Wednesday, November 02, 2016

Review Buku Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi




Judul Buku: Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi

Penulis: Yusi Avianto Pareanom

Penerbit: Banana

Tahun Terbit: Maret, 2016

Tebal: 448 Halaman


“Maut tak perlu ditantang, bila waktunya datang ia pasti menang. hlm 17”


Buku ini merupakan dongeng petualangan dua pangeran dengan takdir yang berbeda. Raden Mandasia adalah seorang pangeran dari kerajaan Gilingwesi yang mempunyai kegemaran ganjil – mencuri daging sapi – dia berkelana jauh meninggalkan istana tanpa sepengetahuan keluarga kerajaan untuk sebuah misi, menggagalkan pertempuran besar antara kerajaannya melawan kerajaan masyhur di seberang lautan.

Sementara Raden Sungu Lembu adalah seorang pangeran dari kerajaan kecil yang – dulunya – sejahtera, dia adalah pangeran yang harus mandiri sejak kecil karena kerajaan mereka hancur dan dia dibesarkan oleh pamannya. Raden Sungu Lembu adalah sosok pangeran yang haus akan ilmu, dia tekun belajar apa saja hingga mampu mengecap racun dan lidahnya tahan pada jenis racun apa pun. Dia memiliki tekad yang kuat untuk membalas dendam atas hancurnya kerajaan mereka. Hal ini kemudian menjadi alasannya berkelana dan mengalami banyak hal luar biasa, termasuk perjumpaannya dengan Raden Mandasia.

Perjumpaan kedua pangeran ini kemudian melahirkan cerita-cerita yang menjadi nadi dari buku ini. Penulis kisah ini adalah pendongeng yang sangat mahir. Mulai dari pemilihan nama tokoh, latar tempat, ide cerita, semuanya membawa kita pada kekaguman dan kegembiraan ketika membacanya. Sungguh bahagia rasanya bisa membaca buku dongeng sebagus ini ketika dunia sedang direcoki kisah-kisah fantasi dan pop.

Kedua pangeran ini bertemu di rumah dadu milik Nyai Manggis, takdir membuat mereka menjadi teman seperjalanan, lalu mereka melakukan petualangan bersama, berlayar menyebrangi lautan, menyelamatkan para penumpang di kapal termasuk seroang pembawa wahyu, bertemu juru masak bernama Loki Tua yang sangat mahir mengolah daging, menyeberangi gurun Sahara, menyamar dengan masuk ke dalam kulit seorang sida-sida, sampai bertemu puteri cantik jelita Puteri Tabassum yang kecantikannya bahkan membuat cermin-cermin pecah. Petualangan-petualangan itu kemudian sampai ke titiknya, Raden Mandasia dan Sungu Lembu berhadapan dengan alasan mereka berkelana. Raden Mandasia dengan tujuan menggagalkan perang, dan Sungu Lembu yang ingin membalas dendam.

Raden Mandasia, Sungu Lembu, Nyai Manggis, Loki Tua, dan Puteri Tabassum, mereka adalah tokoh-tokoh yang sangat hidup diimajinasi saya. Dan Nyai Manggis adalah tokoh favorit saya, dia adalah seorang wanita tangguh yang cerdas dan anggun. Yang saya bayangkan ketika mereka-reka sosok Nyai Manggis adalah Nyai Ontosoroh dalam tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, entah mengapa bagi saya mereka merupakan wanita dengan karakteristik yang sama walaupun kisah mereka sangat berbeda.

Petualangan kedua pangeran ini sangat menghibur, membuat jengkel dan penasaran, membuat pembaca memaki-maki dengan kata “Anjing!” berkali-kali, bahkan saya sampai meneteskan air mata ketika membaca bagian akhir kisah kesebelas di buku ini. Buku yang menghantar pembaca pada masa kerajaan ratusan tahun yang lalu. Ketika orang-orang menunggangi kuda dan berlayar dengan kapal, ketika bercocok tanam dan melaut adalah pekerjaan yang utama dan bela diri menjadi keahlian yang harus dikuasai. Bahasa yang digunakan oleh penulis sangat santun dan lugas, sangat memperdaya dan berhasil memberikan kosakata baru bagi saya.

Setiap tokoh yang dihadirkan dalam kisah ini memiliki daya tarik tersendiri, ditambah kemahiran penulis memadu-madankan berbagai kisah dari berbagai negara. Mulai dari Kisah Dayang Sumbi dan Sangkuriang, Yesus Kristus, sampai John Lennon dipinjam untuk membalut kisah para tokoh, dan sangat menarik karena cerita-cerita dari masa yang berbeda ini bisa disatukan dalam sebuah buku dongeng. Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca. Sebuah buku yang mampu membuat pembacanya merasakan petualangan langsung, terseret ke masa antah berantah dan merasakan kegembiraan. Buku ini akan menjadi buku favorit saya di tahun 2016. Pembaca pasti akan takjub dengan petualangan kedua pangeran ini, meski buku ini tebal, kecakapan penulis bercerita membuat pembaca tidak bosan. Saya bahkan tidak rela buku ini harus berakhir. Yusi Avianto Pareanom sungguh seorang pendongeng yang jatmika.

0 komentar:

Post a Comment