Sunday, February 14, 2016

Happy Valentine

photo by : Archie the Red Carpet
Aku teringat pada malam tanggal 14 Februari setahun yang lalu. Waktu itu aku gelisah semalaman menunggu kabar dari seseorang, handphoneku berkali-kali kucek dan sengaja kubesarkan volume nada deringnya agar aku bisa mendengar dengan jelas jika ada panggilan atau pesan masuk. Sampai tanggal 14 Feburari benar-benar tiba aku tidak mendapati pesan apa pun dari orang yang kutunggu. Tidak ada sama sekali.
Semua pasangan saling memberi kejutan untuk merayakan hari Valentine, saling memberi cokelat atau sekedar telponan untuk melipat jarak bagi yang berjauhan. Aku dan dia ada di kota yang sama, tapi aku sama sekali tidak tahu keberadaannya saat itu. Dia tidak menjawab panggilanku, tidak membaca pesanku di line. Aku nyaris menangis karena sedih.
Tapi sore harinya aku mendapat sekotak cokelat dengan sepucuk surat, bukan darinya. Dari orang lain yang lebih peduli padaku, tapi tak pernah kupedulikan.
Malam ini malam Valentine, malam minggu juga. Moment yang pas bagi seseorang yang mungkin ingin menyatakan cinta. Aku membaca buku Dunia Sophie sejak sore tadi, tidak sedang menunggu kabar dari siapa pun, tidak sedang gelisah, tidak merasa galau dan sedih.
Aku benar-benar menikmati kesendirianku, merasa bebas dan lega. Saat teman-teman lainnya sibuk mempersiapkan diri untuk ngedate bersama pasangannya aku sedang santai-santai di kamar, mendengarkan lantunan lagu T-Shirt dari Birdy dengan sebuah bacaan yang asik. Saat teman lainnya sedang di luar sana menghabiskan malam minggunya dengan pasangan di sebuah tempat yang (aku yakin semua tempat malam ini) bernuansa pink aku melewati malam mingguku bersama keluarga, menonton drama Turki kesukaan mama dan bapak. Kendati pun rasa malasku menonton drama sangat besar, kemalasan itu pasti kalah oleh rasa ingin berkumpul bersama mereka. Sama sekali tidak merasa terpaksa, aku sangat senang duduk bersama mereka di ruangan yang sama, kadang aku menyimak tontonan mereka tapi lebih sering menenggelamkan diri dengan gadget atau buku. Lalu ketika iklan, kami akan mengobrol, kemudian obrolan itu akan terhenti saat drama mulai dan akan disambung lagi ketika iklan tiba.
Hampir setiap hari kulalui seperti ini, waktuku hanya untuk membaca, bermain, berkumpul bersama keluarga; berbahagia. Rasanya aku lupa bahwa aku pernah patah hati, dan malam ini aku teringat bahwa di tanggal yang sama aku pernah hampir gila menunggu kabar seseorang. Semalaman tidak tidur karena merasa khawatir, lalu keesokannya seharian menahan tangis karena merasa diabaikan. Aku hanya teringat hal itu, tidak lagi ingat rasanya.
Saat sudah benar-benar tenggelam dengan bacaanku, mama memanggil dari luar, handphone yang kutinggalkan di atas kulkas – di dapur – berbunyi sedari tadi. Kebiasaanku menyimpan handphone di sembarang tempat, sejak melepaskan diri dari ikatan-ikatan khusus aku memang tidak terlalu sering memegang hp. Tidak ada orang penting yang menunggu kabarku karena semua orang penting yang selalu khawatir padaku ada di sini; di rumah.
Aku bergegas mengambil handphoneku. Ada beberapa pesan masuk di line. Kubuka, pesan dari orang yang sama. Sengaja kutulis nama kontaknya SOS, nama spesial karena kupilih dengan alasan khusus pula. Akhir-akhir ini dia jadi orang pertama yang kukirimi pesan saat aku bangun tidur dan dia adalah orang terakhir yang mengirimiku pesan saat aku akan tidur. Aku tidak punya ikatan apapun dengannya, bukan kekasih atau ikatan sejenisnya. Kami hanya lebih banyak berbagi, berbagi cerita, kabar, pengetahuan, berbagi kebahagiaan. Aku tersenyum, aku lupa membalas pesannya karena terlalu asik membaca.
Aku sadar ternyata sekarang ada orang yang menunggu kabar dariku. Mungkin Valentine kali ini tidak ada sekotak cokelat dan sepucuk surat, tapi aku punya seseorang yang selalu menjadi cokelat untuk hari-hariku, menjadi surat yang seolah tak pernah habis kubaca. Tidak kuanggap dia sebagai hadiah, tidak ada yang memberikannya padaku, tidak ada yang membungkuskannya untukku. Dia hadir begitu saja, muncul tiba-tiba dari Direct Message di akun instagramku. Mungkin dia adalah sebuah kebetulan, kebetulan yang menjadi takdir. Ah, entahlah.
Setahun yang lalu malam Valentineku sendu, kali ini berbeda, seperti ada sesuatu dari dalam hatiku yang mengajak untuk bertemu lewat potongan chat yang adalah jelmaan dari rindu.
Kita, semoga tidak pernah dipusingkan oleh ego kita untuk saling mengikat diri dengan status yang dianggap paling jelas. Perasaanku padamu, sebagaimana yang kau tahu. Happy Valentine.

2 comments: