Friday, January 29, 2016

#SuratUntukFebruari

Sebelumnya tulisan ini kutulis di caption instagramku untuk mengikuti tantangan menulis surat cinta dari kelompok membaca Pecandu Buku. 
Surat ini kutujukan untuk seorang teman yang setiap malam selalu memelukku melalui sticker Kukuxumusu sebelum tidur.


Untuk Februari..
Kutulis surat ini ketika bus berisi orang-orang bermasker warna-warni melintasi rumah dengan iringan mobil polisi. Suara sirene memecah petang yang tenang. Dari Mempawah mereka diungsikan ke Bekangdam XXI Tanjungpura lalu akan dibawa entah ke mana, bandara atau pelabuhan.

Hari yang menyenangkan.
Pagi ini sama seperti hari-hari sebelumnya, perayaan kehidupanku tak jauh berbeda dengan hari yang kemarin, ritual pagiku tak satupun yang terlewatkan. 
Aku bangun di tempat tidur yang sama, mendapat pesan yang sama dari orang yang sama. Pagiku kulalui seperti biasa, melipat selimut dan menyibak tirai jendela, menjerang teh lalu menyalakan televisi.
Lalu siang hari kubuang-buang waktuku di atas tumpukan buku. Sekedar mencari kosakata baru atau benar-benar menambah ilmu.
Tapi, kali ini soreku agak lain. Dia, yang adalah - orang yang sama - orang yang menjadi nada dalam lagu-lagu sumbangku tempo hari mengirimiku sebuah puisi.
Telah tuntas kubaca tapi belum kupahami semua artinya.
Ditulisnya bahwa hakikatnya seorang lelaki membutuhkan pengakuan, dan kurasa ia pun tahu bahwa yang perempuan butuhkan hanyalah kenyamanan. Entah bagaimana harusnya aku bertindak setelah ini. Menjaga jarak agar tak lagi dekat atau terus memelihara mantra-mantra penuh dosa yang terlanjur kami rapalkan bersama.
Banyak yang terlihatt tak jelas di antara kami, tapi banyak pula yang terasa jelas. Entah perlu melihat atau merasa, yang kutahu pasti dia orang yang membuat hariku menjadi biru.

Februari..

Sengaja kutulis surat ini sebelum Januari benar-benar berakhir dan kau hadir tanpa kejutan. Sampai kau tiba nanti dan aku kembali membuka surat ini, semoga perasaanku masih tetap hangat seperti saat menulisnya.
Apakah nanti kami masih berbagi pelukan atau tidak, masih menjadi teman atau bukan, masih merapalkan mantra yang sama atau berbeda, kuharap hatiku tetap hangat ketika membuka kembali surat ini.

Entah dari teman atau kekasih, sebuah gandengan akan tetap menghangatkan dan pelukan akan tetap menenangkan.
***

Thursday, January 28, 2016

UNTUK HARI-HARI YANG AKAN DATANG


Dari yang pernah patah dan terluka.

Ketika hari berganti dan kau temui dirimu masih lemah jangan lelah dan menyerah, hari ini mungkin tak ramah tapi yakinlah esok selalu memberi hal baru yang membuatmu sanggup dan mampu- Claudia Liberani.

Ini adalah hari ke-28 sejak tahun berganti. Sore agak sendu, hujan yang bertandang sedari pagi baru saja berlalu menyisakan rintik yang sedih. Entah di bagian bumi yang mana seseorang pasti sedang berduka.
Januari hampir berlalu, tapi belum juga banyak hal berubah, pola hidupku masih tak beraturan dan beberapa kebiasaan buruk masih saja terulang. 
Sebuah daftar revolusi telah kubuat di malam pergantian tahun, masih hangat tertempel di dinding kamarku menunggu untuk dicoret karena telah diwujudkan. Tugasku adalah menuntaskan mereka satu per satu. 
Melihat tanggal dan menghitung hari sama dengan mengingat daftar revolusiku, mengingatkanku pada sesuatu yang ingin kucapai, perpindahan yang ingin kulakukan, perubahan yang kuusahakan untuk secepatnya terjadi. Melihat tanggal dan menghitung hari pun sama dengan menemukannya di ujung kalenderku. Semua tanggal 30 di tiap bulan telah kulingkari untuk mengingatkanku bahwa seseorang pernah menjadi yang paling cinta sekaligus yang paling menyakitkanku. 
Dua tahun berlalu sejak kami memutuskan menjadi orang asing, dua tahun berlalu sejak aku menangis meminta untuk tidak ditinggalkan. Dua tahun telah berlalu sejak kuyakinkan hatiku untuk menjadi batu, tak akan luluh walau dia kembali. 
Sore ini aku seperti melihat kaleidoskop perjalanan kami selama satu tahun bersama, menjajal segala bentuk keangkuhan dan berusaha saling mengalahkan ego. Kadang kenangan-kenangan  seperti ini yang membuatku rindu. Bukan merindukannya, tapi kebiasaan dan hal yang pernah kami lalui berdua.
Rindu memang hanya akan menghadirkan kenangan manis, segala pahit dan tangis akan sembunyi. Ia adalah racun, sekaligus penyembuh. 
Kuingatkan ini berkali-kali pada diriku.
Satu hal yang harus kau ingat ketika rindu dan tak mampu menjadi batu, dia pernah membuatmu jadi patah dan terluka. Tak ada yang lebih ampuh untuk menerima keadaan selain mengingat segala yang menyakitkan dan menyadari bahwa sesuatu yang dipaksakan memang tak akan pernah baik. 
Untuk sekedar menyapa saja adalah sebuah kesalahan besar jika lukamu masih basah. Sama seperti sepotong "Hai" darinya yang mampu meruntuhkan segala pertahananmu bertahun-tahun, sebuah sapaan darimu juga adalah dosa karena yang akan tersiksa adalah dirimu sendiri.
Menahan diri memang tak mudah, kadang beberapa hal bodoh perlu dilakukan hanya untuk menghindari sebuah pesan berisi kalimat "Apa kabar hari ini ?" terkirim.
Hati yang patah membuat hal-hal yang ada di sekitarmu menjadi hampa dan tak bermakna, kadang kerap kali kau mengabaikan orang-orang yang peduli padamu dan kau memilih menyembuhkan luka seorang diri. Patah hati memang membuat segalanya suram sekaligus mudah. Suram karena kau merasa semua orang meninggalkanmu, mudah karena dirimu bisa saja dengan gampang melakukan hal konyol hanya untuk membuatmu lupa pada lukamu.
Mengapa patah hati dan rindu menjadi sangat menyiksa ? karena kamu tak cukup pandai untuk menikmatinya. Patah hati dan rindu adalah juga perayaan, rayakanlah, jangan berjuang lagi karena saatnya berpesta. Terserah itu pesta air mata atau tawa, nikmati saja dan biarkan berlalu. 
Ingatlah bahwa semua orang pernah melalui hal yang sama, kamu berproses, kamu tumbuh, ini adalah bagian yang harus kamu lalui. 
Kuingat itu baik-baik. 
Kuingat karena aku pernah patah dan terluka, merasa terasing dan ditinggalkan. Tak berdaya seolah esok telah tiada. 
Biarkanlah luka menjadi luka, rindu menjadi rindu. Ketika jatuh cinta harusnya kau sadar bahwa kau telah siap terhempas. Walaupun perkara berpindah tidak mudah tapi sadarilah bahwa semuanya telah berubah.
Keadaan sudah berbeda dan dia tak akan pernah menjadi sama.
Kemarin dia mencintaimu esok bisa saja dia melupakanmu dan kau tidak boleh hidup di hari kemarin. Mengertilah hidup adalah perpindahan, setiap detiknya adalah perubahan. Kau tidak akan mampu jika masih bertahan di tempat yang sama.
Kutarik nafasku pelan, berat karena mulai sesak. Aku memang harus menghitung hari tanpa bosan agar aku ingat bahwa aku harus berubah, ada perpindahan yang ingin kucapai, ada revolusi yang harus kuwujudkan. Agar aku selalu ingat kolom merah yang kubuat ditanggal 30, tanda yang mengingatkanku bahwa aku pernah patah dan terluka.
Tanda yang menyadarkanku bahwa aku memang harus berubah.  
Untukmu yang pernah membuatku jatuh hati lalu patah.
Aku pernah menjadi yang paling tersakiti, tapi aku juga pernah menjadi yang paling bahagia bahkan sebelum bertemu denganmu. Beranjak memang tak mudah, tapi aku sadar tidak ada seorang pun yang mencintaiku tanpa karena selain diriku sendiri. Jadi kuputuskan untuk melewatimu, aku pindah, tidak bertahan di tempat yang sama lagi. Terimakasih telah membuatku selalu berproses, membuatku selalu waspada. 
Tapi satu lagi yang penting, bukan untukku tapi untukmu. Ketahuilah, patah atau tidak hatiku olehmu, aku memang harus menjadi pribadi yang lebih baik dari ini. 

