Monday, March 13, 2017

Buku Bunglon Pencarian Emak Baru



Penulis: Amai
Cover: Khotamul Abna
Penerbit: Pustaka One
Cetakan: I, Maret 2016
Jumlah Halaman: 169 halaman
ISBN: 978-602-73877-2-0

Novel berjudul Bunglon ini menceritakan seorang gadis muda bernama Permata Mega yang pergi dari rumah karena kecewa pada emaknya dan berharap menemukan sosok ibu pada perempuan lain yang bisa menggantikan emaknya. Dia baru berusia 18 tahun, baru saja lulus dari pesantren, masih sangat muda untuk menghadapi dunia luar seorang diri. Tapi keadaan membuatnya tangguh, emaknya yang menikah lagi setelah bapaknya meninggal bukanlah seorang emak yang bisa memahami gejolak dalam diri Mata. Gejolak gadis usia 18 tahun yang sedang kecewa dan ingin memberontak.
Mereka kerap kali berselisih paham. Sifat mereka sangat berbeda, emak adalah orang yang kasar dalam berututur kata, jauh berbeda dengan Mata yang lulusan pesantren, dia tidak terbiasa dimaki-maki. Mata tidak seberuntung teman-temannya yang melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, dia harus membetahkan diri di rumah mendengar ocehan emaknya, bahkan nyaris setiap hari emaknya mengeluarkan sumpah serapah karena Mata tak kunjung dapat pekerjaan. Hal ini yang kemudian membuat Mata tidak sanggup berada di rumah, dengan nekat dia pun meninggalkan kampung halamannya - Tembokrejo.
Menurut saya sebenarnya novel ini sangat sedih, tapi cara penulis menyampaikan cerita membuat sosok Mata tidak layak pembaca kasihani. Cara penulisan yang Amai gunakan cukup unik, banyak menggunakan metafora yang tidak biasa. Saya kerap kali terheran-heran ketika membacanya, bingung, tapi buku ini cukup menghibur dan saya bisa menangkap pesan yang ingin disampaikan penulis.
Dalam buku ini penulis bercerita mengenai pengalamannya setelah memutuskan keluar dari rumah emaknya. Meski penulis memberi judul Pencarian Emak Baru saya merasa kisah tentang pencarian emak barunya tidak terlalu banyak saya tangkap. Karena penulis tidak menulis secara detail tentang tokoh-tokoh perempuan yang Mata temui yang kemudian diharapkannya dapat menjadi ibu angkat. Penggambaran tokoh dalam buku ini masih terlalu dangkal, sehingga saya tidak terlalu dapat bagaimana gambaran seorang Permata Mega, atau ibunya, atau beberapa tokoh yang penulis hadirkan dalam buku ini. Yang saya dapatkan ketika membaca kisah Permata Mega adalah bagaimana tangguhnya seorang gadis usia 18 tahun (lulusan pesantren pula) menghadapi kerasnya hidup, sanggup melakukan pekerjaan apa saja untuk bertahan hidup dan jauh dari rumah karena dia sangat jenuh pada sikap emaknya yang tidak pernah memahaminya.
Judul Bunglon saya rasa cukup relevan dengan cerita ini. Karena Mata memang merupakan gadis muda yang berani dan labil, yang bisa menyesuakian diri di lingkungan mana pun. Dia merantau dari Jakarta sampai ke Batam. Di Batam dia bekerja sebagai seorang baby sitter, lalu menjadi karyawan di toko bangunan di sini dia mengalami diskriminasi karena keyakinannya, lalu dia berubah haluan menjadi pembantu rumah tangga dan berujung sama - mengalami pelecehan karena kepercayaannya.
Tidak patah semangat, dia tetap ingin jauh dari emaknya, dia tetap ingin membuktikan bahwa dia bisa berdiri dengan kaki sendiri tanpa harus ditopang oleh seorang ibu yang seolah tidak pernah ikhlas menghidupinya. Setelah merasa kurang beruntung di Battam, Mata ke Banjarmasin di sana dia menjadi seorang penyadap karet, dari Banjarmasin dia ke Ketapang (Kalimantan Barat) di sini dia menjadi buruh di perkebunan kelapa sawit, dari sekian banyak tempat yang dijejakinya dia akhirnya menetap di Pontianak.
Apakah di Pontianak dia menemukan ibu angkat ? saya tidak akan membocorkannya di sini. Yang pasti buku ini sangat menghibur, jika saja yang menulis bukan Amai mungkin buku ini bisa membuat pembaca menangis, tapi Amai adalah seorang penulis yang ceria. Dia bisa menyampaikan kisah Mata yang penuh cobaan dengan bahasa yang ringan. Sebelum menulis kisah ini saya yakin penulis telah melakukan penelitian pada beberapa tempat yang dijadikan latar belakang kisah ini, data mengenai daerah-daerah tersebut sangat informatif.
Membaca buku Bunglon seperti ikut traveling ala backpaker bersama Permata Mega yang tidak pernah menetap lama pada satu kota demi bekerja dan mencari emak baru pengganti emaknya yang seperti monster. Oh ya sebenarnya kisah di dalam buku ini bisa dijadikan bahan renungan juga bagi calon orangtua supaya memikirkan secara matang resiko memiliki anak, apakah sudah siap atau belum, siap bukan hanya secara materi tapi juga mental. Karena menurut saya masalah yang dialami Mata dan ibunya disebabkan ketidakmampuan mereka untuk saling memahami. Ibu selaku orangtua yang lebih berumur harusnya lebih dewasa mengambil sikap, apalagi menghadapi anak yang telah susah payah kita lahirkan sendiri. Saya harap tidak banyak anak yang mengalami kehidupan yang sama seperti Permata Mega.

0 komentar:

Post a Comment