Sunday, June 26, 2016

#BaceYokBudak Bersama Pontianak Membaca




Ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, yaitu sekumpulan anak muda yang berpanas-panasan menggelar lapak buku di Taman Digulist sore tadi. Sejak pukul tiga sore mereka sudah menggelar lapak buku dan duduk dengan sabar menunggu orang-orang datang untuk membaca buku yang telah mereka sediakan.
Adalah Pontianak Membaca, sebuah komunitas yang dibuat untuk menyebarkan minat membaca di kalangan masyarakat kota Pontianak. Penggagas komunitas ini adalah Burdhadi seorang mahasiswa Universitas Tanjungpura asal Mempawah yang dengan ketulusannya bersedia meminjamkan buku-buku koleksi pribadinya untuk dibaca orang banyak.
Ini adalah pendiri komunitas Pontianak Membaca, Burdhadi atau akrab disapa Bang Dadi
Dia yang memang gemar membaca merasa terpanggil untuk mengajak orang lain menyukai aktivitas ini. Awalnya buku-buku pribadinya dipinjamkan dari tangan ke tangan, sudah terpikirkan ingin berbagi dengan cara yang lebih besar tapi ternyata tidak mudah, perlu waktu lama sampai akhirnya hari ini #BaceYokBudak terselenggarakan. 
Dengan dukungan teman-teman anggota komunitas dia memasukkan buku-bukunya ke dalam box dan membawanya dengan motor, menggelar lapak buku di Taman Digulist. Sesederhana itu, sebuah pergerakan besar pasti dimulai dari pergerakan kecil.
Pembacaan puisi oleh salah satu anggota komunitas



Salah satu pengunjung lapak membacakan puisi
Kegiatan #BaceYokBudak diisi dengan acara membaca puisi bersama, kebanyakan yang hadir adalah mahasiswa sastra yang sudah mempunyai karya sendiri seperti puisi. Mereka bergantian membacakan puisi mereka, dan saya membacakan salah satu puisi Aan Mansyur dalam kumpulan puisi Tidak Ada New York Hari Ini.
Sebuah sore yang sangat berkesan, hari ini saya menyadari bahwa Pontianak bisa juga menjadi rumah bagi dunia literasi, seperti kota Makassar yang meskipun jauh dari pusat Indonesia tapi minat baca masyarakatnya sangat tinggi. Saya optimis, orang Pontianak pasti banyak yang suka membaca hanya saja mereka tidak cukup berani menyebarkan kesukaan ini pada orang lain, atau tidak cukup niat. Dan hari ini saya bertemu orang yang berpikiran luar biasa seperti Bang Burdhadi.

Membaca buku bersama

Saya yang sejak dulu ingin mengadakan gerakan membuka lapak buku untuk diakses orang banyak secara gratis seperti ini, jelas merasa sangat antusias. Saya merasa menemukan teman untuk berbagi ilmu dan semangat agar tidak pesimis menyebarkan virus membaca.
Anak-anak muda sekarang lebih senang nongkrong atau menonton film di bioskop. Membaca hanya sebatas mencari jawaban untuk tugas sekolah atau kuliah, membaca hanya sebatas kepo pada berita yang sedang viral di dunia maya. 
Jarang sekali ada yang membaca buku, sampai saya merasa menjadi orang yang suka membaca dipandang tidak menarik di sini. Padahal sejak kecil kita sudah sangat akrab dengan kalimat membaca adalah jendela dunia. Kalau ingin menjadi kritis, membacalah. 
Teman-teman yang tidak suka membaca, mulailah membaca, itu tidak hanya hanya baik untuk menambah pengetahuan tapi juga untuk kecerdasan emosional kita. Teman-teman yang sudah suka membaca, ayo ceritakan pada mereka betapa membaca itu menyenangkan. Teman-teman yang mencintai buku dan memiliki banyak koleksi, jangan pelit, berbagilah. Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.
Apa gunanya memiliki banyak buku tapi hanya untuk disimpan ? dijadikan pajangan di sosial media atau sekadar ajang adu gengsi dengan menunjukkan koleksi siapa yang paling banyak. 
Bulan Juni kali ini aku menemukan teman-teman baru yang luar biasa. Mengutip lirik lagu Imagine dari Jhon Lennon "You say may I'm dreamer, but I'm not the only one". Teman-teman Pontianak Membaca, semangat terus. Salam Literasi.
This entry was posted in

1 comment: