Thursday, December 31, 2015

SEMANIS NASTAR NANAS

Jumat, 25 Desember 2015.
Merry Christmas universe!
Ini adalah Natal keduaku tanpa keluarga. Aku baru saja pulang dari gereja dan sedang duduk bersandar di sofa ruang tamuku yang sempit. Solo terasa sangat panas hari ini. Kunaikkan suhu pendingin  udara dan kututup pintu rapat-rapat. Tidak akan ada tamu yang datang untuk mengunjungiku, lagian siapa yang akan natalan, teman-temanku sudah pulang ke daerah masing-masing untuk merayakan Natal bersama keluarga. 
Tahun lalu cutiku kuhabiskan untuk pergi ke Macau, menemani Mas Uki meliput Macau International Fireworks yang berlangsung dari bulan September sampai Oktober. Dua minggu kami habiskan di sana sehingga tidak ada jatah untuk pulang ke Pontianak ketika Natal. Tahun ini aku tidak bisa pulang karena tuntutan pekerjaan. Besok aku dan beberapa teman dari kantor jurnalis tempatku bekerja akan berangkat ke Aceh, kami akan mendatangi desa Lamjame yang terletak di Kecamatan Jaya Baru, meliput keadaan di sana untuk mengenang sebelas tahun tragedi tsunami yang pernah memporakporandakan kampung nelayan itu.
Pengalaman Natal tahun lalu sudah membuatku mengerti betapa tidak berartinya sebuah perayaan jika hanya dirayakan seorang diri, karena perayaan adalah kemeriahan yang harus dibagikan, tidak akan bermakna jika hanya dilalui sendirian. Hari ini pun aku kembali merayakan sepi di tengah meriahnya Natal. Mungkin bagi mama dan papa, bingkisan Natal yang kutitip melalui seorang teman yang pulang ke Pontianak sudah cukup mewakili kehadiranku di tengah-tengah mereka. Sejak tadi malam tidak satu pun dari mereka yang menghubungiku. Seringkali kebahagaiaan membuat kita melupakan orang lain, aku agak melankolis karena merasa tidak ada yang mencariku. Panggilanku tidak diangkat, pesanku hanya dibaca. Papa hanya mengirimiku foto selfienya bersama empat keponakanku di depan pohon Natal tanpa pesan apa-apa, membuatku cemberut dan ingin tidur saja.
Mas Uki adalah satu-satunya orang yang menelponku tadi malam, mengingatkan agar aku tidak lupa makan sebelum pergi ke gereja untuk misa malam Natal. Mama yang biasanya mendongengiku dengan omelannya setiap malam bahkan lupa untuk sekedar menulis ucapan selamat Natal buat putri bungsunya ini.
Aku mewek. Dari sini dapat kurasakan hangatnya suasana Natal di kampung halaman. Ruang tamu yang ceria oleh warna merah dan putih dihiasi gua Natal lengkap dengan pohonnya, aroma cookies yang memenuhi ruangan sekalipun toples sudah tertutup rapat. Aku bisa melihat nastar nanas berukuran besar kecil tak beraturan buatan mama diletakkan ditoples bening ukuran sedang. Kue kering kesukaanku. Suara tawa yang tak asing dari mereka terdengar sangat dekat. Aku dapat melihat mereka berjabat tangan dan berpelukan, salam dan pelukan yang menggerahkan tapi meghangatkan hati. Riuh dan sesak di ruang tamu. Natal membuat meja makan terasa sangat kecil ketika semua keluarga makan bersama. Ramai, sangat ramai.
Rumah tidak pernah sepi karena selalu ada kerabat yang datang, obrolan hangat dan canda tawa yang membuat suasana kekeluargaan terasa sangat kental. Foto-foto bersama dengan berbagai pose, reuni mendadak bersama teman-teman semasa sekolah yang sudah lama tidak pernah bersua. Suasana Natal seperti itu tidak akan ada di sini, aku tidak akan merasakannya.
Satu-satunya dekorasi Natalku adalah pohon Natal ukuran sedang yang mas Uki belikan dan letakkan di sudut ruangan. Tidak ada hiasan lainnya. Kuangkat kakiku ke atas meja yang kosong, aku sudah sangat malas untuk berbuat apa-apa. Di rumah biasanya ada tiga meja berisi kue dan minuman yang diletakkan di bagian berbeda untuk para tamu. Di sini hanya ada satu meja dan yang mengisinya hanya sekotak tisu dan kakiku yang kubujurkan di sana. 
Keluarga adalah hal yang paling kurindukan saat ini. Bersama mereka Natal menjadi sangat meriah.
Beberapa saat berlalu, aku mendengar sebuah ketukan. Pasti Mas Uki, kami ada janji makan siang bersama. Aku bergegas bangkit menuju pintu, kubuka perlahan dan aku melihat sosoknya yang tinggi kurus berdiri di depan pintu membawa sebuah bingkisan di tangan kanannya. Senyumnya sangat lebar menampakkan giginya yang bergingsul.
Dia mengenakan kemeja merah maron berlengan panjang dengan topi santa Claus di kepalanya, padahal aku tidak bilang bahwa aku mengenakan dress berwarna merah, aku juga belum mengiriminya foto hari ini. Brewoknya yang tumbuh lebat sama sekali tidak membuatnya mirip tokoh gendut berjanggut pembawa hadiah yang berkendara dengan kereta terbang itu. Aku tertawa melihatnya.
"Masuk mas" kubuka pintu agak lebar dan mempersilahkannya masuk. Dia segera meletakkan bingkisan yang dibawanya di atas meja.
"Merry Christmas my little Sharon" direntangkannya tangannya selebar mungkin untuk memelukku. 
"Thankyou mamas Ukiku, Mas bawa apaan ?" aku melepaskan pelukannya yang membuatku gerah. 
"Cookies kesukaan kamu"
Buru-buru kubuka bungkusan plastik putih itu, satu toples nastar nanas dan kartu ucapan selamat Natal ada di dalamnya. Sesaat perasaan sedihku hilang. Aku hanya tersenyum membaca tulisan di kartu ucapan yang ditulisnya sendiri. Kubuka toples itu dan segera melumat satu buah nastar nanas. Kuberikan satu untuknya dan dia selalu jahil, digigitnya jariku yang sudah kuwarnai kukunya dengan warna merah.
Rasa nastarnya memang tidak seperti nastar buatan mama, tapi setidaknya ini manis, tambah manis karena mas Uki ada di sini. 
"Maaf ya tidak menjemput ke gereja, tadi ibadah dulu ke mesjid" 
Aku mengangguk sambil tetap mengunyah nastar di mulutku. Mas Uki berdiri dan menuju dapur, lalu kembali dengan dua gelas air dingin di tangannya. Diletakkannya gelas itu di meja. Langsung saja kuteguk karena kehausan. Dia geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Seringkali dia protes karena aku selalu terburu-buru ketika melakukan sesuatu, seperti tidak paham saja, wartawan mana ada yang kemayu. 
Penampilanku hari ini memang agak manis, jarang sekali aku mengenakan mini dress seperti ini. Apa lagi rambut diblow, setiap hari aku pergi bekerja dengan rambut dikuncir. Hari ini aku juga memoleskan kutek merah di jariku. Kemarin bahkan aku sempat bingung akan mengenakan dress putih atau merah hari ini, entah mengapa tadi pagi aku bangun dan langsung memikirkan dress merah yang kukenakan saat ini, lalu Mas Uki datang dengan kemeja yang warnanya tidak jauh berbeda.
"Kalau sudah, kita berangkat sekarang" dia memperhatikanku yang sudah duduk bersandar di sofa. Aku mengangguk dan berdiri. 
Sebelum menutup pintu Mas Uki berbalik ke ruang tamu dan mengambil toples nastar yang dibawanya tadi. Aku keheranan. lalu disodorkannya padaku dan kuterima saja. "makan di mobil" katanya cepat sambil mengunci pintu.
Aku tertawa dalam hati.
Di dalam mobil aku duduk nyaman sambil memangku setoples nastar nanas, sedari tadi mulutku tidak berhenti mengunyah. Lagu The First Noel mengalun lembut, menghantarkan kami berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku masih cemburu pada Natal di Pontianak, tapi juga pikiranku melayang pada pertemuan kami tiga tahun yang lalu. Siapa sangka, sampai hari ini dia masih jadi orang yang berada di sisiku.
"Sayang.." suaranya memecahkan hening yang hangat di antara kami. Aku meliriknya yang tetap fokus menyetir. "Kamu mau hadiah Natal apa ?" aku menatapnya dalam-dalam, tapi dia tetap melihat lurus ke depan. Aku lama tak menjawab, laju kendaraan agak lambat dan dia memandangku. "Hmm ?" tanyanya dengan gumaman.
"All I want for christmas is You, mas" aku mengucapkan kalimat itu dengan hati yang sangat tulus dan perasaan yang sangat tenang. Aku bahagia. Dia tersenyum lalu mengelus rambutku dengan lembut. "I love You Sharon" aku tidak membalas kalimat itu, tanpa kukatakan pun dia telah tahu bahawa aku sama sepertinya. 
Hari ini Natalku manis, semanis nastar nanas dari mas Uki. 
Kulayangkan pandanganku ke luar, menjelajahi apa saja yang kami lewati, lalu mataku terpaku pada sebuah mesjid, aku memandang bangunan itu lama tapi mas Uki mempercepat laju kendaraan. Kami berlalu.
Terimakasih telah memilihku mas, meski kita berbeda. 
***
This entry was posted in

Wednesday, December 23, 2015

SELAMAT HARI IBU, MA..

Hari ini semua orang Indonesia mengucapkan selamat hari ibu untuk ibunya, karena ini hari ibu. 
Aku hanya mengirim pesan "selamat hari ibu, ma" ketika aku bangun pagi, dan beberapa menit setelah pesan itu kukirim mama menelpon. Aku memang jarang menelpon mereka duluan soalnya jarang ada pulsa. Hehe.
Pagi ini kami telponan, tidak menggunakan panggilan gratis dari line karena kuota internetku habis.
Obrolan kami seperti biasa, chit chat tentang keadaan cuaca di sana, panas, mendung atau hujan, hari ini mama dan bapak sarapan apa. Obrolan kami panjang, aku menceritakan perjalananku ke Mukok beberapa hari lalu dan mama berkali-kali mengingatkan agar aku tidak lupa minum vitamin supaya tidak kecapekan. 
Setiap hari kami selalu mengobrol panjang lebar, jarak tidak berpengaruh sama sekali karena line sangat membantu kami. Aku bisa melihat wajah mereka melalui video call kapanpun aku mau, setiap hari kirim-kiriman foto, aku merasa mereka ada di dekatku karena komunikasi yang sangat lancar. Berbeda dengan beberapa tahun yang lalu, saat belum ada aplikasi line kami hanya bisa telponan.
Sejak usia 8 tahun aku tidak serumah dengan mereka. Banyak sekali hal-hal yang kulalui tanpa mama dan bapak. Mereka juga melewati banyak hal tanpaku. Aku tumbuh dan besar jauh dari  pengawasan mereka.
Tapi, semua tidak mengurangi rasa sayangku pada mama dan bapak. Mereka telah memberiku kesempatan untuk melihat dunia, merawat ku sejak bayi, mendidikku, memenuhi semua kebutuhanku, memberikan cinta yang tak pernah berkesudahan. Semua itu tidak akan bisa terbayar. Tidak bisa terbalas karena hanya orangtua yang mampu berbuat seperti itu.
Aku seringkali beda pendapat dengan mama dan bapak, aku sangat keras kepala dan aku sering membuat mama menangis. 
Sungguh, tiap kali mengingat tangisan mama dan maaf yang diberikannya aku merasa menjadi orang paling berdosa. Banyak sekali perbuatanku yang membuatnya sedih. Khawatir dan takut. Membuat pikirannya tidak tenang karena merasa was-was sementara aku jauh dari mereka.
Setahun yang lalu diusiaku yang menginjak 18 tahun kami berdebat, adu pendapat dan aku membuatnya menangis. Untuk kesekian kalinya aku melukai perasaannya. Tapi kali itu mungkin adalah kesalahan terbesarku karena sampai membuatnya berpikir bahwa aku tidak ingin lagi menghubunginya.
Dia menanyaiku apakah aku menyesal telah lahir dari rahimnya. Pertanyaan yang membuatku merasa sangat menyesal dan berdosa. Rahimnya adalah tempat terbaik yang pernah kudiami, aku tidak pernah menyesal dilahirkan dari sana. Tidak pernah sama sekali.
Aku tahu mama sangat sedih dengan sikapku sehingga menanyaiku seperti itu. Aku sangat bebal. Tidak bisa diatur. Dan sangat sering melontarkan kalimat-kalimat yang membuatnya terdiam. Usiaku masih sangat muda tapi luka yang kuberikan pada mama sudah tidak bisa dihitung dan dia selalu mempunyai maaf yang tidak pernah habis, sama seperti cintanya. Aku menyesal. Sangat menyesal. Sejak hari itu aku berjanji tidak akan membuatnya menangis lagi.
Sejak pertengkaran itu aku tidak pernah membantah nasihatnya, tidak ingin membuatnya sedih. Apa lagi sampai membuatnya berpikiran bahwa aku tidak ingin punya mama yang cerewet dan banyak aturan sepertinya.
Membuat mama senang sebenanrnya sangat mudah, dia senang melihat anaknya bahagia. Jadi sebisa mungkin aku terlihat bahagia untuk mama. Aku tidak mengeluh tentang kuliahku, tidak sakit-sakitan karena dia sangat khawatir dengan kesehatanku, tidak pulang larut malam karena dia takut aku kenapa-napa.
Aku tidak pernah menceritakan hal-hal buruk yang menimpaku karena aku tidak ingin melihatnya sedih, sebisa mungkin jika aku ada masalah aku selesaikan dengan rapi, tanpa sepengetahuannya. Mama orang yang sangat khawatir, sebenarnya dia jarang mengomel tapi kadang nasihatnya panjang juga. 
Dia sering mengajukan pertanyaann yang sama berkali-kali hingga aku merasa bosan dan  kesal.
Aku sering menjawab pertanyaannya asal-asalan karena kesal dengan pertanyaan yang itu-itu saja.
Ah padahal aku ingin setiap hari berada di dekatnya. Ingin mengobrol langsung dengannya, baring-baring di pangkuannya dan dia menyisir rambutku dengan jemarinya. Sekedar menemaninya membuat anyaman manik atau menghabiskan sore bersama sambil mendengarkan siaran di radio selepas mandi.
Aku sangat ingin bersamanya setiap hari. 
Ketika libur dan aku pulang ke rumah, aku selalu tidur dengannya. Dulu waktu masih kecil kami masih muat tidur bertiga bersama bapak, tapi sejak SMA tempat tidur mereka tidak bisa menampung tubuh kami semua. 
Sebelum tidur mama selalu mengajakku berdoa, aku ini malas berdoa. Biasanya cuma tanda salib. Mama selalu menasihatiku supaya rajin berdoa, dia sendiri sangat rajin mendoakan orang-orang yang dikenalnya. Kami duduk berdampingan dan dia memimpin doa lalu kami tutup dengan doa bapa kami dan tiga kali salam Maria. Itu adalah kebiasaan sebelum tidur yang kurindukan darinya.
Aku benar-benar berdoa hanya saat aku di samping mama. Mama dan bapak adalah satu-satunya alasanku berdoa.
Setiap bangun aku tidak pernah mendapatinya terbaring di sampingku. Dia sudah sibuk di dapur atau menyapu, aku selalu bangun siang. 
Kebersamaan dengannya sangat jarang kurasakan. Kebersamaan secara nyata dia di sampingku dan aku di sampingnya.
Sedih dan iri setiap hari kurasakan karena aku tidak bisa seperti teman-teman lainnya yang tiap hari sarapan dengan masakan mama. Atau tidur di depan televisi dengan mama di samping mereka. Aku iri sekali pada mereka yang bisa memeluk mamanya kapanpun mereka mau.
Hari ini pun ketika mengobrol langsung aku tidak mengatakan "ma aku sayang mama" entah kenapa kalimat itu terasa sangat rancu untuk kuucapkan secara langsung.
Karena aku tahu, mama bisa merasakan sayangku padanya tanpa harus kuungkapkan.  Sepertipun mama yang tidak pernah secara langsung mengungkapkan "mama sayang kamu, nak". Mama mengungkapkan sayangnya melalui tindakan, melalui perbuatan dan perhatian yang tidak pernah berhenti.
Kami jarang bermanis-manis seperti ibu dan anak pada umumnya yang saling mengungkapkan kalimat sayang. Yang aku ingat dengan jelas mama mengungkapkan kalimat sayangnya padaku setelah menanyaiku pertanyaan yang membuatku menangis tersedu-sedu seperti anak kecil karena aku merasa sangat bersalah. 
Ketika aku ulang tahun juga mama tidak pernah mengucapkan kalimat-kalimat di luar kebiasaannya, dia hanya mengucapkan selamat ulang tahun lalu kalimat berikutnya adalah pesan-pesan yang disampaikannya tempo hari setiap kali kami telponan. Pesan mama selalu sama karena mama selalu mengharapkan sesuatu yang baik terjadi padaku setiap hari, bukan hanya di hari ulang tahunku. Sama seperti dia yang mendoakanku setiap hari, bukan hanya karena aku berulang tahun tapi karena setiap hari aku adalah hal yang tidak bisa dilewatkannya begitu saja tanpa doa.
Dia menyayangiku setiap hari, tak perlu dia ungkapkan pun aku sudah merasakannya. Aku juga sangat menyayanginya meski sampai saat ini aku tidak pernah mengucapkan kalimat itu secara langsung padanya.
Aku menyayanginya setiap hari, walaupun hanya bisa kuungkapkan melalui kalimat "ma, makan, tidur awal biar nggak kecapekan, hati-hati di sana" itu adalah kalimat sayang yang selalu kuucapkan tiap hari untuk mama. Aku tidak bisa mengubah kalimat itu menjadi kalimat yang lain lagi, ini adalah kalimat dengan komposisi sayang paling pas yang bisa kuungkapkan untuk mama. Aku belum bisa memberikan komposisi yang lebih seperti mengirimi uang setiap bulan untuknya dan membelikan keperluan bulanannya. Belum. Tapi akan.
Saat ini yang bisa kulakukan untuk menunjukkan rasa sayangku padanya adalah menghargai usaha yang dilakukannya untuk kebahagiaanku.
Aku tidak akan membantah lagi, tidak membuatnya khawatir dengan tingkah kekanak-kanakkanku yang berlebihan. 
Aku tidak bisa mengungkapkan kalimat manis bahkan ketika aku rindu padanya. Kami yang ketika rindu langsung saling menghubungi lalu mengobrol tanpa mengatakan "ma aku rindu" atau "nak, mama rindu". 
Setiap hari dia menghubungiku, karena setiap hari dia merindukanku. 
Setiap hari pertanyaan yang diajukannya tidak pernah berubah walaupun dia tahu jawaban dariku juga tetap sama. Itu karena dia tidak pernah bosan memberi perhatian padaku.
Terimakasih untuk cinta yang tidak pernah habis ma, maaf sampai hari ini hanya bisa merepotkan dan membuat khawatir. Semoga mama sehat dan panjang umur supaya kita bisa menghabiskan waktu sama-sama seperti dulu lagi, waktu aku masih kecil. Walaupun waktu yang telah kita lewati tidak bisa terganti, tapi semoga aku punya kesempatan untuk merawat mama di masa tua mama.
Selamat hari ibu ma. Aku rindu sekali.

Friday, December 18, 2015

MASA (?) BODOH



Jangan takut akan apa yang orang lain pikir tentang Anda. Orang tidak memikirkan Anda. Anda tidak penting-penting amat.-Ajahn Brahm, Hello Happiness
Selama ini aku memang tidak terlalu peduli penilaian negatif orang lain padaku, jika yang mereka katakan tidak baik untuk perkembangan diriku atau ketenangan batinku, aku memilih untuk mengabaikannya. Lagi pula aku juga merasa bahwa aku ini bukan siapa-siapa jadi aku santai saja, tidak merasa harus menjaga image atau berpura-pura tampil sempurna di hadapan orang lain. 
Tapi tadi siang, pernyataan seorang teman membuatku tersentuh, bukan karena itu pernyataan berupa ucapan terimakasih atau pujian, tapi sebaliknya, tentang penilaian negatif dari teman-teman yang lain tentangku. 
Jadi sore hari ini kuhabiskan waktuku untuk mengingat bagaimana caraku bersikap, perbuatan apa saja yang telah kulakukan hingga mereka menilaiku negatif atau bagaimana caraku berkomunikasi pada mereka selama ini.
Aku ini orang yang tidak bisa berpura-pura, pura-pura simpati atau sopan, atau pura-pura ramah. Aku bukan orang yang bisa langsung tersenyum pada orang yang baru kutemui, aku bukan orang yang bisa tersenyum ketika aku sedang tidak ingin melakukannya. Walapun dia teman baikku bahkan saudaraku sendiri, ketika kami berpapasan dan aku sedang tidak ingin tersenyum maka aku tidak akan tersenyum, aku sudah mencoba agar bisa sedikit manis seperti membalas senyum mereka ketika kami berjumpa, tapi tidak bisa. Karena itulah mereka mengatakan bahwa aku ini sombong, tidak ramah, tidak bersahabat.
Demi Tuhan, aku benci basa-basi, seperti mengucapkan hal-hal baik hanya untuk membuat orang lain merasa senang. Aku tidak menawari orang makan bersamaku untuk basa-basi, jika aku menawari mereka makan atau pergi bersamaku itu artinya aku memang ingin bersama mereka, bukan basa-basi. Aku juga tidak menawarkan bantuan pada seseorang hanya untuk berbasa-basi, jika aku berkata "kalau ada yang bisa kubantu, katakan saja" itu artinya aku memang ingin berbuat sesuatu untuk membantunya. 
Aku tidak suka basa-basi, sama halnya ketika membahas sesuatu yang serius, misalnya jika ada yang sedang curhat. Aku bisa saja langsung mengatakan dia itu bodoh jika kenyataannya dia memang bodoh, aku tidak bisa berbasa-basi menyembunyikan kata bodoh di balik kalimat "makanya jangan terlalu mudah percaya janji orang lain" ya ampun aku lebih sering mengucapkan kalimat "makanya jangan bodoh"
Aku memang sering berkata langsung seperti itu, mungkin ini kesalahan terbesarku; menganggap semua orang berpikiran sama denganku.
Kita harus melawan arus basa-basi taik kucing yang sudah ditanamkan oleh semua orang pada kita sejak kita masih bayi. Maksudku, kita harus bersikap jujur. Tidak munafik, tidak dibuat-buat.
Ketika aku tidak suka maka kutunjukkan bahwa aku tidak suka, ketika aku suka maka kutunjukkan aku suka. Tapi orang-orang di sekitarku berbeda. Mereka lebih senang melihat dan menunjukkan sikap baik yang dibuat-buat agar orang lain simpati pada mereka. Istilah sehari-harinya dalam bahasa anak muda adalah bermuka dua.
Aku sungguh tidak bisa menjadi orang bermuka dua seperti itu. Tidak bisa, karena aku sudah mencobanya dan aku merasa sangat kotor. Menjijikkan sekali ketika kita berpura-pura baik hanya untuk membuat orang lain menyukai kita.
Karena terbiasa tidak berbasa-basi, penilaian orang-orang tentangku adalah aku ini sinis, frontal ketika berbicara, tidak sopan, selengean, dan berbagai istilah-istilah lain yang dimaksudkan untuk kebiasaanku yang berbuat tanpa memikirkan penilian orang lain.
Ada juga seorang teman yang kuanggap termanku tapi ternyata menjelek-jelekkanku di belakang. Kalian tahu kan makna dijelek-jelekkan ? itu artinya seseorang berbicara tentang kejelekan dirimu, tapi kejelekan yang mereka ceritakan itu dikarang-karang, seperti fitnah.
Jadi begini, aku ini orang Dayak, tumbuh dan berkembang di lingkungan yang menggunakan bahasa Melayu Kapuas Hulu, lalu kuliah di Pontianak yang menggunakan bahasa Melayu Pontianak. Di rumah, kami hamya menggunkan dua bahasa, Dayak dan Bahasa Indonesia. Sangat janggal rasanya ketika menggunakan bahasa Melayu baik itu Kapuas Hulu maupun Pontianak. Aku luwes menyebutkan beberapa kata atau kalimat populer saja, seperti "ntah lah ye, mane ade, ndak tau, nisik ada, aok, kak ke mena" dan bahasa-bahasa ringan lainnya. Jadi wajar sekali jika aku jarang mengobrol menggunakan bahasa melayu.
Aku agak marah ketika temanku menceritakan bagian ini, bagaimana mungkin ada orang yang memperhatikanku sampai pada caraku berbicara, ya Tuhan mengapa tidak sekalian saja orang itu membiayai hidupku supaya dia bisa mengurusi lebih banyak hal tentangku.
Begitulah kehidupan sosial, memang memuakkan, muntah saja kalau ingin muntah. Aku juga sebenarnya sangat bosan dengan kehidupan sosial yang penuh kepalsuan dan kemunafikkan. Kalau saja aku ini sang penguasa, aku akan menciptakan dunia yang hanya diisi olehku dan keluargaku. Keluargaku walaupun menyebalkan mereka tetap keluargaku, mereka bisa menerima aku dengan segala keburukanku, dan mereka yang tidak pernah berpura-pura di depanku. Mereka jujur, apa adanya.
Hidup ini tidak sederhana lagi sejak kita memutuskan memikirkan penilaian orang lain. Hidup tidak pernah mudah lagi sejak kita mulai mempertimbangkan keinginan orang lain, hidup memang tidak akan asik lagi ketika kita mulai bertindak hanya untuk membuat orang lain terkesan.
Kesimpulan dari tulisan ini adalah, betapa basa-basi, kepalsuan, dan kemunafikan lebih disukai orang ketimbang kejujuran dan kenyataan yang sebenanrya.
Ah, semoga saja aku selalu menjadi orang yang masa bodoh pada hal-hal negatif yang dilabelkan orang lain padaku. Semoga kalian juga seperti itu.

Monday, December 14, 2015

NOVEL MENYENTUH TENTANG PERCINTAAN REMAJA, WHITE AS MILK RED AS BLOOD


Judul : White As Milk Red As Blood
Penulis : Alessandro D'Avenia
Penerbit: Bhuana Sastra

Novel ini mengisahkan tentang seorang remaja lelaki berusia 16 tahun bernama Leo.
Leo adalah seorang siswa yang sangat malas sekolah, dia benci sekolah dan guru-gurunya. Dibandingkan pergi ke sekolah, Leo lebih memilih menghabiskan waktunya untuk mendengarkan lagu atau balap motor bersama temannya, Niko. Dia juga memiliki seorang sahabat bernama Sylvia. 
Leo sangat membnci warna putih, tiap kali membayangkan warna putih dia selalu merasa tidak nyaman. Tidak seperti remaja lainnya yang punya banyak impian, satu-satunya impian Leo adalah Beatrice - si gadis berambut merah.
Dia jatuh cinta pada warna merah dari rambut Beatrice, warna merah itu adalah semangatnya. Salah satu alasannya untuk datang ke sekolah adalah untuk melihat Beatrice. Beatrice adalah mimpinya, benr-benar mimpinya karena dia hanya berani mengaguminya dari kejauhan, tidak pernah mendekat. Tapi mimpi itu hancur saat dia mengetahui bahwa Beatrice mengidap leukemia.
Penulis buku ini menuliskan cerita tentang Leo dan Betarice dengan rangkaian kata yang indah, sangat menyentuh hati.
Melalui tokoh Leo, aku yang muak dengan sekolah merasa sangat terwakili. Semua yang dirasakan Leo adalah yang juga kurasakan ketika aku sudah sangat jenuh dengan rutinitas di sekolah. Sementara melalui tokoh Betarice, penulis berhasil membuatku merenung, dan tersadar betapa banyaknya waktu yang kubuang dengan percuma selama ini. Penulis berhasil menjelaskan betapa berartinya waktu dalam kehidupan kita, betapa indahnya menjalani sesuatu dengan berserah dan bersyukur.
Aku sangat suka novel ini, salah satu novel yang berhasil menyentuh hatiku. Bukan hanya berbicara tentang cinta, tapi juga persahabatan antara Leo dan Sylvia, lalu konflik antar remaja lelaki yang dikisahkan melalui tokoh Niko. 
Banyak novel yang mengisahkan percintaan remaja, tapi sangat sedikit yang berhasil menyampaikan nilai-nilai yang terkandung di dalam kisah tersebut. Menurutku novel ini sangat tepat dibaca oleh para remaja yang baru memasuki dunia percintaan, atau mereka yang merasa muak dengan cinta.
Cinta itu luas, cinta itu berubah, cinta itu kadang pasang kadang surut, cinta itu bergejolak.

Novel ini sangat direkomendasikan bagi mereka yang ingin membaca tapi terlanjur malas karena muak dengan kalimat-kalimat payah yang sering ditemukan dalam novel-novel cinta, karena biasanya (berdasarkan pengalaman penulis) pengarang yang menulis novel tentang cinta seringkali menggunakan kalimat-kalimat puitis yang menggelikan. Di novel ini Alessandro menulis ceritanya dengan bahasa yang sederhana, bahkan indah. Mudah dimengerti dan membekas. Tidak terkesan puitis dan melankolis.

Di bawah ini adalah kutipan-kutipan menarik yang terdapat dalam novel Bianca Come Il Latte, Rossa Come Il Sangue.
  • "Aku memilih sendiri teman-temanku. Inilah indahnya pertemanan, sebab kaulah yang memilih mereka dan kau merasa nyaman dengan mereka sebab kau memilih sendiri sesuai keinginanmu."
  • "Guru pengganti memang identik dengan kesialan terbesar di seluruh jagat raya. Pertama : menjadi guru saja sudah merupakan kesialan, apalagi guru pengganti. Kedua : sebab dia hanya cadadangan saja. Hidup macam apa itu, bekerja hanya untuk menggantikan seseorang yang sedang sakit ?"
  • "Kita berbeda dari binatang yang hanya melakukan hal-hal yang disuruhkan alam saja. sebaliknya, kita bebas. Inilah karunia terbesar yang sudah kita terima. Berkat kebebasan ini, kita bisa menjadi seseorang yang berbeda dari diri kita sekarang. 
  • "Kebebasan memampukan kita untuk bermimpi, dan mimpi adalah denyut kehidupan kita, meskipun seringkali membutuhkan perjalanan panjang dan beberapa pukulan."
  • "Kasih yang kuterima. Kasih selalu merupkan utang, dan karena itulah warnanya merah."
  • "Semua hal yang tak kupunyai. Kasih selalu merupakan piutang yang tak akan pernah ibayar lunas."
  • "Malam hari adalah tempat bersarangnya kata-kata."
  • "Mencintai adalah kata kerja, bukan kata benda. Bukan sesuatu yang diciptakan sekali untuk selamanya, tetapi berevolusi, tumbuh, naik, turun, tenggelam.."
  • "Tetaplah mencintai. Kau selalu bisa melakukannya. Mencintai adalah suatu tindakan."
  • "Ada dua kategori orang yang melukai kita, mereka yang membenci kita dan mereka yang mencintai kita."
  • "Kau baru boleh khawatir saat seseorang yang mencintaimu tidak lagi melukaimu, sebab itu artinya dia sudah berhenti mencoba dan kau sudah berhenti peduli."
***

