Wednesday, July 13, 2016

[Cerpen] Kelinci Tung





April 2014...
Hari itu adalah hari Paskah, Pontianak seperti wanita PMS yang sedang marah. Hujan turun seharian, membuat basah jalanan, menyepikannya dari kendaraan. Jalan Adisucipto sangat lengang, diselimuti aroma asap kendaraan bermotor yang bercampur udara basah. Hari itu tak banyak anak-anak kecil berpakaian merah berkeliaran di pelataran gereja, acara mencari telur Paskah pun tak meriah, bahkan kelopak bunga melati di depan rumah seakan enggan merekah. Ini Paskah paling biasa yang pernah ada, hujan membuat hampir seluruh acara dibatalkan.
Kami langsung pulang ke rumah begitu misa selesai. Menyalakan televisi dan menunggui ibu selesai menidurkan Tung, menghantarnya ke alam mimpi. Mimpi para bayi.Lalu sebuah juke putih berhenti tepat di depan rumah. Dari dalam mobil keluar atasan abang di kantor, membawa kotak jaring berukuran besar berisi sepasang kelinci. Hadiah Paskah untuk Tung, katanya. Itulah hari pertama sepasang kelinci itu hadir di rumah kami. Kelinci adalah lambang kelahiran, lambang kehidupan baru.
Tung adalah adik kecilku, usianya baru satu tahun lebih saat kelinci-kelinci itu dihantar ke rumah. Usia di mana harusnya dia telah lincah menyambut teman barunya datang, tapi Tung berbeda. Sejak bayi dia telah sakit-sakitan. Kata ayah, dokter pernah mengatakan usianya mungkin hanya sampai empat atau lima bulan, sejak lahir tubuhnya kelebihan kelenjar kuning. Ini membuatnya sering demam dengan panas badan yang sangat tinggi, tulang-tulangnya menjadi kaku, dia bahkan kesusahan menggerakkan jari-jarinya.Walaupun untuk anak seusianya pertumbuhan badan Tung nampak baik-baik saja kenyataannya dia tak sehat. Diusianya yang masih sangat muda dia telah dihadapkan pada serangkaian terapi yang tak ubahnya bagai rangakaian penderitaan. Dia menjalani pengobatan rutin setiap minggu, dengan terapi-terapi khusus yang sepertinya membuatnya kesakitan. Kemampuannya selain mengunyah makanan dan melakukan aktivitas ereksi adalah tertawa dan menangis, kadang bergumam-gumam ketika mendengar lagu Payphone diputar dari kamar abang mungkin dia mencoba bernyanyi.
Kehadiran kelinci Tung membuat suasana paginya menjadi ceria. Kami memberi nama Vicqe untuk kelinci jantan yang berwarna cokelat dan Shaqe untuk kelinci betina yang berwarna putih. Setiap pagi ibu selalu menggendong Tung dan mengajaknya melihat kelinci-kelincinya. Tung akan tertawa menyaksikan makhluk-makhluk pengerat itu meloncat ke sana ke mari. Tawanya akan semakin riang jika dia dituntun memberikan potongan wortel ke kandang kelinci.

Juli 2014..
Makin hari perkembangan adikku semakin membaik, dia mulai bisa menggerakkan jari-jarinya, badannya tidak sekaku yang sebelumnya. Kami semakin sering mengajaknya bermain bersama, apalagi bersama kelincinya. Kelinci-kelinci itu rakus, mereka makan wortel dan kangkung. Tung senang melihat mereka meloncat-loncat, kami senang melihat keadaan Tung yang semakin mendekati kesembuhan.
Sampai malam itu tiba, malam di mana tubuh Tung panas tinggi dan tidak turun-turun. Kami panik dan membawanya ke Rumah Sakit, dengan kecemasan yang tidak bisa disembunyikan lagi kami mencoba untuk saling menguatkan. Kami sekeluarga mencoba menghidupkan kembali harapan akan kesembuhan adikku, harapan akan kesehatannya, harapan suatu hari dia akan tumbuh normal tanpa ada kesakitan. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Setelah dirawat tiga hari Tung menyerah melawan penyakitnya, dia meninggalkan kami semua, kami yang sudah terbiasa dengan harapan kami.

Juli 2016...
Tung memang telah pergi meninggalkan kami tapi kenangan tentangnya tetap tinggal di ingatan, menempati ruang di hati kami, terdapat pada semua sudut rumah di mana dia pernah tertawa riang atau mengerang menahan sakit yang tak bisa kami sembuhkan. Dia adalah kenangan yang abadi, tinggal bersama apa saja yang pernah menjadi miliknya dan tersimpan di rumah ini. Dan kelinci-kelincinya adalah kenangan yang paling hidup. Sekarang Vicqe dan Shaqe telah menjadi kelinci dewasa, mereka telah memiliki lima ekor anak. Kandang mereka telah jauh lebih luas dengan pemisahan antara kelinci jantan dan betina, jatah makan mereka juga jauh lebih banyak, jauh lebih menguras kantong. Mereka sangat rakus.
Ketika seseorang meninggalkanmu, satu-satunya yang bisa kausimpan adalah kenangan. Dan memelihara kelinci Tung sama seperti memelihara kenangan tentangnya. Orangtuaku bukan orang yang memiliki banyak waktu untuk mengurus hewan peliharaan, karena itu sejak dulu aku dan abang tidak pernah diperbolehkan memelihara kucing atau anjing, tapi pada kelinci-kelinci Tung mereka tak pernah mengeluh. Sesibuk apapun pekerjaan mereka di kantor, mereka tetap memberi perhatian khusus untuk kelinci-kelinci itu. Ibu seringkali menelponku untuk mengingatkan agar aku tidak lupa memberi makan kelinci-kelinci Tung, ketika pulang mengajar pertanyaan paling utama darinya adalah “Kelinci sudah dikasi makan ?”
Aku mengerti, kelinci-kelinci itu adalah bagian dari Tung, tiap kali melihat mereka aku seolah melihat Tung yang tertawa riang di gendongan ibu. Kelinci itu mampu menghadirkan ingatan akan Tung dengan sangat nyata, bagaimana Tung tertawa dan suaranya masih sangat akrab di telinga kami semua. Kelinci itu mengingatkan bahwa aku pernah memiliki seorang adik laki-laki yang sangat lucu, mengingatkan kami bahwa pernah ada seorang bayi yang selalu kami rindukan ketika berlama-lama di luar rumah. Bayi yang suara tangisnya membuat semua orang terjaga dan berjaga-jaga.
Sekarang hampir setiap sore ibu dan bapak menghabiskan waktu di halaman rumah bersama kelinci-kelinci itu. Sejak kepergian Tung, sore mereka lebih sering dihabiskan bersama, di depan kandang kelinci. Kerap kali kulihat ibu berlama-lama di kandang Vicqe dan Shaqe, dengan mata berkaca-kaca. 


Pontianak, Juli 2016.
Mengenang dua tahun kepergian adik kecilku, Pio.
This entry was posted in

0 comments:

Post a Comment