Wednesday, July 13, 2016

Para Penyala

Langit mulai gelap ketika aku keluar dari balai desa dan berjalan tergesa menuju sao langke. Jauh-jauh dari ibu kota daerah, aku datang ke sini untuk mengajak orang-orang desa menabung, brilian sekali, sebuah ide gila dari orang gila yang kupanggil atasan. Orang-orang di sini bahkan tidak pernah mempunyai uang lebih untuk di simpan di dompet.
“Sial..” aku memaki dalam hati sewaktu kakiku menginjak becek. Hujan membuat jalan tanah ini jadi licin dan tertutup genangan air. Dua hari di sini aku merasa telah bertahun-tahun tersingkir dari dunia, tidak ada handphone tidak ada kehidupan. Hanya ada suara radio yang kadang terdengar dari pokok tuak, pemandangan jenaka menurutku karena aku tidak pernah melihat orang-orang begitu bahagianya duduk di pokok tuak sambil mendengarkan radio. Ama’ Tingang berkelakar, jika mereka mampu membawa naik bantal dan selimut mungkin mereka akan membawanya lalu akan tidur di pokok tuak. Ama’ Tingang adalah kepala dusun tempatku menginap selama di sini. Aku dan dua temanku. Mereka sedang menjala di sungai bersama Ama’ Tingang sementara aku sedari tadi membereskan tikar di balai desa bersama beberapa remaja yang membantuku, kami telah menyelesaikan sosialisasi hari ini, dan besok kami boleh pulang.
Walaupun takjub pada keasrian alam dan nuansa tradisonal di sini aku tetap merasa tidak sabar kembali ke Pontianak. Di sini tidak ada listrik, tidak ada sinyal. Satu-satunya yang membuatku terhibur adalah suasana yang tersaji di pendopo rumah betang ketika malam menghadirkan sunyinya. Ketika petang tiba semua orang menghidupkan pelita minyak dengan sumbu kain, menjejerkannya di masing-masing pendopo, cahaya yang bersumber dari pelita-pelita itu membentuk garis simetris yang sangat indah, tepat saat malam telah jatuh dan menjadi pekat gulita hanya cahaya-cahaya itu yang menyala, gerakan mereka kompak seperti tarian halus yang mengikuti irama angin. Kegelapan selalu membuat hatiku syahdu
Aku menaiki kayu tebelian yang dipahat dengan ukiran Dayak, mendapati pendopo masih sangat sepi, orang-orang belum pulang dari uma. Secepat mungkin aku menuju Bilik Ama’ Tingang yang pintunya terbuka sedikit, sekedar menyisakan celah agar tidak menimbulkan suara ketika pintu dibuka. Bilik ini tidak terlalu luas, hanya ada sebuah ruang tamu dengan dua kamar utama lalu, sebuah kamar kecil, dan bagian paling belakang dari bangunan ini adalah tempat makan dan perapian untuk memasak menggunakan kayu bakar di letakkan di sudut ruangan. Tidak ada pajangan foto keluarga di bilik Ama’ Tingang dan Indu’ Landa, hanya ada ukiran Dayak yang memenuhi dindingnya dan tiga buah guci tua yang terlihat sangat antik di ruang tamu mereka, dijejerkan sedemikian rupa seakan sengaja diletakkan di tempat tersebut agar orang-orang bisa langsung melihatnya saat memasuki bilik mereka. Satu hal yang membuatku bingung adalah Ama’ Tingang dan Indu’ Landa tidak tidur di kamar yang sama, Ama’ Tingang menempati kamar di depan sementara Indu Landa’ di kamar yang dilalui ketika menuju daar. Aku pikir mereka memang tidak ingin mempunyai anak banyak. Aku tau dari celoteh bocah-bocah di balai desa tadi bahwa mereka mempunyai seorang puteri dan dia adalah kembang di desa ini. Mungkin mereka sengaja membatasi jumlah anak.
Aku mencium aroma kayu yang dibakar, sepertinya Indu’ Landa sedang memasak di daar belakang. Indu’ Landa adalah sosok yang pendiam dan nampak penurut pada suaminya. Tiap kali Ama’ Tingang mengatakan sesuatu dia hanya menjawab yang artinya adalah iya dan bergegas mengambilkan sesuatu jika Ama’ Tingang memintanya.
Dia sedang meniup api menggunakan dan menyadari kehadiranku. Usianya skitar 53 tahun tapi keriput telah menutupi wajahnya dan uban-uban tipis di kepalanya membuat wajah itu semakin terlihat renta, lebih tua dari yang seharusnya. Aku mahfum pekerjaan masyarakat di sini adalah sebagai petani mereka melawan terik matahari dan menantang hujan tanpa ampun mereka juga mungkin tidak mengenakan losion atau keperluan wanita sejenisnya yang kerap membuatku pusing, ah jauh sekali pikiranku jelas tidak ada losion di sini, di sebuah desa yang hanya dihuni 40 kepala keluarga dan hanya bisa ditempuh menggunakan sepeda motor dari pusat kecamatan. Perawatan tubuh mungkin tidak pernah muncuk di kepala wanita-wanita di sini. Para wanita tangguh, mungkin tulang-tulang mereka terbentuk dari jalinan besi. Tadi pagi aku melihat seorang ibu mengangkat besar penuh oleh padi yang mungkin hendak dijemur.
Melalui perbincanganku dengan Ama’ Tingang di hari pertama kami tiba, aku langsung berkesimpulan bahwa para perempuan di desa ini adalah orang-orang luar biasa, hampir sebagian dari mereka ditinggal suami pergi bekerja ke kota atau merantau ke negeri Jiran, ini membuat mereka harus mengurusi rumah dan anak-anak sendirian, melakukan pekerjaan berat mulai dari berladang sampai mencari kayu ke hutan, bahkan aku menyaksikan sendiri kemahiran mereka memegang kapak untuk membelah kayu. Di sini tidak diperbolehkan memasak menggunakan kompor, takut memicu kebakaran karena sao langke ini terbuat dari kayu dan atapnya daun rumbia.
Menjala bukan hanya kemampuan yang dikuasai kaum adam, di desa ini hampir tidak ada perbedaan kewajiban dan hak antara kaum pria dan wanita. Para wanita tidak merasa keberatan untuk mengerjakan pekerjaan pria, mungkin terpaksa karena tidak ada suami atau memang karena mereka lebih menyadari hakikat sebagai manusia yang bisa melakukan pekerjaan apa saja selagi mampu.
Aku mengangguk dengan maksud menyapa Indu’ Landa yang telah membalikkan setengah badan menghadapku. “Mengapa ndak ikut menjala bersama teman-temanmu, Jang?”
“Tadi saya membereskan tikar di balai desa dulu bu jadi tidak bisa ikut mereka” aku berbohong, aku merasa gagal menjadi laki-laki jika kunyatakan alasanku yang sebenarnya, aku tidak tahan digigit nyamuk, aku tidak ingin pulang ke kota dengan muka gosong dan badan yang bintik-bintik karena gigitan nyamuk. Indu’ hanya tesenyum. “Kalau tidak terbiasa tinggal di kampung memang begitu, sama seperti Hesah, kalau pulang tidak betah main di bawah bersama teman-temannya. Lebih senang di atas, menganyam manik atau menjinjit-jinjit di pendopo belakang mencari sinyal.
Benar saja di sini tidak ada sinyal jadi harus ke belakang rumah atau naik ke pohon untuk mendapat jaringan. Sepertinya memiliki handphone adalah sebuah perkara di desa ini. “Maaf, anak ibu tinggal di mana kalau saya boleh tahu ?” akhirnya aku tidak bisa menahan rasa ingin tahuku tentang kembang desa yang ramai diceritakan bocah-bocah tadi siang. “Anak saya sedang kuliah di ibu kota daerah, sudah hampir menyelesaikan skripsinya. Dia jarang pulang.” Entah mengapa aku seolah bahagia mendengar anak Indu’ Landa kuliah, setidaknya di tempat yang jauh dari peradaban ini ternyata ada yang menempuh pendidikan tinggi. Aku baru merasakan kehidupan yang agak normal di desa ini setelah mengetahui ada anak muda yang berasal dari sini bersekolah di kota. Indu’ Landa bercerita banyak mengenai puteri semata wayangnya, cerita yang akhirnya membuatku takjub dan penasaran. Makhluk jenis apakah puterinya ini ? beberapa bulan yang lalu dia baru pulang dari Tokyo, kegiatan kampus katanya dan dia juga sudah berpergian ke beberapa negara di Asia Tenggara untuk mewakili kampusnya. Tapi mengingat celoteh anak-anak tadi siang aku yakin tidak sedang mendengar bualan, Hesah sepertinya menjadi kebanggaan warga di sini. Indu’ Landa sangat berbeda ketika berbicara tentang anaknya ada kerinduan dan kebanggaan terpancar dari sorot matanya. Mata yang biasanya kosong itu berbinar-binar tiap kali menyebut nama puterinya. “Walaupun di sini desa terpencil dan kami orang kamoung, kami tetap berusaha menyekolahkan anak-anak kami. Makanya banyak suami yang bekerja di luar daerah dan istri yang menjaga rumah, kami ingin anak-anak kami bisa berlari kencang tidak terseret-seret seperti kami. Bukan hanya Hesah yang kuliah di ibu kota daerah, bahkan beberapa teman sebayanya kuliah di ibu kota negara.” Aku mengangguk-angguk menyembunyikan kekagumanku. Aku telah salah menilai tempat ini, ternyata tempat ini mempunyai semangat hidup yang tidak terbendung.
