Sunday, June 12, 2016

Ketika Iman Diurusi Pemerintah


Banyak yang mengatakan Indonesia adalah negara demokrasi yang miskin toleransi setelah menonton aksi  penutupan paksa warung makan seorang ibu di Serang, Banten. Tindakan tersebut dinilai telah menciderai nilai toleransi yang digaungkan melalui kalimat Bhineka Tunggal Ika.
Aku sendiri tidak ingin latah, lantas menyebut Indonesiaku menjadi negara yang tidak menerima perbedaan. Kejadian seperti ini tidak pernah terjadi di daerahku. Untuk menghormati yang berpuasa, Pemerintah setempat mengeluarkan aturan yang masuk akal dan tidak menekan pihak-pihak tertentu. Aku merasakan nilai toleransi yang sangat tinggi di sini. Karena itu bagiku Indonesia tetaplah negara demokrasi yang sangat bersahabat. Tapi ternyata beda wilayah beda rasa, beda Indonesia-nya.
Kalau Indonesiaku merupakan Indonesia yang penuh toleransi ternyata Indonesia di Banten tidaklah demikian. Atau Indonesia di bagian mana lagi yang ternyata tertutup pada perbedaan, hanya karena ada beberapa wilayah di Indonesia yang minim toleransi lalu kita menganggap Indonesia ini negara yang tidak layak lagi memakai kalimat Bhineka Tunggal Ika ? Aku kecewa pada mereka yang terlalu dangkal menyikapi peristiwa ini.

Pemerintah daerah Banten semoga tidak menutup mata dan telinganya, Banten adalah bagian dari Indonesia karena itu Bhineka Tunggal Ika juga harus berdiri tegak di sana. Semoga kejadian ini bisa menjadi  tamparan keras bagi pemerintah di sana, khususnya yang berwenang mengeluarkan aturan. Negara kita menjunjung nilai toleransi tapi kenapa masih ada larangan bagi orang yang ingin menyediakan makanan untuk yang tidak berpuasa ?
Mengapa ada aturan yang seakan meremehkan iman orang yang berpuasa ? Seakan mereka langsung membatalkan puasa mereka melihat warung makan yang tertutup kain. Seolah niat berpuasa akan langsung hilang ketika mencium aroma makanan yang menyeruak di tepi jalan.
Aku yakin iman mereka yang berpuasa tidak setipis itu.
Pemerintah kenapa sepertinya menganggap masyarakatnya mudah tergoda ? Kenapa merasa perlu melindungi iman masyarakatnya dengan aturan-aturan yang justru bertentangan dengan sisi kemanusiaan yang adil dan beradab ?

This entry was posted in

0 komentar:

Post a Comment