Wednesday, December 23, 2015

SELAMAT HARI IBU, MA..

Hari ini semua orang Indonesia mengucapkan selamat hari ibu untuk ibunya, karena ini hari ibu. 
Aku hanya mengirim pesan "selamat hari ibu, ma" ketika aku bangun pagi, dan beberapa menit setelah pesan itu kukirim mama menelpon. Aku memang jarang menelpon mereka duluan soalnya jarang ada pulsa. Hehe.
Pagi ini kami telponan, tidak menggunakan panggilan gratis dari line karena kuota internetku habis.
Obrolan kami seperti biasa, chit chat tentang keadaan cuaca di sana, panas, mendung atau hujan, hari ini mama dan bapak sarapan apa. Obrolan kami panjang, aku menceritakan perjalananku ke Mukok beberapa hari lalu dan mama berkali-kali mengingatkan agar aku tidak lupa minum vitamin supaya tidak kecapekan. 
Setiap hari kami selalu mengobrol panjang lebar, jarak tidak berpengaruh sama sekali karena line sangat membantu kami. Aku bisa melihat wajah mereka melalui video call kapanpun aku mau, setiap hari kirim-kiriman foto, aku merasa mereka ada di dekatku karena komunikasi yang sangat lancar. Berbeda dengan beberapa tahun yang lalu, saat belum ada aplikasi line kami hanya bisa telponan.
Sejak usia 8 tahun aku tidak serumah dengan mereka. Banyak sekali hal-hal yang kulalui tanpa mama dan bapak. Mereka juga melewati banyak hal tanpaku. Aku tumbuh dan besar jauh dari  pengawasan mereka.
Tapi, semua tidak mengurangi rasa sayangku pada mama dan bapak. Mereka telah memberiku kesempatan untuk melihat dunia, merawat ku sejak bayi, mendidikku, memenuhi semua kebutuhanku, memberikan cinta yang tak pernah berkesudahan. Semua itu tidak akan bisa terbayar. Tidak bisa terbalas karena hanya orangtua yang mampu berbuat seperti itu.
Aku seringkali beda pendapat dengan mama dan bapak, aku sangat keras kepala dan aku sering membuat mama menangis. 
Sungguh, tiap kali mengingat tangisan mama dan maaf yang diberikannya aku merasa menjadi orang paling berdosa. Banyak sekali perbuatanku yang membuatnya sedih. Khawatir dan takut. Membuat pikirannya tidak tenang karena merasa was-was sementara aku jauh dari mereka.
Setahun yang lalu diusiaku yang menginjak 18 tahun kami berdebat, adu pendapat dan aku membuatnya menangis. Untuk kesekian kalinya aku melukai perasaannya. Tapi kali itu mungkin adalah kesalahan terbesarku karena sampai membuatnya berpikir bahwa aku tidak ingin lagi menghubunginya.
Dia menanyaiku apakah aku menyesal telah lahir dari rahimnya. Pertanyaan yang membuatku merasa sangat menyesal dan berdosa. Rahimnya adalah tempat terbaik yang pernah kudiami, aku tidak pernah menyesal dilahirkan dari sana. Tidak pernah sama sekali.
Aku tahu mama sangat sedih dengan sikapku sehingga menanyaiku seperti itu. Aku sangat bebal. Tidak bisa diatur. Dan sangat sering melontarkan kalimat-kalimat yang membuatnya terdiam. Usiaku masih sangat muda tapi luka yang kuberikan pada mama sudah tidak bisa dihitung dan dia selalu mempunyai maaf yang tidak pernah habis, sama seperti cintanya. Aku menyesal. Sangat menyesal. Sejak hari itu aku berjanji tidak akan membuatnya menangis lagi.
Sejak pertengkaran itu aku tidak pernah membantah nasihatnya, tidak ingin membuatnya sedih. Apa lagi sampai membuatnya berpikiran bahwa aku tidak ingin punya mama yang cerewet dan banyak aturan sepertinya.
Membuat mama senang sebenanrnya sangat mudah, dia senang melihat anaknya bahagia. Jadi sebisa mungkin aku terlihat bahagia untuk mama. Aku tidak mengeluh tentang kuliahku, tidak sakit-sakitan karena dia sangat khawatir dengan kesehatanku, tidak pulang larut malam karena dia takut aku kenapa-napa.
Aku tidak pernah menceritakan hal-hal buruk yang menimpaku karena aku tidak ingin melihatnya sedih, sebisa mungkin jika aku ada masalah aku selesaikan dengan rapi, tanpa sepengetahuannya. Mama orang yang sangat khawatir, sebenarnya dia jarang mengomel tapi kadang nasihatnya panjang juga. 
Dia sering mengajukan pertanyaann yang sama berkali-kali hingga aku merasa bosan dan  kesal.
Aku sering menjawab pertanyaannya asal-asalan karena kesal dengan pertanyaan yang itu-itu saja.
Ah padahal aku ingin setiap hari berada di dekatnya. Ingin mengobrol langsung dengannya, baring-baring di pangkuannya dan dia menyisir rambutku dengan jemarinya. Sekedar menemaninya membuat anyaman manik atau menghabiskan sore bersama sambil mendengarkan siaran di radio selepas mandi.
Aku sangat ingin bersamanya setiap hari. 
Ketika libur dan aku pulang ke rumah, aku selalu tidur dengannya. Dulu waktu masih kecil kami masih muat tidur bertiga bersama bapak, tapi sejak SMA tempat tidur mereka tidak bisa menampung tubuh kami semua. 
Sebelum tidur mama selalu mengajakku berdoa, aku ini malas berdoa. Biasanya cuma tanda salib. Mama selalu menasihatiku supaya rajin berdoa, dia sendiri sangat rajin mendoakan orang-orang yang dikenalnya. Kami duduk berdampingan dan dia memimpin doa lalu kami tutup dengan doa bapa kami dan tiga kali salam Maria. Itu adalah kebiasaan sebelum tidur yang kurindukan darinya.
Aku benar-benar berdoa hanya saat aku di samping mama. Mama dan bapak adalah satu-satunya alasanku berdoa.
Setiap bangun aku tidak pernah mendapatinya terbaring di sampingku. Dia sudah sibuk di dapur atau menyapu, aku selalu bangun siang. 
Kebersamaan dengannya sangat jarang kurasakan. Kebersamaan secara nyata dia di sampingku dan aku di sampingnya.
Sedih dan iri setiap hari kurasakan karena aku tidak bisa seperti teman-teman lainnya yang tiap hari sarapan dengan masakan mama. Atau tidur di depan televisi dengan mama di samping mereka. Aku iri sekali pada mereka yang bisa memeluk mamanya kapanpun mereka mau.
Hari ini pun ketika mengobrol langsung aku tidak mengatakan "ma aku sayang mama" entah kenapa kalimat itu terasa sangat rancu untuk kuucapkan secara langsung.
Karena aku tahu, mama bisa merasakan sayangku padanya tanpa harus kuungkapkan.  Sepertipun mama yang tidak pernah secara langsung mengungkapkan "mama sayang kamu, nak". Mama mengungkapkan sayangnya melalui tindakan, melalui perbuatan dan perhatian yang tidak pernah berhenti.
Kami jarang bermanis-manis seperti ibu dan anak pada umumnya yang saling mengungkapkan kalimat sayang. Yang aku ingat dengan jelas mama mengungkapkan kalimat sayangnya padaku setelah menanyaiku pertanyaan yang membuatku menangis tersedu-sedu seperti anak kecil karena aku merasa sangat bersalah. 
Ketika aku ulang tahun juga mama tidak pernah mengucapkan kalimat-kalimat di luar kebiasaannya, dia hanya mengucapkan selamat ulang tahun lalu kalimat berikutnya adalah pesan-pesan yang disampaikannya tempo hari setiap kali kami telponan. Pesan mama selalu sama karena mama selalu mengharapkan sesuatu yang baik terjadi padaku setiap hari, bukan hanya di hari ulang tahunku. Sama seperti dia yang mendoakanku setiap hari, bukan hanya karena aku berulang tahun tapi karena setiap hari aku adalah hal yang tidak bisa dilewatkannya begitu saja tanpa doa.
Dia menyayangiku setiap hari, tak perlu dia ungkapkan pun aku sudah merasakannya. Aku juga sangat menyayanginya meski sampai saat ini aku tidak pernah mengucapkan kalimat itu secara langsung padanya.
Aku menyayanginya setiap hari, walaupun hanya bisa kuungkapkan melalui kalimat "ma, makan, tidur awal biar nggak kecapekan, hati-hati di sana" itu adalah kalimat sayang yang selalu kuucapkan tiap hari untuk mama. Aku tidak bisa mengubah kalimat itu menjadi kalimat yang lain lagi, ini adalah kalimat dengan komposisi sayang paling pas yang bisa kuungkapkan untuk mama. Aku belum bisa memberikan komposisi yang lebih seperti mengirimi uang setiap bulan untuknya dan membelikan keperluan bulanannya. Belum. Tapi akan.
Saat ini yang bisa kulakukan untuk menunjukkan rasa sayangku padanya adalah menghargai usaha yang dilakukannya untuk kebahagiaanku.
Aku tidak akan membantah lagi, tidak membuatnya khawatir dengan tingkah kekanak-kanakkanku yang berlebihan. 
Aku tidak bisa mengungkapkan kalimat manis bahkan ketika aku rindu padanya. Kami yang ketika rindu langsung saling menghubungi lalu mengobrol tanpa mengatakan "ma aku rindu" atau "nak, mama rindu". 
Setiap hari dia menghubungiku, karena setiap hari dia merindukanku. 
Setiap hari pertanyaan yang diajukannya tidak pernah berubah walaupun dia tahu jawaban dariku juga tetap sama. Itu karena dia tidak pernah bosan memberi perhatian padaku.
Terimakasih untuk cinta yang tidak pernah habis ma, maaf sampai hari ini hanya bisa merepotkan dan membuat khawatir. Semoga mama sehat dan panjang umur supaya kita bisa menghabiskan waktu sama-sama seperti dulu lagi, waktu aku masih kecil. Walaupun waktu yang telah kita lewati tidak bisa terganti, tapi semoga aku punya kesempatan untuk merawat mama di masa tua mama.
Selamat hari ibu ma. Aku rindu sekali.