Tuesday, July 19, 2016

Kapan Kita Harus Menyerah ?

Some were born to be lucky, some were born to be fighters.
Menurutku kehidupan ini adalah rangkaian usaha untuk mencapai sesuatu yang tak pernah cukup. Akan selalu ada hal yang kita perjuangkan, sepanjang hidup kita. Entah itu mimpi kita, hak, perasaan, bahkan kewajiban. Semua hal itu perlu usaha, perlu perjuangan dan kegagalan adalah bagian darinya.

Kadang ada yang telah berusaha mati-matian untuk mimpinya - (atau mimpi orang lain yang menjadi kewajibannya - menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk mengejar impiannya, tapi gagal. Mencoba memperjuangkannya berkali-kali, tapi tetap saja gagal. Seolah hal itu memang tidak bisa digapainya. Tapi percayalah, hasil tidak pernah mengkhianati proses.

Kalau saat ini kamu telah berusaha tapi gagal mungkin usahamu belum maksimal. Kalau kamu sudah berkali-kali mencoba tapi masih tetap gagal, jangan berhenti, dan jangan menutup mata untuk kesempatan yang lain. Biarkan kegagalan bekerja agar kamu semakin mengasah tekat dan semakin berani. Tapi jangan terpaku pada satu mimpi itu, kegagalan mungkin mengingatkan dirimu bahwa manusia memang harus memiliki banyak mimpi, jangan cuma punya satu, milikilah banyak mimpi.
Berjuanglah sebanyak-banyaknya. Perjuangkan mimpi yang belum terwujud sambil memperjuangkan hal lain. Biarkan kegagalan dan semangat berjalan beriringan. Seperti kata Walt Disney, jika kamu mampu bermimpi maka kamu mampu mewujudkannya. Jadi tidak ada kata berhenti atau menyerah untuk mengejar impian kita, untuk memperjuangkan hak kita, kalau kita gagal berarti saatnya mencoba memasuki mimpi yang lain dengan tetap memperjuangkan mimpi yang belum terwujud.
Sampai akhirnya... ternyata kita memang harus menyerah.

Kapan kita harus menyerah ?
Menyerahlah jika usaha kita ternyata malah merugikan orang lain, karena jika merugikan orang lain itu bukan perjuangan tapi keegoisan. Ini berlaku untuk semua hal yang kita perjuangkan. Mimpi, hak, perasaan, dan kewajiban kita. Menyerahlah jika ternyata perjuangan kita malah mengambil hak orang lain.

Berhentilah memperjuangkan perasaanmu jika ternyata orang yang sedang kamu perjuangkan merasa dirugikan, seperti misalnya cinta bertepuk sebelah tangan, atau tarik-ulur, putus-nyambung dalam hubungan asmara. Memperjuangkan perasaan itu harus, tapi tidak jika sudah mulai saling menyakiti. Memperjuangkan sangat berbeda dengan memaksakan. 

Jadi, untuk siapa pun yang sedang berjuang, sedang berusaha. Jangan berhenti sampai hal yang kamu perjuangkan terwujud, atau sampai kamu mengambil hak orang lain.

Ayo, semangat!
This entry was posted in

Monday, July 18, 2016

Bergerilya Lewat Buku



Hari ini untuk pertama kalinya aku dan beberapa temanku (yang tergabung dalam  komunitas Pecandu Buku) menggelar lapak buku bersama komunitas Pontianak Membaca.
Untuk pertama kalinya aku membawa keluar buku-buku kesayanganku yang biasanya hanya dikeluarkan untuk difoto setelah selesai dibaca.
Menjadi legowo untuk melihat buku-buku kesayangan kita dipinjam orang lain ternayata tidak mudah. Sebagai orang yang menyukai buku lebih dari makanan, aku sangat khawatir buku-buku koleksianku akan rusak oleh peminjam. Tapi hari ini, aku meminjamkan beberapa buku kepada pengunjung lapak. Rasanya aku melakukan sesuatu yang sangat besar, padahal cuma meminjamkan buku. ehehe.

Lapak buku kali ini berbeda dengan lapak buku dua minggu yang lalu, yang pernah saya tuliskan juga di sini. Ya jelas berbeda karena kali ini aku terlibat secara langsung dalam penyelenggaraannya,bukan cuma datang sebagai pengunjung tapi juga penyedia buku dan banner (yang dibawakan pacar dari rumah, makasih Bandi). 

Meskipun tidak berjalan seperti yang seharusnya, tapi aku merasa sangat bahagia. Bahkan terharu, aku tidak pernah membayangkan akan melakukan hal yang kulakukan hari ini. Turun ke lapangan, merelakan beberapa buku basah karena hujan turun agak deras sesaat setelah lapak selesai kami gelar.

Aku benar-benar merasakan semangat yang luar biasa, sebelum lapak digelar aku sudah membayangkan perjumpaan-perjumpaan dengan teman-teman baru, kehadiran orang-orang yang haus akan ilmu, atau adik-adik kecil yang datang dengan mata berbinar-binar melihat beberapa buku anak yang temanku sediakan. Mulai dari buku filsafat, teologi, sastra, novel pop, sampai majalah anak dan komik kami jejerkan dalam satu lapak. Kata Sebastianus Lukito "Menari-narilah kameradku dalam lautan ilmu"itulah yang kurasakan.
Sampai akhirnya hujan turun, dan lapak kami ditutup.

Meskipun hujan turun, beberapa orang tetap semangat mencari tahu lokasi lapak. Tetap ada yang datang, bahkan datang sambil menyumbang buku untuk Pontianak Membaca. Sungguh sebuah kebahagiaan bagi kami. 

Beberapa tahun yang lalu aku merasa tersesat di antara manusia-manusia hedonisme yang hanya mementingkan penampilan dan lokasi check in di path, merasa kikuk saat harus menjawab pertanyaan "Loh, kok suka baca ? kan bukan anak sastra ?" seolah membaca hanyalah sesuatu yang boleh dilakukan oleh orang-orang yang bergelut di dunia sastra. Seolah membaca hanyalah kegiatan yang bisa dilakukan sekelompok orang. Beberapa tahun yang lalu aku masih menulis opini-opiniku di laptop dan membiarkannya mengendap tanpa pernah kusentuh lagi. Tidak pernah kumunculkan ke permukaan karena tidak ada teman berdiskusi. Sampai akhirnya aku bertemu Pecandu Buku.

Pecandu Buku memberikan banyak pelajaran berarti bagiku, aku berproses dan berkembang di sini. Menemukan teman-teman dengan kecintaan yang sama, bertemu orang-orang luar biasa dengan berbagai sudut pandang, mempunyai teman diskusi dan bermimpi. Termasuk melakukan gerakan seperti hari ini - melapak buku. 

Pecandu Buku membuat harapan-harapanku terasa dekat, tiap kali membuka grup dan memulai diskusi selalu ada semangat baru yang bisa kudapatkan. Belum lagi gerakan-gerakan inspiratif yang dilakukan teman grup yang membuat keinginanku untuk melakukan perbuatan nyata membuncah. Pecandu Buku seperti sebuah tempat di mana sekumpulan ide bisa aku temukan, segudang ilmu yang bisa aku dapatkan secara cuma-cuma. dan semangat yang seakan tidak pernah habis.

Keinginanku sendiri sederhana, aku ingin adik-adikku dan keponakanku nanti tidak  menerima pertanyaan yang sama seperti pertanyaan yang kerap kali dilontarkan padaku "Loh, kok suka baca buku ? kan bukan anak sastra ?"
Semoga lapak buku bisa menjadi pilihan bergerilya yang baik untuk memerdekakan masyarakat dari pikiran yang sempit. Semoga teman-teman yang berjuang dengan niat mulia juga tidak bosan dan menyerah untuk membantu mencerdaskan bangsa. Karena mencerdaskan bangsa bukan hanya tanggungjawab negara, tapi tanggungjawab tiap manusia.

This entry was posted in

Wednesday, July 13, 2016

[Cerpen] Kelinci Tung





April 2014...
Hari itu adalah hari Paskah, Pontianak seperti wanita PMS yang sedang marah. Hujan turun seharian, membuat basah jalanan, menyepikannya dari kendaraan. Jalan Adisucipto sangat lengang, diselimuti aroma asap kendaraan bermotor yang bercampur udara basah. Hari itu tak banyak anak-anak kecil berpakaian merah berkeliaran di pelataran gereja, acara mencari telur Paskah pun tak meriah, bahkan kelopak bunga melati di depan rumah seakan enggan merekah. Ini Paskah paling biasa yang pernah ada, hujan membuat hampir seluruh acara dibatalkan.
Kami langsung pulang ke rumah begitu misa selesai. Menyalakan televisi dan menunggui ibu selesai menidurkan Tung, menghantarnya ke alam mimpi. Mimpi para bayi.Lalu sebuah juke putih berhenti tepat di depan rumah. Dari dalam mobil keluar atasan abang di kantor, membawa kotak jaring berukuran besar berisi sepasang kelinci. Hadiah Paskah untuk Tung, katanya. Itulah hari pertama sepasang kelinci itu hadir di rumah kami. Kelinci adalah lambang kelahiran, lambang kehidupan baru.
Tung adalah adik kecilku, usianya baru satu tahun lebih saat kelinci-kelinci itu dihantar ke rumah. Usia di mana harusnya dia telah lincah menyambut teman barunya datang, tapi Tung berbeda. Sejak bayi dia telah sakit-sakitan. Kata ayah, dokter pernah mengatakan usianya mungkin hanya sampai empat atau lima bulan, sejak lahir tubuhnya kelebihan kelenjar kuning. Ini membuatnya sering demam dengan panas badan yang sangat tinggi, tulang-tulangnya menjadi kaku, dia bahkan kesusahan menggerakkan jari-jarinya.Walaupun untuk anak seusianya pertumbuhan badan Tung nampak baik-baik saja kenyataannya dia tak sehat. Diusianya yang masih sangat muda dia telah dihadapkan pada serangkaian terapi yang tak ubahnya bagai rangakaian penderitaan. Dia menjalani pengobatan rutin setiap minggu, dengan terapi-terapi khusus yang sepertinya membuatnya kesakitan. Kemampuannya selain mengunyah makanan dan melakukan aktivitas ereksi adalah tertawa dan menangis, kadang bergumam-gumam ketika mendengar lagu Payphone diputar dari kamar abang mungkin dia mencoba bernyanyi.
Kehadiran kelinci Tung membuat suasana paginya menjadi ceria. Kami memberi nama Vicqe untuk kelinci jantan yang berwarna cokelat dan Shaqe untuk kelinci betina yang berwarna putih. Setiap pagi ibu selalu menggendong Tung dan mengajaknya melihat kelinci-kelincinya. Tung akan tertawa menyaksikan makhluk-makhluk pengerat itu meloncat ke sana ke mari. Tawanya akan semakin riang jika dia dituntun memberikan potongan wortel ke kandang kelinci.

Juli 2014..
Makin hari perkembangan adikku semakin membaik, dia mulai bisa menggerakkan jari-jarinya, badannya tidak sekaku yang sebelumnya. Kami semakin sering mengajaknya bermain bersama, apalagi bersama kelincinya. Kelinci-kelinci itu rakus, mereka makan wortel dan kangkung. Tung senang melihat mereka meloncat-loncat, kami senang melihat keadaan Tung yang semakin mendekati kesembuhan.
Sampai malam itu tiba, malam di mana tubuh Tung panas tinggi dan tidak turun-turun. Kami panik dan membawanya ke Rumah Sakit, dengan kecemasan yang tidak bisa disembunyikan lagi kami mencoba untuk saling menguatkan. Kami sekeluarga mencoba menghidupkan kembali harapan akan kesembuhan adikku, harapan akan kesehatannya, harapan suatu hari dia akan tumbuh normal tanpa ada kesakitan. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Setelah dirawat tiga hari Tung menyerah melawan penyakitnya, dia meninggalkan kami semua, kami yang sudah terbiasa dengan harapan kami.

