Sunday, April 24, 2016

Gereja Bukan Catwalk


Berawal dari status seorang teman di facebook yang mengkritik cara berpakaian anak muda ketika beribadah, saya merasa tergelitik untuk menuangkan unek-unek saya di sini. Tentu saja terkait dengan cara berpakaian yang dikenakan beberapa orang ketika pergi ke gereja.
Saya tidak bisa dikatakan sebagai umat Katolik yang taat, ibadah saya masih bolong-bolong, tapi saya sangat peduli pada kepantasan saya ketika menginjakkan kaki di gereja. Saya juga sangat memperhatikan kelayakan busana yang saya kenakan untuk diperlihatkan di hadapan khalayak.
"Ya elah, tau apa kau tentang kepantasan. Yang dipantaskan itu hati, bukan penampilan."
Iya, penampilan memang tidak penting. Tapi sopan santun itu amat penting. Isi hati adalah urusan pribadi, tidak ada yang lebih tau seberapa besar niatmu berdoa selain dirimu sendiri. Tapi sopan santunmu dapat memperlihatkan seberapa niatnya kamu menghadap Tuhan, Tuhan sang pencipta.
Saya sering mendapati gadis-gadis salah kostum di gereja, mereka mengenakan busana yang mungkin lebih cocok mereka kenakan ketika kencan bersama pasangan di mall atau mungkin layak mereka kenakan di pantai.
Tiap kali ke gereja selalu saja ada orang-orang yang mengenakan dress teramat  pendek, yang memperlihatkan pahanya. Mending juga pahanya mulus kadang ada yang menyisakan bekas parises, duh. Atau wanita yang mengenakan jeans super ketat membentuk bokong yang montok dengan baju yang pendek sehingga pusatnya terlihat atau belahan susunya nampak. Atau yang hanya mengenakan hotpants dengan sepatu berhak tinggi.
Pakaian-pakaian seperti ini yang saya katakan tidak sopan, pakaian-pakaian yang jelas tidak pantas dikenakan ketika pergi ke gereja, ke tempat suci di mana semua orang datang untuk menghadap Tuhan dan mengucap syukur padanya. Hormatilah jemaat lain yang ada di gereja. Busana mini seperti itu membuat konsentrasi orang-orang di gereja terganggu, laki-laki normal yang disuguhkan paha dan belahan dada jelas tidak menolak untuk melihat, sedewasa apapun orangnya, setebal apapun imannya.Mereka mungkin tidak tergiur tapi mereka pasti merasa terganggu. Belum lagi jika kostum-kostum itu dilengkapi dandanan menor dan tabrak warna, gangguan mata bertambah.
Saya pribadi seringkali merasa prihatin ketika melihat orang-orang berpenampilan seperti ini di gereja, saya terenyuh dan ingin menghampiri mereka lalu menawarkan cardingan saya untuk mereka kenakan agar belahan susu dan pusat itu tertutup, atau datang membawakan tisu basah untuk menghapus make up mereka sambil berkata "Kak dadanya nampak, pahanya juga. Perlihatkan saja pada orang yang pantas melihatnya, jangan pada orang lain yang bukannya malah memuji penampilanmu tapi justru merasa risih, dan berdandanlah seadanya, jangan merubah wujudmu menjadi makhluk astral seperti ini."
"Terserah aku dong mau pakai pakaian yang seperti apa, aku kan ingin mengenakan apa yang aku mau, bukan yang ingin kalian lihat."
Dewasalah, semua orang ingin terlihat cantik di depan orang lain, bahkan saya sendiri ingin terlihat cantik ketika pergi ke gereja. Tapi kenakanlah apa yang pantas dikenakan ketika akan menghadap Tuhan. Kesopanan yang kita tunjukkan memperlihatkan seberapa niatnya kita berdoa pada Tuhan, seberapa besar tenggang rasa kita terhadap sesama. Mungkin yang berpenampilan seperti ini ingin mendapat pengakuan dari orang lain tentang selera berbusana mereka. Model-model berbusana yang inspirasinya mereka dapatkan dari film-film hollywood yang kerap menampilkan wanita cantik dengan pakaian mini. Oh baby, ayolah.. bahkan di Amerika sana ada etiket berbusana ketika pergi ke gereja. Mereka mempunyai standar busana khusus untuk digunakan ke gereja, dinamakan dengan Sunday Clothes.
You're what you wear. Kesopananmu dapat diukur dari busana yang kaukenakan. Cara menghormati orang lain di gereja itu tidak susah, tidak harus menegur semua orang dengan senyum manis atau menyalami satu persatu tangan mereka, cukup kenakan pakaian yang layak, yang tidak memperlihatkan terlalu banyak kulitmu, karena kau menghadap Tuhan bukan ingin pergi hangout bersama teman.  
Ironis sekali, ketika mendekatkan diri pada Tuhan saya rasa kita harusnya semakin mencontohi gaya hidupnya yang sederhana dan penuh kasih bukan justru berlomba-lomba memperlihatkan gaya siapa yang paling keren kemudian merasa bebas melanggar hak orang lain untuk berdoa secara khusyuk. Berpenampilan bagus itu tidak salah, tapi penampilan bagus ketika ke mall tidak bisa disamakan dengan penampilan bagus ketika ke gereja.
Dewasalah, termasuk dalam memilih busana. Gereja adalah tempat berdoa, bukan catwalk tempatmu berlenggak-lenggok memamerkan tubuh.
This entry was posted in

1 comment:

  1. Kesalahan utama, karena beberapa orang Kristen menganggap ada banyak yang "boleh" di dalam ajaran yang kita imani. Padahal Alkitab sudah memberi acuan paling mendasar "Segala sesuatu diperbolehkan. Benar, tetap bukan segala sesuatu berguna. Segala sesuatu diperbolehkan. Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. 1 Korintus 10:23"
    Acuan yang juga dipakai dalam hal makanan, minuman, perilaku, dan dalam postingan ini cara berpakaian.
    Dan orang Kristen pun diminta untuk "Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. 1 Tesalonika 5:21". Ini berarti dalam setiap langkah hidup kita, bukan lagi diri kita sendiri saja yang dipikirkan, tetapi juga dampak nya kepada lingkungan sekitar kita.
    Agar kita tidak menjadi batu sandungan juga bagi orang lain.
    Postingan nya bagus :)

    ReplyDelete