Untuk hari-hari yang akan datang, bacalah ini kembali. Kau pernah terluka, Claud. Tapi kau mampu berlalu.  

Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway kumcer Move on Come on.

Monday, January 18, 2016

KARENA SENDIRI ITU PILIHAN

Hari ini temanku merayakan hari jadi hubungannya yang kedua tahun, dia mengundangku untuk datang pada perayaan kecil yang dibuatnya bersama sang pacar.
Aku datang sendirian. Beberapa teman juga datang membawa pasangannya masing-masing. Ketika berkumpul bersama biasanya selalu ada satu orang yang akan dikorbankan untuk menjadi bahan tertawaan. Hari ini giliranku. Berkali-kali menghadiri acara yang sama aku selalu datang seorang diri. Mereka menggodaku karena sampai saat ini aku masih saja sendirian, tanpa gebetan apalagi pacar. 
Aku hanya tertawa karena aku tahu mereka bercanda, kadang-kadang bercanda belum lengkap   sebelum berhasil membuat orang marah. Teman-teman tidak pernah puas bercanda denganku karena aku sekali pun tidak pernah cemberut ketika mereka mengejekku yang telah lama menjomblo. Kuanggap candaan mereka sebagai warna merah jambu dalam kertas gambarku yang putih dan belum tercoret banyak tinta.
Terlalu banyak candaan yang sering aku dapatkan dari mereka. Belum bisa move on, disangka menyukai sesama jenis karena aku sangat dekat dengan seorang teman perempuanku, dianggap trauma berpacaran, senang dekat dengan banyak lelaki tanpa harus mempunyai ikatan, sampai dianggap mati rasa. Aku sudah kebal, tidak satu pun dari candaan mereka yang membuatku tersinggung, karena tidak ada satu pun yang benar.
Aku jomblo karena aku ingin. Aku sendiri karena aku memilih untuk sendiri.
Seringkali orang mengalah dengan pilihannya sendiri karena tidak tahan dengan anggapan orang-orang di sekeliling mereka. Berpacaran hanya untuk mendapatkan sebuah status, agar keberadaannya diterima atau hanya karena tidak ingin menjadi bahan olokan ketika berkumpul (pengalamanku banget ini, jadi bahan olokan haha).
Bukan karena belum move on atau karena trauma berpacaran. Hanya saja mengapa kita harus buru-buru mengikat diri dengan suatu hubungan kalau ternyata masih nyaman sendiri ? 
Sendiri itu bebas, dalam artian kita bisa bebas tanpa harus menjaga perasaan orang lain. 
Bukan karena egois, tapi kerapkali seseorang yang berpacaran harus menjaga perasaan pasangannya, ada hal-hal tertentu yang tidak bisa bebas dilakukan karena pasangannya tidak mengijinkannya. Entah itu berkenaan dengan hobby, pekerjaan, rencana masa depan, atau hal paling pribadi dari seseorang - hubungan pertemanan - karena itulah bagiku berpacaran sama saja dengan membatasi diri untuk berkembang.
Tapi orang-orang sering pula berkata bahwa "hubungan yang baik itu adalah hubungan yang tidak membatasi" Menurutku inilah anggapan yang keliru. 
Renungkanlah, tidak ada hubungan yang membebaskan kita, bahkan hubungan antara orangtua dan anak masih harus dibatasi oleh aturan-aturan yang dibuat dengan alasan ingin melindungi. Bukan karena pacar kita baik atau buruk, posesif atau tidak, seperti apapun dirinya sebuah hubungan jelas menimbulkan ikatan yang akhirnya membatasi. Namanya juga ikatan, ikat, terikat, mengikat, diikat.
Sama halnya dengan berpacaran, orang-orang yang berpacaran seringkali menahan kemauan dirinya karena menjaga perasaan pasangannya. Harus mengalah. Sekali lagi, bukan karena aku egois, tapi karena saat ini aku sedang tidak ingin dibatasi. Aku ingin berkembang sebesar-besarnya, leluasa. 
Aku sangat sering bertemu orang-orang yang memilih untuk sendiri bahkan sampai usia mereka matang. Mereka mengagumkan, mereka besar dan sangat tinggi seolah tidak terjangkau, seringkali aku berpikir aku mungkin tidak akan bisa seperti itu, aku sering bertemu teman seumuran yang memilih sendiri, mereka juga tidak kalah mengagumkan. Mereka menyibukkan diri dengan kegiatan yang sangat beragam, penuh warna dan menyenangkan, penuh semangat, tidak ada keputusasaan di masa muda. 
Karena berdasarkan pengamatanku, anak muda yang berpacaran lebih rentan mengalami keputusasaan di masa mudanya ketimbang anak muda yang memilih sendirian. 
Tulisan ini tidak dibuat untuk menghibur diri sendiri, aku hanya ingin menjelaskan bahwa sendiri itu pilihan, menjadi jomblo itu tidak memalukan. Berbanggalah karena kita tidak perlu orang lain untuk berbahagia, kita bisa bahagia meskipun sendiri. Bahagia atau tidaknya kita, kita sendiri yang menentukan.
Selamat malam, jomblo. 
This entry was posted in

Sunday, January 17, 2016

HOROR

Malam ini tak ada yang berbeda. Kampus ramai seperti biasanya, jalanan di samping kantin belakang juga masih berlubang dan becek oleh genangan air, hujan memang akrab menyambangi bumi di bulan Desember. Lampu di Taman Digulis juga masih bersinar terang, beberapa orang masih terlihat bersantai di sana. Semuanya masih sama seperti hari kemarin.
Aku mengarahkan kendaraanku menuju mall yang tidak jauh dari wilayah kampus. Mungkin aku akan menonton sesampainya di sana, atau sekedar membeli sebuah buku di Gramedia. Aku hanya ingin menghabiskan waktuku sendirian.
Kalau kau merasa kesepian, mall adalah tempat yang tepat untuk kau datangi. Di sana keramaian bisa kau temui bahkan sampai ke sudut-sudut toilet. Tapi memang kadang ada kesepian yang terasa sangat hangat, jauh di dasar hati. Sepi yang membuatmu tetap merasa sendirian bahkan di tengah keramaian.

Aku langsung melangkahkan kakiku ke lantai tiga. Di sana kulihat beberapa daftar film beserta jadwal tayangnya. Aku akan pulang larut malam jika menonton. Lalu kuputuskan untuk turun dan Gramedia menjadi tujuanku.Aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam jika sedang ingin berlama-lama di sana. Sekedar menumpang membaca buku yang sudah dibuka segelnya.
Aroma khas toko buku beserta senyum ramah penjaga yang berdiri di samping pintu masuk menyambutku. Wajah-wajah tak asing berdiri dan berjalan lalu lalang di dalam sana. Wajah-wajah penuh senyum yang kadang terlihat terlalu dipaksakan, seragam mereka khas. Warna merah dan hitam. Aku sudah sangat sering ke sini, beberapa dari mereka sampai mengenaliku.
Dengan cepat aku menuju bagian buku yang baru datang. Mataku cepat menyusuri baris demi baris rak buku di depanku. Beberapa buku sudah kupesan di toko buku online yang menjadi langgananku. Aku sering membeli buku di luar, harganya lebih murah. Tapi sering juga membeli buku di sini, karena ada kartu anggota jadi ada buku-buku tertentu yang selalu mendapat potongan harga.
Aku berniat menuju bagian buku di sebelah kiriku - buku-buku best seller- ketika mataku menangkap sosok yang tidak asing lagi berdiri tidak jauh dariku, tepat di depan bagian buku best seller yang hendak kutuju. 
Perawakannya tinggi, kurus, brewokan, dan caranya berpakaian yang tak pernah berubah. Jeans pendek dengan kaos polo. Kali ini dia mengenakan kaos polo warna hitam, aku mengenakan kemeja hitam. Aku masih setengah percaya pada pengelihatanku. Sampai akhirnya aku melihat sendiri sepatu kawai yang dikenakannya. Dalam hati aku bergumam "lo banget lah ini, nggak berubah-berubah".
 Dia sedang membolak-balik halaman sebuah buku. Aku tidak ingin dia melihatku, tapi sebelum aku memalingkan wajah mata kami terlanjur bertemu tatap.
Bibirku mendadak kaku. Aku tidak bisa berkata apa-apa, dia tersenyum dan terlihat seakan ingin mendekat ke arahku. Buru-buru kupalingkan tubuhku dan aku melangkah keluar dengan kaki yang seolah melayang di udara.
Kupastikan aku sudah cukup jauh dari toko buku itu. Aku bergidik. Baru kali ini aku gugup setengah mati, merinding. Tarikan nafasku memburu langkahku yang mulai kuperlambat.
Tiba-tiba bertemu mantan memang horor. 
This entry was posted in