Juli 2016...
Tung memang telah pergi meninggalkan kami tapi kenangan tentangnya tetap tinggal di ingatan, menempati ruang di hati kami, terdapat pada semua sudut rumah di mana dia pernah tertawa riang atau mengerang menahan sakit yang tak bisa kami sembuhkan. Dia adalah kenangan yang abadi, tinggal bersama apa saja yang pernah menjadi miliknya dan tersimpan di rumah ini. Dan kelinci-kelincinya adalah kenangan yang paling hidup. Sekarang Vicqe dan Shaqe telah menjadi kelinci dewasa, mereka telah memiliki lima ekor anak. Kandang mereka telah jauh lebih luas dengan pemisahan antara kelinci jantan dan betina, jatah makan mereka juga jauh lebih banyak, jauh lebih menguras kantong. Mereka sangat rakus.
Ketika seseorang meninggalkanmu, satu-satunya yang bisa kausimpan adalah kenangan. Dan memelihara kelinci Tung sama seperti memelihara kenangan tentangnya. Orangtuaku bukan orang yang memiliki banyak waktu untuk mengurus hewan peliharaan, karena itu sejak dulu aku dan abang tidak pernah diperbolehkan memelihara kucing atau anjing, tapi pada kelinci-kelinci Tung mereka tak pernah mengeluh. Sesibuk apapun pekerjaan mereka di kantor, mereka tetap memberi perhatian khusus untuk kelinci-kelinci itu. Ibu seringkali menelponku untuk mengingatkan agar aku tidak lupa memberi makan kelinci-kelinci Tung, ketika pulang mengajar pertanyaan paling utama darinya adalah “Kelinci sudah dikasi makan ?”
Aku mengerti, kelinci-kelinci itu adalah bagian dari Tung, tiap kali melihat mereka aku seolah melihat Tung yang tertawa riang di gendongan ibu. Kelinci itu mampu menghadirkan ingatan akan Tung dengan sangat nyata, bagaimana Tung tertawa dan suaranya masih sangat akrab di telinga kami semua. Kelinci itu mengingatkan bahwa aku pernah memiliki seorang adik laki-laki yang sangat lucu, mengingatkan kami bahwa pernah ada seorang bayi yang selalu kami rindukan ketika berlama-lama di luar rumah. Bayi yang suara tangisnya membuat semua orang terjaga dan berjaga-jaga.
Sekarang hampir setiap sore ibu dan bapak menghabiskan waktu di halaman rumah bersama kelinci-kelinci itu. Sejak kepergian Tung, sore mereka lebih sering dihabiskan bersama, di depan kandang kelinci. Kerap kali kulihat ibu berlama-lama di kandang Vicqe dan Shaqe, dengan mata berkaca-kaca. 


Pontianak, Juli 2016.
Mengenang dua tahun kepergian adik kecilku, Pio.
This entry was posted in

