Sunday, June 05, 2016

Fiersa Besari; Menghibur dan Menginspirasi

Hari ini adalah hari yang penuh kegembiraan. Saya berkesempatan untuk bertemu langsung dengan musisi idola saya sekaligus pendiri Komunitas Pecandu Buku, Fiersa Besari. Ini adalah kali kedua saya menulis tentangnya di blog. Tulisan sebelumnya ada di sini.
Rasanya masih sulit percaya, saya diliputi rasa haru sampai detik ini. Akhirnya kami bertemu, setelah cukup lama berinteraksi di dunia virtual.
Merupakan suatu kebahagiaan karena saya hanyalah satu dari sekian banyak penggemar Bung dan saya berkesempatan untuk bertemu secara langsung dengannya, bisa mengobrol bersama.
Bung memang bukan satu-satunya musisi idola saya, tapi satu-satunya yang berhasil mengubah pandangan saya terhadap negara ini. Dibalik karya-karyanya yang sangat emosional mengenai percintaan, Bung adalah sosok yang kritis pada sejarah Indonesia, dan kekritisan Bung ini membuat saya menjadi skeptis pada sejarah yang disuguhkan di buku yang pernah saya baca di bangku sekolah. Saya mulai tertarik pada sejarah karena Bung seringkali membahasnya di grup, akhirnya saya membaca juga buku-buku Pramudya Ananta Toer dan Tan Malaka. Dua tokoh yang selanjutnya membuat saya merasa sangat mengenal Indonesia dari sudut pandang yang berbeda. 
Bung bukan hanya seorang penyanyi, dia adalah seorang inspirator. Terlepas dari lagu-lagunya yang membantu saya dalam berproses, saya sangat terinspirasi dengan semangat mengubah yang tumbuh di dalam dirinya.
Fiersa Besari sangat senang berbagi, mulai dari cerita sampai ilmu. Kebesaran hatinya dalam berbagi dan berkarya inilah yang menimbulkan perubahan, setidaknya bagi saya pribadi.
Ilmu yang dibagikannya melalui deretan buku yang berjejer di rak-rak dalam kamarnya yang kini menjadi perpustakaan Pecandu Buku cukup membuat saya sadar bahwa ternyata berbagi itu bisa kita lakukan kapan saja, sesederhana apapun bentuknya.
Pikirannya yang tertuang dalam jurnal harian yang ditulisnya di Instagram juga kerap kali menyentil saya, sering kali mengingatkan saya agar saya harus memperbaiki diri. Membuat saya sadar bahwa hidup saya terlalu pendek untuk dilalui dengan suatu kesia-siaan, dia membuat saya ingin berbuat sesuatu agar saya tidak hanya hidup sebagai manusia biasa yang tidak mempunyai karya sama sekali, tidak berjejak di bumi ini.
Singkat kata, Bung adalah sosok idola yang membawa dampak positif bagi saya, tidak hanya menghibur tapi juga menginspirasi.
Ekspresi bertemu musisi idola hihihi

Pertama kali kami bertemu kesan saya tidak jauh berbeda dengan apa yang telah saya bangun selama ini, dia sangat sederhana dan ramah. Sungguh, Bung benar-benar membumi. Tutur bahasanya sangat bersahabat walaupun hanya berbicara dengan seorang mahasiswi yang pengalamannya masih seujung kuku seperti saya.
Saya yang tergabung di komunitas Pecandu Buku merasa sangat bahagia bisa bertemu dengan pendirinya, bisa bercengkerama langsung, berdiskusi mengenai buku bahkan politik, mendengar pikiran-pikiran kritis darinya, bahkan saling bertukar semangat lewat kalimat. 
Perjalanan karirnya juga adalah hal yang saya kagumi, berawal dari patah hati hebat kemudian lahir karya-karya luar biasa. Dalam perjalanan menuju hotel sehabis menikmati pisang goreng Sukahati di Tanjungpura saya menanyakan apakah semasa kecilnya dia pernah bercita-cita menjadi seorang musisi seperti saat ini. 
Dia menjawab tidak, dengan tawa yang sekarang sudah saya kenali. Dia tidak pernah membayangkan akan besar sebagai seorang musisi, semasa kecilnya dia bercita-cita menjadi polisi. Proses membuatnya memilih untuk mengikuti passionnya dan dia konsisten pada pilihannya, tidak gampang, tidak mudah. Dan inilah buah dari pilihannya, lagu-lagu yang dulu ditulisnya degan perasaan terpuruk sekarang telah dinyanyikannya di hadapan banyak orang, menjadi candu, dan inspirasi. Bung dicintai banyak orang melalui karya dan kerendahan hatinya.
Bagi saya Fiersa Besari tidak hanya menghibur, dia juga menginspirasi. Apa yang diperbuatnya untuk orang-orang di sekitarnya, bagaimana konsistensinya dalam berkarya, semangatnya untuk melakukan perubahan. Membuat saya sadar bahwa saya hanyalah seonggok daging hidup jika saya tidak berbuat apa-apa untuk orang-orang di sekitar saya. Bung  membuat saya sadar bahwa baik saja tidak cukup untuk menjadi seorang manusia, berkaryalah, berbuatlah.

1 comment: