Wednesday, November 16, 2016

yang Khas dari Putussibau


Hai. Wah saya di Putussibau nih. Karena tidak ada mata kuliah lagi dan saya sudah seminar proposal penelitian, saya punya banyak waktu luang. Rasanya sumpek juga di Pontianak, skripsi bisa saya kerjakan di sini asalkan jaringan internet lancar hoho
Berkali-kali meninggalkan tempat ini dan kembali, kali ini saya akan menuliskan beberapa hal yang paling saya ingat tentang Putussibau.
Kalau kalian pernah ke Putussibau, atau mungkin berasal dari Putussibau dan saat ini sedang jauh dari kota Uncak Kapuas ini, siapa tau kalian jadi rindu rumah, atau ingin pulang.

  1. Kerupuk Basah

Ini adalah makanan khas dari Kapuas Hulu. Kapuas Hulu memang terkenal dengan makanan olahan ikannya oleh karena itu tidak heran di Kabupaten ini akan kita temui banyak sekali makanan yang terbuat dari ikan. Salah satunya yang paling terkenal adalah Kerupuk Basah.
Kerupuk basah terbuat dari daging ikan yang digiling dan dicampur dengan tepung, jenis ikannya juga tidak sembarangan. Orang Kapuas Hulu biasa menggunakan daging ikan Belidak, inilah yang membuat Kerupuk Basah dari Kapuas Hulu menjadi khas dan memiliki cita rasa yang nikmat.
Foto di atas adalah bentuk Kerupuk Basah sebelum dikukus. Saya mengambil gambarnya langsung dari kotak pendingin di tempat penjualan Kerupuk Basah di derah Kedamin.
Kerupuk Basah memiliki tekstur yang kenyal, di daerah Palembang ada penganan yang serupa yang disebut pempek atau empek-empek, tapi diolah dengan jenis ikan yang berbeda dan bentuknya juga tak sama inilah yang membuat rasa Kerupuk Basah berbeda dengan empek-empek.
Orang-orang biasa menyantap Kerupuk Basah dengan sambal. sambalnya juga khas. Sekarang ini banyak orang yang mulai bereksplorasi dengan makanan khas Kapuas Hulu ini. Kerupuk Basah tidak hanya disajikan setelah dikukus, tapi ada juga yang menggorengnya.

2. Mamang Pentol mas Bayu
Mamang ini paling dikenal di kalangan anak-anak sekolah, tapi sayang tidak banyak yang tahu namanya. Semua orang memanggilnya mang.. saya sendiri diberitahu adik saya kalau ternyata namanya mas Bayu, tapi ya karena usianya sudah sangat tua saya segan memanggilnya mas. Saya panggil om, adik saya yang kecil malah memanggilnya mas -_-
Dulu om Bayu hanya jualan pentol goreng dan es teh. Saya biasa membeli pentolnya saat dia mangkal di depan SMA Karya Budi. Tapi tidak hanya mangkal di sana, dia sering mangkal di berbagai tempat yang mudah dijangkau anak-anak sekolah, bukan karena memiliki kemampuan berpindah tempat tapi karena dia adalah pekerja yang ulet. Karena itu om Bayu punya banyak kenalan di mana-mana.
Pembawaannya yang ramah dan sabar membuat pelanggannya tidak hanya anak-anak muda, tapi juga orang kantoran. Dia tidak pelit, mungkin semua orang pernah diberi es gratis olehnya, saya berkali-kali. Yang saya ingat om Bayu punya semangat yang tinggi untuk menyekolahkan anak-anaknya. Dulu waktu saya masih SMA, om Bayu bercerita bahwa anaknya sedang kuliah di Madiun, mengambil sekolah perawat katanya.
Sekarang om Bayu sudah mengembangkan jualannya. hihi. Dia tidak hanya jualan pentol goreng dan es teh tapi jualan pentol kuah dan es jeruk juga, ukuran gerobaknya juga sudah besar.

Di bawah ini adalah penampakan pentol kuah om Bayu. heeehe.


Rasa pentol kuahnya juga lumayan enak.. dengan kuah yang terasa seperti kuah bakso lengkap dengan beberapa buah pentol berukuran besar dan beberapa potong tahu isi. Ada yang dijual dengan harga 4000, ada juga yang 5000.
Sayang sekali saya tidak pernah berjumpa dengannya tiap kali mmebeli pentol kuah, sekarang istrinya yang menjaga gerobak. Saya sungkan bertanya. Bagaimana pun mamang pentol ini adalah hal sederhana yang sangat mengingatkan saya akan Putussibau, ketika melihat gerobaknya saya seperti melihat masa-masa sekolah saya di Karya Budi. 


3. Gereja Lama


Ini adalah bangunan gereja Hati Maria Tak Bernoda yang lama. Sekarang tidak digunakan untuk berdoa lagi karena sudah ada gereja HMTB yang baru. Gereja ini kemudian jadi hal yang paling saya ingat karena setiap hari ketika membuka pintu bangunan inilah yang pertama kali saya lihat.
Setiap pagi juga saya mendengar nyanyian doa pagi dari anak-anak asrama puteri Sri Melati dan asrama putera bruder. Di bangunan inilah saya sering pergi berdoa bersama keluarga (dan mantan pacar...) Gereja ini mengingatkan saya bahwa saya adalah Katolik, sungguh sebuah bangunan yang sangat berkesan bagi saya.


Beginilah suasana pagi hari di halaman gereja HMTB yang lama ketika musim hujan. Dulu, saya dan adik-adik saya (Kosmas, Sirilus, dan Sirila) sering menghabiskan waktu bermain sepeda di halaman ini. Saya juga ingat pertama kali saya belajar mengendarai sepeda motor di halaman ini. Hehe.

Tiga hal yang saya sebutkan di atas adalah hal-hal kecil yang paling saya ingat tentang Putussibau, tentu saja hal-hal besarnya adalah keluarga tercinta dan beberapa guru. Mereka yang pertama kali melintas di pikiran saya saat saya rindu Kapuas Hulu. Hehe.

Tuesday, November 08, 2016

Setelah Kita Meninggalkan Rumah


Sudah berapa lama kamu pergi ? Jauh dari rumah dan meninggalkan seisinya ?
Pernahkan kembali setelah itu ?

Setelah kita meninggalkan rumah, semua hal nyaris berubah. Bentuk rumah telah berbeda, warnanya sudah tak sama, perabotan sudah diganti, ayam-ayam kakek yang dulu sudah mati, kucing nenek juga sudah beranak pinak, ukuran kamar mandi sudah diperbesar, tanaman-tanaman di depan rumah sudah rimbun dan banyak jenis baru,bocah-bocah yang dulu masih kulihat mengenakan seragam putih merah sekarang telah dewasa.
Banyak hal berubah, banyak orang pergi dan datang - meninggal dan lahir. Setelah kita meninggalkan rumah, kita akan menyadari betapa kita telah melewatkan banyak hal dan sedih karena itu.
Kenangan masa kecil, foto-foto ketika perpisahan kelas, seragam-seragam sekolah yang telah sempit - yang diletakkan di gudang, semuanya hanya bagian kecil dari rumah yang dulu kita tinggalkan. Entah apa cuma aku yang merasakannya, aku cemburu pada tetanggaku yang lebih tahu kebiasaan baru kakek. Dengan tertawa dia akan menceritakan bahwa kakek memang begitu, setiap pagi sering begini blablabla. Atau bagaimana anak lain, yang seusia kita, lebih mengenal kebiasaan orangtua kita. Lebih tahu jenis sayur apa yang biasa mama beli, pukul berapa bapak membersihkan kendaraan di depan rumah atau kursi bagian mana yang mereka pilih untuk berdoa di gereja.
Hal-hal sederhana seperti itulah yang kerap kali membuat kesedihan muncul, banyak hal berharga yang tidak kita lewatkan bersama keluarga. Mereka tidak tahu apa yang kita lewati di luar sana, dan kita tidak tahu apa saja yang telah mereka lalui di rumah. 
Setelah kita meninggalkan rumah, kita akan sedih.


This entry was posted in

Monday, November 07, 2016

Pisang Goreng Srikaya di Warung Kopi Suka Hati Pontianak




Terletak di Jalan Tanjungpura, di deretan ruko kecil, disanalah Warung Kopi Suka Hati berada. Tempatnya sangat sederhana, jauh dari kesan mewah tapi pengunjungnya tak pernah sepi. Warung kopi ini tidak sekadar menyajikan kopi, mereka juga memiliki pisang goreng srikaya. Pisang goreng inilah yang sangat melegenda. 
Tidak hanya penikmat kopi yang menyambangi kedai kopi ini, orang awam yang gemar menyantap pisang goreng juga tidak pernah absen, bahkan Suka Hati menerima pesanan dalam porsi yang cukup besar, biasanya dipesan untuk dibawa keluar kota.
Wajar saja banyak yang menggemari pisang goreng srikaya di Suka Hati. Rasanya memang sangat khas, tidak ada duanya. Saya sudah sangat sering makan pisang goreng, mulai dari buatan nenek di rumah sampai yang disajikan restoran asing dengan nama asing pula, tapi tidak ada yang senikmat pisang goreng srikaya Suka Hati.
Pisang gorengnya sangat renyah, dilapisi olesan srikaya yang lembut, apalagi ketika disantap selagi hangat, saya bisa menghabiskan dua pisang goreng sekali duduk. Untuk ukuran perut saya yang sangat kecil, menghabiskan satu pisang goreng biasanya sudah kenyang, tapi ketika mencicipi pisang goreng srikaya saya minta tambah satu porsi lagi, bahkan meminta bungkuskan untuk dibawa pulang.
Untuk penikmat kopi, warung kopi ini jelas harus kalian kunjungi ketika pergi ke Pontianak. Minum kopi di Suka Hati tidak akan lengkap tanpa pisang goreng srikaya. Tapi karena pisang goreng srikaya ini sangat juara rasanya saya merekomendasikan siapa saja yang suka kuliner untuk mengunjungi kedai kopi ini. Jika tidak terbiasa dengan suasana warung kopi, kalian bisa memesan untuk take home. Bahkan pisang goreng srikaya biasa dijadikan oleh-oleh khas dari Pontianak, jadi jika kalian sedang berburu makanan khas Pontianak, jangan lupakan kedai kopi yang satu ini.









This entry was posted in

Quote about friend from Stranger Things



Kalimat tentang teman yang sangat aku suka kudapatkan dari serial TV Stranger Things. Episode kedua - the Weirdo on Maple Street. Ini merupakan salah satu episode yang sangat kusukai karena sangat mengingatkanku pada masa kecilku.

Eleven yang tidak pernah memiliki teman bertanya pada Mike, Lucas, dan Dustin apa itu teman. Jawaban mereka adalah defini teman paling manis yang pernah kudengar.

"What is friend ?" - Eleven
"Friend is someone that you'd do anything for. You lend them your cool stuff, like come books and trading cards. And they never break a promise. That's super important because friends they never tell each other things. Things that parents don't know." - Mike, Dustin, Lucas.
This entry was posted in

Friday, November 04, 2016

Ulasan Serial TV Stranger Things season 1

  

