Thursday, September 29, 2016

[Review] "Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi" Karya Eka Kurniawan




Judul: Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi
Penulis: Eka Kurniawan
Cetakan: Pertama-Maret 2015, Kedua- Juli 2015, Ketiga- April 2016
Penerbit: Bentang Pustaka
ISBN: 978-602-291-072-5
Jumlah Halaman : 166 Halaman


"Sebab peristiwa paling menyakitkan selalu merupakan yang paling gampang untuk diingat." (Cerita Batu, halaman 77)
Buku ini adalah kumpulan 15 cerita pendek karya Eka Kurniawan. Empat belas cerita pendek lainnya telah dimuat di koran yang berbeda-beda kecuali cerita pendek berjudul "Membuat Senang Seekor Gajah". Tidak butuh waktu lama untuk melahap buku ini, karena ceritanya tidak panjang. 
Bahasa yang digunakan tentu saja bahasa khas seorang Eka, frontal dan beberapa cerita dibumbui dengan kisah asmara yang gelap. Eka Kurniawan sangat piawai memainkan alur sebuah cerita, alur mundur dan campur aduk yang kadang membuat pembaca terkecoh, ini terdapat dalam cerita Tiga Kematian Marsilam.
Cerita lainnya menurutku tumbuh dari kisah-kisah sederhana yang dialami banyak orang, beberapa cerita menggunakan latar luar negeri seperti Paris dan Amerika, ada juga ide cerita yang diambil dari dunia perpolitikan yang disampaikan dengan cara yang sangat ringan yaitu cerita Membakar Api.
Kisah lainnya adalah pelajaran tentang kehidupan yang disampaikan melalui hal-hal kecil dan remeh-temeh (salah satu kelebihan Eka adalah bisa menciptakan cerita dari hal-hal kecil dan sederhana) pesan-pesan yang disampaikan melalui binatang seperti gajah, anjing, dan bebek.
Selebihnya adalah kisah cinta yang disampaikan dengan bahasa cinta milik Eka Kurniawan, liar dan misterius. Cerita yang dipilih menjadi judul buku ini sendiri bukan cerita yang menarik menurutku. Tidak ada sesuatu yang spesial atau menginggit di sana, atau menguggah. Kali ini, buku Eka Kurniawan tidak banyak menghiburku.
Dari lima belas cerita pendek yang ada di buku ini, hanya tiga cerita yang membuatku masuk pada dimensi lain, mengalami pengalaman baru, tersentuh, dan bergidik di waktu yang sama. Ada pun cerita-cerita tersebut adalah Teka-Teki silang, Pelajaran Memelihara Burung Beo, dan Pengantar Tidur Panjang. Dan yang paling menarik adalah cerita berjudul "Teka-Teki Silang".

Tuesday, September 27, 2016

[Travelmate] Pantai Pasir Panjang Singkawang




Perjalanan pertama kami. Dia mengajakku melihat pantai. Dari Pontianak kami berkendara ke Singkawang, jalanan tidak terlalu padat karena kami pergi tengah hari. Tujuan kami adah pantai Pasir Panjang, tapi karena GPS tidak bisa diandalkan kami tersesat ke Kelurahan Sijangkung.
Awalnya kami sudah hampir singgah di Pantai itu, tapi karena aku ngotot ingin melihat grand mall Singkawang dia mengalah dan membawaku ke pusat kota. Belum sampai ke tempat tujuan aku minta diturunkan di depan ATM BNI. Aku jarang menyimpan uang tunai di dompet. Sebenarnya ada kejadian lucu waktu itu. Kertika aku keluar dari ATM aku panik karena tidak melihat mobilnya parkir di tempat dia menungguku. Aku pernah tersesat di mall waktu kelas 5 SD, jangan sampai aku tersesat di tengah kota amoy ini—di usiaku yang sudah 20 ini. Aku kebingungan di tengah keramaian, belum lagi kendaraan tengah ramai-ramainya. Ternyata dia memindahkan kendaraannya supaya aku tidak menyeberang, tidak jauh dari ATM tempatku mengambil uang. Aku yang terburu-buru tidak melihagtnya parkir di sana.
Rasanya kesal bercampur malu, sementara dia meminta maaf berkali-kali sambil meledekku, dia selalu senang melihatku kebingungan. Keinginannku main ke mall langsung hilang, aku memintanya langsung ke pantai. Kami akan membeli kelapa dan beberapa makanan sebelum ke sana. Karena ngantuk menyetir dia mengajakku mencari kedai kopi, tapi kami tidak menemukan kedai kopi yang menyediakan wifi. Kami lalu putar arah dan di sinilah ketidak-beruntungan menghampiri kami.
Kami memasuki jalanan yang sempit, dia ngotot mengatakan bahwa itu jalan yang bisa dilewati, semakin lama jalanan semakin lenggang, rumah-rumah juga terlihat jarang. Perlu waktu satu jam untuk menyadari bahwa kami memang tersesat dan GPS keliru. Dengan nyengir-nyengir dia meminta maaf dan aku hanya tertawa menertawai kebodohan kami kali ini.
Sekitar pukul 5 sore kami sampai di tempat tujuan, pantai pasir panjang. Banyak yang menghabiskan sore hari di sana, mungkin menunggu matahari terbenam. Kami berdua langsung bermain ombak dan dia salto-salto (dia selalu bangga karena bisa salto, padahal semua orang bisa melakukannya hahaha) kami bermain pasir, tapi tidak mandi karena tidak membawa pakaian ganti. Sambil menunggu matahari tenggelam kami mengambil gambar untuk dua buku yang kami bawa. Kali ini kami memilih Noam Chomsky dan Eka Kurniawan untuk menemani perjalanan kami.
Ketika matahari terbenam kami sudah duduk di mobil, sudah siap untuk pulang ke Pontianak. Aku mengunyah sosis bakar dengan lahap dan dia bernyanyi-nyanyi mendendangkan lagu entah (lagu yang teriak-teriak keras) di sampingnku.
Kami tertawa kadang-kadang, kami menertawai pasangan muda yang mojok tidak jauh dari tempat kami parkir. Banyak hal lucu yang bisa kami temui di tempat umum, dan kami selalu terhibur.

Hari itu cukup. Cukup menyenangkan. Cukup membuatku merasa terhibur dan sejenak lupa pada Bab I yang belum rampung. Hari minggu yang penuh tawa, dan cinta.


Saturday, September 10, 2016

I'm Stuck


Ini adalah minggu ke dua di bulan September. Tidak ada peringatan hari penting di kalender nasional, tapi hari ini adalah salah satu hari yang kutunggu sejak masuk kuliah di semester 7. Hari ini pembukaan KKN di kampus, yang artinya aku semakin dekat pada proses akhir menyelesaikan masa belajarku untuk meraih gelar sarjana hukum.
Semua hal terasa sangat berat untuk kulewati akhir-akhir ini. Membaca tidak konsentrasi, menonton juga tidak mengikuti cerita, tidur tidak nyenyak, makan juga tidak teratur, bahkan menulis pun rasanya tidak bisa karena pikiranku sedang gelisah. Aku belum menemukan ide apapun untuk kujadikan skripsi. Sementara beberapa temanku sudah menyelesaikan proposal penelitiannya bahkan sedang mengurus SK untuk seminar. 
Aku kosong, pikiranku benar-benar buntu. Dulu aku tidak pernah percaya pada berat badan yang menurun atau gangguan tidur karena memikirkan skripsi, sekarang aku mengalaminya. Ini adalah masa di mana aku sangat kecewa pada diriku sendiri, aku merasa gagal menjadi seorang kutu buku- seorang kritikus kebijakan pemerintah di daerahku- seorang mahasiswa. Dua kali aku mengajukan proposal penelitian, ditolak  dua-duanya.
Sekarang aku merasa tidak semangat, aku tidak tertarik pada topik lain selain dua hal yang pernah kuajukan dan dikembalikan. Aku harus menulis, tapi aku tidak menemukan apa-apa di kepalaku. 
Misiku adalah meraih gelar SH sebelum usiaku genap 21 tahun. Sekarang aku sudah 20 tahun, Mei tahun depan aku genap 21 tahun dan sekarang sudah bulan September tapi aku belum memulai skripsiku sama sekali.
I'm stuck.
Aku tahu, aku bukan satu-satunya yang mengalami hal ini. Tapi saat ini, saat mengingat impian-impianku mulai terasa jauh dan menyadari bahwa aku ternyata tidak sekuat yang aku kira, aku merasa aku adalah satu-satunya orang paling sedih malam ini - di dunia ini. 

This entry was posted in