Wednesday, May 18, 2016

Karena Membaca Perlu Alasan

Selamat hari buku nasional. Kegiatan membaca adalah hal yang biasa di negara maju, orang-orang di sana memiliki kesadaran yang tinggi akan pentingnya membaca, karena membaca telah menjadi kebiasaan maka jangan heran jika mendapati pemuda tatoan yang membaca buku di kereta, atau nenek-nenek yang menghabiskan sore hari di taman dengan sebuah buku di tangan. Di negara maju, membaca adalah hal yang sangat biasa dan wajar.
Berbeda dengan di Indonesia, menemukan teman berdiskusi mengenai buku tidaklah gampang. Jika tidak bergabung dengan komunitas membaca maka sangat sulit untuk menemukan teman yang sama-sama mencintai buku.
Berbicara mengenai buku tidak pernah menjadi pembicaraan yang biasa saja bagi saya, buku pernah menjadi barang yang sangat mewah dan langka sewaktu saya masih kecil, dan saya tidak bisa memungkiri bahwa buku mempunyai bagian yang cukup besar dalam membentuk diri saya yang sekarang.
Saya tumbuh di perkampungan Dayak yang sangat terpencil. Nanga Sungai, saya menghabiskan delapan tahun umur saya di sini. Desa ini terletak di Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Harus memasuki daerah Banua Martinus dan melewati beberapa perkampungan Dayak lainnya barulah sampai di desa Nanga Sungai.
Semasa saya kecil akses menuju Nanga Sungai hanya bisa ditempuh menggunakan jalur air, saat itu belum ada transportasi darat dan motor tambang adalah alat transportasi yang tersedia selain speed boat. 
Saya sempat bersekolah di sini, hanya ada Sekolah Dasar sampai kelas 3. Jika ingin melanjutkan ke jenjang berikutnya maka harus pindah ke kecamatan, dan saya ingat betul sewaktu kelas satu kami hanya berjumlah lima orang, dari caturwulan pertama sampai ketiga saya selalu meraih peringkat ketiga dari lima orang (hahaha).
Bagiamana buku menjadi hal yang istimewa dalam hidup saya ? Begini, di Nanga Sungai tidak ada listrik, tidak ada televisi, tidak ada hiburan lain selain bermain bersama teman-teman dan membaca. Sejak kecil saya memang suka membaca, saya masuk sekolah dasar ketika usia saya baru saja menginjak empat tahun dan saat itu saya sudah lumayan lancar membaca.
Sekolah saya tidak memiliki perpustakaan, tapi jangan bayangkan bangunan sekolah yang reot dengan atap-atap yang bocor. Bangunan sekolah saya kokoh, meja dan bangku juga tersedia dengan jumlah yang berlebihan karena hanya sedikit anak-anak yang bersekolah, lalu sekolah saya memiliki papan tulis dan kotak-kotak kapur di tiap kelasnya, kemudian buku-buku paket dalam lemari besar ruang guru yang hanya ditempati oleh dua orang guru. Ya guru saya hanya dua orang. Hanya itu fasilitas yang ada di sekolah saya, jadi saya tidak mendapatkan bahan bacaan dari sekolah, saya mendapatkannya di rumah.
Keluarga saya memang orang yang senang membaca, jadi tidak sulit menemukan buku-buku di rumah. Saya masih sempat membaca majalah-majalah lama kakek yang ditulis dengan ejaan lama. Saya membaca apa saja yang bisa saya baca ketika malam hari, mulai dari koran lama sampai Kitab Suci bahkan saya sering membaca buku agenda kakek.
Mendapat majalah bobo adalah suatu kemewahan yang jarang saya rasakan, mungkin setahun empat kali baru saya mendapat majalah bobo yang baru itu adalah ketika kakek pergi ke Putussibau (ibu kota kabupaten) lalu kakak sepupu saya yang bersekolah di sana rajin mengirimi majalah-majalah bekas seperti bobo, Andaka, sampai majalah Aneka Yess.
Karena masih kecil saya tidak peduli berapa usang buku yang saya baca, selagi masih bisa dibaca maka saya suka saja. Buku menjadi hiburan bagi anak kampung seperti saya, saya hidup di tempat yang terpencil dan jauh dari peradaban. Ketika melihat gambaran mengenai kehidupan yang maju di majalah bekas yang saya baca, saya selalu terkagum-kagum, saya takjub ternyata ada kehidupan yang seperti itu di luar sana.
Sampai akhirnya orang-orang kampung mulai mengenal televisi saya tetap merasa buku adalah teman yang paling menyenangkan. Buku cerita menjadi pesanan wajib saya ketika kakek pergi ke Putussibau. Saya senang mengumpulkan buku seri dongeng anak hadiah susu Dancow, mamak selalu membelikan susu dengan seri cerita yang belum saya miliki. Saya baca berkali-kali cerita di buku kecil itu. Saya merasa hidup di buku yang saya baca.
Jadi jangan tanya seberapa besar saya menyukai buku, saya suka buku bahkan sampai ketika kertasnya lecek dengan aroma yang tak karuan lagi, saya suka buku seperti saya menyukai suara motor tambang di sungai ketika menunggu kakek pulang dari Putussibau, saya suka buku seperti saya suka susu, saya sangat suka buku seperti saya senang berbicara pada siapa pun yang bisa saya ajak berbicara, karena membaca berarti berdialog ketika tidak seorang pun bisa saya ajak mengobrol, membaca adalah bermain dengan imajinas. Saya selalu mengkhayal hidup di kota, menikmati sekolah yang menyenangkan seperti yang saya baca di majalah, pergi makan ice cream dan mandi di kolam renang, sampai saya menginjak SMP mandi di kolam renang menjadi sebuah obsesi tersendiri hahaha.
buku selalu mengingatkan saya pada masa kecil yang sederhana, bahkan penuh keterbatasan, masa kecil yang jauh dari peradaban dan terisolir. Aroma buku adalah aroma masa-masa itu, masa di mana saya tinggal di Nanga Sungai, masa di mana buku menjadi satu-satunya hiburan, masa di mana semua barang yang dapat dinikmati di rumah perlu proses yang panjang untuk dibawa dari kota sampai-sampai permen sugus menjadi strata sosial dalam pergaulan bocah-bocah kampung sepertiku. Karena yang memiliki permen sugus di kantong bajunya berarti baru pulang dari kota atau orangtuanya baru datang dari kota. hehehe.
Buku pernah benar-benar menjadi barang yang mewah untuk saya, karena itu saya selalu memperlakukan buku dengan istimewa.
Begitulah kebiasaan membaca saya muncul, karena sejak kecil memang telah dekat dengan buku. Awalnya karena mencari hiburan lambat laun saya kecanduan membaca. Seiring berjalannya waktu pengalaman membaca akan membuat kita menentukan sendiri selera buku kita, membuat kita memilih sendiri bacaan seperti apa yang kita inginkan, informasi seperti apa yang kita butuhkan. 
Karena itu setiap orang harus mempunyai keadaannya sendiri yang akhirnya membuatnya ingin membaca, mungkin yang paling sederhana adalah rasa ingin tahu.
Ketika kita tertarik pada sesuatu kita pasti ingin tahu mengenai hal tersebut, mencari infromasi sebanyak-banyaknya, menonton hal-hal yang berhubungan dengan hal tersebut sampai membaca buku tentang hal tersebut. Membaca pada akhirnya akan menjadi kebiasaan jika kita diliputi rasa ingin tahu.
Minat membaca memang tidak bisa tumbuh dengan sendirinya, karena itu tumbuhkanlah minat membacamu. Mulai dari hal yang mudah, menyadari hal apa yang kita sukai, hal itu yang akan membuat kita merasa ingin tahu. Berawal dari rasa ingin tahu lama-lama menjadi candu. Karena sebelum menjadi kebiasaan, membaca itu perlu alasan.
This entry was posted in

0 comments:

Post a Comment