Friday, February 26, 2016

Olahraga Sampai Berburu Senja di Jembatan Tayan


 
Sebulan yang lalu aku dan adikku mengunjungi jembatan Tayan, sebuah jembatan yang terletak di desa Tayan kabupaten Sanggau. Jembatan ini memiliki panjang sekitar 1.420 meter dengan desain yang tidak biasa. Jembatan ini menjadi jembatan yang menghubungkan Tayan dengan beberapa Kabupaten yang ada di Kalbar selain itu menjadi penghubung Kalimantan Barat dengan provinsi lain yang ada di Kalimantan.
Sejak akhir tahun 2015 jembatan ini menjadi ramai dikunjungi masyarakat sekitar. Antusia masyarakat sangat tinggi, hampir setiap hari jembatan ini ramai oleh pengunjung yang bukan hanya masyarakat sekitar tapi juga dari luar kota. Bukan hanya karena bentuk jembatannya yang unik tapi pemandangan di sekitar jembatan Tayan yang indah, khas pemandangan tepian sungai.


Orang-orang datang untuk berfoto, ada juga yang sekedar santai berdiri di tepi jembatan memandang sungai kapuas yang panjang. 
Di bawah jembatan terdapat pulau kecil, pulau Tayan. Walaupun kecil, pulau ini telah dihuni oleh berpuluh-puluh kepala keluarga, rumah mereka dibangun di atas permukaan tanah di pulau kecil itu. Di pulau ini lalu di bangun wahan bermain bagi anak-anak dan warung-warung yang menjual minuman dan makanan ringan, tempat ini kelak akan menjadi taman kota di daerah Tayan, saat ini pengerjaannya sedang dalam proses.
Jarak dari Pontianak ke Tayan yang kami tempuh untuk mencapai jembatan ini sekitar dua jam. Beberapa temanku hanya perlu waktu satu jam tiga puluh menit jika menggunakan motor dengan kelajuan yang cukup tinggi.

Sungai yang lebar dan panjang dengan jembatan kokoh melintang. Di seberang terdapat gunung dengan sebagian puncak yang tertutup awan tipis. Sementara di bawah ada pulau dengan perumahan penduduk. Dari kejauhan seolah tak ada aktivitas di sekitar jembatan, sampai benar-benar tiba di sana maka jangan terkejut jika disambut oleh kerumunan orang-orang yang menawarkan jasa penyewaan speedboat untuk berkeliling pulau dan melintas di bawah jembatan.
Aku dan adikku sengaja menolak tawaran-tawaran itu, kami memilih berjalan-jalan di jembatan terlebih dahulu, mencari spot foto yang bagus untuk megambil beberapa gambar. Kami beruntung karena mengunjungi jembatan itu di hari biasa, tidak banyak pengunjung yang datang sehingga kami bisa leluasa mencari tempat berfoto yang pas. Mengitari jembatan yang panjang lumayan membuat kaki kami pegal, tapi hitung-hitung olahraga karena aku sendiri sangat jarang beraktivitas di luar rumah seperti ini, setiap hari hanya berdiam diri di rumah sambil tiduran di depan televisi atau membaca buku.
Kami lalu turun ke bawah dan menyewa speedboat, lalu berkeliling pulau. Para pengemudi speedboat sangat pengertian, mereka tahu jika kami perlu difoto berdua. Pengemudi speedboat yang kami bayar menawarkan diri untuk memoto kami di tengah sungai Kapuas dengan view jembatan Tayan yang panjang melintang. Kami pun mendapat sebuah foto bagus. Setelah kembali ke daratan kami membayar biaya sewa, normalnya sebuah speedboat memuat lima orang dengan bayaran sepuluh ribu per orang, tapi atas permintaan pribadi kami meminta pengemudi speedboat agar hanya membawa kami berdua, dengan alasan supaya kami lebih puas menikmati perjalanan mengelilingi pulau, biayanya hanya lima puluh ribu rupiah untuk dua orang dengan waktu sekitar tiga puluh menit mengelilingj pulau (ini juga tergantung permintaan jika kita ingin cepat atau lambat).


Salah satu rumah terapung, mungkin lima atau enam tahun ke depan rumah-rumah yang terdapat di tepi sungai tidak akan sesederhana ini lagi.

Aku lumayan puas setelah berkeliling pulau, melihat rumah-rumah di tepi sungai dan mendapati padang rumput yang luas di sebuah bagian di pulau itu, di padang rumput yang luas itu terdapat pagar yang sengaja di buat untuk membatasi wilayah padang rumput dengan perumahan penduduk. Terbayang beberapa tahun ke depan jelas keadaan di sini akan jauh berubah.

Pemandangan bagus lainnya yang bisa ditemui ketika berkunjung ke jembatan Tayan adalah ketika senja. Matahari yang tenggelam membuat langit berwarna merah, orang-orang hanya nampak siluetnya, sebuah pemandangan yang sangat jarang kutemui, sebuah senja yang utuh, lengkap dengan suasana sungai yang tenang tapi juga riuh.


Setelah puas menikmati senja dan mengambil beberapa gambar kami memutuskan untuk kembali ke Pontianak.
Saranku, jika kalian bukan orang yang senang berdesak-desakan dan mengantri maka kunjungi jembatan ini dihari biasa bukan ketika hari libur. Karena jika hari libur pengunjung akan sangat ramai, semua orang ingin berfoto sehingga sangat sulit mendapat view yang bersih dan speedboat akan penuh jadi bersiap-siaplah mengantri.

Di hari libur akan sangat sulit menemukan tempat yang bersih dari punggung-punggung pengunjung lain seperti ini. Karena itu jika ingin mendapat pemandangan yang bagus berkunjunglah di hari biasa.




This entry was posted in

0 komentar:

Post a Comment