Sunday, July 31, 2016

14 Jam Pontianak-Putussibau


Setelah tiga tahun tidak menengok kampung halaman, kemarin aku memutuskan untuk pulang.
Pulang kampung kali ini merupakan pulang kampung yang paling berkesan. 
Uang untuk membeli tiket pesawat kugunakan untuk membeli buku-buku anak, keinginanku untuk mengajak adik-adik di kampung kakek untuk membaca sangat besar. Karena uang tiket hanya tersisa beberapa ratus ribu maka aku dengan nekat menggunakan bus untuk pulang ke Putussibau.
Bus yang aku gunakan adalah bus mini, aku terlalu naif untuk menyebutnya reot walaupun kondisi bus yang aku tumpangi memang memprihatinkan. Itu adalah satu-satunya bus yang masih memiliki bangku kosong.
Putussibau merupakan ibu kota Kapuas Hulu, berjarak sekitar 780 km dari Pontianak dengan waktu tempuh sekitar 14 jam.
Aku berangkat dari Pontianak pukul 2 sore, keesokan harinya baru tiba di Putussibau. Sepanjang perjalanan aku menghabiskan empat butir obat penenang supaya tidak mabuk. Karena minum obat penenang aku jadi tidur sepanjang jalan, bangun-bangun ketika bus berhenti dan penumpang turun untuk beristirahat, kepalaku benjol karena terantuk. Perjalanan dari Pontianak menuju Putussibau menggunakan kendaraan umum biasanya ditempuh dengan empat kali peristirahatan di rumah makan.
Empat belas jam menuju Putussibau merupakan empat belas jam melawan penat. Dari Pontianak menuju Putussibau harus melalui beberapa wilayah kabupaten dengan  kondisi infrastruktur jalan yang berbeda.
Yang aku suka dari perjalanan kali ini adalah keberanian yang ternyata aku miliki. Bagi sebagian orang perjalanan seperti ini adalah hal yang biasa, tapi untuk orang dengan kondisi tubuh yang lemah sepertiku, perjalanan ini terbilang perjalanan nekat. 
Buku-buku yang kubawa kumasukkan ke dalam kardus Oreo... satu kardus berisi buku - dan dua buah koran lokal yang memuat berita tentangku hehe - Nenek ngotot memintaku membawa dua koran yang memuatku di bulan Juli ini, maklum aku satu-satunya cucu yang pernah masuk koran. Zzzzz.
Barang-barang penumpang di simpan di atas, sewaktu aku terjaga yang aku pikirkan adalah kardus Oreo berisi buku yang akan kubagikan untuk anak-anak di rumah betang Balimbis nanti. Aku khawatir kalau-kalau kardus Oreo itu terbuka lalu hujan dan buku-bukuku akan rusak. Tapi syukurlah kardus itu sampai di Putussibau tanpa rusak sedikit pun.
Menggunakan kendaraan umum berarti harus siap berada dalam satu ruang bersama orang-orang asing. Karena aku naik bus ekonomi maka sepanjang perjalanan aku menghirup asap rokok. Aku sudah mengenakan masker tapi tetap saja asap rokok sangat menganggu, obat penenang sangat berguna saat itu. Walaupun menjenuhkan, yang aku suka dari perjalanan menggunakan bus adalah kenangan-kenangan yang muncul ketika aku duduk di bangku dan memandangi langit yang seolah mengejar dari atas sana.
Waktu aku kecil, bus adalah satu-satunya kendaraan yang bisa digunakan untuk berpergian jika ingin mengunjungi keluarga di daerah lain. Naik bus selalu menyenangkan sewaktu aku masih kecil, aku dan kakak selalu memilih duduk berdampingan, dia selalu diam dan aku selalu mengajaknya mengobrol. Aku paling semangat tiap kali kami berpergian meskipun berakhir dengan aku yang muntah-muntah tak karuan.
Kali ini aku pulang seorang diri, semuanya sudah berubah. Orang-orang memilih menggunakan kendaraan pribadi. Aku juga mungkin tidak akan duduk di bangku no 10 itu jika saja uang tiketku tidak kugunakan untuk membeli buku.
Alih-alih menyesali keputusanku, aku menghibur diri dengan membayangkan wajah-wajah ceria anak-anak desa Balimbis yang akan aku temui nanti. Meskipun aku masih harus beristirahat di Putussibau beberapa hari ke depan, tapi semangatku masih sangat menggebu-gebu untuk secepatnya menengok kampung halaman. Bertemu nenek dan kakek, mengajar anak-anak membaca di pendopo rumah betang.
Empat belas jam Pontianak-Putussibau yang penuh semangat. Sekarang aku sudah di Putussibau, mengetik di samping adik sepupuku yang sibuk bermain gadget. Mungkin Senin aku akan melanjutkan perjalanan ke Balimbis, dan mengunjungi beberapa kampung di wilayah Kecamatan Embaloh Hulu.
Pulang kampung kali ini sangat berkesan karena aku pulang sendiri, dan aku membawa kardus Oreo berisi buku untuk anak-anak di rumah betang Balimbis (dan dua buah koran yang memuat berita tentangku hahaha). Semoga pulang kampung selanjutnya tidak ada dilema antara menggunakan uang untuk membeli tiket pesawat atau membeli buku. Heee.
This entry was posted in

1 comment: