Tuesday, June 21, 2016

[Review] A Man Called Ove


Judul : A Man Called Ove
Penulis : Fredrik Backman
Penerjemah: Ingrid Nimpoeno
Penyunting : Jia Effendi
Penata Letak : CDDC
Perancang Sampul : Muhammad Usman
Penerbit: Noura Books
Cetakan Pertama : Januari 2016
Jumlah halaman : 440 halaman
ISBN: 9786023850235



"Begitu kau mulai benar-benar menggali masa lalu seseorang, biasanya kau akan menemukan sesuatu yang lebih suka mereka simpan sendiri, sesuatu yang lebih suka untuk mereka lupakan." (hal.395)

Novel ini berkisah tentang seorang lelaki berusia lima puluh delapan tahun bernama Ove yang ditinggal mati oleh istrinya - Sonja - dia menjalani hari-harinya dengan rasa kehilangan dan kerinduan yang tak berujung.
Penulis yang menggunakan alur campuran mengajak pembaca menelusuri kehidupan Ove sewaktu masih muda.
Sebelum usianya dua puluh tahun dia telah menjadi yatim piatu. Nasib membuatnya tumbuh menjadi seorang pemuda yang mandiri. Dia tumbuh seperti ayahnya yang memegang teguh kebenaran, semua sikap dan prinsip ayahnya secara sempurna melekat padanya. Karena terbiasa hidup sendiri dia pun menjadi seseorang yang anti sosial. Dia tidak memiliki teman sampai akhirnya setelah menikah. Dia bicara seperlunya, dan hanya tertarik pada hitungan dan mesin. 
Sebelum bertemu Sonja, Ove hanya mencintai dua hal yaitu mobil Saab dan arloji penyok. Keduanya merupakan peninggalan almarhum ayahnya. Sampai pada suatu hari ketika dia sedang bekerja di kereta, Sonja muncul. Seperti jatuh cinta pada pandangan pertama, Ove langsung tertarik pada Sonja. Dia mendekati Sonja dan mereka duduk berdampingan.
Sejak Sonja mengucapkan kalimat pertamanya, Ove langsung merasa jatuh cinta pada dunia Sonja. Dunia yang penuh dengan sesuatu yang abstrak seperti musik dan buku.
Setelah menghabiskan waktu bersama-sama sampai tua, Sonja meninggal. Kepergian Sonja membuat Ove merasa sangat terpukul. Enam bulan setelah Sonja oergi, Ove diberhentikan dari kantornya setelah bekerja selama tiga puluh tahun di sana. Kejadian ini membuatnya semakin yakin untuk secepatnya menyusul istrinya.
Ove merasa sudah tidak memiliki tanggungjawab apa-apa lagi pada dunia, dia sudah memperjuangkan apa yang menjadi haknya dan menjalankan tugasnya, saat sayapnya seolah patah maka dia memutuskan untuk menyusul istrinya menuju kematian.
Cerita mengalir dengan sangat sederhana, selang-seling dengan usaha Ove untuk mengakhiri hidupnya. Usaha bunuh diri yang mempertemukannya dengan orang-orang baru yang akhirnya membuat novel ini menjadi penuh kejutan.
Akhir dari cerita ini sangat tidak tertebak. Membuat terharu dan sangat menyentuh. 
Penulis tidak hanya berhasil menghidupkan tokoh Ove yang tua dan menyebalkan, tapi juga berhasil menggugah perasaan pembaca dengan pahit manis kehidupan Ove di masa lalu, cinta antara dirinya dan Sonja yang mengharu biru dan pertemanan antar lelaki yang ditampilkan melalui hubungan Ove dan Rune, tetangga yang menjadi temannya setelah dia menikahi Sonja, kejutan-kejutan lainnya dihadirkan melalui tetangga Ove yang digambarkan dengan berbagai karakter.
Sosok Ove membuat saya teringat pada kakek. Bagaimana pun menyebalkannya orangtua, dia pasti seseorang yang memiliki cerita luar biasa di masa lalu dan kali ini Fredrik Backman mengajak kita melihat masa lalu seorang kakek bernama Ove.

"Lelaki terbaik lahir dari kesalahan mereka sendiri, dan mereka sering kali menjadi lebih baik setelahnya, melebihi apa yang bisa mereka capai seandainya tidak pernah melakukan kesalahan." (hal. 200).

0 comments:

Post a Comment