Saturday, December 05, 2015

BUNG!! BUNG!! BUNG FIERSA BESARI


Fiersa Besari adalah seorang musisi independen dari Bandung, dia akrab disapa Bung. Aku termasuk orang yang baru mengenal karyanya karena aku mendengarkan lagu miliknya di akhir tahun 2014. Setahun yang lalu saat aku patah hati dan seorang teman menyarankanku untuk mendengarkan lagu-lagunya. Ketika itu lagu yang paling membekas di hatiku adalah lagu yang berjudul April, salah satu lagu yang terdapat dalam album Tempat Aku Pulang
Bung Fiersa membuat album pertamanya pada tahun 2011, yaitu 11:11, kemudian tahun 2013 membuat mini album Tempat Aku Pulang yang ditambah menjadi empat belas lagu di tahun 2014, dan pada tahun 2015 Bung kembali merilis album Konspirasi Alam Semesta, nama album yang dikira judul buku tentang Geografi oleh bapak.  
Terlepas dari karya-karyanya, aku juga mengidolainya karena dia sangat suka membaca dan peduli pada pendidikan di Indonesia.
Perjalanannya dalam berkarya sangat memotivasi kaum muda. Aku adalah salah satu di antara mereka yang merasa termotivasi oleh kisah-kisah yang ditulis di jejaring sosial miliknya. Termotivasi untuk melakukan hal positif ketika patah hati (hahaha).
Di balik lirik-liriknya yang "ngena banget" dalam album 11:11 dan Tempat Aku Pulang ada patah hati besar yang pernah dialami Bung Fiersa.
Masa-masa galauku ditemani oleh lagu-lagu milik Bung. Lirik-liriknya sangat sesuai dengan perasaanku, menyentuh dan sangat membekas. Beberapa liriknya bahkan kujadikan kutipan dan kutempel di dinding kamarku.
Fiersa Besari sangat mencintai dunia literatur, kebetulan dia lulusan sastra asing. Kata-kata yang ditulisnya selalu menjadi barisan kalimat indah yang digilai banyak pembaca. Kecintaannya pada dunia membaca menghasilkan gagasan untuk mendirikan sebuah klub membaca. Dan itu terealisasi dengan dibentuknya komunitas Pecandu Buku. Pecandu Buku dibentuk oleh Bung pada pertengahan tahun 2015 bersama dua temannya. Saat ini anggota Pecandu Buku tidak hanya berasal dari Bandung tapi dari berbagai wilayah di Indonesia.
Membaca buku adalah bukti betapa hebatnya imajinasi kita membentuk ruang dan waktu. - Pecandu Buku
Sebagai bentuk kepedulian Bung terhadap dunia pendidikan dia bergabung dengan sebuah organisasi yang terjun langsung untuk mengajar di sekolah-sekolah yang terdapat pada daerah  terpencil di wilayah Jawa Barat. 
Mungkin berbagai pengalaman Bung bersentuhan langsung dengan orang-orang dari berbagai latar belakanglah yang membuat sosoknya menjadi rendah hati, menerima perbedaan dengan penuh toleransi. Perjalanan Bung mengelilingi Indonesia mempertemukannya dengan banyak orang yang menginspirasinya untuk berkarya. Bung sendiri melakukan perjalanan tidak untuk sekedar "Jalan-jalan". Dia melakukan perjalanan untuk keluar dari zona nyamannya, menjalani kehidupan yang jauh berbeda dengan apa yang biasa dijalaninya. Cerita-cerita perjalanan Bung ini menjadi bagian lain dari banyak bagian memukau yang kutemukan darinya.
Aku sangat suka caranya berbagi pengalaman, caranya menginspirasi. 
Dari Bung aku paham bahwa kita tidak perlu menjadi milioner untuk peduli pada sesama, tidak perlu mengorbankan nyawa bagi orang banyak untuk dikenang. Lakukan semuanya dengan hati dan jangan menunggu nanti.
Bung Fiersa Besari, aku adalah salah satu bocah dari sekian banyak penggemarmu yang menuliskan nama Fiersa Besari ke daftar sosok menginspirasi hidupku.
Mungkin aku tidak akan sebesar Bung, tapi aku ingin menjalani hidup dengan hal-hal yang positif, termasuk ketika patah hati.


Terimakasih sudah menghadirkan Pecandu Buku, Bung.

This entry was posted in