Friday, December 18, 2015

MASA (?) BODOH



Jangan takut akan apa yang orang lain pikir tentang Anda. Orang tidak memikirkan Anda. Anda tidak penting-penting amat.-Ajahn Brahm, Hello Happiness
Selama ini aku memang tidak terlalu peduli penilaian negatif orang lain padaku, jika yang mereka katakan tidak baik untuk perkembangan diriku atau ketenangan batinku, aku memilih untuk mengabaikannya. Lagi pula aku juga merasa bahwa aku ini bukan siapa-siapa jadi aku santai saja, tidak merasa harus menjaga image atau berpura-pura tampil sempurna di hadapan orang lain. 
Tapi tadi siang, pernyataan seorang teman membuatku tersentuh, bukan karena itu pernyataan berupa ucapan terimakasih atau pujian, tapi sebaliknya, tentang penilaian negatif dari teman-teman yang lain tentangku. 
Jadi sore hari ini kuhabiskan waktuku untuk mengingat bagaimana caraku bersikap, perbuatan apa saja yang telah kulakukan hingga mereka menilaiku negatif atau bagaimana caraku berkomunikasi pada mereka selama ini.
Aku ini orang yang tidak bisa berpura-pura, pura-pura simpati atau sopan, atau pura-pura ramah. Aku bukan orang yang bisa langsung tersenyum pada orang yang baru kutemui, aku bukan orang yang bisa tersenyum ketika aku sedang tidak ingin melakukannya. Walapun dia teman baikku bahkan saudaraku sendiri, ketika kami berpapasan dan aku sedang tidak ingin tersenyum maka aku tidak akan tersenyum, aku sudah mencoba agar bisa sedikit manis seperti membalas senyum mereka ketika kami berjumpa, tapi tidak bisa. Karena itulah mereka mengatakan bahwa aku ini sombong, tidak ramah, tidak bersahabat.
Demi Tuhan, aku benci basa-basi, seperti mengucapkan hal-hal baik hanya untuk membuat orang lain merasa senang. Aku tidak menawari orang makan bersamaku untuk basa-basi, jika aku menawari mereka makan atau pergi bersamaku itu artinya aku memang ingin bersama mereka, bukan basa-basi. Aku juga tidak menawarkan bantuan pada seseorang hanya untuk berbasa-basi, jika aku berkata "kalau ada yang bisa kubantu, katakan saja" itu artinya aku memang ingin berbuat sesuatu untuk membantunya. 
Aku tidak suka basa-basi, sama halnya ketika membahas sesuatu yang serius, misalnya jika ada yang sedang curhat. Aku bisa saja langsung mengatakan dia itu bodoh jika kenyataannya dia memang bodoh, aku tidak bisa berbasa-basi menyembunyikan kata bodoh di balik kalimat "makanya jangan terlalu mudah percaya janji orang lain" ya ampun aku lebih sering mengucapkan kalimat "makanya jangan bodoh"
Aku memang sering berkata langsung seperti itu, mungkin ini kesalahan terbesarku; menganggap semua orang berpikiran sama denganku.
Kita harus melawan arus basa-basi taik kucing yang sudah ditanamkan oleh semua orang pada kita sejak kita masih bayi. Maksudku, kita harus bersikap jujur. Tidak munafik, tidak dibuat-buat.
Ketika aku tidak suka maka kutunjukkan bahwa aku tidak suka, ketika aku suka maka kutunjukkan aku suka. Tapi orang-orang di sekitarku berbeda. Mereka lebih senang melihat dan menunjukkan sikap baik yang dibuat-buat agar orang lain simpati pada mereka. Istilah sehari-harinya dalam bahasa anak muda adalah bermuka dua.
Aku sungguh tidak bisa menjadi orang bermuka dua seperti itu. Tidak bisa, karena aku sudah mencobanya dan aku merasa sangat kotor. Menjijikkan sekali ketika kita berpura-pura baik hanya untuk membuat orang lain menyukai kita.
Karena terbiasa tidak berbasa-basi, penilaian orang-orang tentangku adalah aku ini sinis, frontal ketika berbicara, tidak sopan, selengean, dan berbagai istilah-istilah lain yang dimaksudkan untuk kebiasaanku yang berbuat tanpa memikirkan penilian orang lain.
Ada juga seorang teman yang kuanggap termanku tapi ternyata menjelek-jelekkanku di belakang. Kalian tahu kan makna dijelek-jelekkan ? itu artinya seseorang berbicara tentang kejelekan dirimu, tapi kejelekan yang mereka ceritakan itu dikarang-karang, seperti fitnah.
Jadi begini, aku ini orang Dayak, tumbuh dan berkembang di lingkungan yang menggunakan bahasa Melayu Kapuas Hulu, lalu kuliah di Pontianak yang menggunakan bahasa Melayu Pontianak. Di rumah, kami hamya menggunkan dua bahasa, Dayak dan Bahasa Indonesia. Sangat janggal rasanya ketika menggunakan bahasa Melayu baik itu Kapuas Hulu maupun Pontianak. Aku luwes menyebutkan beberapa kata atau kalimat populer saja, seperti "ntah lah ye, mane ade, ndak tau, nisik ada, aok, kak ke mena" dan bahasa-bahasa ringan lainnya. Jadi wajar sekali jika aku jarang mengobrol menggunakan bahasa melayu.
Aku agak marah ketika temanku menceritakan bagian ini, bagaimana mungkin ada orang yang memperhatikanku sampai pada caraku berbicara, ya Tuhan mengapa tidak sekalian saja orang itu membiayai hidupku supaya dia bisa mengurusi lebih banyak hal tentangku.
Begitulah kehidupan sosial, memang memuakkan, muntah saja kalau ingin muntah. Aku juga sebenarnya sangat bosan dengan kehidupan sosial yang penuh kepalsuan dan kemunafikkan. Kalau saja aku ini sang penguasa, aku akan menciptakan dunia yang hanya diisi olehku dan keluargaku. Keluargaku walaupun menyebalkan mereka tetap keluargaku, mereka bisa menerima aku dengan segala keburukanku, dan mereka yang tidak pernah berpura-pura di depanku. Mereka jujur, apa adanya.
Hidup ini tidak sederhana lagi sejak kita memutuskan memikirkan penilaian orang lain. Hidup tidak pernah mudah lagi sejak kita mulai mempertimbangkan keinginan orang lain, hidup memang tidak akan asik lagi ketika kita mulai bertindak hanya untuk membuat orang lain terkesan.
Kesimpulan dari tulisan ini adalah, betapa basa-basi, kepalsuan, dan kemunafikan lebih disukai orang ketimbang kejujuran dan kenyataan yang sebenanrya.
Ah, semoga saja aku selalu menjadi orang yang masa bodoh pada hal-hal negatif yang dilabelkan orang lain padaku. Semoga kalian juga seperti itu.