Stranger Things merupakan serial tv bergenre scifi dan horor garapan The Differ Brothers yang tayang di Netflix, ada delapan episode dalam Stranger Things season satu ini. Berlatar tahun 1980-an di Hawkins, Indiana. Stranger Things berkisah tentang pencarian seorang bocah bernama Will Byers yang tiba-tiba menghilang di perjalanan pulang setelah bermain di rumah salah seorang temannya - Mike Wheeler pada malam hari.
Will hilang tanpa jejak, hanya sepedanya yang tergeletak di jalan. Pencarian telah dilakukan tapi tak ada hasil. Hal ini membuat ibu dan saudara laki-lakinya - Jonathan - terpukul, ketiga teman akrabnya juga merasa sangat kehilangan. Seisi kota Hawkins gempar, para relawan turun tangan untuk mencari. Beberapa hari setelah semua orang bekerja keras mencari Will, mereka menemukan mayatnya mengapung di sungai. 
Ibu dan sudara laki-lakinya tidak percaya Will telah meninggal, demikian pula ketiga temannya. Will adalah salah satu anggota empat sekawan, mereka adalah anak-anak SMP yang menyukai sains, Will Byers, Mike Wheeler, Lucas Sinclair, dan Dustin Henderson. Mereka bocah-bocah jenius yang dianggap culun di sekolah karena tidak pandai berkelahi. Mereka semua tidak percaya bahwa Will telah meninggal.
Ibu Will - Joyce yakin puteranya masih hidup, dia bertekad mencari puteranya sampai berhasil ditemukan, hal ini membuatnya terlihat aneh dan orang-orang menganggapnya gila karena dia mulai berbicara pada dinding dan menyalakan banyak lampu di seluruh ruangan rumahnya. Joyce merasa mendengar suara Will jika seluruh ruangan dipenuhi cahaya lampu. Keadaan Joyce membuat Jonathan kecewa, dia mulai merasa ibunya gila. Ketika komunikasi di anatar mereka buruk, usaha menemukan Will mulai dilakukan sendiri-sendiri. Kepala polisi kota Hawkins yang pernah kehilangan puterinya merasa sangat memahami perasaan Joyce saat ini, dia lalu berjanji pada dirinya sendiri untuk memecahkan kasus hilangnya Will.
Sementara itu ketiga teman Will mencoba mencari Will ke jalan tempat sepeda Will ditemukan, pada suatu malam mereka pergi tanpa sepengetahuan orangtua mereka. Lalu di tengah hutan mereka mendapati seorang anak perempuan dengan rambut dicukur seperti anak lelaki berlari ketakutan ke arah mereka. Bocah itu sangat kacau, dia tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Mereka lalu sepakat membawa pulang anak perempuan itu ke rumah Mike. Ketika Mike menanyakan namanya, gadis itu menyodorkan tangan kirinya yang ditatto angka 011, jadi namanya adalah Eleven. Mereka lalu memanggilnya El. Science fiction dalam Stranger Things dihadirkan melalui Eleven. El ternyata bukan sembarang bocah, dia memiliki kekuatan. El kemudian membantu mereka bertiga untuk mencari Will, dengan syarat mereka harus merahasiakannya dari siapa pun, pencarian Will ini kemudian perlahan mengungkap siapa Eleven, mengapa dia memiliki tatto di tangan kirinya dan dari mana asalnya.
Kisah Stranger Things sangat menegangkan. Film ini seperti kisah-kisah yang biasanya ditulis Stephen King, tentang kejadian supranatural di sebuah kota kecil. Walaupun menegangkan kehadiran Mike, Dustin, dan Lucas membuat cerita tidak menakutkan, peran mereka sangat menggemaskan. Seperti petualangan para detektif, karena mereka mencari jejak-jejak Will. Mike, Dustin, dan Lucas sangat mewakili anak-anak lelaki yang berbahagia pada masa kecilnya. Mereka tumbuh dengan rasa ingin tahu yang tinggi, berimajinasi melalui komik-komik yang telah mereka baca dan film-film fantasi tahun 80-an yang telah mereka tonton.
Suasana 80-an benar-benar berhasil ditampilkan dengan sempurna, visualisasinya sangat tepat. Cara berpakaian pemerannya, dandanan para wanita di masa itu dan kendaraan yang digunakan. Lagu "Should I Stay or Should I Go" milik The Clash juga mewarnai serial ini, lagu tersebut adalah lagu yang sering Will dan Jonathan dengarkan.
Jonathan adalah teman sekolah Nancy. Di sekolah, Jonathan dianggap lelaki yang aneh, dia penyendiri dan hanya bertemankan kamera, dia sangat gemar fotografi. Sementara Nancy adalah kakak Mike, dia adalah gadis manis yang berpacaran dengan cowok tampan di sekolah mereka - Steve Harrington. Beberapa hari setelah Will menghilang, teman akrab Nancy - Barbara juga tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Hilangnya Barbara membuat Jonathan dan Nancy bekerjasama, mereka harus menemukan Will dan Barbara karena mereka percaya bahwa Will dan Barbara masih hidup.
Romansa di serial ini hadir melalui Nancy, Steve, dan Jonathan. Nancy dan Steve benar-benar menggambarkan gaya berpacaran anak-anak tahun 80-an. Tidak ada handphone saat itu, hanya ada telepon rumah. Steve yang tampan merasa sangat marah ketika melihat Nancy dekat dengan lelaki aneh di sekolah mereka, tanpa disadarinya dia cemburu dan perasaan cemburu itu membuat sikapnya berubah pada Nancy. Nancy tidak peduli apakah hubungannya dan Steve bisa dipertahankan, yang dia inginkan hanya menemukan teman baiknya – Barbara sementara Jonathan selalu menemaninya karena mereka memiliki tujuan yang sama –mencari orang yang mereka sayang.
Stranger Things sangat bagus untuk ditonton, serial ini bukan hanya menegangkan tapi juga mengharukan. Bagaimana makna keluarga, cinta seorang ibu pada anaknya, tentang sains yang tidak terbatas dan juga tentang persahabatan. Petualangan dalam dimensi lain, dalam sains dan imajinasi. Kisah pencarian Will akan mengungkap banyak hal yang membuat penonton tidak bisa berhenti sampai pada episode terakhir. Saya sendiri sangat tidak sabar menonton season kedua. Episode 1-8 saat ini sudah beredar, sangat mudah didapatkan. Saya sangat menyarankan kalian menontonnya bersama adik lelaki kalian, jika ada.Ini adalah tontonan yang sangat bagus mengenai petualangan, romansa, dan keluarga.

Wednesday, November 02, 2016

Review Buku Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi




Judul Buku: Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi

Penulis: Yusi Avianto Pareanom

Penerbit: Banana

Tahun Terbit: Maret, 2016

Tebal: 448 Halaman


“Maut tak perlu ditantang, bila waktunya datang ia pasti menang. hlm 17”


Buku ini merupakan dongeng petualangan dua pangeran dengan takdir yang berbeda. Raden Mandasia adalah seorang pangeran dari kerajaan Gilingwesi yang mempunyai kegemaran ganjil – mencuri daging sapi – dia berkelana jauh meninggalkan istana tanpa sepengetahuan keluarga kerajaan untuk sebuah misi, menggagalkan pertempuran besar antara kerajaannya melawan kerajaan masyhur di seberang lautan.

Sementara Raden Sungu Lembu adalah seorang pangeran dari kerajaan kecil yang – dulunya – sejahtera, dia adalah pangeran yang harus mandiri sejak kecil karena kerajaan mereka hancur dan dia dibesarkan oleh pamannya. Raden Sungu Lembu adalah sosok pangeran yang haus akan ilmu, dia tekun belajar apa saja hingga mampu mengecap racun dan lidahnya tahan pada jenis racun apa pun. Dia memiliki tekad yang kuat untuk membalas dendam atas hancurnya kerajaan mereka. Hal ini kemudian menjadi alasannya berkelana dan mengalami banyak hal luar biasa, termasuk perjumpaannya dengan Raden Mandasia.

Perjumpaan kedua pangeran ini kemudian melahirkan cerita-cerita yang menjadi nadi dari buku ini. Penulis kisah ini adalah pendongeng yang sangat mahir. Mulai dari pemilihan nama tokoh, latar tempat, ide cerita, semuanya membawa kita pada kekaguman dan kegembiraan ketika membacanya. Sungguh bahagia rasanya bisa membaca buku dongeng sebagus ini ketika dunia sedang direcoki kisah-kisah fantasi dan pop.

Kedua pangeran ini bertemu di rumah dadu milik Nyai Manggis, takdir membuat mereka menjadi teman seperjalanan, lalu mereka melakukan petualangan bersama, berlayar menyebrangi lautan, menyelamatkan para penumpang di kapal termasuk seroang pembawa wahyu, bertemu juru masak bernama Loki Tua yang sangat mahir mengolah daging, menyeberangi gurun Sahara, menyamar dengan masuk ke dalam kulit seorang sida-sida, sampai bertemu puteri cantik jelita Puteri Tabassum yang kecantikannya bahkan membuat cermin-cermin pecah. Petualangan-petualangan itu kemudian sampai ke titiknya, Raden Mandasia dan Sungu Lembu berhadapan dengan alasan mereka berkelana. Raden Mandasia dengan tujuan menggagalkan perang, dan Sungu Lembu yang ingin membalas dendam.

Raden Mandasia, Sungu Lembu, Nyai Manggis, Loki Tua, dan Puteri Tabassum, mereka adalah tokoh-tokoh yang sangat hidup diimajinasi saya. Dan Nyai Manggis adalah tokoh favorit saya, dia adalah seorang wanita tangguh yang cerdas dan anggun. Yang saya bayangkan ketika mereka-reka sosok Nyai Manggis adalah Nyai Ontosoroh dalam tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, entah mengapa bagi saya mereka merupakan wanita dengan karakteristik yang sama walaupun kisah mereka sangat berbeda.

Petualangan kedua pangeran ini sangat menghibur, membuat jengkel dan penasaran, membuat pembaca memaki-maki dengan kata “Anjing!” berkali-kali, bahkan saya sampai meneteskan air mata ketika membaca bagian akhir kisah kesebelas di buku ini. Buku yang menghantar pembaca pada masa kerajaan ratusan tahun yang lalu. Ketika orang-orang menunggangi kuda dan berlayar dengan kapal, ketika bercocok tanam dan melaut adalah pekerjaan yang utama dan bela diri menjadi keahlian yang harus dikuasai. Bahasa yang digunakan oleh penulis sangat santun dan lugas, sangat memperdaya dan berhasil memberikan kosakata baru bagi saya.

Setiap tokoh yang dihadirkan dalam kisah ini memiliki daya tarik tersendiri, ditambah kemahiran penulis memadu-madankan berbagai kisah dari berbagai negara. Mulai dari Kisah Dayang Sumbi dan Sangkuriang, Yesus Kristus, sampai John Lennon dipinjam untuk membalut kisah para tokoh, dan sangat menarik karena cerita-cerita dari masa yang berbeda ini bisa disatukan dalam sebuah buku dongeng. Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca. Sebuah buku yang mampu membuat pembacanya merasakan petualangan langsung, terseret ke masa antah berantah dan merasakan kegembiraan. Buku ini akan menjadi buku favorit saya di tahun 2016. Pembaca pasti akan takjub dengan petualangan kedua pangeran ini, meski buku ini tebal, kecakapan penulis bercerita membuat pembaca tidak bosan. Saya bahkan tidak rela buku ini harus berakhir. Yusi Avianto Pareanom sungguh seorang pendongeng yang jatmika.

Gangguan Tidur


Entah bagaimana caranya, ingatan-ingatan buruk yang telah kita kubur dalam akan tetap kembali pada suatu malam. Yang lebih buruk dari jantung berdetak kencang setelah terjaga adalah perasaan takut untuk tidur kembali. Setiap malam aku selalu terbangun tengah malam, rasanya tidak berani tidur walaupun sudah memikirkan yang baik-baik – mulai dari mengingat kejadian lucu sampai camilan enak untuk dimakan– tapi usaha seperti ini sia-sia, tidur nyenyak seorang diri di malam hari adalah sesuatu yg sangat jarang bisa kunikmati. Dulu, tengah malam sampai subuh adalah saat-saat produktif untuk menulis tapi sekarang sangat berbeda. Aku bahkan tidak berhasil menghimpun satu kalimat untuk ditulis di lembar skripsiku.
Kata dokter aku harus memikirkan ginjal dan paru-paruku, tidurlah di malam hari karena ginjal harus bekerja normal. Sejak resmi menjadi seorang pesakitan aku jadi sering khawatir akan pola tidurku. Aku tahu aku tidak boleh begadang, aku harus tidur. Tapi aku takut gelap, takut tidur sendiri, semenjak tinggal di rumah kakak aku harus tidur seorang diri. Dan setiap malam ]aku terbangun tengah malam, lalu tidak berani tidur sampai aku yakin seisi rumah telah terjaga dan pagi telah tiba. Aku lebih memilih tidur siang hari karena jika aku bermimpi buruk dan terbangun, aku tidak sendirian lagi ditelan sepinya malam. 
Sekarang aku tidak hanya iri pada wanita-wanita yang memiliki kaki jenjang, atau puteri-puteri beruntung yang dihadiahi kamar baru lengkap dengan perpustakaan pribadi oleh ayahnya, aku juga iri pada orang-orang yang bisa tidur nyenyak di malam hari. 
This entry was posted in

Tuesday, October 11, 2016

[Review] Kumpulan Cerpen Move on Come on





Judul buku: Kumcer Move on Come on
Penulis: Aya Nurhayani, Ramayoga, Vje Jays, Mia, Mina Hapsari, Annisa Nuraida, Indra Purwana, Fradinaclo, Dian Mustofa, Aqessa Aninda, Aufa Vicka, Aula Hani M, Sethari Rumatika, Nalla Dewi, Lovely Christine, Vionita, Ulfa Khairunisa, Devi Murti, Siti Nurharoh, Neneng Lestari.
Penerbit: nulisbuku.com
Tahun terbit: 2015
Halaman: 262


"Pagi ini, aku memesan semburat cahaya mentari dan sepotong hati, ditemani secarik surat darimu yang usang dan sebongkah rasa yang tak lagi mengalir deras dari hulu ke hilir." - Pagi Ini Milikmu, Annisa Nuraida.

