudah tidak bekerja di sawmill. Tapi saya tidak pernah melupakan itu, sampai sekarang saya masih sering menuntut jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan waktu saya masih kecil. Mengapa nama Hengking dan Apeng sering disebut? Mengapa bapak jarang di rumah? Mengapa selalu wanti-wanti tiap ada polisi datang ke rumah? Dan itu tidak pernah terjawab, tapi saya tahu bapak menyadari kesalahannya pada bumi.
Ketika saya SMA berbagai tawaran untuk bapak dan kakek datang dari perusahaan yang bergerak di industri perkebunan kelapa sawit, mereka meminta belasan ribu hektar tanah untuk dijadikan lahan perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Embaloh Hulu, kakek yang seorang temenggung dinilai memiliki peran khusus untuk menentukan apakah industri ini boleh masuk atau tidak. Sementara bapak yang merupakan cucu dari Reang - temenggung pertama Tamambaloh - berperan sebagai penentu apakah belasan ribu tanah yang dilirik perusahaan tersebut diserahkan atau tidak karena wilayah yang mereka inginkan berada di wilayah kekuasaan Reang. Syukurlah hingga hari ini tidak sejengkal tanah Tamambaloh dimasuki industri perkebunan kelapa sawit.
Semua kejadian ini menunjukkan bahwa kejahatan terhadap lingkungan terus terjadi dan saya melihatnya secara langsung. Saya tumbuh dengan ingatan-ingatan ini, bahwa orang-orang terdekat saya pernah menjarah hutan, meski kini mereka menyadari bagaimana mereka dimanfaatkan saat itu, pertanyaan saya masih belum terjawab. 
Ketika mendapat kesempatan langsung untuk melihat gudang kayu milik A di Ambawang beberapa hari lalu, kejadian-kejadian yang terekam di ingatan saya kembali muncul. Saya akhirnya menyimpulkan bahwa manusia memang egois dan tidak pernah merasa cukup. Saya cukup baper, tapi itulah kenyataanya. 
Seperti korupsi dan isu SARA, kejahatan lingkungan juga tidak pernah tuntas. Untuk kejahatan ilegal logging, jumlah kayu kini terbatas, dan inilah yang menyebabkan ilegal logging tidak lagi jadi fokus yang utama di Kalbar.
“Ilegal logging tidak lagi menjadi yang utama di kita bukan karena kemampuan melakukan penegakan hukum, bukan karena kemampuan melakukan pengawasan dan penjagaan tapi karena memang faktanya kayu-kayu itu sudah habis,” kata Direktur Eksekutif WALHI Kalimantan Barat, Anton P Widjaya ketika saya mintai pendapat mengenai hal ini.

Hutan di Kalbar kini hanya tersisa di wilayah konservasi, itu juga penuh polemik di dalamnya, ada hak-hak masyarakat lokal yang harus dibatasi atas nama pelestarian lingkungan, penyelamatan bumi, atau apalah istilahnya yang memang tujuannya baik, saya pun mendukung walau tetap menyertakan tapi. 
Ilegal logging yang saya saksikan sejak kecil sampai sekarang setelah saya bekerja telah mengajarkan saya untuk memahami siapa saya di tengah semesta yang luas ini. Ya elah nulis panjang-panjang Cuma buat bilang ini. Hahaha.
Kita ini adalah bagian dari alam, bukan penguasa alam. Kita adalah satu kesatuan yang tinggal di satu planet bernama bumi. Kalau bumi rusak lantas anak cucu kita tinggal di mana? Bumi inilah satu-satunya tempat kita hidup, seperti kata Apai Janggut, "kalau ada yang jual bibit bumi, saya mau beli," sayangnya tidak ada yang menjual bibit bumi. Inilah satu-satunya tempat kita tinggal.

Ah membicarakan kejahatan lingkungan seperti ilegal logging mungkin tidak asique dan menarique, ya? ya sudah sih hehe.

Intinya kejahatan lingkungan ini harus dihentikan, kejahatan lingkungan yang bagaimanapun bentuknya, kita harus mencegahnya.

Mencegah dengan hal sederhana seperti mencegah adik kecil kalian untuk buang sampah sembarangan misalnya, atau mencegah diri kalian didekati cowok yang tiap hari memikirkan cara memajukan Provinsi tapi puntung rokoknya tidak diurus. ehehehe -__-

Memahami siapa diri kita di tengah semesta ini, kita yang hanya satu titik kecil di planet bernama bumi. Alam dan manusia adalah satu kesatuan, kita satu bagian, kita bukan penguasa, ktia bagian dari semesta.

Wednesday, November 08, 2017

Catatan Panjang untuk Lagu Berjudul Goblok Milik Puck Mude


Puck Mude ketika tampil dalam Konser Buku Kalbar Book Fair 2017 di Rumah Radakng, Jumat (3/11/2017).
Pertemuan pertama saya dengan Puck Mude, seorang musisi lokal beraliran musik rock and roll di Pontianak terjadi di sebuah acara Konser Buku, yang menjadi rangkaian acara Kalbar Book Fair 2017 yang dilaksanakan di Rumah Radakng sejak tanggal 1-7 November. Malam itu saya datang untuk meliput,  dan dia menjadi penyanyi yang mengisi acara tersebut. Satu di antara lagu yang dibawakannya berjudul Goblok. Sebuah lagu yang menurut saya cukup menggambarkan bagaimana peran perempuan ditentukan oleh konstruksi sosial.

Perempuan tidak bisa memasak goblok. Begitu kalimat yang terdapat dalam lirik lagunya. Agus Ramdani, nama asli dari Puck Mude mangatakan lagu itu merupakan bentuk kritik terhadap perempuan-prempuan masa kini yang telah melupakan kodratnya.

“Cewek nda bisa masak agak goblok, masa cewek ndak bisa masak, kan lucu, masa laki-laki yang masak? Pesan dari lagu ini ingin menyampaikan kodrat seorang cewek harus bisa masak. Kalau zaman dulu anak cewek harus bisa masak, tapi sekarang sudah dilupakan. Cewek sekarang  shopping, clubbing, pacaran jago. Disuruh masak masa nda mau. Macam mana cerita?,” katanya saat saya temui seusai acara malam itu.

Lirik lagu Goblok terngiang-ngiang di telinga saya sampai berhari-hari setelahnya. Tadi pagi saya membuat survey kecil-kecilan, melalui poling Instagram saya bertanya setujukah dengan anggapan yang mengatakan cewek yang tidak bisa memasak goblok, hasilnya dari 221 responden, 81 % mengatakan tidak setuju sedangkan 19 % memilih setuju.

Hasil poling menunjukkan mayoritas teman-teman di instagram saya bukanlah orang-orang yang berpikiran purba. ehe. Mungkin kalau pertanyaan ini saya lempar ke ruang lingkup yang lebih kecil dan khusus, hasilnya akan berbeda, mengingat pertemanan di Instagram tidak terbatas dari kalangan dan daerah tertentu.

Menyoal tentang lirik lagu Goblok yang mengatakan cewek tidak bisa memasak goblok yang kemudian ditegaskannya dengan pernyataan memasak adalah kodrat perempuan, saya ingin meluruskan apa yang dimaksud kodrat.

Kodrat merupakan sesuatu yang datang dari Tuhan, yang sifatnya tidak bisa ditukar-tukar. Kodrat membedakan jenis kelamin. Berbeda dengan gender yang merupakan peran sosial yang diberikan untuk perempuan dan laki-laki. Gender antara laki-laki dan perempuan bisa ditukar, bisa saling melengkapi. Perempuan sering dilekatkan dengan pekerjaan domestik sementara laki-laki dengan pekerjaan produktif. Perempuan dan laki-laki bisa saling melengkapi dalam gender, bisa bertukar posisi, tetap tidak dengan kodrat.

Kodrat adalah sesuatu yang tidak bisa diubah, kodrat perempuan tidak bisa diubah oleh kodrat laki-laki, dan sebaliknya. Kodrat perempuan ada tiga, yaitu mengandung, melahirkan, dan menyusui. Ini adalah kodrat perempuan karena hal ini tidak bisa digantikan laki-laki.

Jadi, apakah memasak itu kodrat perempuan? 
Tentu saja bukan. Kodrat perempuan hanya tiga.

Memasak bukanlah kodrat. Memasak merupakan keahlian. Anggapan yang mengatakan perempuan tidak bisa memasak goblok harusnya tidak didengar, sama seperti anggapan laki-laki yang tidak bisa mengendarai motor bego, tidak harus didengar.

Memasak adalah keahlian, sama seperti menjahit, menyetir, memasang aliran listrik, atau bertukang. Keahlian akan terus terasah seiring dengan pembiasaan. Lantas mengatakan goblok para wanita yang tidak terbiasa memasak? 

Saya kenal banyak teman-teman wanita cerdas yang masa depannya cerah dan mereka sangat lemah ketika berada di dapur. Kehadiran pembantu dan rumah makan siap saji yang selalu terbuka lebar pintunya menjadi satu di antara alasan mengapa orang-orang tidak biasa memasak, sehingga tidak bisa mengolah sayuran atau daging.

Satu dari musisi indie asal Bandung sekaligus penulis yang sering membagi bahan diskusi pada saya, Fiersa Besari saya mintai pendapat juga. Dia yang baru saja menyelesaikan perjalanan dari Gunug Patah bersama Ramon Yusuf Tungka yang tergabung dalam Eiger Adventure menjawab pertanyaan saya dengan berkelakar.

"Entah cewek atau cowok, kalau enggak bisa masak bukan berarti bodoh. Kalau bisa masak, jadi nilai plus. Kenapa? karena aku ngerasain itu pas di hutan kemarin. Bisa masak atau mengenali makanan adalah syarat wajib untuk bertahan hidup. Enggak bisa masak itu kayak enggak bisa nyetir. Enggak bodoh, tapi akan lebih baik kalau bisa," katanya melalui kotak pesan hijau, Line. 

Tidak hanya Bung, sapaan akrab Fiersa Besari, teman saya yang merupakan pendiri Liga Filsafat, Sebastianus Lukito mengungkapkan hal senada. Dia menyampaikan memasak bukanlah kodrat, memasak adalah keahlian di suatu bidang yang siapa saja boleh mempelajarinya, dan jika tidak berhasil bukan berarti dia goblok.

"Mau dia perempuan, laki-laki, transgender, biseksual, dll, aku memandang mereka sama rata. Mau menggapai bidang fisika, astronot, atau mau masak, itu kehendak bebas manusia untuk saling melengkapi," ujarnya. 

Hal yang sama saya tanyakan pada teman sesama Komunitas Pecandu Buku Jabodetabek, Nunu. Dia yang memang concern menyuarakan kesetaraan hak perempuan dan laki-laki mengatakan memasak bukanlah kodrat. Memasak adalah keahlian, dan pilihan. 

Saya pribadi menentang pernyataan Puck Mude, karena kodrat perempuan adalah mengandung, melahirkan, dan menyusui. Dapur, sumur, dan kasur bukanlah kodrat tapi tugas yang bisa dikerjakan bersama oleh laki-laki dan perempuan. Mungkin orang-orang yang stereotip belum membaca jika pekerjaan domestik  rumah tangga kini sudah mulai banyak dikerjakan laki-laki, sehingga muncul istilah Bapak Rumah Tangga (BRT), dan berdasarkan catatan Pew Research Center jumlah laki-laki di Amerika Serikat yang memutuskan menjadi BRT semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Saya banyak merenung setelah wawancara itu. Apalagi jika membahas pernyataannya yang mengatakan perempuan masa kini lebih jago shopping, clubbing, dan pacaran (dia menekankan tidak semua perempuan masa kini seperti itu). Terlepas dari peran ganda perempuan, kita juga harus membahas kecacatan eksistensialis terhadap kaum wanita seperti yang dipaparkan Simon de Beauvoir. Lain kali akan saya tulis.

Saya senang menuangkan gagasan saya dalam bentuk tulisan, saya tetap kagum pada bang Agus Ramdani. Beliau merupakan satu dari musisi lokal Pontianak yang kiprahnya sudah tidak diragukan lagi. Lagu-lagunya memang kerap mengangkat isu di lingkungan sehari-hari. Seperti musik adalah kebebasan, begitu pula dengan menulis. Jika Puck Mude bebas menuangkan ide melalui musik, maka saya melalui tulisan. 

Tabik dari Clau, cewek berusia 21 tahun, seorang pekerja teks komersil, lulus dari Fakultas Hukum dengan IPK 3.72 dan tidak bisa memasak. Mungkin saya goblok.

Bagi saya, siapa saja yang perlu makan, maka harus memasak, mau dia cewek atau cowok. Tidak bisa memasak berarti bodoh? tidak, itu hanya soal pembiasaan. Memasak itu hanyalah satu dari peran ganda seorang wanita, intinya saya menulis ini agar teman-teman atau adik-adik saya tau apa itu kodrat dan gender. Tidak ada labeling lagi kalau anak cewek harus bisa masak, anak cewek harus bisa mengurus rumah, dan labeling lainnya yang jika tidak bisa dipenuhi oleh wanita maka wanita dianggap menyalahi kodratnya, sementara kodratnya adalah mengandung, melahirkan, dan menyusui. Kodrat adalah yang kita bawa sejak lahir, kalau memasak itu kodrat maka tidak perlu dibuka kelas-kelas memasak karena kalau kodrat maka wanita sudah bisa melakukannya tanpa harus belajar. 
This entry was posted in

Friday, November 03, 2017

[Review Buku] Pelacur itu Datang Terlambat


Pelacur Itu Datang Terlambat

Penulis: D. Purnama
Penerbit: Enggang Media

"Kematian mana lagi yang lebih menyakitkan selain kematian jiwa dalam raga yang masih terikat kehidupan." — Hari Matinya Bapak, Halaman 47.


Setelah melewatkan beberapa kali diskusi mengenai Pelacur Itu Datang Terlambat, akhirnya saya tuntas juga degan buku ini.


Buku setebal 113 halaman ini memuat 12 cerita pendek yang diangkat dari kehidupan sosial sehari-hari, diceritakan oleh D. Purnama dengan sangat berani. Dia menguraikan cerita dengan rangkaian diksi yang indah, menjadi nyawa dari tulisannya.


Cerpen yang menjadi pembuka buku ini adalah Sedap Malam yang Cemburu, sebuah cerpen yang tidak bisa ditebak dan sangat berkesan bagi saya. Mengangkat fenomena krisis gender, cerita ini dikemas dengan penuh kejutan.


Ada juga cerita pendek berjudul Hari Matinya Bapak. Sebuah cerita yang membuat saya banyak merenung dan memikirkan bapak. Sangat dalam, terlepas dari pengalaman pribadi yang pernah saya alami, D. Purnama berhasil mengajak pembaca larut dalam kematian seorang ayah ketika melihat harapan yang dia gantungkankan di pundak puterinya diturunkan dengan cara yang tidak dia anggap layak.


Kisah lainnya membuat haru karena tersirat kritik sosial terhadap berbagai permasalahan yang kita hadapi sehari-hari. Berbicara tentang kemiskinan, hegemoni, dibingkai dengan budaya.


Untuk cerpen yang dipilih menjadi judul buku ini, saya menilai D. Purnama adalah seorang feminis. Di beberapa bagian dia berhasil menunjukkan keberpihakannya pada upaya perempuan untuk melepaskan diri dari konstruksi sosial yang selama ini disematkan pada kaum hawa.


Buku ini berhasil membawa saya berimajinasi liar, melewati batas rasional seperti saat membaca kisah Meow dan Buaya Dalam Waduk. Sebuah pengalaman membaca yang jarang saya nikmati.


Buku ini tidak akan mencuri banyak waktumu. Kecuali kamu membacanya berulang-ulang karena suka. Btw, ini adalah buku fiksi pertama dari penulis asal Kalbar yang berhasil saya tuntaskan. Diksinya bagus, idenya juga bagus, kecuali covernya yang membosankan.


Jadi tertarik untuk membaca karya D. Purnama yang lain.

Wednesday, October 11, 2017

"Terima kasih, jasamu abadi."


Senior saya yang pakai kaos putih polos :D


Hal-hal baik memang harus dituliskan, diabadikan.

Beberapa hari lagi genap satu bulan saya bekerja. Saya masih dalam proses adaptasi, nafsu makan masih berantakan dan pikiran belum tenang untuk diajak melahap buku (yang sudah mulai bertumpuk menunggu untuk dibaca)  kupu-kupu di perut saya masih saja menari-nari tiap kali saya ingin bertanya pada narasumber.

Dengan ke-cemen-an yang luar biasa ini, saya merasa sangat terbantu oleh seorang wartawan senior dan seorang temannya yang sering saya ikuti tiap kali liputan. Walaupun dia menolak disebut senior, begitu juga temannya.

Saya mulai jadi ekornya sejak saya ditugaskan untuk ikut bersamanya meliput sebuah event bertema Revolusi Mental (atau apalah itu) di sebuah hotel di Jalan Gajah Mada. Itu juga jadi pertemuan pertama saya dengan temannya, yang ternyata sudah saya kenal sejak lama melalui tulisan.

Sejak hari itu saya sering bertanya pada mereka, mulai dari hal sederhana seperti alamat sebuah tempat yang harus saya datangi sampai hal yang merepotkan seperti meminta menanyakan pertanyaan yang seharusnya saya tanyakan pada narasumber.

Ritual pagi saya tidak lagi sekadar membuka Instagram dan Twitter, tapi juga mengirim pesan "Bang, liputan ke mana hari ini ?"

Berminggu-minggu sejak menjadi ekornya, saya mulai belajar sedikt demi sedikit. Meski kupu-kupu di perut saya masih sering menari, hari minggu yang lalu saya akhirnya berani mewawancarai Wali Kota Pontianak sendirian. Ok, mungkin bagi kalian itu biasa saja.

Tapi untuk saya yang ngomongnya susaaaaaah banget kalau sudah nervous, ini adalah hal yang luar biasa. Bagi saya, nervous itu tidak enak. Sakit. Biasanya tangan saya dingin, pelan-pelan perut mulas lalu seperti ada kupu-kupu menari di perut. Saya jadi tidak bisa berbicara sama sekali, rasanya benar-benar sakit.

Tapi hari itu saya berhasil melawan rasa takut saya. Meski saat itu saya berdiri cukup lama memandanginya dari jarak 2 meter sampai akhirnya saya berani mendekat dan bertanya, bagi saya pengalaman hari itu sangatlah berkesan.

Rasanya tidak bisa saya ungkapkan, itu seperti berhasil mengalahkan roh jahat yang terperangkap dalam tubuhmu sendiri. Saya berhasil mengalahkan kupu-kupu di perut saya. Saya bahkan selfie sama beliau. hehehehe.

Nah senior saya dan temannya tadi, hampir setiap hari selalu mengarahkan saya ketika kami liputan. Mengajari cara untuk menulis berita dari berbagai sudut pandang, mendorong saya untuk berani bertanya, memotivasi kalau saya mulai mengeluh, dan sekarang dia sudah mulai mencoba menumbuhkan rasa ingin tahu saya agar saya mulai mencoba mencari isu sendiri untuk dijadikan berita.

Saya sangat terbantu oleh mereka, benar-benar terbantu. Jadi saya akan mengingat mereka dengan baik karena mereka menemani saya berproses ketika saya sedang krisis harapan, membagi ilmu yang sangat bermanfaat untuk saya. Kadang saya menyadari betapa merepotkannya saya, dan bertemu orang-orang yang tulus membantu meski baru kenal, itu juga termasuk kebaikan yang semesta berikan.

Seperti kata Bung Fiersa Besari, "Terima kasih, jasamu abadi."

Kelak, bertahun-tahun setelah ini, atau puluhan tahun yang akan datang, semoga saya masih sebuah kacang yang tau di mana kulitnya. Hal-hal baik seringkali dianggap terlalu tidak penting untuk diingat, bagi saya, orang-orang yang membagikan ilmunya kepada saya adalah orang yang patut saya ingat.

Di tengah kegalauan karena menyadari betapa lambatnya saya belajar menyesuaikan diri dan memenuhi tanggung jawab, bertemu mereka adalah sebuah semangat.

Tidak ada hal menyenangkan yang bisa saya bawa ketika berangkat untuk liputan, sampai akhirnya bertemu mereka. Setiap hari hal ini terjadi. Kata seorang teman, jadi wartawan itu gak keras, kamunya aja yang lembek.

Mungkin dia benar.
This entry was posted in

Apakah Saya Generasi Z yang Gagal ?


Waktu masih kuliah saya adalah orang yang tidak peduli dengan teori generasi yang dicetuskan Karl Meinnheim.

Bagi saya, bodo amat mau saya digolongkan generasi X, Y atau Z, toh tidak ada pengaruhnya dengan kehidupan saya. Diskusi-diskusi di grup virtual tentang teori generasi ini pun luput dari pantauan saya.

Pemahaman saya tentang teori ini pun masih sangat dangkal, sekadar mengetahui bahwa dalam teori generasi Karl Meinnheim, Generasi Milenial atau Generasi Y merupakan mereka yang lahir di atas tahun 1980 sampai 1997. Berdasarkan teori ini saya adalah Generasi Milenial/ Generasi Y.

Sementara itu pada tahun 2014 kosultan dari agen pemasaran Sparks and Honey menggolongkan manusia yang lahir pada tahun 1995 hingga 2014 sebagai Generasi Z. Berdasarkan teori ini, saya yang lahir tahun 1996 pun termasuk Generasi Z.

Pengetahuan saya seputar Generasi Milenial dan Generasi Z hanya sebatas itu. Sampai akhirnya pada akhir April, ketika sedang jauh dari rumah karena harus belajar bahasa Inggris di Pare, Kediri, saya membaca sebuah artikel di tirto.id yang berjudul selamat tinggal generasi milenial selamat datang generasi z

Berdasarkan pemaparan yang ditulis oleh Aulia Adam itu, saya merasa bahwa saya bukan golongan generasi mana pun. Meski secara teori yang berlaku di Indonesia saya ini tergolong Generasi Z kenyataannya sebagai anakyang lahir dan tumbuh di daerah 3T saya justru merasa bagian dari milenial.

