Thursday, September 03, 2015

WHITTY, KELINCI KECIL TUNG


Kenalkan ini Whitty, kelinci kecil yang sekarang sudah besar. Kelinci hadiah Paskah tahun lalu untuk almarhum adek.
Hadiah ini diberikan oleh bos abang untuk Tung, adik kecil kami. Waktu Whitty datang ke rumah, si Tung berusia setahun enam bulan. Karena kondisinya memang tidak sehat dia tidak bisa bermain degan kelincinya.
Setiap pagi Tung hanya melihat kelinci yang ditempatkan di kandang dari luar. Tung yang digendong oleh nenek hanya bisa tertawa melihat kelinci itu meloncat-loncat di kandang.
Kehadiran kelinci itu lumayan meramaikan suasana di rumah. Menambah kerepotan tepatnya, karena setiap hari kandangnya harus bersih dan harus rajin memberi makan. 
Yang bertugas membersihkan kandang adalah bang Mbu, sedangkan aku bertugas membeli makanannya. Makanan Whitty adalah wortel dan kangkung. Sebenarnya aku tidak terlalu suka memelihara binatang karena itu aku hanya mengambil alih tugas membeli makanan sedangkan yang memberi makan adalah mama.
Sebulan sudah Whitty di rumah, sakit Tung semakin parah. Tepatnya di akhir Mei dia harus bolak balik rumah sakit lebih sering dari biasanya untuk check up dan terapi.
Kepanikan dirasakan semua orang di rumah. Ketakutan juga tidak bisa kami sembunyikan lagi ketika dokter yang menanganinya mengatakan bahwa kondisi Tung memang sudah parah. Kami tidak bisa menyembunyikan ketakutan itu, takut kehilangan.
Dua hari sebelum Tung pergi dia masih pergi terapi seperti biasanya, tapi memang keadaannya sudah sangat memperihatinkan. Dia menangis sepanjang perjalanan, ketika mama dan kakak pulang mata mereka terlihat sembab. Tanda bahwa mereka juga menangis. Bahkan di rumah Tung menangis sepanjang hari. Ketika menangis dan diajak melihat Whitty tangisnya reda sebentar, dia nampak terhibur melihat Whitty meloncat-loncat.
Keesokannya suhu badan Tung sangat tinggi, panasnya sampai 45 derajat. Dia tidak mungkin keluar untuk menengok Whitty. Kami menemaninya di kamar, menjaganya agar tidak menangis.
Sampai malam tiba panasnya tidak turun dan mama semakin panik. Bapak juga tidak bisa tenang. Kami semua kalut.
Tengah malam Tung menangis, tangisannya sangat lirih. Badannya panas. Lalu kami memutuskan membawanya ke Rumah Sakit.
Berikutnya adalah jam-jam yang berisi kegelisahan, menit-menit yang dilalui ketakutan.
Kami semua berdoa. Kami tidak putus asa. Masih ada harapan, kami selalu berharap.
Tapi ternyata Tuhan memang kadang tidak adil. 
Dia memanggil Tung, tepatnya tanggal 15 Juni 2014.
.
.
.
.
Sekarang semua bagian rumah dan seluruh isinya merupakan kenangan bersama Tung, termasuk kelinci itu.
Kadang ketika rindu sangat menggebu, tak jarang aku melihat mama menangis sembari memberi makan Whitty.
Aku mengerti. Whitty adalah bagian dari tawa Tung.
Sekarang Whitty bukan sekedar peliharaan, dia adalah kenangan.

This entry was posted in