Buku ini berisi dua puluh cerpen tentang "move on". Seperti judulnya, kisah-kisah di dalam buku ini adalah kisah-kisah tentang patah hati dan upaya berdamai dengan masa lalu.
Tiap-tiap cerita akan menghantarkan kita pada patah hati dan kelegaan. Merasakan bagaimana pahitnya ditinggal orang yang selama ini dikasihi menikah dengan orang lain, merasakan bagaimana sakitnya saat hanya kita yang berjuang sendirian untuk sebuah hubungan, atau sakitnya saat harus menyerah karena berada pada kotak yang berbeda— menyerah karena perbedaan yang kita miliki sejak lahir, dan berbagai kisah lainnya yang mungkin menghantarkan pembaca pada suatu masa di mana cerita yang sedang dibaca pernah dialaminya.
Di mana kita memelihara harapan sementara apa yang diharapkan tak kunjung terwujud, lalu seketika orang yang kita harapkan mematahkan mentah-mentah semua rasa yang telah kita jaga bertahun-tahun. Atau saat mendapati semua orang menyalahkan kita atas kandasnya hubungan kita, sementara mereka tidak tahu kebenarannya dan orang yang dulu pernah sangat menghargai kita berubah menjadi orang yang ingin melihat kita terpuruk dalam penyesalan.
Kisah-kisah sedih ini kemudian ditutup dengan hadiah manis, berupa kisah mengenai kebahagiaan setelah berdamai dengan masa lalu dan memaafkan diri sendiri, bahagia ketika mendapati diri mereka telah kuat dan berani untuk memulai langkah baru.
Rasanya menyenangkan menemui beberapa cara pandangku terhadap patah hati dan kegagalan menjalin suatu hubungan tertuang di sini, meskipun tidak semua cerita mampu menyentuh hatiku.
Karena ditulis oleh orang yang berbeda, masing-masing cerita memiliki gaya penulisan yang berbeda pula. Walaupun ada beberapa cerita pendek yang menurutku beretel-tele dan tidak membuatku terkesan, buku ini tetap aku rekomendasikan untuk siapa pun yang pernah patah hati dan sedang berusaha melaluinya, atau untuk orang-orang yang telah sepenuhnya move on dan ingin menjenguk kenangan, buku ini bisa dijadikan mesin penjelajah waktu karena kisah-kisahnya yang cukup beragam dan mungkin salah satu kisahmu tertulis di sini.
Bagi orang yang pernah mengalami kegagalan hubungan, atau nyaris gagal berpindah hati, mungkin kisah-kisah dalam buku ini bisa menjadi pilihan bacaan, jika tidak termotivasi untuk move on setidaknya tidak merasa sendirian karena ternyata kisah di dalam buku ini bisa mewakili kisahmu.

Sunday, October 09, 2016

Fenomena Mahasiswa Gondrong Pontianak

Gerombolan mahasiswa gondrong berpakaian hitam memadati Taman Digulis



Sekadar berbagi opini, saya tidak bermaksud menyudutkan siapa pun melalui tulisan ini. 
Sore tadi, sekitar pukul empat, saya dan tiga orang teman saya menggelar lapak buku di Taman Digulis, tentu saja untuk dibaca gratis oleh pengunjung taman. Selang beberapa menit setelah kami menyusun buku-buku kami, datang segerombolan pemuda memakai baju hitam berambut gondrong memenuhi bagian depan Taman Digulis. Saya kemudian tahu bahwa mereka adalah mahasiswa dari salah satu teman saya, dia mengenali beberapa mahasiswa gondrong itu.
Saya sempat panik karena jumlah mereka lumayan banyak, saya kira akan ada tawuran atau unjuk rasa. Ternyata saya keliru, tujuan mereka adalah ingin berfoto. Satpam menghampiri mereka, dan dari kejauhan terlihat percakapan antara salah seorang mahasiswa gondrong dengan satpam Taman Digulis.
Beberapa saat kemudian massa bergerak menuju jalan raya, ini membuat kendaraan harus berhenti untuk membiarkan mereka menyeberang. Di sini pergerakan massa masih rapi, karena ada beberapa mahasiswa gondrong lainnya yang bertugas mengatur jalannya penyeberangan. 
Tempat yang mereka tuju adalah Tugu Digulis, mereka kemudian berkumpul di sana, akses jalan untuk menyeberang di Tugu Digulis harus ditutup sementara. Tentu saja mereka tidak menutup akses jalan itu sendirian, yang saya perhatikan satpam taman Digulis bertugas mengatur lalu lintas supaya tidak menyeberang di tugu itu untuk sementara waktu (sementara mahasiswa-mahasiswa gondrong ini berfoto).
Akses menyeberang di Tugu Digulis yang ditutup ini menyebebkan beberapa pengguna terganggu, dan memberi klakson (menurut saya wajar) yang membuat saya kaget adalah respon yang diberikan oleh sekumpulan pemuda gondrong ini.
Begitu ada klakson berbunyi mereka langsung berteriak, seolah marah karena pengendara membunyikan klakson. Padahal, padahal, pa..da..hal.. mereka jelas-jelas mengganggu ketertiban umum. 
Entah apa alasan mereka berfoto di depan Tugu Digulis di tengah terik matahari yang menurut saya cahayanya tidak tepat untuk mengambil gambar. Supaya terlihat ikonik ? jangan-jangan mereka sendiri tidak tahu mengapa tugu berbentuk bambu runcing itu berdiri di sana.
Selama ini saya tidak pernah memandang negatif orang-orang berambut gondrong, saya cukup paham bahwa kepribadian tidak bisa diukur dengan penampilan luar (apa lagi panjang rambut di kepala) saya sendiri punya teman akrab berambut gondrong, dan saya pernah berpacaran dengan mahasiswa berambut gondrong. Hanya saja mereka tidak pernah berfoto bersama sekumpulan pemuda gondrong lainnya di depan gedung rektorat atau Tugu Digulis atau tempat-tempat ikonik lainnya (lalu mengunggah foto mereka di media masa dengan hashtag #SaveGondrong #Gondrongers #Gondrongbukankriminal dan hashtag "gaje" lainnya).
Yang saya perhatikan selama ini, mahasiswa gondrong (tentu saja yang sering membuat perkumpulan dan berfoto-foto di gedung rektorat itu..) tidak ingin dianggap negatif tapi mereka menunjukkan perbuatan negatif.
Saya heran, entah mungkin mereka ini merasa bangga dengan rambut gondrongnya. Padahal setahu saya rambut gondrong bukan sesuatu yang langka. Banyak orang berambut gondrong di Pontianak ini, apa sih yang ingin diperlihatkan oleh sekumpulan pemuda gondrong yang saya temui tadi sore ? Ini kemudian menjadi sebuah tanda tanya bagi saya, apa sih yang membuat mereka bangga dengan rambut gondrong padahal banyak orang memiliki rambut serupa ? 
Sebuah koran lokal di Pontianak pernah memuat tulisan mengenai fenomena gondrong ini, beritanya bisa dibaca di sini berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari berita ini, tujuan mereka melakukan kegiatan "foto bareng" adalah untuk mempererat tali kekeluargaan. Di akhir berita dituliskan bahwa tujuan mereka gondrong adalah supaya semangat melakukan kegiatan sehari-hari. Terdengar sangat lucu (dan tolol).
Saya tidak tahu apakah sekumpulan pemuda yang berfoto di Taman Digulis tadi sama dengan pemuda-pemuda yang diberitakan di koran ini. Tapi yang jelas, fenomena gondrong yang dibarengi sikap arogan seperti yang saya temui tadi sore sangatlah ironis. Sangat mematahkan image mahasiswa yang mereka sandang, ternyata benar, usia tidak menjamin kedewasaan. Saya yakin mereka tidak jauh beda usianya dengan saya, dua puluh tahun atau mungkin lebih. Tapi sikap mereka, tata krama, nilai-nilai yang harusnya dipegang mahasiswa sama sekali tidak saya lihat tadi sore.
Saban hari saya menyaksikan sekumpulan mahasiswa gondrong mengejek penampilan teman mereka yang tidak gondrong. Katanya gondrong itu menunjukkan bahwa mereka berani beda, tidak tunduk pada gaya yang sedang trend, mereka bangga, mereka menganggap diri mereka berbeda dan mengaung-gaungkan bahwa mereka menemukan jati diri mereka. Padahal menurut saya ketika mahasiswa-mahasiswa gondrong ini berkumpul, mereka terlihat sama saja bahkan cenderung serupa. 
Mereka dominan mengenakan pakaian berwarna hitam, sendal atau sepatu gunung (dan mereka mengenakannya ke kampus, bukan ke gunung). mereka mengenakan tas kecil yang gantungan kuncinya biasanya memiliki banyak hiasan dari tulang-tulang binatang atau apalah, mereka mengenakan gelang bertumpuk, dan rokok diselipkan di sela-sela jari mereka. Dengan atribut dan penampilan serupa seperti ini, kadangkala orang-orang memanggil mereka boyband, dan mungkin itulah jati diri mereka.
Saya merasa sikap pemuda-pemuda gondrong tadi sore dan mahasiswa-mahasiswa gondrong yang kerap saya temui sangatlah arogan, ketika mahasiswa lainnya sedang meningkatkan kualitas diri untuk terjun ke masyarakat, mereka sibuk memanjangkan rambut dan menjadikan rambut gondrong sebagai kebanggaan mereka.
Saya pernah mendengar langsung seorang teman mengatakan alasannya gondrong adalah agar punya cerita pada anaknya kelak. Ya, agar dia bisa bercerita pada anaknya bahwa ketika dia kuliah dia adalah seorang mahasiswa gondrong. Sementara aku dan sebagian temanku mati-matian menghasilkan karya tulis, setidaknya anak kami kelak bisa melihat jejak kami ketika kami masih muda pada sebuah buku yang kami tulis sendiri.
Mahasiswa-mahasiswa gondrong yang kujumpai tadi sore, mereka adalah alasan mengapa mahasiswa-mahasiswa gondrong lainnya dianggap negatif. Mereka menyebabkan macet dan menganggu kenyamanan pengendara sore ini, lalu mereka berteriak seolah mereka satu-satunya pengguna jalan yang haknya harus dipenuhi. Mereka tidak ingin masyarakat memandang mereka buruk, tapi mereka melakukan perbuatan yang buruk. Orang-orang tidak memandangmu dari rambutmu, tapi dari perilakumu.
This entry was posted in

