Monday, March 28, 2016

Harga Sebuah Perda


Hampir setiap hari aku melewati jalan Sungai Raya, hampir setiap hari juga aku melatih kesabaranku di jalan itu. Setiap sore, tepat di samping Mapolda selalu terjadi kemacetan. Pedagang Kreatif Lapangan (PKL) yang membuka lapak di sepanjang jalan membuat lalu lintas jalanan terganggu. Sekitar 80 PKL yang beroperasi di sana. Jalan yang tidak terlalu lebar ditambah dengan kendaraan yang diparkir di badan jalan membuat jalanan di daerah itu menjadi macet ketika sore hari. 
Kemacetan seperti ini sudah dialami selama bertahun-tahun oleh masyarakat pengguna jalan Sungai Raya, masyarakat merasa aktivitas berjualan di pinggir jalan sudah mengganggu ketertiban umum. Mayarakat banyak yang mengeluh, selain menciptakan ketidakteraturan, aktivitas berjualan di pinggir jalan juga menganggu keamanan pengguna jalan.
Pada akhir 2015 Pemkab Kubu Raya melalui Satuan Polisi Pamong Praja melakukan pembongkaran pada lapak dagangan PKL yang beroperasi di sana. Pembongkaran ini dilakukan berdasarkan Perda Kubu Raya Nomor 4 tahun 2010 tentang Ketertiban Umum.
Sayangnya belum genap sebulan sejak pembongkaran di lakukan, para PKL kembali membuka lapak di sana. Kali ini hanya berpindah posisi, sebelumnya  mereka berjualan di bagian kanan jalan jika kita keluar dari jalan Adi Sucipto kini mereka membuka lapak di sebelah kiri, berseberangan dengan tempat yang telah digusur. Ironisnya tempat berjualan mereka didirikan tepat di bawah papan pemberitahuan yang menyatakan bahwa siapa pun yang mendirikan bangunana atau lapak di sepanjang jalan itu akan dikenai sanksi pidana berdasarkan Perda Kubu Raya Nomor 4 tahun 2010 tentang Ketertiban Umum.


Entah apa cuma aku yang merasa ditampar wajahnya melihat hal ini. Setiap hari aku melewati jalan ini dan menutup kaca helmku, aku merasa malu. Mungkin peraturan tersebut hanya dianggap sebagai hiasan bagi orang-orang yang berjualan dan pembeli yang datang.
Masyarakat memang bebal terhadap hukum. Padahal aturan-aturan tersebut dibuat untuk menciptakan keadaan yang lebih baik. Menurutku pemerintah dan masyarakat harusnya saling mendukung. Aturan-aturan daerah seperti ini adalah bukti bahwa pemerintah kita memang peduli pada kita, ini merupakan bagian dari tugas mereka untuk mengabdi pada masyarakat.
Ibaratkan mengetahui watak pembangkang dari anak buahnya, seorang pemimpin harusnya tegas. Begitu pula tindakan dari pemerintah. Setiap hari kita telah disuguhi kenyataan bahwa masyarakat  masih kerap kali melakukan pelanggaran lalu lintas, padahal lampu merah beserta rambu-rambu lainnya sudah sangat jelas, ada papan peringatan di mana-mana. Harusnya pemerintah belajar dari hal sekecil ini.
Pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Otonomi Daerah,  mengenai Peraturan Daerah disebutkan mengenai asas-asas dalam pembentukan Perda. Terdapat tujuh asas dalam Undang-Undang itu dan salah satunya adalah asas dapat dilaksanakan.
Merujuk pada asas "Dapat Dilaksanakan" ini, aku menyadari bahwa tidak semua peraturan pemerintah dapat dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan.
Pemerintah sebagai perpanjangan tangan rakyat tentu membuat keputusan dengan pertimbangan yang cukup matang, tidak hanya untuk diterapkan hari itu tapi berkelanjutan ke masa yang akan datang sehingga fungsinya untuk menciptakan keteraturan dapat tercapai. Tapi kenyataannya tidak semua peraturan yang dibuat disusul dengan pertanggungjawaban. Ibaratkan makan siang dengan lauk lengkap tapi tidak ada air untuk diminum, kenyang tapi kehausan. Oke nggak nyambung.
Jadi begitulah kenyataan di tempatku, masyarakat yang bebal hukum dan pemerintah yang terlalu selow. Mungkin harga sebuah perda setara dengan seikat sayur bayam atau satu kilo daging ayam.
This entry was posted in

Saturday, March 19, 2016

[Review] Novel The Catcher in The Rye karya J.D. Salinger

 
Salah satu buku bagus yang kubaca diakhir tahun 2015 lalu. Buku ini menceritakan tentang seorang remaja putera  bernama Holden yang frustasi karena keadaan di lingkungannya.
Holden adalah remaja yang cerdas, pola pikirnya jauh berbeda dengan pola pikir anak-anak seusianya, meskipun dianggap pemberontak oleh kebanyakan orang bagiku tokoh Holden adalah orang yang normal dan masuk ke daftar calon pacar jika dia hidup di dunia nyata.
Holden ini memiliki selera yang bagus dalam beberapa hal, seperti pakaian, buku, dan perempuan. Dia adalah manajer tim anggar di sekolahnya - Pencey Prep -  sebuah sekolah di Agerstown, Pennyslvania. Sebelumnya dia sudah beberapa kali pindah sekolah karena melakukan melanggar aturan. Dia memiliki seorang kakak laki-laki bernama D.B yang seorang penulis dan adik perempuan kecil yang manis bernama Phoebe.
Adiknya ini sangat menggemaskan, dia penuh rasa ingin tahu dan Holden sangat menyayanginya. Holden yang merasa muak dan frustasi dengan orang-orang serta keadaan di sekitarnya hanya merasa lega ketika mengobrol dengan adiknya. Pada suatu bagian aku sempat meneteskan air mata karena terharu betapa Phoebe yang masih kecil menyanyangi saudaranya. (aku kaget sendiri kenapa bisa nangis membaca novel ini).
Buku ini harus dibaca oleh orang-orang yang dianggap tidak normal karena meiliki cara pandang yang berbeda dengan kebanyakan orang. Ketika aku membaca buku ini aku benar-benar merasa menyatu dengan tokoh Holden. Aku sangat menyukai buku ini.
J.D. Salinger berhasil mewakili uneg-uneg semua orang yang merasa muak pada keadaan di lingkungannya. Hidup yang penuh kepura-puraan, basa-basi segala macam. Kalimat-kalimatnya tajam dan tanpa saringan.
Pertama kali diterbitkan tahun 1945 dan sudah diterbitkan berkali-kali, sampai sekarang buku ini masih ramai dibaca oleh berbagai kalangan, tidak hanya remaja tapi juga orang dewasa.
Di sampul belakang ada tertulis kalimat "Mengapa buku ini disukai para pembunuh ?"
Aku sempat penasaran ketika membacanya, dan ternyata banyak juga teman-temanku yang membeli buku ini karena penasaran setelah membaca kalimat itu.
Jika kalian penasaran, baca bukunya. Buku ini menjadi salah satu buku favoritku. 

Friday, March 11, 2016

Masyarakat Adat Dayak Tamambaloh


Masyarakat adat adalah masyarakat minoritas di dalam sebuah pemerintahan modern. Orang biasanya berpikir masyarakat adat adalah sekelompok kecil masyarakat, penduduk asli dari sebuah negara, orang-orang pinggiran yang hidup di hutan, padang pasir, atau daerah kutub, masyarakat yang tertindas atau mereka yang budayanya benar-benar berbeda dari masyarakat umum di sekelilingnya. 
Salah satu masyarakat adat yang ada di Kalimantan yaitu masyarakat adat Dayak. Masyarakat adat Dayak ini kemudian terbagi ke dalam enam rumpun yang tersebar di berbagai wilayah Kalimantan mulai dari Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Utara. Enam rumpun tersebut yaitu rumpun Kanayatn, rumpun Ibanic, rumpun Bidoih, rumpun Banuaka, rumpun Kayaanic, dan rumpun Uut Danum. Kemudian enam rumpun besar ini terbagi lagi menjadi beberapa sub rumpun suku Dayak, keseluruhannya terdapat sekitar 405 sub rumpun suku Dayak.
Di provinsi Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Kapuas Hulu terdapat sub Etnis suku Dayak Tamambaloh. Masyarakat adat Tamambaloh telah tinggal dan bermukim secara menetap hidup dari generasi ke generasi berikutnya di wilayah adat yang sudah ditentukan sejak dulu. Wilayah adat Dayak Tamambaloh meliputi sepanjang aliran sungai dan anak sungai Labian Batang Lupar, di sepanjang aliran sungai Embaloh - Kecamatan Embaloh Hulu, di sepanjang aliran sungai dan anak sungai Palin - Kecamatan Embaloh Hilir.
Letak daerah yang di ujung Kapuas Hulu ini membuat keberadaan masyarakat adat Tamambaloh jarang terpublikasi. Jika ditanya mengenai Dayak di daerah Kapuas Hulu bagian Utara orang luar pasti akan mengingat Dayak Iban. Padahal berdasarkan sejarahnya Dayak Iban yang bertempat di wilayah lintas Utara merupakan pendatang dari Sarawak Malaysia.
Rumpun masyarakat adat Tamambaloh memiliki struktur adat istiadat, seni dan budaya yang khas. Masyarakat adat Tamambaloh juga mengenal adanya struktur atau penggolongan. Penggolongan inilah yang menjadi landasan penataan pranata sosial, ekonomi, dan budaya dalam kehidupan warga masyarakat adat Tamambaloh.
Sampai saat ini masyarakat adat Tamambaloh dipimpin oleh seorang Tamanggung. Yang menjadi Tamanggung bukan orang biasa melainkan samagat (bangsawan dalam dayak Tamambaloh). Tamanggung ini dipilih dan diangkat oleh seluruh masyarakat adat Dayak Tamambaloh melalui musyawarah bersama. Masa jabatannya tidak bisa ditentukan, selama yang bersangkutan masih mampu dan tidak mengundurkan diri.
Seiring perkembangan zaman masyarakat adat Tamambaloh mengalamai perubahan yang cukup besar. Dahulu yang menjadi ciri khas masyarakat adat Dayak Tamambaloh adalah kehidupan agraris dan rumah betang. Namun saat ini identitas tersebut semakin memudar. Orang-orang Tamambaloh sedang memasuki masa transisi, berlomba-lomba mengenyam pendidikan dan menjalankan profesi baru, yang bekerja di ladang hanyalah para orangtua yang menurut saya bisa digolongkan sebagai generasi lama. Bentuk rumah juga sudah berubah, sekarang hanya tersisa beberapa kampung saja yang masih tinggal di rumah betang. Bentuknya juga sudah tidak tradisional, sentuhan modernitas bisa dijumpai di mana-mana, contohnya rumah betang di desa Balimbis yang terletak di kecamatan Embaloh Hulu. Kadang saya berpikir bahwa rumah betang Balimbis tidak ada bedanya dengan rumah petak di sebuah kota yang dibangun berdempet memanjang.
Orang-orang lebih memilih membuat rumah terpisah dan kehidupan di rumah betang hanya dikecap oleh para generasi lama yang bekerja sebagai petani. Kerap kali mereka berkisah mengenai masa kecil di rumah betang yang pernah mereka jalani. Rumah betang dengan tiang-tiang penyangga yang tinggi, lantai papan dan dinding dari kulit kayu, sementara atapnya dari daun rumbia. Tidak ada listrik, yang ada hanya penerangan dari pelita.
Sampai saat ini masyarakat adat Tamambaloh juga masih mengenal pola pewarisan sumber daya alam berdasarkan garis keturunan. 
Walaupun beberapa ciri khas masyarakat adat Tamambaloh telah berubah tetap masih ada yang dipertahankan. Yaitu aturan adat serta tradisi dan ritual. Memasuki ranah hukum dan tradisi, masyarakat adat Tamambaloh termasuk masyarakat adat yang masih kuat menjaga kearifan budayanya.
Masyarakat adat Tamambaloh memiliki struktur pengurus adat yang sudah diakui oleh pemerintah daerah, lengkap dengan aturan adat yang sudah dibukukan. Aturan adat ini yang dijadikan patokan dalam bertingah laku, pemerintah daerah juga sangat menghormati aturan adat ini.
Tradisi-tradisi yang masih dijalankan juga merupakan tradisi yang masih sangat erat dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari pernikahan sampai kematian memiliki tradisi dan aturannya sendiri.
Satu-satunya yang masih nyata menunjukkan eksistensi masyarakat adat Tamambaloh adalah wilayahnya, karena itu pada tahun 2011 tamanggung Tamambaloh bapak Pius Onyang. ST menolak habis-habisan program perkebunan kelapa sawit.