Monday, February 29, 2016

Untuk 29 Februari; Sampai bertemu di tahun 2020

Selamat merayakan ulang tahun wahai orang-orang yang lahir di tanggal 29 Februari. 


Leap year, leap day!
Ini adalah hari terakhir di bulan Februari dan juga menjadi hari pertamaku memulai kegiatan perkuliahan. Lihatlah betapa waktu tidak pernah sepakat, tidak terasa sekarang aku sudah semester enam. Semester ini sama seperti semester yang lalu, aku mengambil 24 SKS dengan 12 mata kuliah, aku kuliah dari Senin sampai Sabtu, sangat melelahkan.
Semester ini adalah penentuan jurusan, aku telah memutuskan untuk mengambil konsentrasi di bidang hukum ekonomi. Mempelajari tentang hukum asurasi, hukum penanaman modal, hukum transportasi, dan beberapa hal yang terlihat sedikit lebih asik ketimbang aku harus mempelajari hukum pidana atau hukum tata negara.
Aku masih sama seperti saat pertama kali menginjakkan kaki di kampus ini - tidak tahu mau jadi apa - aku hanya ingin secepatnya wisuda.
Semoga semester ini semuanya berjalan dengan lancar, tidak ada kesulitan berarti yang membuatku pusing dan harus membaur dengan mereka yang sangat membosankan. Semoga tidak ada tugas berkelompok, atau dosen yang galak di kampus tapi baiknya kebangetan di toko roti. Ah, semoga aku tidak terlalu semangat ke kampus hari ini, karena jika datang lebih awal aku mungkin harus pura-pura senang mengobrol bersama mereka.


Sekali lagi, sampai bertemu di tahun 2020 wahai tanggal 29.
2020 nanti aku akan menulis hari pertamaku menjadi seorang editor mungkin, atau seorang manager, atau bisa jadi kepala dinas. Siapa yang tahu. Hahaha.

Sunday, February 28, 2016

All you need is sleep




Tidur adalah mesin waktu untuk melewati masa.
Ketika sedih dan merasa terpuruk karena mengalami sesuatu sebenarnya yang kita butuhkan hanyalah tidur.
Menangis seperlunya jika memang tidak mampu membendungnya, karena menangis memang membuat perasaan lega. Tapi tidak disarankan menangis berlebihan karena akan menyebabkan mata sembab. 
Seringkali orang mengatakan jika sedih hal yang harus kita lakukan adalah keluar dan bercerita pada seseorang. Ini memang benar, satu-satunya hal yang kita butuhkan ketika sedang terpuruk adalah seorang teman yang bisa menjadi pendengar cerita kita, bercerita akan membuat perasaan lega karena kita mengeluarkan kesedihan di dalam diri kita. Tapi, jika tidak punya seseorang yang dipercaya untuk dijadikan tempat bercerita maka tidur adalah pilihan yang paling tepat. 
Karena ada beberapa kesedihan yang memang harus kita nikmati sendirian, bercerita pada orang lain kadang malah membuat suasana hati kita tidak nyaman apalagi jika orang yang harusnya menjadi pendengar memerankan peran ganda sebagai komentator atau lebih buruknya pengkhotbah.
Anggapan lainnya adalah bahwa kesedihan akan hilang jika kita menenggelamkan diri dengan alkohol, musik, film, atau berbelanja. Alkohol akan membuat kita tidak sadar dan melupakan kesedihan kita. Tapi efek alkohol adalah sementara, ketika kadar alkohol dalam tubuh kita berkurang dan kita kembali normal maka kesedihan itu akan kembali muncul, tetap muncul, seperti jerawat berdarah yang baru saja dipecahkan dan darahnya tidak habis-habis. 
Lalu beberapa orang memilih berbelanja untuk melupakan kesedihan mereka, tapi ketika sudah pulang ke rumah dan memandang struk belanjaan di tas belanjaan, mereka kemudian menyesal mengapa menghabiskan uang sebanyak itu, seketika kesedihan mereka kembali lagi.
Sebenarnya ketika baru saja mendapat sebuah masalah dan tertekan karena itu, hal yang paling bijak untuk kita lakukan adalah tidur.
Tidur membantu kita melewati masa-masa sulit itu, ketika bangun pikiran kita sudah jernih dan perasaan kita sudah tenang, maka itu adalah waktu yang tepat untuk berpikir, mencari jalan keluar atau memutuskan suatu tindakan.
Baru-baru ini aku mengalami hal yang buruk. Aku sangat tertekan karenanya, aku lalu berencana untuk menghapus semua akun media sosialku, aku nekat menyepi dari kehidupan duniawi yang membuatku merasa ingin hidup seribu tahun lamanya, kuputuskan untuk mulai menghapusnya satu persatu, tapi karena kecapekan menangis aku pun tertidur malam itu. Ketika bangun aku mendapati keadaanku jauh lebih baik, tidak terlalu emosi, aku seakan berkali-kali lipat bijaksana dari sebelumnya setelah bangun tidur. Lalu aku memandang handphoneku dan menyesal pernah berencana menghapus akun-akun media sosialku di sana.Aku lega, perasaanku lebih tenang dari sebelumnya.
Semua yang kita butuhkan ketika sedang terpuruk adalah tidur. Jangan membodohi diri sendiri dengan minum alkohol sampai tidak sadarkan diri. Jangan berbelanja hanya untuk melupakan kesedihan di hati, karena hasilnya akan tetap sama, kesedihan itu tidak benar-benar hilang dia akan kembali lagi ketika seseorang yang matanya sembab karena menangis tadi malam terkejut melihat tagihan kartu kreditnya yang menanjak. Jangan bercerita pada seseorang karena mereka hanya berpura-pura peduli, pura-pura mengerti padahal tidak sama sekali, pura-pura suka mendengar cerita kita padahal di dalam hatinya dia membaca mantra supaya kita berhenti becerita dan segera pulang. Teman hanya berpura-pura memahami kita, padahal tidak.
Semua yang kita butuhkan hanya tidur. Tidur akan membawa kita ke waktu paling baru yang kita punya, tidur akan menelan semua kesedihan dan ketidaktenangan kita, tidur akan memapukan kita melewati hari-hari terburuk kita. Karena saat kita bangun dari tidur kita menemukan harapan baru, menemukan pikiran yang jauh lebih tenang, menemukan perasaan yang sudah kembali nyaman.
Itulah sebuah kekuatan dari pilihan untuk tidur.


Selamat tidur.

Friday, February 26, 2016

Olahraga Sampai Berburu Senja di Jembatan Tayan


 
Sebulan yang lalu aku dan adikku mengunjungi jembatan Tayan, sebuah jembatan yang terletak di desa Tayan kabupaten Sanggau. Jembatan ini memiliki panjang sekitar 1.420 meter dengan desain yang tidak biasa. Jembatan ini menjadi jembatan yang menghubungkan Tayan dengan beberapa Kabupaten yang ada di Kalbar selain itu menjadi penghubung Kalimantan Barat dengan provinsi lain yang ada di Kalimantan.
Sejak akhir tahun 2015 jembatan ini menjadi ramai dikunjungi masyarakat sekitar. Antusia masyarakat sangat tinggi, hampir setiap hari jembatan ini ramai oleh pengunjung yang bukan hanya masyarakat sekitar tapi juga dari luar kota. Bukan hanya karena bentuk jembatannya yang unik tapi pemandangan di sekitar jembatan Tayan yang indah, khas pemandangan tepian sungai.


Orang-orang datang untuk berfoto, ada juga yang sekedar santai berdiri di tepi jembatan memandang sungai kapuas yang panjang. 
Di bawah jembatan terdapat pulau kecil, pulau Tayan. Walaupun kecil, pulau ini telah dihuni oleh berpuluh-puluh kepala keluarga, rumah mereka dibangun di atas permukaan tanah di pulau kecil itu. Di pulau ini lalu di bangun wahan bermain bagi anak-anak dan warung-warung yang menjual minuman dan makanan ringan, tempat ini kelak akan menjadi taman kota di daerah Tayan, saat ini pengerjaannya sedang dalam proses.
Jarak dari Pontianak ke Tayan yang kami tempuh untuk mencapai jembatan ini sekitar dua jam. Beberapa temanku hanya perlu waktu satu jam tiga puluh menit jika menggunakan motor dengan kelajuan yang cukup tinggi.

Sungai yang lebar dan panjang dengan jembatan kokoh melintang. Di seberang terdapat gunung dengan sebagian puncak yang tertutup awan tipis. Sementara di bawah ada pulau dengan perumahan penduduk. Dari kejauhan seolah tak ada aktivitas di sekitar jembatan, sampai benar-benar tiba di sana maka jangan terkejut jika disambut oleh kerumunan orang-orang yang menawarkan jasa penyewaan speedboat untuk berkeliling pulau dan melintas di bawah jembatan.
Aku dan adikku sengaja menolak tawaran-tawaran itu, kami memilih berjalan-jalan di jembatan terlebih dahulu, mencari spot foto yang bagus untuk megambil beberapa gambar. Kami beruntung karena mengunjungi jembatan itu di hari biasa, tidak banyak pengunjung yang datang sehingga kami bisa leluasa mencari tempat berfoto yang pas. Mengitari jembatan yang panjang lumayan membuat kaki kami pegal, tapi hitung-hitung olahraga karena aku sendiri sangat jarang beraktivitas di luar rumah seperti ini, setiap hari hanya berdiam diri di rumah sambil tiduran di depan televisi atau membaca buku.
Kami lalu turun ke bawah dan menyewa speedboat, lalu berkeliling pulau. Para pengemudi speedboat sangat pengertian, mereka tahu jika kami perlu difoto berdua. Pengemudi speedboat yang kami bayar menawarkan diri untuk memoto kami di tengah sungai Kapuas dengan view jembatan Tayan yang panjang melintang. Kami pun mendapat sebuah foto bagus. Setelah kembali ke daratan kami membayar biaya sewa, normalnya sebuah speedboat memuat lima orang dengan bayaran sepuluh ribu per orang, tapi atas permintaan pribadi kami meminta pengemudi speedboat agar hanya membawa kami berdua, dengan alasan supaya kami lebih puas menikmati perjalanan mengelilingi pulau, biayanya hanya lima puluh ribu rupiah untuk dua orang dengan waktu sekitar tiga puluh menit mengelilingj pulau (ini juga tergantung permintaan jika kita ingin cepat atau lambat).


Salah satu rumah terapung, mungkin lima atau enam tahun ke depan rumah-rumah yang terdapat di tepi sungai tidak akan sesederhana ini lagi.

Aku lumayan puas setelah berkeliling pulau, melihat rumah-rumah di tepi sungai dan mendapati padang rumput yang luas di sebuah bagian di pulau itu, di padang rumput yang luas itu terdapat pagar yang sengaja di buat untuk membatasi wilayah padang rumput dengan perumahan penduduk. Terbayang beberapa tahun ke depan jelas keadaan di sini akan jauh berubah.

Pemandangan bagus lainnya yang bisa ditemui ketika berkunjung ke jembatan Tayan adalah ketika senja. Matahari yang tenggelam membuat langit berwarna merah, orang-orang hanya nampak siluetnya, sebuah pemandangan yang sangat jarang kutemui, sebuah senja yang utuh, lengkap dengan suasana sungai yang tenang tapi juga riuh.


Setelah puas menikmati senja dan mengambil beberapa gambar kami memutuskan untuk kembali ke Pontianak.
Saranku, jika kalian bukan orang yang senang berdesak-desakan dan mengantri maka kunjungi jembatan ini dihari biasa bukan ketika hari libur. Karena jika hari libur pengunjung akan sangat ramai, semua orang ingin berfoto sehingga sangat sulit mendapat view yang bersih dan speedboat akan penuh jadi bersiap-siaplah mengantri.

Di hari libur akan sangat sulit menemukan tempat yang bersih dari punggung-punggung pengunjung lain seperti ini. Karena itu jika ingin mendapat pemandangan yang bagus berkunjunglah di hari biasa.




Sunday, February 14, 2016

Happy Valentine

photo by : Archie the Red Carpet
Aku teringat pada malam tanggal 14 Februari setahun yang lalu. Waktu itu aku gelisah semalaman menunggu kabar dari seseorang, handphoneku berkali-kali kucek dan sengaja kubesarkan volume nada deringnya agar aku bisa mendengar dengan jelas jika ada panggilan atau pesan masuk. Sampai tanggal 14 Feburari benar-benar tiba aku tidak mendapati pesan apa pun dari orang yang kutunggu. Tidak ada sama sekali.
Semua pasangan saling memberi kejutan untuk merayakan hari Valentine, saling memberi cokelat atau sekedar telponan untuk melipat jarak bagi yang berjauhan. Aku dan dia ada di kota yang sama, tapi aku sama sekali tidak tahu keberadaannya saat itu. Dia tidak menjawab panggilanku, tidak membaca pesanku di line. Aku nyaris menangis karena sedih.
Tapi sore harinya aku mendapat sekotak cokelat dengan sepucuk surat, bukan darinya. Dari orang lain yang lebih peduli padaku, tapi tak pernah kupedulikan.
Malam ini malam Valentine, malam minggu juga. Moment yang pas bagi seseorang yang mungkin ingin menyatakan cinta. Aku membaca buku Dunia Sophie sejak sore tadi, tidak sedang menunggu kabar dari siapa pun, tidak sedang gelisah, tidak merasa galau dan sedih.
Aku benar-benar menikmati kesendirianku, merasa bebas dan lega. Saat teman-teman lainnya sibuk mempersiapkan diri untuk ngedate bersama pasangannya aku sedang santai-santai di kamar, mendengarkan lantunan lagu T-Shirt dari Birdy dengan sebuah bacaan yang asik. Saat teman lainnya sedang di luar sana menghabiskan malam minggunya dengan pasangan di sebuah tempat yang (aku yakin semua tempat malam ini) bernuansa pink aku melewati malam mingguku bersama keluarga, menonton drama Turki kesukaan mama dan bapak. Kendati pun rasa malasku menonton drama sangat besar, kemalasan itu pasti kalah oleh rasa ingin berkumpul bersama mereka. Sama sekali tidak merasa terpaksa, aku sangat senang duduk bersama mereka di ruangan yang sama, kadang aku menyimak tontonan mereka tapi lebih sering menenggelamkan diri dengan gadget atau buku. Lalu ketika iklan, kami akan mengobrol, kemudian obrolan itu akan terhenti saat drama mulai dan akan disambung lagi ketika iklan tiba.
Hampir setiap hari kulalui seperti ini, waktuku hanya untuk membaca, bermain, berkumpul bersama keluarga; berbahagia. Rasanya aku lupa bahwa aku pernah patah hati, dan malam ini aku teringat bahwa di tanggal yang sama aku pernah hampir gila menunggu kabar seseorang. Semalaman tidak tidur karena merasa khawatir, lalu keesokannya seharian menahan tangis karena merasa diabaikan. Aku hanya teringat hal itu, tidak lagi ingat rasanya.
Saat sudah benar-benar tenggelam dengan bacaanku, mama memanggil dari luar, handphone yang kutinggalkan di atas kulkas – di dapur – berbunyi sedari tadi. Kebiasaanku menyimpan handphone di sembarang tempat, sejak melepaskan diri dari ikatan-ikatan khusus aku memang tidak terlalu sering memegang hp. Tidak ada orang penting yang menunggu kabarku karena semua orang penting yang selalu khawatir padaku ada di sini; di rumah.
Aku bergegas mengambil handphoneku. Ada beberapa pesan masuk di line. Kubuka, pesan dari orang yang sama. Sengaja kutulis nama kontaknya SOS, nama spesial karena kupilih dengan alasan khusus pula. Akhir-akhir ini dia jadi orang pertama yang kukirimi pesan saat aku bangun tidur dan dia adalah orang terakhir yang mengirimiku pesan saat aku akan tidur. Aku tidak punya ikatan apapun dengannya, bukan kekasih atau ikatan sejenisnya. Kami hanya lebih banyak berbagi, berbagi cerita, kabar, pengetahuan, berbagi kebahagiaan. Aku tersenyum, aku lupa membalas pesannya karena terlalu asik membaca.
Aku sadar ternyata sekarang ada orang yang menunggu kabar dariku. Mungkin Valentine kali ini tidak ada sekotak cokelat dan sepucuk surat, tapi aku punya seseorang yang selalu menjadi cokelat untuk hari-hariku, menjadi surat yang seolah tak pernah habis kubaca. Tidak kuanggap dia sebagai hadiah, tidak ada yang memberikannya padaku, tidak ada yang membungkuskannya untukku. Dia hadir begitu saja, muncul tiba-tiba dari Direct Message di akun instagramku. Mungkin dia adalah sebuah kebetulan, kebetulan yang menjadi takdir. Ah, entahlah.
Setahun yang lalu malam Valentineku sendu, kali ini berbeda, seperti ada sesuatu dari dalam hatiku yang mengajak untuk bertemu lewat potongan chat yang adalah jelmaan dari rindu.
Kita, semoga tidak pernah dipusingkan oleh ego kita untuk saling mengikat diri dengan status yang dianggap paling jelas. Perasaanku padamu, sebagaimana yang kau tahu. Happy Valentine.

Wednesday, February 03, 2016

Review Novel Go Set A Watchman Karangan Harper Lee

50 Books to read in 2016.
Judul : Go Set A Watcman
Penulis: Harper Lee
Penerbit : Qanita
Penerjemah : Berliani Mantili Nugrahani & Esti Budihabsari
Ulasan :
Novel Go Set A Watchman mengisahkan tentang kepulangan seorang gadis – Jean Louis Finch – ke tanah kelahirannya Maycomb. Selama ini dia hidup di New York dan setiap lima tahun sekali akan pulang. Ketika ia pulang banyak hal telah berubah, kecuali kepercayaannya pada sang Ayah dan perasaannya pada Henry Clinton sahabat lamanya yang merupakan teman sepermainan almarhum abangnya.
Beberapa hari menjalani hidupnya di Maycomb, Jean Louis mulai menyadari sesuatu yang aneh. Maycomb tidak seperti tempat yang bisa memeluknya ketika pulang, tapi dia juga tidak ingin secepatnya pergi dari sana. Ada kesenjangan antar orang-orang berkulit putih dan hitam yang disadarinya, padahal sebelumnya orang berkulit putih dan hitam sudah berdampingan secara damai. Entah apa yang membuat hubungan antar kulit putih dan hitam kembali bergejolak, itu adalah hal yang tidak bisa Jean Louis mengerti.
Dia adalah seorang gadis keras kepala, typical gadis independen yang mandiri dan terbiasa menentang secara tegas. Aku sangat menyukai karakternya, mungkin di dalam diriku ada Jean Louis. Mengingat betapa seringnya aku memberontak pada stigma sosial yang aku temui dalam kehidupanku sehari-hari.
Karakter pembangkang dalam diri Jean Louis semakin hidup dengan dihadirkannya tokoh Alexandra Finch – bibi Jean Louis - Harper Lee sangat berhasil dalam menggambarkan sosok perempuan tua yang kolot, yang sangat terikat pada aturan kuno dan penilaian masyarakat, dia sangat takut terlihat jelek di mata masyarakat, sangat menjaga nama baik keluarga Finch dan tentu saja dia adalah seorang wanita yang cerewet dan pengomel, dia sering beradu pendapat dengan Jean Louis.
Romansa percintaan dihadirkan melalui kisah panjang antara Jean Louis dan Henry Clinton, dua orang yang tumbuh besar berdampingan dengan status sosial berbeda. Keluarga Finch dan keluarga Clinton bukanlah keluarga yang setara, itu yang membuat Alexandra menentang keras hubungan keponakannya dengan Henry Clinton, seorang pengacara yang sejak kecil adalah teman sepermainan almarhum abang Jean Louis, yang juga sejak kecil sudah diasuh oleh Atticus Finch – ayah Jean Louis – karena sejak kecil dia menyewa rumah kecil milik keluraga Finch yang letaknya tidak jauh dari rumah yang menjadi tempat Jean Louis tumbuh dan menghabiskan masa kanak-kanak di Maycomb.
Ayah Jean Louis – Atticus Finch – adalah seorang pengacara terhormat di Maycomb, sejak Jean Louis kecil ibunya meninggal karena penyakit jantung yang kemudian merengut nyawa abang Jean Louis juga. Atticus membesarkan kedua anaknya penuh cinta, mengajarkan kebaikan dan kejujuran, inilah yang menjadikannya sebagai satu-satunya orang yang bisa dipercayai oleh Jean Louis. Putrinya tidak mempercayai siapa pun di dunia kecuali dirinya, Jean Louis berpegang pada pendirian ayahnya, apa yang benar menurut ayahnya maka benarlah itu. Sejak kecil anak-anaknya dibesarkan olehnya dan diasuh oleh seorang pembantu kulit hitam – Calpurnia – dia sangat berperan banyak dalam pertumbuhan Jean Louis dan saudaranya. Kedekatan Jean Louis dengan Calpuria inilah yang membuat Jean Louis tumbuh menjadi gadis yang sangat menghargai sesamanya tanpa memandang warna kulit. Dia memandang semua manusia sama
Cara pandang Jean Louis inilah yang berbeda dengan cara pandang orang pada umunya di Maycomb, ini membuatnya merasa sangat janggal dan gelisah, dia ingin menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Penyelidikannya membuatnya semakin terkejut karena satu-satunya orang yang dipercayanya ternyata tidak seperti yang dipikirkannya selama ini. Henry juga berbeda. Semua hal berbeda. Berubah dan tak sama lagi.
Gejolak dalam diri Jean Louis membuat kisah ini sangat menarik. Bagaimana seorang gadis yang keras, bebas, dan sangat menghargai kehidupan mencoba memahami sebuah perbedaan.

KUTIPAN DALAM NOVEL GO SET A WATCHMAN

  • Kalau kau tidak punya banyak keinginan, hidupmu selalu berkecukupan.
  • Kau boleh mencintai siapa pun, tapi nikahilah orang yang mirip denganmu.
  • Jatuh cinta adalah perkara ya atau tidak. Cinta bukan satu-satunya hal yang pasti di dunia ini. Ada banyak macam cinta, tapi semuanya sama-sama menghendaki jawaban ya atau tidak.
  • Dunia menawarkan yang terbaik ketika tiba waktunya untuk meninggalkannya.
  • Menasehati orang lain memang mudah, tapi membuat mereka menjalankan nasihat sangat sulit. Itulah penyebab sebagian besar masalah di dunia ini, karena orang-orang tidak menuruti nasihat.
  • Orang munafik juga punya hak hidup yang sama di dunia ini seperti orang-orang lainnya.
  • Sejarah adalah tempat terakhir yang dicari manusia untuk mengambil pelajaran.