Thursday, October 06, 2016

I am Brave

Karena aku telah berkali-kali melangkah dan kembali pada kenyataan bahwa ada atau pun tidak ada dia, hidup akan sama pahitnya. Aku memutuskan untuk menghadapi semuanya sendirian, sejak malam ini.
Tidak hanya menghadapi tumpukan skripsi ini seorang diri, tapi semuanya. Sekarang, perjalanan-perjalanan sepi dan kekecewaan pada semua hal harus kupeluk dengan bahagia - seorang diri.
Akan kunikmati semua kekonyolan yang terjadi di hadapanku, tanpa dia. Tertawa dengan egois karena aku tak perlu membaginya dengan siapapun.
Bukan karena isian pada salah satu kolom dalam KTP kami yang berbeda, kami bahkan tidak pernah menganggap itu masalah. Aku hanya lelah dengan diriku sendiri. Aku tidak ingin menyakitinya dengan semua dendam di kepalaku yang belum kunjung terbalas hingga aku semakin gila. 
Aku ingin menjauh dari semua kebisingan ini, dan aku tidak ingin membawanya. 
Aku berani, tidak hanya saat menulis ini, tapi untuk besok, dan seterusnya. Aku berani, tidak hanya untuk patah hati, tapi untuk menghadap ruang dosen seorang diri tanpa perlu ditungguinya di samping pintu. Aku pasti berani untuk menghadapi semuanya seorang diri lagi. Karena pun ada atau tidak ada dia, semua tetap sama.
This entry was posted in

Thursday, September 29, 2016

[Review] "Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi" Karya Eka Kurniawan




Judul: Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi
Penulis: Eka Kurniawan
Cetakan: Pertama-Maret 2015, Kedua- Juli 2015, Ketiga- April 2016
Penerbit: Bentang Pustaka
ISBN: 978-602-291-072-5
Jumlah Halaman : 166 Halaman


"Sebab peristiwa paling menyakitkan selalu merupakan yang paling gampang untuk diingat." (Cerita Batu, halaman 77)
Buku ini adalah kumpulan 15 cerita pendek karya Eka Kurniawan. Empat belas cerita pendek lainnya telah dimuat di koran yang berbeda-beda kecuali cerita pendek berjudul "Membuat Senang Seekor Gajah". Tidak butuh waktu lama untuk melahap buku ini, karena ceritanya tidak panjang. 
Bahasa yang digunakan tentu saja bahasa khas seorang Eka, frontal dan beberapa cerita dibumbui dengan kisah asmara yang gelap. Eka Kurniawan sangat piawai memainkan alur sebuah cerita, alur mundur dan campur aduk yang kadang membuat pembaca terkecoh, ini terdapat dalam cerita Tiga Kematian Marsilam.
Cerita lainnya menurutku tumbuh dari kisah-kisah sederhana yang dialami banyak orang, beberapa cerita menggunakan latar luar negeri seperti Paris dan Amerika, ada juga ide cerita yang diambil dari dunia perpolitikan yang disampaikan dengan cara yang sangat ringan yaitu cerita Membakar Api.
Kisah lainnya adalah pelajaran tentang kehidupan yang disampaikan melalui hal-hal kecil dan remeh-temeh (salah satu kelebihan Eka adalah bisa menciptakan cerita dari hal-hal kecil dan sederhana) pesan-pesan yang disampaikan melalui binatang seperti gajah, anjing, dan bebek.
Selebihnya adalah kisah cinta yang disampaikan dengan bahasa cinta milik Eka Kurniawan, liar dan misterius. Cerita yang dipilih menjadi judul buku ini sendiri bukan cerita yang menarik menurutku. Tidak ada sesuatu yang spesial atau menginggit di sana, atau menguggah. Kali ini, buku Eka Kurniawan tidak banyak menghiburku.
Dari lima belas cerita pendek yang ada di buku ini, hanya tiga cerita yang membuatku masuk pada dimensi lain, mengalami pengalaman baru, tersentuh, dan bergidik di waktu yang sama. Ada pun cerita-cerita tersebut adalah Teka-Teki silang, Pelajaran Memelihara Burung Beo, dan Pengantar Tidur Panjang. Dan yang paling menarik adalah cerita berjudul "Teka-Teki Silang".

