Wednesday, October 28, 2015

(SOEMPAH) PEMUDA



Selamat sumpah pemuda, Indonesia!!
Maafkan fotonya yang tidak nyambung sama tulisan ini. Harusnya menggunakan foto yang sedang menggambarkan suasana sumpah pemuda dong Clau, seperti foto berorasi di bundaran bambu runcing. Hahaha. Foto ini ajalah, suka-suka yang punya blog kan. 
Jadi hari ini adalah hari Rabu, tanggal 28 Oktober 2015 dan ini adalah hari Sumpah Pemuda. Aku sengaja memosting sebuah foto ketika aku sedang menggunakan kebaya di Instagram, ya kali aja ada yang ngirain aku baru selesai upacara gitu pakai kebaya segala macem. Hahaha. Padahal itu foto seminggu lalu waktu acara nikahan tante.
*garing, hening seketika*.

Sebagai mahasiswa yang tidak aktif di kampus aku tidak punya agenda apa-apa untuk mengenang hari bersejarah ini. Aku (seperti biasa) diam di rumah dan menyaksikan eforia teman-teman di seberang sana melalui televisi, mereka banyak melakukan aksi protes mengkritisi hal-hal yang dianggap salah pada negeri ini.
Di sini, aku tahu dari salah satu temanku bahwa akan ada aksi juga dari teman-teman mahasiswa. Entah apa yang mereka tuntut aku tidak tahu, dan tidak mau tahu.
Inilah mental pemuda masa kini. Tidak mau tahu. Mungkin tulisan ini bisa mewakili kalangan muda lainnya yang tidak mau tahu pada keresahan teman-teman seperjuangan mereka. Sebenarnya aku memilih tidak mau tahu. Kenapa ? Karena aku tidak setuju dengan cara itu.
Lalu apa cara yang tepat Clau ? Entahlah, aku belum tahu. Sebenarnya aku belum pernah mencoba salah satu carapun. Hehhe (lalu aku dibakar).
Begini, sebelumnya aku minta maaf karena aku sejujurnya tidak pernah melakukan aksi apa-apa untuk menunjukkan bahwa aku pemuda yang peduli, kenyataannya aku tidak peduli.
Karena itu, baiklah tulisan ini dinamai coretan mahasiswa yang tidak pernah demonstrasi. Hahaha.
Yang mau kutulis juga apa.
Ada beberapa teman yang kerap turun ke jalan untuk melakukan aksi ketika sedang ada moment-moment tertentu. Lalu menjadi orang masa bodoh ketika moment itu telah berlalu. Banyak dari mereka yang turun ke jalan tidak tahu menahu tentang apa yang sedang mereka suarakan. Dan itu seperti sebuah tamparan keras, mungkin sama memalukannya dengan menggunakan baju tidur untuk menghadiri sebuah pesta pernikahan.
Aku hanya prihatin melihat teman-teman yang biasanya teler di kantin kampus karena kebanyakan minum arak menjadi keras mengaum ketika melakukan aksi pada hari-hari tertentu (hari besar, bersejarah). Mereka berbicara keras menggunakan pengeras suara, mengkritik ini, menuntut itu. Lalu besoknya mereka lupa pada apa yang mereka teriakan di jalan, mereka lupa pada kalimat-kalimat yang mereka ucapkan. Kemudian ketika ada moment lain, mereka melakukannya lagi. Turun ke jalan dan berteriak-teriak, beramai-ramai menyerukan perubahan dan menuntut hak. Kadang membuat macet dan kesal pengguna jalan yang lain. Ah sudahlah. Perubahan apa yang akan tercipta dari kepala-kepala mabuk ? 
Tapi, ah sudahlah. Mereka hanya mencoba menjadi lebih peduli.
Banyak hal yang kurasa sangat menggelitik terjadi di kampus. Teman-teman yang protes diam-diam pada aturan kampus yang dirasa tidak masuk akal padahal mereka bisa menyampaikan ketidaksetujuan mereka dengan cara yang lebih masuk akal, lebih terpelajar. Contohnya aku punya teman yang berambut gondrong. Lalu kampusnya mengeluarkan aturan agar mahasiswa berambut gondrong segera merapikan rambut, jika masih ada mahasiswa berambut gondrong maka yang bersangkutan tidak diperkenankan mengikuti kegiatan belajar mengajar. Karena pihak kampus menganggap bahwa mahasiswa yang berpenampilan seperti ini selain merusak nilai estetika juga menujukkan pribadi dan kemampuan belajar yang buruk.
Temanku yang berambut gondrong ini sangat tidak terima dengan aturan yang baru dikeluarkan pihak kampus. Dia kemudian protes. 
Dengan cerdasnya dia menguraikan bahwa rambut gondrong tidak ada hubungannya dengan moralitas dan kemampuan belajar. Dia, dengan sangat tajam membuat pernyataan-pernyataan yang mematahkan pendapat pihak kampus tentang mahasiswa gondrong. Lengkap dengan hasil penelitian ini itu, pernyataan tokoh ini dan itu mengenai rambut gondrong. Secara keseluruhan tulisan yang dibuatnya sangat menggambarkan pemikiran yang terkonsep dengan baik, mahasiswa banget, kaum intelektual banget. Sayangnya, dia menuliskan itu pada status jejaring sosialnya lengkap dengan foto bersama teman-teman satu angkatannya yang berambut gondrong. Mereka berfoto bersama, telanjang dada dengan menonggakkan kepala ke atas, memperlihatkan rambut mereka yang panjang. 
Sangat disayangkan, mereka protes dengan berfoto bersama lalu mengoceh di sosial media. Perubahan apa yang mereka dapatkan ? Tidak ada. Aturan kampus tetap berjalan dan mereka potong rambut.
Itu adalah contoh sederhana bagaimana seringnya para mahasiswa yang idealis ini bertindak keliru, atau mungkin juga pikiran mereka yang telah dahulu keliru.
Entahlah.

Aku hanya berpendapat. Benar salahnya tergantung yang membaca.
Intinya ini hari Sumpah Pemuda, hari di mana kita mengingat kembali bagaimana semangat para pejuang kita untuk bersatu. Satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa, Indonesia. Tolong, jangan rusak moment ini.


This entry was posted in