Para Penyala

Langit mulai gelap ketika aku keluar dari balai desa dan berjalan tergesa menuju sao langke. Jauh-jauh dari ibu kota daerah, aku datang ke sini untuk mengajak orang-orang desa menabung, brilian sekali, sebuah ide gila dari orang gila yang kupanggil atasan. Orang-orang di sini bahkan tidak pernah mempunyai uang lebih untuk di simpan di dompet.
“Sial..” aku memaki dalam hati sewaktu kakiku menginjak becek. Hujan membuat jalan tanah ini jadi licin dan tertutup genangan air. Dua hari di sini aku merasa telah bertahun-tahun tersingkir dari dunia, tidak ada handphone tidak ada kehidupan. Hanya ada suara radio yang kadang terdengar dari pokok tuak, pemandangan jenaka menurutku karena aku tidak pernah melihat orang-orang begitu bahagianya duduk di pokok tuak sambil mendengarkan radio. Ama’ Tingang berkelakar, jika mereka mampu membawa naik bantal dan selimut mungkin mereka akan membawanya lalu akan tidur di pokok tuak. Ama’ Tingang adalah kepala dusun tempatku menginap selama di sini. Aku dan dua temanku. Mereka sedang menjala di sungai bersama Ama’ Tingang sementara aku sedari tadi membereskan tikar di balai desa bersama beberapa remaja yang membantuku, kami telah menyelesaikan sosialisasi hari ini, dan besok kami boleh pulang.
Walaupun takjub pada keasrian alam dan nuansa tradisonal di sini aku tetap merasa tidak sabar kembali ke Pontianak. Di sini tidak ada listrik, tidak ada sinyal. Satu-satunya yang membuatku terhibur adalah suasana yang tersaji di pendopo rumah betang ketika malam menghadirkan sunyinya. Ketika petang tiba semua orang menghidupkan pelita minyak dengan sumbu kain, menjejerkannya di masing-masing pendopo, cahaya yang bersumber dari pelita-pelita itu membentuk garis simetris yang sangat indah, tepat saat malam telah jatuh dan menjadi pekat gulita hanya cahaya-cahaya itu yang menyala, gerakan mereka kompak seperti tarian halus yang mengikuti irama angin. Kegelapan selalu membuat hatiku syahdu
Aku menaiki kayu tebelian yang dipahat dengan ukiran Dayak, mendapati pendopo masih sangat sepi, orang-orang belum pulang dari uma. Secepat mungkin aku menuju Bilik Ama’ Tingang yang pintunya terbuka sedikit, sekedar menyisakan celah agar tidak menimbulkan suara ketika pintu dibuka. Bilik ini tidak terlalu luas, hanya ada sebuah ruang tamu dengan dua kamar utama lalu, sebuah kamar kecil, dan bagian paling belakang dari bangunan ini adalah tempat makan dan perapian untuk memasak menggunakan kayu bakar di letakkan di sudut ruangan. Tidak ada pajangan foto keluarga di bilik Ama’ Tingang dan Indu’ Landa, hanya ada ukiran Dayak yang memenuhi dindingnya dan tiga buah guci tua yang terlihat sangat antik di ruang tamu mereka, dijejerkan sedemikian rupa seakan sengaja diletakkan di tempat tersebut agar orang-orang bisa langsung melihatnya saat memasuki bilik mereka. Satu hal yang membuatku bingung adalah Ama’ Tingang dan Indu’ Landa tidak tidur di kamar yang sama, Ama’ Tingang menempati kamar di depan sementara Indu Landa’ di kamar yang dilalui ketika menuju daar. Aku pikir mereka memang tidak ingin mempunyai anak banyak. Aku tau dari celoteh bocah-bocah di balai desa tadi bahwa mereka mempunyai seorang puteri dan dia adalah kembang di desa ini. Mungkin mereka sengaja membatasi jumlah anak.
Aku mencium aroma kayu yang dibakar, sepertinya Indu’ Landa sedang memasak di daar belakang. Indu’ Landa adalah sosok yang pendiam dan nampak penurut pada suaminya. Tiap kali Ama’ Tingang mengatakan sesuatu dia hanya menjawab yang artinya adalah iya dan bergegas mengambilkan sesuatu jika Ama’ Tingang memintanya.
Dia sedang meniup api menggunakan dan menyadari kehadiranku. Usianya skitar 53 tahun tapi keriput telah menutupi wajahnya dan uban-uban tipis di kepalanya membuat wajah itu semakin terlihat renta, lebih tua dari yang seharusnya. Aku mahfum pekerjaan masyarakat di sini adalah sebagai petani mereka melawan terik matahari dan menantang hujan tanpa ampun mereka juga mungkin tidak mengenakan losion atau keperluan wanita sejenisnya yang kerap membuatku pusing, ah jauh sekali pikiranku jelas tidak ada losion di sini, di sebuah desa yang hanya dihuni 40 kepala keluarga dan hanya bisa ditempuh menggunakan sepeda motor dari pusat kecamatan. Perawatan tubuh mungkin tidak pernah muncuk di kepala wanita-wanita di sini. Para wanita tangguh, mungkin tulang-tulang mereka terbentuk dari jalinan besi. Tadi pagi aku melihat seorang ibu mengangkat besar penuh oleh padi yang mungkin hendak dijemur.
Melalui perbincanganku dengan Ama’ Tingang di hari pertama kami tiba, aku langsung berkesimpulan bahwa para perempuan di desa ini adalah orang-orang luar biasa, hampir sebagian dari mereka ditinggal suami pergi bekerja ke kota atau merantau ke negeri Jiran, ini membuat mereka harus mengurusi rumah dan anak-anak sendirian, melakukan pekerjaan berat mulai dari berladang sampai mencari kayu ke hutan, bahkan aku menyaksikan sendiri kemahiran mereka memegang kapak untuk membelah kayu. Di sini tidak diperbolehkan memasak menggunakan kompor, takut memicu kebakaran karena sao langke ini terbuat dari kayu dan atapnya daun rumbia.
Menjala bukan hanya kemampuan yang dikuasai kaum adam, di desa ini hampir tidak ada perbedaan kewajiban dan hak antara kaum pria dan wanita. Para wanita tidak merasa keberatan untuk mengerjakan pekerjaan pria, mungkin terpaksa karena tidak ada suami atau memang karena mereka lebih menyadari hakikat sebagai manusia yang bisa melakukan pekerjaan apa saja selagi mampu.
Aku mengangguk dengan maksud menyapa Indu’ Landa yang telah membalikkan setengah badan menghadapku. “Mengapa ndak ikut menjala bersama teman-temanmu, Jang?”
“Tadi saya membereskan tikar di balai desa dulu bu jadi tidak bisa ikut mereka” aku berbohong, aku merasa gagal menjadi laki-laki jika kunyatakan alasanku yang sebenarnya, aku tidak tahan digigit nyamuk, aku tidak ingin pulang ke kota dengan muka gosong dan badan yang bintik-bintik karena gigitan nyamuk. Indu’ hanya tesenyum. “Kalau tidak terbiasa tinggal di kampung memang begitu, sama seperti Hesah, kalau pulang tidak betah main di bawah bersama teman-temannya. Lebih senang di atas, menganyam manik atau menjinjit-jinjit di pendopo belakang mencari sinyal.
Benar saja di sini tidak ada sinyal jadi harus ke belakang rumah atau naik ke pohon untuk mendapat jaringan. Sepertinya memiliki handphone adalah sebuah perkara di desa ini. “Maaf, anak ibu tinggal di mana kalau saya boleh tahu ?” akhirnya aku tidak bisa menahan rasa ingin tahuku tentang kembang desa yang ramai diceritakan bocah-bocah tadi siang. “Anak saya sedang kuliah di ibu kota daerah, sudah hampir menyelesaikan skripsinya. Dia jarang pulang.” Entah mengapa aku seolah bahagia mendengar anak Indu’ Landa kuliah, setidaknya di tempat yang jauh dari peradaban ini ternyata ada yang menempuh pendidikan tinggi. Aku baru merasakan kehidupan yang agak normal di desa ini setelah mengetahui ada anak muda yang berasal dari sini bersekolah di kota. Indu’ Landa bercerita banyak mengenai puteri semata wayangnya, cerita yang akhirnya membuatku takjub dan penasaran. Makhluk jenis apakah puterinya ini ? beberapa bulan yang lalu dia baru pulang dari Tokyo, kegiatan kampus katanya dan dia juga sudah berpergian ke beberapa negara di Asia Tenggara untuk mewakili kampusnya. Tapi mengingat celoteh anak-anak tadi siang aku yakin tidak sedang mendengar bualan, Hesah sepertinya menjadi kebanggaan warga di sini. Indu’ Landa sangat berbeda ketika berbicara tentang anaknya ada kerinduan dan kebanggaan terpancar dari sorot matanya. Mata yang biasanya kosong itu berbinar-binar tiap kali menyebut nama puterinya. “Walaupun di sini desa terpencil dan kami orang kamoung, kami tetap berusaha menyekolahkan anak-anak kami. Makanya banyak suami yang bekerja di luar daerah dan istri yang menjaga rumah, kami ingin anak-anak kami bisa berlari kencang tidak terseret-seret seperti kami. Bukan hanya Hesah yang kuliah di ibu kota daerah, bahkan beberapa teman sebayanya kuliah di ibu kota negara.” Aku mengangguk-angguk menyembunyikan kekagumanku. Aku telah salah menilai tempat ini, ternyata tempat ini mempunyai semangat hidup yang tidak terbendung.
“Anak saya usianya menginjak dua puluh satu tahun, sejak SMP dia tidak tinggal di sini, di sini sekolah hanya dibuka sampai kelas empat SD, setelahnya harus ke kecamatan untuk menyambung pendidikan. Hesah sejak SMP sudah tidak saya awasi, hidupnya di asrama, karena mendapat ranking terus SMA-nya dia mendapat beasiswa dari sekolah khusus pariwisata di ibu kota, sejak itu dia jarang pulang. Pernah pulang hanya tiga kali. Saya harus ke kecamatan jika ingin menelponnya.
“Hesah luar biasa sekali, ibu dan suami ibu pasti sangat bahagia memilikinya.”Aku tidak sadar mengeluarkan bacot bernada merdu, aku tidak senang berbasa-basi, tapi kali ini kisah Indu’ Landa membuatku merasa haru, aku tulus mengucapkannya.
“Hesah tidak mempunyai ayah, saya tidak menikah dengan ayahnya. Tingang adalah pamannya, dia kakak sulung saya” tatapannya jatuh ke lantai kayu yang kami pijak, lalu bibirnya tersenyum, getir sekali. Aku menelan liurku. Sekarang aku benar-benar merasa membacot.
Lalu ada hening yang menyelinap di antara kami, ditengahi oleh suara jangkrik di luar sana dan tanakan nasi Indu’ yang sudah mulai mengering. Malam segera bertandang. Aku bertafakur sejenak, betapa ternyata aku merasakan nikmat hidup yang jauh lebih baik dari mereka. Aku tidak harus berpisah dengan orangtuaku hanya untuk melanjutkan pendidikan, tapi sayangnya aku benci pendidikan. Aku selalu menghindari pendidikan, kuliahku tidak karuan. Diusia 24 tahun aku bahkan belum menyelesaikan pendidikan hukumku, aku malah memilih bekerja di sebuah koperasi, lalu dua hari ini seolah sedang dihukum aku mendapat tugas untuk melakukan sosialisasi di sini. Di sebuah desa terpencil yang membuatku terisolasi dari kehidupan. Ternyata hidup bukan hanya tentang bernapas dan melihat dunia. Hidup adalah saat kita bangun dan mendapati diri kita ada di rumah bersama keluarga. Hidup adalah saat kita memiliki semangat menggebu-ngebu untuk melakukan sesuatu. Atau mungkin bagi wanita-wanita di desa ini hidup adalah saat mereka berangkat ke ladang lalu menggarap tanah dan sore harinya bisa melepas lelah di sampan sambil menjala ikan untuk lauk malam harinya, tak peduli mereka perempuan, mereka tetap bekerja walau itu terlihat keras karena bagi mereka itulah hidup.
“Mandilah, Jang. Ndak baik mandi malam, kalau ndak mau mandi ke sungai mandi di durung saja. Karena merasa tidak enak telah berkata lancang, aku meminta maaf. Tapi dia hanya tersenyum seperti kali pertama aku menemuinya di daar tadi, senyum itu pula yang menyambutku ketika pertama kali menginjakkan kaki di sao langke. Senyum yang ramah dan tulus.
"Ndak apa-apa, jangan terlalu dipikirkan, hidup memang seperti itu. Seperti lapisan kulit bawang, banyak tapi tidak terlihat, banyak rasa tapi kadang manusia tidak peka untuk memaknainya.”
Seperti lapisan kulit bawang... seseorang pernah mengatakan hal yang sama padaku, tapi aku lupa. Sepanjang perjalanan menuju durung aku memikirkan itu, lalu ingatanku singgah pada sebuah malam di bulan November tahun lalu. Saat hujan dan aku jengah dengan pekerjaan. Saat aku ingin menjadi lelaki seutuhnya tapi urung karena ternyata aku mengencani seorang bocah yang sangat sayang untuk kujamah.
Aku memesan seorang gadis untuk menemaniku menghabiskan malam. Dia masuk ke kamar hotel lalu spontan menyebutkan nominal, tiga juta sampai jam tiga pagi katanya. Aku melirik jam di tanganku yang menujukkan pukul setengah dua belas malam. Aku hanya mengangguk, mami mengatakan dia adalah salah satu aset di tempatnya jadi harus diperlakukan dengan baik. Parasnya sangat cantik, tidak bahenol seperti perempuan bayaran lainnya, masuk akal karena mami mengatakan dia salah satu kandidat dalam pemilihan putri pariwisata tahun lalu. Masih muda dan memancarkan kepercayaan diri yang timggi tapi tidak nagkuh, dia cukup anggun. Aku menanyakan namanya dan dia tidak menjawabku, lalu aku tidak ingin memulai semuanya jika dia bersikukuh merahasiakan namanya.
Di antara rinai hujan malam itu, suara siulannya adalah yang paling dingin. Dia bersiul-siul ringan, membuatku bergidik. Dia tidak takut sama sekali, tidak malu-malu, sangat terlatih. “Aku buat tugas saja kalau tidak main” katanya sambil membuka tas yang dibawanya lalu mengeluarkan buku catatan. Aku hanya memperhatikan tangannya yang lincah memainkan pulpen, dasar bocah sempat-sempatnya membawa tugas kuliah ketika bekerja. “Besok jam 8 aku harus mengikuti tes di kampus, kalau kita tidak main aku pulang saja. Aku perlu istirahat.” Dia mentapku seperti menantang, aku mendadak kasihan melihatnya. Dia terlampau muda untuk melakukan pekerjaan semacam ini. Aku mengangguk saja tanda setuju. Aku membiarkannya bangkit dan mengemasi bukunya, lalu dia menyodorkan tangan. Aku perlu uang, katanya. Kuambil uang sesuai dengan permintaannya, itu lebih dari separuh gaji bulananku. Dia mengambilnya dengan senyum mengembang dan segera bergegas. “Dari mana asalmu ?” aku menanyakan itu sebelum dia membuka pintu. Dia berhenti sejenak dan membalikkan badannya “Di sebuah tempat yang jauh dari sini, sangat jauh, kamu harus membayangkan lapisan terdalam sebuah bawang merah jika ingin mengetahui tempatku, karena tempatku sangat terpencil.” Heh. Bocah. Hidup jenis apa yang kau jalani sampai membuatmu bahagia bekerja seperti ini, tanyaku pada diri sendiri. Lapisan kulit bawang merah, aku malah membayangkan gorengan dengan cabe merah tengah malam begini, aku lapar lalu kubiarkan dia pergi.
Dewa Zeus! Itu pasti Hesah. Kembang desa yang menjadi kebanggaan warga di sini. Desa ini memang luar biasa, melahirkan wanita-wanita keras yang tidak takut nenantang kehidupan, bahkan Hesah menentangnya, sekaligus dengan nilai-nilai yang dikandungnya. Aku merasa menjadi manusia yang hampa. Langit Tamambaloh sepenuhnya menjadi gelap, jangkrik dan suara radio dari pokok tuak menandakan bahwa malam telah tiba. Para perempuan telah duduk di pendopo rumah menggelar tikar dan menyalakan pelita, berbincang tentang padi mereka yang mulai menguning. Mereka berbicara dengan bahasa daerah yang tidak kumengerti, tapi aku tahu mereka membicarakan kebahagiaan. Mereka luar biasa. Aku tidak punya nyali besar seperti mereka. Perempuan-perempuan yang kutemui kali ini seakan punya nyawa yang tidak akan habis. Mereka menjalani hidup dengan semangat yang tak pernah padam, menikmati semua bagiannya dengan cara masing-masing. Melakukan hal-hal yang seakan keluar dari batasnya untuk hidup, aku tidak menemukan kalimat yang tepat untuk mereka. Mereka adalah pemberi kehidupan yang sangat abadi, bahkan ketika hidup berat mereka tetap tegar menjalaninya. Para perempuan; kalianlah penyala dan penjaga kehidupan.