Jadi sejauh mana pentingnya memahami perbedaan Generasi Milenial dan Generasi Z ? Ternyata penting sekali. Tidak hanya dapat dijadikan pantauan pangsa pasar tetapi bagi manusia itu sendiri untuk menempatkan dirinya.

Sebagai Generasi Z yang justru merasa jadi bagian Generasi Milenial saya kerap kali merasa sulit bergaul. Teman-teman seusia saya kebanyakan masih berjuang menyelesaikan pendidikan tingkat S1, dan saya sudah mulai bekerja di tengah-tengah generasi X dan Y.

Kerap kali saya merasa tidak nyambung ketika berbincang dengan teman-teman generasi milenial terutama soal hobby dan minat, begitu pula dengan teman-teman generasi Z ketika berbicara tentang passion. Saya jadi bingung menempatkan diri saya...

Mungkin ini hanya berlaku untuk saya pribadi, beda orang mungkin beda kasus. Tapi yang saya ketahui, awalnya Karl Meinnheim membuat teori ini untuk mempermudah pekerjaan. Kalau ini tepat, maka saya merasa tidak terbantu sama sekali. Karena saya merasa gagal menjadi Generasi Z maupun Generasi Y -_-

Dulu waktu masih kecil, saya senang membaca karena saya perlu teman. Tidak ada teman di rumah karena kakak sejak usia 10 tahun sudah masuk asrama untuk belajar. Sekarang sudah puluhan tahun berlalu, alasan saya untuk membaca sudah semakin banyak, dan alasan pertama masih berlaku.

Di tengah ketidaksiapan saya menghadapi dunia, buku adalah teman terbaik.

This entry was posted in

Thursday, September 28, 2017

Dua Minggu Setelah Bekerja...


Pada akhirnya kita semua akan menepi.

Setelah dua bulan tanpa semangat hidup, saya akhirnya berada di sini.

Ketika teman-teman yang lain mulai belajar di kampus yang baru, dan mulai hectic dengan tugas level mahasiswa S2, saya juga mulai sibuk mempelajari ritme pekerjaan yang saya pilih. 

Tidak mudah. Sampai hari ini pun saya masih belum terbiasa. Setelah susah payah mengumpulkan 43 kg, hari ini berat saya kembali menjadi 37 kg. Good bye lengan dan kaki lutcu. Maaf aku membuat kalian jadi terlihat seperti potongan kayu.  

Sekarang saya lebih sering mengenakan jeans dan kemeja, seperti saat pertama kuliah. Kulit tangan juga sudah mulai menghitam karena tidak pernah mengenakan sarung tangan ketika mengendarai motor. Jerawat jangan tanya, kata doi keningku  udah kayak jalan aspal yang dikerjakan buru-buru. 

Makan tidak teratur karena saya selalu merasa kenyang di waktu luang dan lapar diwaktu sibuk, waktu tidur juga begitu, alhasil berat badan turun. Padahal usaha saya untuk mengumpulkan berat badan normal penuh perjuangan. 

Dua hari yang lalu saya menangis di sebuah tempat makan karena seharian tidak bisa menyelesaikan pekerjaan. Mungkin karena tidak ada teman, saya jadi sering merasa sedih.  Sedikit-sedikit sedih, selera  humor juga jadi hilang, saya yang biasanya ngakak sampai guling-guling melihat perdebatan netizen di @infoTwitwor sekarang jadi malas tertawa. 

Saya sering marah-marah sama doi. Untungnya dia punya tingkat kesabaran di atas rata-rata. 

Orang rumah mengatakan ini wajar. Walaupun sebenarnya saya harus bisa mengontrol emosi saya. Mungkin semua orang yang baru bekerja mengalami hal yang sama, atau cuma aku ?

Tapi yah, pada akhirnya kita semua akan menepi, kali ini saya harus berlayar. Melanjutkan perjalanan, menyusun rencana satu per satu, walaupun semua hal yang saya tulis untuk diselesaikan sebelum usia 23 tahun harus saya telan bulat-bulat. 

Listnya masih saya simpan baik-baik :')

Walaupun semua rencana saya berantakan dan mimpi-mimpi saya harus saya lepas, kan saya masih bisa melakukan banyak hal positif. Kali ini saya juga belajar, tapi tidak di bangku kuliah. 

Kali ini tidak ada teh Erfy, atau Resti, atau Bandi yang biasanya menamani saya. Tidak ada kakek, tidak ada bapak, atau om yang biasanya memudahkan semua urusan saya. 

Kali ini saya harus melakukannya sendiri. Belajar bertanggung-jawab.

Semoga saya cepat beradaptasi, ya :') 

Semoga Claud kembali ceria seperti semula. Bahagia dengan buku baru dan jokes receh di Twitter. 


Ps: banyak-banyaklah bergaul, jangan cuma mau main sama keluarga. Jadi kalau berada di tempat yang jauh dari campur tangan keluarga, kamu tida cedi. Ehehe. 

Friday, August 25, 2017

Mengawal Nanga Sungai (2)

Pertemuan Dengan Stefanus S.Sos, Anggota DPRD Kabupaten Kapuas Hulu


pak Stefanus bersama salah satu warga Nanga Sungai
Catatan kali ini mengenai pertemuan masyarakat Nanga Sungai dengan salah satu anggota DPRD Kabupaten Kapuas Hulu, pak Stefanus S.Sos dalam rangka reses pada tanggal 24 Juni 2017. Salah satu momentum di mana masyarakat Nanga Sungai mengungkapkan kerinduan mereka terhadap pembangunan. Sebuah pertemuan yang berhasil menumpahkan segala kecamuk dalam pikiran masyarakat Nanga Sungai. Tidak bisa dipungkiri pertemuan hari itu adalah sebuah pertemuan yang membawa kesegaran baru, kebahagiaan yang lain karena pak Stefanus memberikan dana aspirasinya untuk pembangunan gereja di Nanga Sungai.

Saya sangat ingat hari itu karena ditanggal yang sama sepupu saya melaksanakan pernikahannya di Lanjak, tapi demi menyaksikan pertemuan antara masyarakat Nanga Sungai dengan pak Setfanus saya tidak  datang pada acara itu.

Pertemuan itu dilaksanakan di gedung serba guna Nanga Sungai. Antusias masyarakat untuk bertemu pak Stefanus sangat tinggi, pertanda banyak hal yang ingin mereka sampaikan. Pertemuan itu dihadiri juga oleh kepala desa Saujung Giling Manik, pak Thobias dan kepala dusun Nanga Sungai, pak Nandus, tapi sangat disayangkan karena camat Embaloh Hulu tidak hadir. Padahal saat itu adalah saat yang tepat untuk berdialog langsung bersama masyarakat dan wakil rakyat yang telah mereka pilih bersama. Ekspektasi saya sangat besar membayangkan jika elemen ini berkumpul di satu ruang.

Di hadapan pak Stefanus masyarakat menyampaikan keinginan mereka untuk mendapat aliran listrik dan perbaikan jembatan Batang Tamao, jembatan gantung yang sebelumnya saya tuliskan  di sini.Pertemuan hari itu cukup menguras emosi, masyarakat tidak mampu membendung kekecewaan mereka terhadap pemerintah selama ini. Terlebih ketika kepala desa Saujung Giling Manik mengatakan bahwa Nanga Sungai memang tidak dialiri listrik karena pada tahun 1996 Nanga Sungai pernah menolak kehadiran PLN. 

Sebuah jawaban yang melukai perasaan warga Nanga Sungai. PLN adalah Badan Usaha Milik Negara yang diberikan mandat untuk menyediakan kebutuhan listrik di Indonesia, rasanya sungguh tidak logis jika mereka menolak permohonan masyarakat Nanga Sungai hanya karena 21 tahun yang lalu Nanga Sungai pernah menolak kehadiran perusahaan listrik milik negara ini.

Perlu diketahui tahun 1996 masyarakat Nanga Sungai masih berada di permukiman lama, para tokoh masyarakat yang menolak PLN masa itu kini sudah  meninggal. Sejak tahun 2009 masyarakat sudah pindah ke permukiman yang baru, puluhan meter meninggalkan tempat yang lama dengan alasan supaya dekat jalan raya, supaya pemerintah mudah membangun kampung ini. Sebuah ilusi.

Pada pertemuan hari itu kepala desa Saujung Giling Manik tahun 1996, pak Burung, hadir dan memberikan penjelasan mengenai penolakan PLN di masa itu. Dari penjelasan yang diberikan saya menarik kesimpulan bahwa terdapat kesalahpahaman dari pihak PLN, selengkapnya akan saya jabarkan di catatan berikutnya.

Sejak tahun 2010 hingga 2017 sudah berkali-kali masyarakat Nanga Sungai diminta untuk mengumpulkan foto copy KTP untuk pengajuan permohonan pemasangan listrik namun hingga tulisan ini dibuat masyarakat Nanga Sungai masih saja menggunakan pelita minyak di malam hari. Sebuah ironi karena Nanga Sungai satu-satunya kampung tanpa listrik di Kecamatan Embaloh Hulu, dan yang lebih mengecewakan adalah alasan yang dilontarkan pihak pemerintah (dalam hal ini kepala desa Sujung Giling Manik) bahwa PLN sengaja menolak permohonan masyarakat Nanga Sungai karena 21 tahun yang lalu pernah terjadi kesalahpahaman. 

Bagi warga Nanga Sungai, tujuan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 adalah omong kosong belaka. Nawacita membangun Indonesia dari pinggiran hanyalah isapan jempol.

Sejak saya masih mandi bertelanjang badan di Sungai Tamambaloh hingga usia saya 21 tahun, Nanga Sungai masih gelap gulita di malam hari. Sejak generasi saya hingga generasi berikutnya lahir, adik-adik di Nanga Sungai masih saja belajar mengeja huruf dengan  cahaya dari pelita minyak. Ketika teman-teman mereka di kampung sebelah mengerjakan PR dengan pencahayaan yang memadai di malam hari, adik-adik saya di Nanga Sungai masih harus berlomba mengerjakan PR dengan serangga pencari cahaya yang terbang mengitari sumbu pelita, sebuah keadaan yang saya alami puluhan tahun lalu dan masih dialami adik-adik saya yang baru lahir.

Ironi adalah ketika saya pulang ke tempat di mana saya selalu disambut hangat dan saya dapati keterbelakangan masih saja sama seperti kali pertama saya meninggalkan tempat itu.
Ironi adalah ketika orang sekampung penuh harap pindah ke permukiman baru di tepi jalan besar dengan ilusi pemerintah akan mudah membangun kampung mereka namun nyatanya  yang diimpikan tak pernah terjadi.
Ironi adalah ketika kita mengajari adik-adik kita yang lahir di tengah ketidakadilan tentang kemanusiaan yang adil dan beradab serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Ironi adalah warga Nanga Sungai yang separuh hidupnya memimpikan cahaya listrik di malam hari dan sebuah jembatan kokoh yang mempermudah mereka menegok saudara di kampung sebelah atau melancarkan perjalanan mereka menuju kantor CU.
Ironi adalah ketika saya mengetahui tanah yang dulunya milik bapak namun kini jadi milik umum, yang menjadi tempat di mana sekolah dasar Nanga Sungai didirikan perlahan-lahan bersatu dengan air sungai, longsor sedikit demi sedikit. Entah, bagaimana nasib adik-adik di sana jika rumah sekolah itu bersatu dengan air. 
Sungguh ironis.

Segala keluhan hari itu ditampung oleh pak Stefanus dengan janji bahwa dia akan memperjuangkannya. Perjuangannya akan tetap berlanjut jika dia masih terpilih di periode berikutnya. Sedikit banyak, pertemuan hari itu melahirkan komitmen yang mesti tidak terucap tapi dipahami oleh semua yang hadir.

Bersama adik-adik di Nanga Sungai seusai pertemuan dengan Pak Stefanus, rumah sekolah di belakang itu adalah tempat mereka belajar, bangunan yang diperkirakan 5 tahun lagi akan menyatu dengan air di sungai Tamambaloh.

This entry was posted in

Tuesday, August 22, 2017

[Review Buku] The Seven Good Years karya Etgar Keret, Melihat Israel dari Sisi yang Lain



Sesuai dengan judulnya, kisah-kisah pada buku ini dibagi ke dalam tujuh bagian.
Berisi pengalaman pribadi Etgar Keret sebagai seorang penulis berkebangsaan Israel, sebagai seorang anak yang lahir dari keluarga Yahudi, dan sebagai seorang ayah bagi Lev, putranya yang cerdas.

Dengan tebal 195 halaman, buku ini sangat tepat untuk dijadikan teman penghantar tidur, atau menunggu :D

Cara penulis menceritakan kesehariannya ketika tinggal di daerah yang sedang berkonflik sangat jenaka. Pesan kemanusiaan disampaikan dengan manis dan penuh humor dalam berbagai kisah sederhana yang dialaminya.

Etgar Keret memberikan sudut pandang yang lain dari sebuah peperangan. Buku ini sangat sederhana, mungkin kalian sudah membaca buku tentang perdamaian yang lebih kompleks dari ini, tapi The Seven Good Years adalah buku yang berbeda. Sejak selesai membacanya, saya tidak bisa berhenti memikirkan tempat lain yang jauh dari jangkauan saya saat ini, tempat di mana anak lelaki harus berani menembak, tempat di mana perang tidak pernah berhenti.

Melalui tulisannya sangat jelas di mana Etgar Keret berpihak, dia berpihak pada perdamaian. Bahkan ketika perdamaian itu mustahil terjadi, dia menciptakannya sendiri di pikirannya, di dalam keluarganya. Di Tel Aviv, di semua tempat yang didatanginya, Etgar Keret menciptakan perdamaiannya sendiri.
 
Beberapa judul dalam buku ini sampai saya baca berulang-ulang, karena saya sangat menyukainya. Tulisan berjudul Memuja Idola, Kakak Perempuanku yang Hilang, dan Laki-laki Jangan Menangis adalah tiga tulisan yang sangat saya suka. Ketiganya merupakan kisah pribadi tentang keluarga Etgar Keret. Membaca buku ini membuat pembaca jadi memahami konsep perdamaian yang dibawa Etgar Keret, perdamaian yang melampaui batas agama, bahkan negara.

Buku ini diterjemahkan oleh Ade Kumalasari, terima kasih untuknya, buku ini luar biasa terlebih dengan catatan kaki yang melengkapinya. Pembaca jadi memperoleh banyak kosakata dan pengetahuan tentang budaya Yahudi. Membaca buku ini membuat saya mengerti bahwa cinta kasih harus lebih banyak disebarkan, hidup berdampingan dengan sesama dalam perasaan damai tanpa rasa curiga adalah hal yang harus saya syukuri di kota ini.

Mengakhiri ulasan ini, saya ucapkan selamat mencari atau akan membaca buku The Seven Good Years, sebuah buku manis yang mengharukan. Sebuah buku yang layak dibaca di tengah krisis toleransi yang sedang sarat di negeri ini.

Friday, August 18, 2017

Mengawal Nanga Sungai (1)

Kalimat ini milik Prof. Rocky Gerung, saya ambil dari twitternya. Kalimat yang sangat tepat menggambarkan keadaan di Indonesia ketika kita berbicara tentang kemerdekaan. Hari ini Indonesia memperingati hari kemerdekaan, 72 tahun yang lalu teks proklamasi dibacaka, sebuah peristiwa besar yang bertahun-tahun kemudian dirayakan dengan panjat pinang, tarik tambang dan lomba makan kerupuk.

Bebas menentukan nasib sendiri lantas tidak menjamin rakyat Indonesia benar-benar merdeka. Di daerah-daerah pedalaman, merdeka tidak pernah jelas maknanya apa. Pembangunan yang timpang menjadi bukti nyata bahwa kemerdekaan itu masih jauh dari kehidupan rakyat. Untuk hal ini Soekarno telah memberi peringatan "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri."

Masyarakat di Nanga Sungai, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat merupakan orang-orang yang cukup lapang dada untuk menyatakan bahwa mereka juga telah merdeka. Dusun ini jaraknya tidak jauh dari pusat kecamatan, letaknya di tepi jalan besar, masyarakatnya juga  berpartisipasi aktif dalam pemilihan umum, tapi sampai hari ini kehidupan mereka masih jauh dari kata merdeka.

Keadaan dusun ini memprihatinkan, dengan 53 kepala keluarga yang didominasi usia produktif Nanga Sungai justru menjadi kampung yang tertinggal secara perekonomian di Kecamatan Embaloh Hulu. Yang menarik dari keadaan ini adalah kenyataan bahwa masyarakat Nanga Sungai merasa bahwa mereka dikondisikan agar menjadi tertinggal. Pernyataan ini dilontarkan dengan keras oleh Pak Acang, salah satu tokoh masyarakat yang berani menyuarakan tuntutan penduduk Nanga Sungai, beliau pernah nekat mengejar presiden Jokowi menggunakan motor ketika pak Jokowi datang ke Badau, sayang dia tidak berhasil karena ban motornya pecah.

Pak Acang mengungkapkan ada dua tuntutan pokok masyarakat Nanga Sungai yang sejak dulu mereka perjuangkan namun tidak kunjung terpenuhi, yaitu jembatan dan listrik. Sejak masa ilegal logging sampai kisruh perkebunan kelapa sawit menggerus masyarakat pedalaman, Nanga Sungai masih dengan keresahan yang sama, yaitu perihal jembatan dan listrik. Menurut pak Acang selama ini pemerintah bersikap seakan-akan tidak serius menyikapi tuntutan mereka, baik tingkat desa maupun daerah tidak pernah memberikan alasan yang jelas mengapa Nanga Sungai tidak dibangun sementara kampung yang lain selalu mendapat perhatian.
Nanga Sungai membutuhkan perbaikan jembatan yang fungsinya tidak hanya dimanfaatkan oleh penduduk kampung ini tapi juga oleh dua desa yang berada di hilir Nanga Sungai yaitu Paat dan Ulak Paok. Jembatan yang ada saat ini adalah jembatan gantung yang sudah rapuh, sejak Soeharto berkuasa sampai saat ini jembatan tersebut belum pernah diperbaiki. Padahal jembatan tersebut merupakan kebutuhan vital masyarakat Nanga Sungai, Paat, dan Ulak Paok karena jembatan itulah yang menghubungan mereka dengan desa-desa tetangga di bagian hulu. Jembatan ini merupakan akses masyarakat Nanga Sungai terhadap wilayah luar, mereka melakukan mobilisasi melalui jembatan ini, mobilitas yang mempengaruhi perekonomian penduduk, tidak hanya itu jembatan gantung ini juga yang harus dilalui anak-anak Nanga Sungai ketika harus pergi ke sekolah di Banua Martinus. Setiap hari mereka harus bertaruh nyali melalui jembatan yang kapan saja bisa ambruk..

Jembatan ini telah berkali-kali diperbaiki secara gotong royong oleh masyarakat Nanga Sungai, tapi tali-tali penggantungnya tetap putus ketika sudah terlalu lama digunakan. Selain tidak aman untuk masyarakat yang melintasi sungai ini, model jembatan gantung memang sudah tidak efektif untuk digunakan sebagai penghubung desa. Karena desa dengan jembatan gantung tidak akan bisa dilalui oleh kendaraan roda empat.

Jembatan gantung Nanga Sungai
Itulah salah satu penyebab mengapa perkembangan Nanga Sungai sangat lambat dibanding kampung lain. Pembeli getah karet hanya bisa sampai di depan jembatan, penduduk harus membawa sendiri getah karet mereka menggunakan motor atau sepeda bagi yang punya dan dipikul bagi yang tidak punya. Jarak jembatan gantung ini sekitar satu kilo meter dari permukiman penduduk. Jika ada warga yang sakit dan tidak mampu duduk di motor maka ambulance hanya bisa menjemput sampai jembatan gantung, penduduk akan bersama-sama menggendongnya menggunakan tandu. 

Bulan lalu ketika saya pulang ada warga yang sakit, karena mengalami patah tulang dia tidak bisa duduk di motor. Masyarakat lalu beramai-ramai membuat tandu dan memikulnya, berjalan kaki sekitar satu km menuju jembatan gantung.

Warga Nanga Sungai berssama-sama memikul tandu berisi salah satu warga yang sakit
Saya melihat sendiri bagaimana keresahan di wajah mereka ketika menggotong salah satu warga yang sedang sakit. Langkah mereka tergesa-gesa, pilu rasanya ketika melihat mereka mengenakan baju partai yang dibagi-bagi para pejabat ketika masa pemilu. Para pejabat yang bertanggungjawab membangun rakyatnya, para pejabat yang  mungkin secara sengaja tidak mau tahu terhadap nasib golongan kecil yang menjadikannya duduk di atas sana, mereka mungkin lupa bahwa ada 53 kepala keluarga di sebuah kampung bernama Nanga Sungai yang menjadi tanggungjawab mereka, 53 kepala keluarga yang membutuhkan pembangunan jembatan dan aliran listrik agar mereka bisa hidup dengan layak, secara manusiawi.

Merdeka itu memang hanya bagi orang-orang yang berlapang dada. Nanga Sungai yang malang, ketika penduduk di desa kiri kanannya sudah bisa menikmati internet sambil tiduran di kelambu, masyarakat Nanga Sungai masih harus berjibaku dengan jembatan gantung yang rapuh dan pelita minyak di malam hari. Selamat memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia.
Jembatan gantung yang berkali-kali diperbaiki secara mandiri oleh warga Nanga Sungai



Tampak dari bagian tengah
This entry was posted in

Monday, August 14, 2017

Endless Love

  

Jauh sebelum menyaksikan film Up dan A Man Called Ove saya telah menyaksikan the true endless love dari nenek dan kakek. 
Dari hubungan yang mereka miliki saya belajar banyak hal.
Nenek dan kakek memiliki karakter yang sangat berbeda. Nenek cenderung konservatif terhadap keluarganya, sikap melindunginya sangat kami rasakan. Dia tidak hanya melindungi kami ketika berada di lingkungan rumah, tapi juga di lingkungan luar.  Kadang saya merasa nenek keterlaluan, tapi itulah yang dia lakukan terhadap anak-anaknya dan cucu-cucunya. Sebagai cucu yang tumbuh bersama nenek saya tidak pernah menjadi korban bully, begitu juga mama dan tante-tante saya di masa lalu, mereka nyaris tidak pernah membaca surat cinta yang sampai karena nenek sudah duluan mengembalikannya. HAHAHA.
Dari neneklah saya mendengar kata berdikari untuk yang pertama kalinya. Nenek selalu mengatakan bahwa perempuan itu harus mandiri. Dari delapan anaknya hanya tiga orang yang laki-laki, enamnya perempuan, dan dia membuat anak-anak perempuannya memiliki jiwa yang tangguh. 
Meski sering mengomel kami semua tahu nenek sangat sensitif, perangainya keras tapi hatinya lembut. Dia adalah orang yang memiliki inisiatif di balik tindakan bijak yang dilakukan kakek.
Berbeda dengan nenek, kakek adalah sosok yang tidak banyak bicara. Tapi saya tahu dia adalah sosok yang penyayang, tanpa kata-kata, dia menunjukkannya dengan perbuatannya. Jangankan anak cucu, ayam saja disayang. hehe.
Kakek selamanya menjadi panutan untuk saya. Ketika tamat SMA saya menyaksikan kakek menolak tawaran rumah baru di Pontianak dengan mobil mewah dan sejumlah uang  dari salah satu perusahaan kelapa sawit yang berusaha masuk ke daerah kami. Kakek menolak dengan tegas, dia bahkan bersumpah selama dia hidup tidak sejengkal tanahpun bisa diambil perusahaan itu. Dialah yang membuat saya ingin belajar hukum, karena saya ingin membantunya. Pendidikannya yang rendah membuatnya kesulitan memahami peraturan pemerintah yang baru diberlakukan.
Kakek yang pendiam, kakek yang paling sabar menghadapi omelan nenek. Saya sangat percaya kalimat "di balik pemuda sukses, ada perempuan hebat". Tahun 2009 mereka merayakan pesta emas pernikahan mereka, sampai hari ini saya masih merasakan bagaimana cinta benar-benar tumbuh dalam keluarga kami. 
Kakek adalah orang yang memberi saya hadiah seragam ketika saya berusia 4 tahun, beberapa bulan kemudian saya mulai sekolah, tidak ada TK jadi saya langsung masuk SD. Nenek dan kakek yang membelikan saya buku bacaan ketika mereka ke Putussibau naik motor tambang ( satu hari satu malam baru sampai), sekarang saya senang karena kami bisa menjadi teman membaca. Tahun lalu saya pulang membawa buku Raden Mandasia buku ini lalu menjadi buku kesukaan mereka.  
Tidak ada kata-kata yang tepat untuk menggambarkan betapa berartinya mereka dalam hidup saya. Nenek dan kakek yang membesarkan keluarganya dalam kesederhanaan. Tidak penting penilaian orang terhadap penampilan kita karena yang penting adalah apa yang benar-benar kita miliki, kita tidak perlu rumah mewah tapi kita selalu memiliki tempat untuk orang yang datang meminta bantuan, kita punya selimut dan bantal untuk dipinjamkan, kita punya makanan untuk diberikan, itu yang selalu mereka katakan.
Ada banyak hal yang saya rindukan dari mereka. Nenek yang selalu mengenakan topi tiap kali keluar rumah, dia keras kepala bekerja di ladang meskipun sudah tua sementara kakek adalah orang yang sangat senang memelihara ayam. Hadiah kesukaannya adalah ayam -__-
Mereka senang mengobrol pagi-pagi buta di balik kelambu, minum susu bersama pukul 6 pagi,  tertidur kelelahan di depan tv, di hadapan Mak Lampir yang menjadi tontonan favorit mereka pada pukul 10 malam.
Nenek dan kakek yang saling mengingatkan makanan apa yang boleh dan tidak boleh dimakan diusia mereka yang sudah tua, nenek dan kakek yang sering lupa di mana meletakkan kacamata.
Nenek yang menyiapkan air hangat untuk mandi kakek dan kakek yang selalu merapikan kuku nenek.
Mereka yang berjalan beriringan dengan senyum sumringah ketika saya datang, yang selalu memanggil saya "Tong", yang selalu memberi uang jajan bahkan sampai cucunya sebesar ini. Mereka adalah cinta tanpa akhir yang benar-benar hadir dalam kehidupan saya. Cepat sembuh nek, kek. Terimakasih untuk semua pelajaran tentang hidup yang kalian berikan.

This entry was posted in

Saturday, August 05, 2017

4 Kekeliruan terhadap masyarakat adat ketika bencana asap muncul

Masyarakat adat Tamambaloh di Palin sedang membersihkan lahan setelah proses membakar ladang.
Foto: Ache Salalona
Asap pekat kembali muncul di Kalimantan Barat, berbagai asumsi mulai diarahkan pada masyarakat adat. Berkaitan dengan isu ini, kemarin Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto mengeluarkan pernyataan bahwa kebakaran hutan dan lahan yang terjadi umumnya disebabkan oleh kebiasaan masyarakat adat yang membakar lahan untuk berladang. Pernyataan ini saya ambil dari berita yang dilansir Kompas.com pada hari Kamis, 3 Agustus 2017.

Saya rasa kekeliruan ini tidak bisa dibiarkan, baik pemerintah maupun masyarakat biasa. Mungkin semua orang harus memperbanyak referensi bacaan ataupun tontonan supaya sudut pandangnya berkembang, supaya pengetahuannya tidak timpang, terlebih bagi pemerintah agar tidak keliru mengambil keputusan. Kali ini saya ingin menulis beberapa kekeliruan pemahaman terhadap cara berladang masyarakat adat.
1. Masyarakat adat tidak membakar hutan
Masyarakat adat tidak membakar hutan, yang mereka bakar adalah lahan lama yang telah mereka tinggalkan dua atau tiga tahun yang lalu, misalnya dalam komunitas Dayak Tamambaloh. Mereka mengolah tanah bekas ladang yang telah ditinggalkan. Tanah ini dinamakan tana' toa. Sebagai lahan bekas, lahan seperti ini tidak memiliki banyak pohon besar sehingga tidak banyak kayu yang ditebang ketika lahan kembali digunakan. Apalagi jika lahan bekas tersebut telah ditanami pohon karet sebelumnya. Jadi pernyataan masyarakat adat membakar hutan adalah kekeliruan besar.   

2. Masyarakat adat melakukan ladang berpindah tanpa membuka hutan baru

Kekeliruan lainnya adalah pemahaman masyarakat awam mengenai kebiasaan masyarakat adat melakukan ladang berpindah. Ladang berpindah bukan berarti masyarakat adat membabat hutan baru lagi sebagai lahan untuk berladang. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya bahwa yang mereka lakukan adalah pindah ke lahan lama yang pernah mereka garap dua atau tiga tahun yang lalu yang disebut tana' toa. Tanah yang telah ditumbuhi kayu-kayu kecil dan ditumbuhi berbagai tumbuhan liar. Mengapa tana' toa dipilih ? karena tanah yang pernah dijadikan lahan berladang sebelumnya dan didiamkan sekian tahun akan menjadi tanah yang baik untuk menyemai benih padi yang baru. Masyarakat adat tidak menggunakan pupuk sama sekali untuk berladang, mereka benar-benar mengandalkan proses alam.
 3. Bagaimana cara masyarakat adat membakar ladang

Membakar ladang adalah bagian dari kearifan lokal. Dalam masyarakat adat, membakar ladang mempunyai aturan tersendiri. Ada berbagai aturan yang diterapkan, bahkan beberapa komunitas adat memasukkan hal ini ke dalam hukum adat mereka jauh sebelum undang-undang tentang lingkungan hidup dibuat. Membakar ladang tidak dilakukan sembarangan, sama seperti tahap berladang lainnya, membakar ladang juga memiliki ritual khusus. Pembatas akan dibuat dengan jelas agar petani bisa mengawasi apinya, waktu untuk membakar juga ditentukan dengan cermat dan tidak dilakukan sendirian. 