“Anak saya usianya menginjak dua puluh satu tahun, sejak SMP dia tidak tinggal di sini, di sini sekolah hanya dibuka sampai kelas empat SD, setelahnya harus ke kecamatan untuk menyambung pendidikan. Hesah sejak SMP sudah tidak saya awasi, hidupnya di asrama, karena mendapat ranking terus SMA-nya dia mendapat beasiswa dari sekolah khusus pariwisata di ibu kota, sejak itu dia jarang pulang. Pernah pulang hanya tiga kali. Saya harus ke kecamatan jika ingin menelponnya.
“Hesah luar biasa sekali, ibu dan suami ibu pasti sangat bahagia memilikinya.”Aku tidak sadar mengeluarkan bacot bernada merdu, aku tidak senang berbasa-basi, tapi kali ini kisah Indu’ Landa membuatku merasa haru, aku tulus mengucapkannya.
“Hesah tidak mempunyai ayah, saya tidak menikah dengan ayahnya. Tingang adalah pamannya, dia kakak sulung saya” tatapannya jatuh ke lantai kayu yang kami pijak, lalu bibirnya tersenyum, getir sekali. Aku menelan liurku. Sekarang aku benar-benar merasa membacot.
Lalu ada hening yang menyelinap di antara kami, ditengahi oleh suara jangkrik di luar sana dan tanakan nasi Indu’ yang sudah mulai mengering. Malam segera bertandang. Aku bertafakur sejenak, betapa ternyata aku merasakan nikmat hidup yang jauh lebih baik dari mereka. Aku tidak harus berpisah dengan orangtuaku hanya untuk melanjutkan pendidikan, tapi sayangnya aku benci pendidikan. Aku selalu menghindari pendidikan, kuliahku tidak karuan. Diusia 24 tahun aku bahkan belum menyelesaikan pendidikan hukumku, aku malah memilih bekerja di sebuah koperasi, lalu dua hari ini seolah sedang dihukum aku mendapat tugas untuk melakukan sosialisasi di sini. Di sebuah desa terpencil yang membuatku terisolasi dari kehidupan. Ternyata hidup bukan hanya tentang bernapas dan melihat dunia. Hidup adalah saat kita bangun dan mendapati diri kita ada di rumah bersama keluarga. Hidup adalah saat kita memiliki semangat menggebu-ngebu untuk melakukan sesuatu. Atau mungkin bagi wanita-wanita di desa ini hidup adalah saat mereka berangkat ke ladang lalu menggarap tanah dan sore harinya bisa melepas lelah di sampan sambil menjala ikan untuk lauk malam harinya, tak peduli mereka perempuan, mereka tetap bekerja walau itu terlihat keras karena bagi mereka itulah hidup.
“Mandilah, Jang. Ndak baik mandi malam, kalau ndak mau mandi ke sungai mandi di durung saja. Karena merasa tidak enak telah berkata lancang, aku meminta maaf. Tapi dia hanya tersenyum seperti kali pertama aku menemuinya di daar tadi, senyum itu pula yang menyambutku ketika pertama kali menginjakkan kaki di sao langke. Senyum yang ramah dan tulus.
"Ndak apa-apa, jangan terlalu dipikirkan, hidup memang seperti itu. Seperti lapisan kulit bawang, banyak tapi tidak terlihat, banyak rasa tapi kadang manusia tidak peka untuk memaknainya.”
Seperti lapisan kulit bawang... seseorang pernah mengatakan hal yang sama padaku, tapi aku lupa. Sepanjang perjalanan menuju durung aku memikirkan itu, lalu ingatanku singgah pada sebuah malam di bulan November tahun lalu. Saat hujan dan aku jengah dengan pekerjaan. Saat aku ingin menjadi lelaki seutuhnya tapi urung karena ternyata aku mengencani seorang bocah yang sangat sayang untuk kujamah.
Aku memesan seorang gadis untuk menemaniku menghabiskan malam. Dia masuk ke kamar hotel lalu spontan menyebutkan nominal, tiga juta sampai jam tiga pagi katanya. Aku melirik jam di tanganku yang menujukkan pukul setengah dua belas malam. Aku hanya mengangguk, mami mengatakan dia adalah salah satu aset di tempatnya jadi harus diperlakukan dengan baik. Parasnya sangat cantik, tidak bahenol seperti perempuan bayaran lainnya, masuk akal karena mami mengatakan dia salah satu kandidat dalam pemilihan putri pariwisata tahun lalu. Masih muda dan memancarkan kepercayaan diri yang timggi tapi tidak nagkuh, dia cukup anggun. Aku menanyakan namanya dan dia tidak menjawabku, lalu aku tidak ingin memulai semuanya jika dia bersikukuh merahasiakan namanya.
Di antara rinai hujan malam itu, suara siulannya adalah yang paling dingin. Dia bersiul-siul ringan, membuatku bergidik. Dia tidak takut sama sekali, tidak malu-malu, sangat terlatih. “Aku buat tugas saja kalau tidak main” katanya sambil membuka tas yang dibawanya lalu mengeluarkan buku catatan. Aku hanya memperhatikan tangannya yang lincah memainkan pulpen, dasar bocah sempat-sempatnya membawa tugas kuliah ketika bekerja. “Besok jam 8 aku harus mengikuti tes di kampus, kalau kita tidak main aku pulang saja. Aku perlu istirahat.” Dia mentapku seperti menantang, aku mendadak kasihan melihatnya. Dia terlampau muda untuk melakukan pekerjaan semacam ini. Aku mengangguk saja tanda setuju. Aku membiarkannya bangkit dan mengemasi bukunya, lalu dia menyodorkan tangan. Aku perlu uang, katanya. Kuambil uang sesuai dengan permintaannya, itu lebih dari separuh gaji bulananku. Dia mengambilnya dengan senyum mengembang dan segera bergegas. “Dari mana asalmu ?” aku menanyakan itu sebelum dia membuka pintu. Dia berhenti sejenak dan membalikkan badannya “Di sebuah tempat yang jauh dari sini, sangat jauh, kamu harus membayangkan lapisan terdalam sebuah bawang merah jika ingin mengetahui tempatku, karena tempatku sangat terpencil.” Heh. Bocah. Hidup jenis apa yang kau jalani sampai membuatmu bahagia bekerja seperti ini, tanyaku pada diri sendiri. Lapisan kulit bawang merah, aku malah membayangkan gorengan dengan cabe merah tengah malam begini, aku lapar lalu kubiarkan dia pergi.
Dewa Zeus! Itu pasti Hesah. Kembang desa yang menjadi kebanggaan warga di sini. Desa ini memang luar biasa, melahirkan wanita-wanita keras yang tidak takut nenantang kehidupan, bahkan Hesah menentangnya, sekaligus dengan nilai-nilai yang dikandungnya. Aku merasa menjadi manusia yang hampa. Langit Tamambaloh sepenuhnya menjadi gelap, jangkrik dan suara radio dari pokok tuak menandakan bahwa malam telah tiba. Para perempuan telah duduk di pendopo rumah menggelar tikar dan menyalakan pelita, berbincang tentang padi mereka yang mulai menguning. Mereka berbicara dengan bahasa daerah yang tidak kumengerti, tapi aku tahu mereka membicarakan kebahagiaan. Mereka luar biasa. Aku tidak punya nyali besar seperti mereka. Perempuan-perempuan yang kutemui kali ini seakan punya nyawa yang tidak akan habis. Mereka menjalani hidup dengan semangat yang tak pernah padam, menikmati semua bagiannya dengan cara masing-masing. Melakukan hal-hal yang seakan keluar dari batasnya untuk hidup, aku tidak menemukan kalimat yang tepat untuk mereka. Mereka adalah pemberi kehidupan yang sangat abadi, bahkan ketika hidup berat mereka tetap tegar menjalaninya. Para perempuan; kalianlah penyala dan penjaga kehidupan.

(Pontianak, April 2016)
Cerpen ini pernah dimuat di tabloid Mimbar Untan.

Glosarium:
Ama': Bapak
Indu': Ibu
Bunting Lawan : Hamil di luar nikah dan tidak mendapat pertanggungjawaban
Daar : Dapur
Durung: Bagian rumah paling belakan dalam rekonstruksi bangunan rumah suku Dayak Tamambaloh, tempat menyimpan persediaan padi dan air.
Kataman : Sejenis bakul tapi berukuran sangat besar, terbuat dari rotan yang dianyam, biasanya dikaitkan dikepala ketika digunakan.
Sao langke : Rumah Panjang
Supan : Bambu yang sengaja dikeringkan lalu dipotong dan digunakan sebagai alat meniup udara agar menyalakan api
Uma: Ladang.

0 comments:

Post a Comment