(Pontianak, April 2016)
Cerpen ini pernah dimuat di tabloid Mimbar Untan.

Glosarium:
Ama': Bapak
Indu': Ibu
Bunting Lawan : Hamil di luar nikah dan tidak mendapat pertanggungjawaban
Daar : Dapur
Durung: Bagian rumah paling belakan dalam rekonstruksi bangunan rumah suku Dayak Tamambaloh, tempat menyimpan persediaan padi dan air.
Kataman : Sejenis bakul tapi berukuran sangat besar, terbuat dari rotan yang dianyam, biasanya dikaitkan dikepala ketika digunakan.
Sao langke : Rumah Panjang
Supan : Bambu yang sengaja dikeringkan lalu dipotong dan digunakan sebagai alat meniup udara agar menyalakan api
Uma: Ladang.

Thursday, July 07, 2016

Satu Patah Hati Hebat

Source: Google Image

"Kita akan selama-lamanya menjadi orang lain gara-gara satu patah hati kampret dalam hidup kita.." 
- Raditya Dika, Koala Kumal 

Patah hati adalah salah satu hal yang membuat hidup seseorang berubah, satu patah hati hebat bisa mengubah cara pandang seseorang akan cinta seumur hidupnya. 
Ada banyak orang yang tidak berani lagi memulai suatu hubungan karena patah hati yang teramat hebat. Sepanjang hidupku, aku dikelilingi orang-orang hebat yang juga pernah mengalami patah hati hebat, mulai dari keluarga sampai sahabat. Aku sendiri mungkin terlalu muda untuk mengatakan bahwa pernah mengalami patah hati hebat. Aku masih 20 tahun, dan cuma punya tiga mantan...
Karena ukuran hebat bagi setiap orang tidaklah sama. Tapi patah hati kemarin bagiku adalah patah hati terhebatku. Dan dampaknya luar biasa, aku tidak lagi percaya pada cinta tanpa logika.
Aku patah hati di usia 18 tahunku, usia di mana emosi masih sangat labil. Dan setelah itu cinta tak lagi sama. 
Aku tidak percaya pada cinta sejati, atau cinta tak bersyarat, atau cinta tanpa alasan sejak itu. Patah hati menamparku cukup keras, menyadarkanku bahwa betapa kelirunya aku selama ini memandang cinta.
Ternyata tidak ada cinta sejati, yang ada kepentingan sejati. 
Tidak ada cinta tak bersyarat, yang ada ambisi untuk memiliki, yang artinya saat kita jatuh cinta atau sedang menjalin hubungan kita kerap kali melakukan apa saja supaya seseorang betah bersama kita. Apa saja yang dia mau akan kita berikan, apa yang dia ingingkan akan kita lakukan asal dia tidak berpaling. Cinta seolah jadi tak bersyarat, padahal itu keliru, itu karena kita rela melakukan apa saja untuk mempertahankan seseorang. Bagaimana mungkin tak bersyarat, orangtua saja mempunyai tuntutan untuk anaknya. 
Cinta selalu mempunyai alasan. Kalau tidak beralasan berarti tidak jelas.
Kalau dulu aku percaya pada cinta sejati yang tak bersyarat dan tidak butuh alasan, sekarang pernyataan seperti itu terdengar sangat lucu. Patah hati membuat cinta jadi konyol, patah hati merupakan lelucon paling menyakitkan yang pernah aku alami. Raditya Dika benar, satu patah hati hebat akan membuat pandangan seseorang akan cinta menjadi berubah.
This entry was posted in