Masyarakat adat juga tidak membakar lahan gambut, bagi masyarakat Dayak lahan gambut ibaratkan tanah yang sakral. Tidak ada yang berani mengolah tanah ini, mungkin ini adalah bagian dari pemahaman nenek moyang bahwa mengolah lahan gambut lebih sulit dan lebih banyak mendatangkan mudarat jika tidak dilakukan dengan hati-hati. Kalau ada yang membakar lahan gambut untuk berladang atau berkebun, ini pasti bukan perbuatan masyarakat adat. 

 4. Salah paham mengenai pasal 69 ayat 2 Undang-Undang Nomor 32      Tahun 2009

Pasal 69 ayat 2 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup  merupakan pasal yang melegalkan cara membakar ladang bagi masyarakat adat dengan luas maksimal 2 hektare per kepala keluarga dan tanaman yang ditanam adalah varietas lokal. Ini sebagai pertimbangan untuk penduduk Indonesia yang sebagian adalah masyarakat adat yang masih menerapkan kearifan lokal dalam kegiatan sehari-hari.

Namun kesalahpahaman muncul di sini ketika masyarakat awam melihat jumlah maksimal 2 hektare per kepala keluarga. Dari batas yang disebutkan dalam pasal ini muncul banyak asumsi terhadap masyarakat adat yang berladang. "Gila, kalau satu kepala keluarga berladang 2 hektare berarti satu kampung habis berapa lahannya ?pantasan kabut asap tebal banget." kira-kira begitulah asumsi yang muncul dari masyarakat awam. Padahal dalam kenyataannya satu kepala keluarga tidak pernah mampu berladang sampai 2 hektar. Itu hanyalah frase untuk jumlah paling besar, dalam prakteknya keadaan seperti ini tidak pernah ditemukan. 

Masyarakat adat berladang untuk makan, untuk menaman padi dan sayur agar mereka tetap bertahan hidup. Bandingkan luas lahan yang mereka bakar dengan lahan yang dibakar perusahaan kelapa sawit atau developer untuk membangun perumahan. Kalau membakar ladang benar-benar dilarang, lantas bagaimana nasib  mereka ? itu sama saja seperti pembunuhan. Mungkin masih lekat di ingatan kita bagaimana usaha pihak korporasi untuk menyudutkan masyarakat adat.

Pada bulan Mei yang lalu Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) dan Gabungan Pengusaha Sawit Indonesia (Gapki) mengajukan judical review terhadap pasal ini. Mereka meminta pasal ini dihapuskan sebagai upaya preventif bagi tindakan pembakaran lahan hutan karena menurut mereka penyebab bencana asap selama ini adalah masyarakat adat. Seringkali masyarakat adat dijadikan kambing hitam atas bencana asap yang terjadi di negara kita. Penghapuasan pasal 69 ayat 2 UU No 32 tahun 2009 sama saja dengan pembunuhan bagi masyarakat adat, bukan hanya pembunuhan jiwa tapi juga identitas. Namun akhirnya pada bulan Juni Gapki dan APHI menarik gugatan tentang pasal ini. 

Untuk masyarakat yang hanya terbentur oleh isu-isu sosial yang muncul di media massa, upaya mengkambinghitamkan masyarakat adat bisa saja berhasil mengubah cara pandang mereka terhadap kearifan lokal yang dimiliki masyarakat adat. Meski penelitian, penyelidikan, dan fakta menunjukkan bahwa pelaku kejahatan pembakaran lahan dan hutan adalah korporasi tetap saja ada orang yang setuju bahwa masyarakat adat harus dilarang membakar ladang. Ladang di mana mereka menabur benih untuk bertahan hidup. Ini sangat diskriminatif, dan kita sebagai akar rumput, sebagai masyarakat yang lahir di tengah-tengah mereka, tidak ada kata lain selain lawan. Lawan pemerintah yang hanya bisa melarang tanpa memberi solusi, lawan opini-opini negatif dari masyarakat yang tidak pernah tahu sama sekali tentang cara hidup masyarakat adat, sekecil apapun usahamu melawan, bahkan tulisan juga adalah perlawanan.

ps: Tahun lalu saya pernah menulis keresahan yang sama di sini
 hehehe sorry kalau judulnya kek judul-judul artikel di Len Tudei.

Thursday, July 27, 2017

Pesan di Balik Kalimat Sikondo Takin Bunga, Siayam Tolang Manik, Tio' Satutuan

foto: Ache Salalona
Ketika menghadiri acara sijaratan, sebuah upacara pernikahan adat suku Dayak Tamambaloh, kita pasti menemukan tulisan "Sikondo Takin Bunga, Siayam Tolang Manik, Tio' Satutuan". Tidak hanya di tempat acara berlangsung, kadang tulisan ini dijadikan pembuka untuk undangan pernikahan putra-putri Tamambaloh.
Kalimat ini diambil dari penggalan baranangis yang dilantunkan pada acara sijaratan. Baranangis sendiri adalah sastra lisan suku Dayak Tamambaloh. Baranangis menggunakan bahasa pengandaian yang jarang digunakan dalam bahasa sehari-hari masyarakat Tamambaloh, karena itu kalimat Sikondo Takin Bunga, Siayam Tolang Manik, Tio' Satutuan tidak bisa diartikan secara harafiah. 
Berdasarkan penjelasan Pius Onyang ST, Tamanggung suku Dayak Tamambaloh di Kecamatan Embaloh Hulu, kalimat ini berisi pesan untuk menjaga persaudaraan.
Sikondo takin bunga berarti hidup saling menjaga seperti bunga takin yang disusun hingga kuat untuk dijadikan penggalang ikat kepala para wanita Tamambaloh. Perlu diketahui juga bahwa bunga takin adalah salah satu wewangian alami yang sering digunakan masyarakat Tamambaloh di masa dahulu. 
Siayam tolang manik artinya hidup saling menghormati satu sama lain, menuruti aturan hingga bisa hidup berdampingan ibaratkan biji manik yang dianyam hingga membentuk sebuah pola yang indah yang dikenakan pada pakaian adat Tamambaloh.
Tio' satutuan berarti hidup bersama sepanjang masa, ini berarti sesama banuaka' jangan sampai bertengkar lalu ada yang memisahkan diri. Hendaknya sesama banuaka' hidup saling menyayangi.
Begitulah para leluhur suku Dayak Tamambaloh memberi pesan pada anak-cucunya, agar selalu hidup saling menjaga dan menghormati, hidup dalam belas kasih terhadap sesama. Karena itu pesan ini sebenarnya bersifat universal, tidak hanya digunakan untuk orang menikah tetapi juga untuk kehidupan masyarakat Tamambaloh sehari-hari.