Tuesday, September 27, 2016

[Travelmate] Pantai Pasir Panjang Singkawang




Perjalanan pertama kami. Dia mengajakku melihat pantai. Dari Pontianak kami berkendara ke Singkawang, jalanan tidak terlalu padat karena kami pergi tengah hari. Tujuan kami adah pantai Pasir Panjang, tapi karena GPS tidak bisa diandalkan kami tersesat ke Kelurahan Sijangkung.
Awalnya kami sudah hampir singgah di Pantai itu, tapi karena aku ngotot ingin melihat grand mall Singkawang dia mengalah dan membawaku ke pusat kota. Belum sampai ke tempat tujuan aku minta diturunkan di depan ATM BNI. Aku jarang menyimpan uang tunai di dompet. Sebenarnya ada kejadian lucu waktu itu. Kertika aku keluar dari ATM aku panik karena tidak melihat mobilnya parkir di tempat dia menungguku. Aku pernah tersesat di mall waktu kelas 5 SD, jangan sampai aku tersesat di tengah kota amoy ini—di usiaku yang sudah 20 ini. Aku kebingungan di tengah keramaian, belum lagi kendaraan tengah ramai-ramainya. Ternyata dia memindahkan kendaraannya supaya aku tidak menyeberang, tidak jauh dari ATM tempatku mengambil uang. Aku yang terburu-buru tidak melihagtnya parkir di sana.
Rasanya kesal bercampur malu, sementara dia meminta maaf berkali-kali sambil meledekku, dia selalu senang melihatku kebingungan. Keinginannku main ke mall langsung hilang, aku memintanya langsung ke pantai. Kami akan membeli kelapa dan beberapa makanan sebelum ke sana. Karena ngantuk menyetir dia mengajakku mencari kedai kopi, tapi kami tidak menemukan kedai kopi yang menyediakan wifi. Kami lalu putar arah dan di sinilah ketidak-beruntungan menghampiri kami.
Kami memasuki jalanan yang sempit, dia ngotot mengatakan bahwa itu jalan yang bisa dilewati, semakin lama jalanan semakin lenggang, rumah-rumah juga terlihat jarang. Perlu waktu satu jam untuk menyadari bahwa kami memang tersesat dan GPS keliru. Dengan nyengir-nyengir dia meminta maaf dan aku hanya tertawa menertawai kebodohan kami kali ini.
Sekitar pukul 5 sore kami sampai di tempat tujuan, pantai pasir panjang. Banyak yang menghabiskan sore hari di sana, mungkin menunggu matahari terbenam. Kami berdua langsung bermain ombak dan dia salto-salto (dia selalu bangga karena bisa salto, padahal semua orang bisa melakukannya hahaha) kami bermain pasir, tapi tidak mandi karena tidak membawa pakaian ganti. Sambil menunggu matahari tenggelam kami mengambil gambar untuk dua buku yang kami bawa. Kali ini kami memilih Noam Chomsky dan Eka Kurniawan untuk menemani perjalanan kami.
Ketika matahari terbenam kami sudah duduk di mobil, sudah siap untuk pulang ke Pontianak. Aku mengunyah sosis bakar dengan lahap dan dia bernyanyi-nyanyi mendendangkan lagu entah (lagu yang teriak-teriak keras) di sampingnku.
Kami tertawa kadang-kadang, kami menertawai pasangan muda yang mojok tidak jauh dari tempat kami parkir. Banyak hal lucu yang bisa kami temui di tempat umum, dan kami selalu terhibur.

Hari itu cukup. Cukup menyenangkan. Cukup membuatku merasa terhibur dan sejenak lupa pada Bab I yang belum rampung. Hari minggu yang penuh tawa, dan cinta.


0 comments:

Post a Comment