Tuesday, September 27, 2016

[Travelmate] Pantai Pasir Panjang Singkawang




Perjalanan pertama kami. Dia mengajakku melihat pantai. Dari Pontianak kami berkendara ke Singkawang, jalanan tidak terlalu padat karena kami pergi tengah hari. Tujuan kami adah pantai Pasir Panjang, tapi karena GPS tidak bisa diandalkan kami tersesat ke Kelurahan Sijangkung.
Awalnya kami sudah hampir singgah di Pantai itu, tapi karena aku ngotot ingin melihat grand mall Singkawang dia mengalah dan membawaku ke pusat kota. Belum sampai ke tempat tujuan aku minta diturunkan di depan ATM BNI. Aku jarang menyimpan uang tunai di dompet. Sebenarnya ada kejadian lucu waktu itu. Kertika aku keluar dari ATM aku panik karena tidak melihat mobilnya parkir di tempat dia menungguku. Aku pernah tersesat di mall waktu kelas 5 SD, jangan sampai aku tersesat di tengah kota amoy ini—di usiaku yang sudah 20 ini. Aku kebingungan di tengah keramaian, belum lagi kendaraan tengah ramai-ramainya. Ternyata dia memindahkan kendaraannya supaya aku tidak menyeberang, tidak jauh dari ATM tempatku mengambil uang. Aku yang terburu-buru tidak melihagtnya parkir di sana.
Rasanya kesal bercampur malu, sementara dia meminta maaf berkali-kali sambil meledekku, dia selalu senang melihatku kebingungan. Keinginannku main ke mall langsung hilang, aku memintanya langsung ke pantai. Kami akan membeli kelapa dan beberapa makanan sebelum ke sana. Karena ngantuk menyetir dia mengajakku mencari kedai kopi, tapi kami tidak menemukan kedai kopi yang menyediakan wifi. Kami lalu putar arah dan di sinilah ketidak-beruntungan menghampiri kami.
Kami memasuki jalanan yang sempit, dia ngotot mengatakan bahwa itu jalan yang bisa dilewati, semakin lama jalanan semakin lenggang, rumah-rumah juga terlihat jarang. Perlu waktu satu jam untuk menyadari bahwa kami memang tersesat dan GPS keliru. Dengan nyengir-nyengir dia meminta maaf dan aku hanya tertawa menertawai kebodohan kami kali ini.
Sekitar pukul 5 sore kami sampai di tempat tujuan, pantai pasir panjang. Banyak yang menghabiskan sore hari di sana, mungkin menunggu matahari terbenam. Kami berdua langsung bermain ombak dan dia salto-salto (dia selalu bangga karena bisa salto, padahal semua orang bisa melakukannya hahaha) kami bermain pasir, tapi tidak mandi karena tidak membawa pakaian ganti. Sambil menunggu matahari tenggelam kami mengambil gambar untuk dua buku yang kami bawa. Kali ini kami memilih Noam Chomsky dan Eka Kurniawan untuk menemani perjalanan kami.
Ketika matahari terbenam kami sudah duduk di mobil, sudah siap untuk pulang ke Pontianak. Aku mengunyah sosis bakar dengan lahap dan dia bernyanyi-nyanyi mendendangkan lagu entah (lagu yang teriak-teriak keras) di sampingnku.
Kami tertawa kadang-kadang, kami menertawai pasangan muda yang mojok tidak jauh dari tempat kami parkir. Banyak hal lucu yang bisa kami temui di tempat umum, dan kami selalu terhibur.

Hari itu cukup. Cukup menyenangkan. Cukup membuatku merasa terhibur dan sejenak lupa pada Bab I yang belum rampung. Hari minggu yang penuh tawa, dan cinta.


Saturday, September 10, 2016

I'm Stuck


Ini adalah minggu ke dua di bulan September. Tidak ada peringatan hari penting di kalender nasional, tapi hari ini adalah salah satu hari yang kutunggu sejak masuk kuliah di semester 7. Hari ini pembukaan KKN di kampus, yang artinya aku semakin dekat pada proses akhir menyelesaikan masa belajarku untuk meraih gelar sarjana hukum.
Semua hal terasa sangat berat untuk kulewati akhir-akhir ini. Membaca tidak konsentrasi, menonton juga tidak mengikuti cerita, tidur tidak nyenyak, makan juga tidak teratur, bahkan menulis pun rasanya tidak bisa karena pikiranku sedang gelisah. Aku belum menemukan ide apapun untuk kujadikan skripsi. Sementara beberapa temanku sudah menyelesaikan proposal penelitiannya bahkan sedang mengurus SK untuk seminar. 
Aku kosong, pikiranku benar-benar buntu. Dulu aku tidak pernah percaya pada berat badan yang menurun atau gangguan tidur karena memikirkan skripsi, sekarang aku mengalaminya. Ini adalah masa di mana aku sangat kecewa pada diriku sendiri, aku merasa gagal menjadi seorang kutu buku- seorang kritikus kebijakan pemerintah di daerahku- seorang mahasiswa. Dua kali aku mengajukan proposal penelitian, ditolak  dua-duanya.
Sekarang aku merasa tidak semangat, aku tidak tertarik pada topik lain selain dua hal yang pernah kuajukan dan dikembalikan. Aku harus menulis, tapi aku tidak menemukan apa-apa di kepalaku. 
Misiku adalah meraih gelar SH sebelum usiaku genap 21 tahun. Sekarang aku sudah 20 tahun, Mei tahun depan aku genap 21 tahun dan sekarang sudah bulan September tapi aku belum memulai skripsiku sama sekali.
I'm stuck.
Aku tahu, aku bukan satu-satunya yang mengalami hal ini. Tapi saat ini, saat mengingat impian-impianku mulai terasa jauh dan menyadari bahwa aku ternyata tidak sekuat yang aku kira, aku merasa aku adalah satu-satunya orang paling sedih malam ini - di dunia ini. 

