Wednesday, March 28, 2018

PANJANG UMUR PERJUANGAN

"Saya selalu percaya bahwa bangsa Indonesia punya dua cara untuk menjadikan Indonesia sesuai dengan yang diharapkan. Menuntut perubahan dan menciptakan perubahan. -Pandji Pragiwaksono.
Aku berharap aku bukan satu-satunya anak muda yang terpacu oleh kalimat ini. aku juga setuju bahwa ada dua jenis anak muda di dunia, mereka yang menuntut perubahan dan mereka yang menciptakan perubahan, semoga kita bagian yang kedua.
Hari ini adalah Hari Pahlawan, seperti biasa momentum seperti ini akan menjadi satu hari spesial di mana nasionalisme semua orang ditunjukkan. Walaupun aku tahu mereka hanya akan mengenangnya hari ini. Hanya hari ini, hari berikutnya mereka dilupakan, seolah Indonesia ada dengan sendirinya tanpa ada perjuangan.
Indonesia sudah merdeka, terimakasih para pahlawan, setidaknya aku lahir tanpa iringan meriam dan aroma mesiu.
Tapi lihatlah, kita hanya memiliki kemerdekaan tetapi tidak merasakannya. Merdeka berarti bebas, bebas menentukan masa depan bangsa sendiri. Dan sialnya masa depan bangsa ini memang dipertaruhkan sebebas-bebasnya oleh segelintir orang.
Jadi siapa yang saat ini merdeka ? Rakyat Indonesia atau hanya orang-orang tertentu ?
Aku juga sering merasakan, sebenarnya Indonesia ini yang mana ? Indonesia adalah pulau Jawa. Itu yang aku rasakan selama ini.
Membuatku berpikir bahwa Indonesia adalah di mana kita lahir. Aku lahir di Kalimantan Barat, Indonesia adalah Kalimantan Barat. Padahal pikiran itu salah, tapi terlanjur aku paksakan benar karena kenyataannya semua yang diputuskan di negara ini berpatokan dari kejadian yang terjadi di tanah Jawa.
Ah aku terlalu cemburu.
Keadaan ini pula yang membuatku sadar, bahwa selamanya Indonesiaku (tempatku) akan menjadi seperti ini jika aku hanya menuntut tanpa melakukan apapun.
Perjuangan belum berakhir. Kemerdekaan telah ada, tapi tidak dirasakan semua pihak. Aku selalu teringat sebuah kampung kecil di Kapuas Hulu, namanya Nanga Sungai. Sebuah tempat yang mungkin belum terpetakan di Google map. Desa itu terletak di kecamatan Banua Martinus, sekitar dua jam dari Putussibau, pusat kota Kapuas Hulu.
Nanga sungai merupakan desa yang kecil, tidak lebih dari 50 kepala keluarga tinggal di sana. Sebuah perkampungan Dayak yang tenteram tanpa kemajuan meskipun penduduknya sudah tidak tinggal di rumah betang. Sebuah desa tertinggal yang tiap rumah dikepalai oleh seorang ibu, karena kaum lelaki meninggalkan kampung untuk bekerja di tempat lain.
Tidak ada penerangan di sana, malam hari perkampungan itu sunyi senyap, hanya muncul cahaya-cahaya kecil dari celah rumah papan penduduk, hiburan setiap malam adalah mendengarkan radio. Siaran berita RRI PRO 1 merupakan siaran yang paling sering didengarkan, dalam keheningan malam suara siaran tetangga bahkan dapat terdengar jelas.
Desa ini memiliki rumah sekolah tapi hanya sampai Sekolah Dasar, jenjang berikutnya harus ditempuh di sekolah yang terletak di kecamatan, tidak jauh memang tapi kondisi sekolah di sini sangat memprihatinkan. Muridnya sedikit, dari kelas satu sampai kelas enam jumlahnya tidak lebih dari 20 siswa, dengan guru yang hanya berjumlah tiga orang.
Minat belajar anak-anak di sini tinggi, aku tahu karena aku melihatnya sendiri. Mereka sangat giat belajar tapi sayangnya media belajar mereka sangat terbatas. Sekolah ini kekurangan buku. 
Yang tersedia hanya buku paket, tidak ada buku lain. Mereka rajin ke sekolah, seragam mereka memang tidak rapi tapi mereka sangat berusaha untuk hadir ke sekolah menggunakan seragam yang lengkap. Mereka mengenakan dasi dan topi, sepatu hitam walaupun kaos kaki mereka sudah melorot. Mereka melaksanakan upacara pengibaran bendera tiap hari Senin, dengan jumlah mereka yang sedikit lagu Indoensia Raya benar-benar terdengar seperti lagu yang dinyanyikan sekelompok orang sambil berlari.
Belum genap dua tahun yang lalu aku mengunjungi desa ini. Aku sampai menangis melihat betapa tertinggalnya pembangunan di Nanga Sungai. Mobil tidak bisa masuk ke sini, sepeda motor adalah satu-satunya kendaraan mewah yang bisa kita temui di halaman rumah penduduk. Tapi jangan heran, motor-motor tersebut bernomor kendaraan Malaysia. Karena memang itu adalah motor Malaysia yang dibeli secara ilegal. Produk Malaysia bukan hal yang asing di sini.
Pekerjaan sehari-hari masyarakat di sini adalah bertani, perempuan-perempuan pergi ke ladang setiap hari, pekerjaan mereka adalah menanam padi dan mengurusi anak, sementara suami mereka bekerja di daerah lain dan mereka hanya berkumpul sesekali, biasanya para lelaki akan pulang ketika Natal. Natal adalah satu-satunya hari di mana Nanga Sungai memiliki banyak kaum lelaki.
Nanga sungai adalah wajah lain dari Indonesia, Indonesia yang luas. Indonesia yang sebentar lagi akan menghadapi MEA, bersaing bersama negara-negara tetangga yang sudah siap berlari. Ibaratkan sebuah tim yang mengikuti lomba lari, Indonesia merupakan tim yang memutuskan mengikuti lomba lari karena pelari depan mereka sudah cukup dilatih sementara pelari di belakang masih terluka di sana sini.
Pemerintah daerah tiap tahun menjanjikan akan menyediakan penerangan di kampung ini, tapi sepertinya mereka lupa meletakkan kembali kepala  mereka yang dia fakt terlalu tinggi ketika bicara, sehingga mereka lupa pada hal-hal yang telah keluar dari pikiran kotor mereka.
Tuntutan oleh pihak-pihak yang masih peduli pada nasib kampung ini seolah tidak didengar, mungkin dianggap tidak ada. 
Setelah menghabiskan beberapa hari di nanga sungai dan mendapat kesan bahwa tempat itu memang jauh dari kata maju aku bertanya pada kakek  mengapa mereka tidak menerima industri perkebunan kelapa sawit saja supaya penbangunan di sana dapat dilaksanakan. 
Kita bisa meminta listrik dan perbaikan jalan pada perusahaan yang akan mengubah tanah seluas 12.653 hektar menjadi lahan perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Embaloh Hulu, aku mengungkapkan kalimat itu dihadapan orang yang pernah bersumpah tidak akan menyerahkan barang sejengkal pun tanah Tamambaloh untuk perkebunan kelapa sawit. 
Sore itu tidak akan kulupakan, sebuah sore tenang di rumah betang Balimbis, aku dan kakek menikmati ubi goreng buatan bibi dan kakek menjawab ucapanku dengan kalimat pendek, "kita masih bisa hidup tanpa mengadaikan masa depan anak cucu kita, tong".
Kalimat kakek sangat membekas di hatiku sampai saat ini. Kalimat yang menyadarkanku bahwa perubahan memang perlu tapi tidak perlu jika harus mengorbankan masa depan generasi berikutnya.
Kalau begitu kapan Nanga Sungai akan berubah, kapan akan ada listrik di sana, kapan aku melihat anak-anak membaca buku tentang cerita rakyat daerah di perpustakaan sekolah ? Kapan aku melihat sebuah keluarga utuh dengan ayah dan ibu yang lengkap ? Kapan orang-orang ini bisa menyaksikan siaran televisi sepuasnya tanpa takut listrik tiba-tiba padam karena mesinnya kehabisan bensin ? Kapan orang-orang ini bisa merasakan menjadi orang Indonesia yang merdeka ?
Kapan-kapan.
Intinya, Nanga Sungai tidak akan berubah hanya karena satu anak menuliskan betapa tertinggalnya kampung itu. 
Perubahan hanya akan terjadi jika ada yang melakukannya. Apa yang bisa kulakukan selain mengajar anak-anak semangat itu ketika aku datang ke sana ? Aku sadar perjuangan masih panjang. Aku berharap semesta berpihak padaku dan pada orang-orang baik lainnya yang masih peduli pada Nanga Sungai dan pada hal-hal yang terabaikan dan terlantar.
Kalimat Pandji Pragiwkasono bukan sekedar kalimat biasa bagiku. Saat ini aku hanya seorang mahasiswi hukum yang bahkan merasa salah jurusan, tapi aku dengan sangat sadar ingin menjadi orang kecil yang melakukan perubahan. Anak-anak SD di Nanga Sungai membuatku bersyukur setidaknya aku bisa bersekolah dan mengecap pendidikan yang layak serta bisa belajar tanpa batas.
Wajah mereka sangat polos ketika aku datang ke SDN 10 Nanga Sungai, tanpa malu-malu mereka memintaku mengajari mereka berbahasa Inggris, aku mengajari mereka dengan perasaan campur aduk, kadang lucu, kadang kesal, kadang kasihan, dan mereka terperangah ketika aku mengajak mereka belajar sejarah dan untuk menyemangati mereka aku menceritakan sosok gubernur pertama Kalimantan Barat yang merupakan orang Dayak. Orang yang berasal dari sebuah kampung kecil lainnya di wilayah Mendalam. Aku meminta mereka menyebutkan cita-cita mereka. Ada yang ingin menjadi camat, ada yang ingin menjadi guru, ada yang ingin menjadi petani yang kaya. Hahaha mereka benar-benar polos.
Ketika aku meminta mereka bertanya salah seorang mengacugkan jari dan dengan polosnya bertanya, "Kak Rani, Pontianak itu seperti apa ?" 
Tidak seorangpun di antara mereka pernah pergi ke Pontianak, lalu aku memperlihatkan beberapa foto di hpku. Ketika aku perlihatkan beberapa foto di handphone ku mereka berdecak kagum. "Waaaaw Pontianak terang ya." Ah adik-adikku, Jakarta sepuluh kali lebih terang dari Pontianak.
Aku tidak akan lupa pada mereka, pada senyum ramah ibu-ibu di Nanga Sungai, pada suara jangkrik di sore hari menjelang malam, pada suara radio RRI PRO 1, aku tidak akan lupa pada kalimat Pandji Pragiwaksono itu. Banyak hal yang harus diperjuangkan, banyak hal yang harus diperbaiki. Perubahan hanya akan terjadi jika ada yang berbuat. 

Selamat hari pahlawan. Panjang umur perjuangan.

(Tulisan saya di tahun 2015).


This entry was posted in