Monday, October 05, 2015

KITA PASTI BERTEMU

Sebelum kalimat-kalimat yang kutuliskan ini menjelma menjadi barisan paragraf aku ingin mengawali tulisan ini dengan ucapan terimakasih.
Terimakasih untuk Jack Dorsey, Biz Stone, dan Evan William. Tanpa mereka Twitter tidak akan ada.
Terimakasih untuk Stand up Comedy Indonesia dan film Comic 8 yang telah mempertemukan kami, secara tak langsung kesukaan kami pada hal yang sama menjadi penyebab mention-mention lucu di pertengahan Maret 2014 itu terjadi. Mention yang berlanjut pada obrolan di DM dan pertukaran pin BBM.
Aku tidak akan lupa bulan Maret, ketika film Comic 8 sedang dipromosikan di twitter dengan gencarnya oleh para pemainnya, yang adalah komik-komik idolaku. Aku tidak akan lupa bulan Maret, di mana semua stasiun televisi menayangkan kondisi Kepulauan Riau yang tertutup kabut asap. Aku tidak akan lupa bulan itu, karena bulan Maret adalah bulan perjumpaan kami.
Aku tidak ingat siapa yang memulai, yang jelas kami adalah orang yang saling mengikuti di Twitter, saling follow. Lalu malam itu ketika aku sedang membaca linimasaku, aku mendapati sebuah tweet aneh yang lucu. Lalu dengan refleks kubalas. Setelah terlibat beberapa kali mention aku mendapati pesan masuk. Seperti perkenalan pada umumnya, kami pun saling tukar pin BBM.
Menyenangkan rasanya ketika kita menemui seseorang yang memiliki banyak kesamaan dengan kita. Kami sepertinya memiliki selera humor yang sama, percakapan dengannya selalu membuatku tertawa. 
Aku bukan orang yang mudah akrab dengan orang lain, kadang kaku, tidak pandai berbasa basi dan terkesan tidak sopan ketika mengobrol. Tapi dengannya obrolan kami seperti tidak berakhir, selalu saja ada hal yang kami bicarakan. 
Dari pembicaraan-pembicaraan itu mulai mengalir banyak cerita, lambat laun kami saling mengenal.
Tidak sepenuhnya mengenal karena kami masih membatasi beberapa obrolan agar sebisa mungkin tidak dibahas, mungkin dia tidak melakukannya. Tapi aku memang membatasi beberapa hal untuk diobrolkan. 
Waktu berlalu dan kami semakin berbagi banyak hal. Tidak hanya berbagi cerita tentang kuliah yang membosankan, kami juga saling curhat tentang seseorang yang sedang kami sukai, kami berbagi semangat agar tidak menyerah karena ternyata kami sama-sama salah jurusan. Aku adalah mahasiswi fakultas hukum dia juga mengambil jurusan itu di salah satu Universitas di Pekanbaru, Riau. Iya dia bukan orang Pontianak. Kami satu angkatan, walaupun dia lebih tua setahun dariku. Kami sebenarnya orang yang malas kuliah, tapi terpaksa harus melakukannya karena kewajiban untuk menyenangkan orangtua.
Kami juga saling menyemangati agar tetap menggenggam impian kami. Mimpi kami sederhana, aku ingin mempunyai sebuah buku yang kutulis sendiri, sedangkan dia ingin menjadi penghibur bagi banyak orang, dia adalah sosok periang yang mudah mengundang tawa. Stand up comedy, itu adalah bagian dari mimpinya. Kami saling mengingatkan agar tidak bosan mencoba mendekati mimpi-mimpi itu.
Aku mulai menganggapnya teman, teman cerita yang artinya teman baik. Jarak bukan lagi suatu masalah, media sosial sangat membatu kami menjadi dekat dan seolah nyata.
Walaupun tidak nyata tapi kehadirannya setiap kali aku perlu pendengar membuatku merasa bahwa dia benar-benar ada. Kadang teman di dunia maya memang lebih asik daripada teman di dunia nyata. Aku mulai menciptakan kehadirannya dalam pikiranku.
Ketika aku jadian dengan seniorku dan obrolan kami tidak seintens yang dulu dia tetap tidak mengabaikanku, aku selalu menghubunginya ketika sedang kecewa dan perlu teman untuk berbagi. Bahkan ketika aku patah hati berkali-kali aku tidak bisa melewati namanya begitu saja untuk kujadikan tempat berkeluh kesah, dia seperti biasa, selalu ada di sana.
Meski sempat beberapa kali kehilangan kontaknya, aku selalu berhasil menemukannya kembali. Tidak masalah aku berganti pin BBM puluhan kali, selagi Twitter masih aktif aku pasti menemukannya.
Aku tidak tahu apa dia memiliki perasaan yang sama padaku. Perasaanku adalah bahwa dia bukan teman di dunia maya, tapi nyata. 
Aku sangat senang bisa mengenalnya, bisa dengan ajaib dan anehnya menjadi dekat dan merasa nyaman dengannya. Dia tidak setampan Avan Jogia, tidak secool Al, tidak keren seperti anak-anak skinny yang selalu bergaya oke bahkan di tengah terik matahari. Dia biasa-biasa saja, foto profil di Twitternya juga tidak menggunakan kamera berlensa mahal, tidak diedit agar jadi sempurna. Dia bukan fotografer, bukan blogger, bukan ilustrator, bukan akademisi, dia adalah lelaki periang yang lucu dan mengerti aku, dia adalah komik idolaku. Dia adalah seorang lelaki yang dengan kesederhanaan dan apa adanya membuatku merasa bahwa aku menemukan orang yang kucari.
Aku ingin dia tahu bahwa ketika dia merasa gagal, merasa kecil di tengah luasnya semesta, merasa ingin menyerah karena ternyata semua hal menyulitkan, dia masih mempunyai satu orang yang selalu berpihak padanya. 
Teruntukmu, yang ada di Pekanbaru, kamu spesial bagiku.
Entah kapan kita bertemu. Tahun depan, dua tahun yang akan datang, sepuluh tahun lagi, atau entah kapan, ketahuilah aku sangat ingin kita bertemu. Sekedar menghabiskan beberapa jam untuk mengobrol, duduk berhadap-hadapan. Aku sangat beruntung karena Tuhan dengan anehnya mempertemukan kita dan semoga rencana Tuhan selanjutnya sesuai dengan doa yang selalu kupanjatkan padanya. Aku ingin bertemu denganmu. 


This entry was posted in