This entry was posted in

Friday, August 12, 2016

Nasib Petani Tradisional Kapuas Hulu

Pertama kali memasuki daerah Kecamatan Embaloh Hulu aku disambut oleh sebuah baliho yang dipasang menghadap badan jalan di simpang Batu Mataso dan Banua Martinus.

Baliho tersebut merupakan pemberitahuan larangan membakar ladang oleh Pemerintah pusat yang selanjutnya diterapkan oleh instansi terkait di daerah.
Beberapa hari di Balimbis, aku sudah mulai melihat bagaimana kegusaran masyarakat mengenai aturan ini. Berkali-kali diadakan musyawarah adat untuk memutuskan hendak dibawa ke mana nasib masyarakat yang pasti kekurangan pangan jika tahun ini tidak boleh membakar ladang.
Sampai tulisan ini dibuat, sudah ada tuntutan masyarakat adat Dayak dan Melayu Kabupaten Kapuas Hulu terhadap larangan pembakaran ladang tradisional masyarakat adat, sudah dua kali diselenggarakan pertemuan dengan Pemerintah pusat di provinsi dan kabupaten, tapi belum ditemukan solusi yang tepat karena saat ini kondisi di ibu kota provinsi sudah mulai berkabut karena asap.

Aku sendiri sudah pernah merasakan bagaimana tidak nyamannya tertimpa musibah asap. Oksigen yang seharusnya menjadi hal gratis bahkan harus dibayar dengan segelas minuman ketika duduk sambil mengerjakan tugas kuliah yang menumpuk di tempat-tempat tertentu yang tidak terlalu dimasuki asap karena di rumah sendiri asapnya sudah luar biasa. Bahkan untuk menarik napas dalam-dalam saja aku tidak berani. Dalam keadaan seperti itu, satu-satunya yang ingin dilakukan adalah mencari sumber api dan mematikannya seolah kita adalah manusia super yang punya kekuatan ajaib, sekali kencing langsung turun hujan lebat.
Pontianak saat ini sudah mulai berkabut asap, dan di sini masyarakatnya mulai kebingungan, tiap hari memikirkan ladang yang tidak digarap karena ada larangan untuk melanjutkan aktivitas bercocok tanam mereka, setiap hari memandang buku tabungan di CU melihat kira-kira uangnya cukup atau tidak jika digunakan untuk membeli beras sementara anak mereka harus membayar biaya sekolah.
Selalu ada yang menjadi korban dari keputusan yang dibuat. Jika larangan tersebut memang harus diterapkan aku yakin tahun ini Kabupaten Kapuas Hulu akan gagal panen, tidak akan ada persiapan pangan untuk tahun depan. Berdasarkan data dari Bulog Kapus Hulu untuk tahun 2011 ketika kondisi ekonomi normal masyarakat Kapuas Hulu memerlukan beras miskin sebanyak 213.840 kg/bulan yang berarti 2.566.080 kg/tahun untuk 14.256/RTS/pm. Sementara sejak tahun 2015 keadaan ekonomi Kapuas Hulu tidak kondusif, harga karet turun dan sekarang ada ancaman untuk kehilangan sumber pangan mereka.
Menurutku tidak semua aturan bisa diterapkan secara merata, mengingat kondisi daerah yang berbeda-beda. Upaya menangani musibah kabut asap dari Pemerintah Pusat dan daerah harus dihargai oleh masyarakat, karena itu adalah upaya mereka sebagai pemimpin untuk melindungi masyarakatnya, upaya mereka menjalankan tugas dan kewajiban mereka untuk rakyat. Tapi yang tidak boleh mereka lupakan adalah ada rakyat lainnya yang harus mereka pikirkan nasibnya, bagaimana keberlangsungan petani-petani tradisional ini jika cara bercocok tanam mereka harus diubah ? Apa dampak dari aturan yang mereka buat ?
Aku tidak berani mengatakan Pemerintah merampas hak masyarakat adat untuk melanjutkan hidup  kalau saja pemerintah memang punya jalan keluar yang bisa mereka berikan pada masyarakat. Tapi sampai saat ini tidak ada jalan keluar, mereka hanya menakut-nakuti rakyat kecil dengan pasal-pasal di Undang-Undang tanpa memberikan solusi pada masalah yang jelas mereka hadapi. Jadi istilah apa yang tepat untuk menjelaskan keadaan ini ?
Coba, coba saja seperti ini, instansi terkait yang melaksanakan aturan dari pusat datang ke daerah, memberitahukan bagaimana dampak berbahaya dari membakar ladang secara serentak karena bisa menimbulkan asap yang berbahaya untuk semua orang, kemudian mereka menawarkan alternatif lain seperti mesin penyedot kayu dan rumput yang dimiliki Doraemon atau teknologi bullshit lainnya yang hanya muncul di otak orang-orang yang tidak pernah menginjakkan kaki ke Kapuas Hulu dan melihat secara langsung bagaimana kondisi di sana—coba saja pemerintah memberikan aturan lalu memberi alternatif lain bagi masyarakat petani tradisional untuk menggarap lahan mereka tanpa harus membakar jika ternyata membakar ladang memang menimbulkan asap besar seperti aktivitas membakar ladang yang dilakukan untuk industri perkebunan. Masyarakat tidak akan merasa dirampas haknya jika ada solusi untuk akibat yang mereka tanggung dengan diterapkannya aturan ini.
Ini harusnya menjadi bahan pertimbangan dari pembuat aturan, bagaimana caranya agar kegiatan membakar ladang tidak lagi dilakukan tetapi masyarakat tetap bisa melakukan aktivitas bercocok tanam yang berarti mereka memberikan pilihan lain untuk mengelola lahan pertanian, atau bagaimana caranya agar membakar ladang yang sejatinya menurut para pegamat budaya dan sejarah merupakan bagian dari kearifan lokal tetap dilaksanakan tanpa merugikan pihak lain, yang artinya Pemerintah memberikan toleransi dengan batasan yang memang harus dituruti oleh masyarakat.
Selanjutnya aku akan menulis bagaimana kondisi tanah di Kapuas Hulu— di Kecamatan Embaloh Hulu tepatnya, bagaimana cara bercocok tanam mereka yang menrutku sangat ramah lingkungan, apa yang membuatku yakin bahwa aturan yang diterapkan tidak sesuai untuk daerah Kecamatan Embaloh Hulu. Semoga tulisan berikutnya berisi kabar baik, semoga secepatnya masyarakat di tana' Tamambaloh bisa melanjutkan aktivitas bercocok tanam mereka—bisa melanjutkan hidup mereka.
This entry was posted in