Thursday, August 27, 2015

SURAT UNTUK GURU IDOLA


Aku yakin semua murid di sekolah pasti mempunyai guru idola. Bisa Karena gurunya tampan atau cantik, humoris, ramah, maupun karena sosok keibuan yang mereka miliki.
Dalam film Laskar Pelangi, Ical dan teman-temannya sangat menyukai sosok Bu Muslimah dan Pak Harfan. Mereka menyukai kedua guru tersebut karena bu Muslimah dan pak Harfan merupakan orang-orang yang berpengaruh besar dalam kelangsungan pendidikan anak-anak di Gantong, tempat Ical dan teman-temannya merajut impian mereka untuk mengecap pendidikan.
Sebagai anak bangsa yang juga pernah merasakan hitam putihnya masa-masa sekolah, aku pun sama; mempunyai sosok guru idola.
Adalah guru Geografi dan wali kelas di tahun pertamaku ketika SMA, namanya pak Paulinus Totong.
Beliau merupakan sosok guru yang sangat ramah. Semangat mengajarnya juga menjadi inspirasiku dalam belajar. Tidak berlebihan rasanya jika kusematkan namanya dalam deretan nama orang-orang yang berpengaruh dalam perkembangan belajarku.
Sebenarnya aku ini bukan anak yang rajin belajar. Sejak duduk di Sekolah Dasar- tamat SMP aku belajar dengan terpaksa, seperti orang mabuk yang jalan sempoyongan, begitulah aku dalam belajar. Terseok-seok, malas-malasan.
Tapi kadang keadaan memang tidak bisa ditawar, seperti semua anak di dunia akupun menjalani hidup yang sama. Menjalankan kehidupan yang diinginkan keluargaku. Rajin belajar itu suatu keharusan, bukan karena keinginanku. Yang tulus ingin aku lakukan adalah membahagiakan orangtuaku, dan rajin belajar adalah salah satu cara yang bisa kulakukan. Jadi cara itu harus berhasil, dan memang berhasil.
Sampai akhirnya aku masuk SMA dan bertemu beliau. Bersamanya belajar tidak lagi membosankan. Dan satu hal yang paling berkesan, yang berhasil mengubah cara pandangku mengenai belajar adalah caranya memberikan pelajaran. Dia mengajar dengan hatinya. Menjadi guru bukan hanya sebuah profesi baginya tapi sebuah tanggung jawab. Caranya menyampaikan materi pembelajaran sangat menarik, seperti mengobrol bersama teman lama, seperti berbicara dengan bapak di rumah. Bersahabat dan berwibawa.
Berbeda dengan guru-guru lain, Pak Paul tidak hanya mengajar tapi mendidik. Memberikan nasihat-nasihat di sela-sela kegiatan belajar, berbagi cerita yang memacu semangat kami, memberikan pengetahuan baru yang selalu menakjubkan.
Aku tidak hanya belajar Geografi darinya. Aku tidak hanya memahami isi bumi dan palung-palung di dasar laut, aku juga belajar mengenai kehidupan. Ya kehidupan, mengenai cara pandang dan tujuan hidup, mengenai kedisiplinan dan tanggung jawab, mengenai tata krama dan etika bermasyarakat. 
Sederhananya didikan dan pengajaran yang diberikannya berhasil membuatku menjadi pribadi yang lebih baik.
Sejak berbagi semangat dengannya pandanganku mengenai belajar berubah menjadi positif. Perlahan-lahan kegiatan belajar mulai kusukai. Bukan karena suatu keharusan lagi tapi karena memang aku ingin. 
Dan pada tahun  terakhir aku menduduki bangku SMA aku mulai merasa sangat dekat dengan mimpi-mimpiku, sudah mulai melihat jalan menuju tujuanku.
Bahkan sampai detik-detik menjelang Ujian Nasional beliau masih berdiri di belakangku, menyokongku dengan semangatnya, menjejaliku dengan bertumpuk-tumpuk kumpulan soal latihan sebagai bekal untuk menghadapi tiga hari keramat itu.
Sungguh, kebaikan seperti ini yang mungkin tidak bisa terbalas. Satu hal yang pasti, aku harus berhasil. Jadi nasihat-nasihat tempo hari yang diberikannya tidak sia-sia. Perjuangan kami tidak nihil. 
Sampai detik ini semangat-semangat yang dibagikannya beberapa tahun lalu masih terasa hangat. Dan sosok beliau sampai sekarang masih sangat erat di hatiku. Sangat berkesan.
Hari ini beliau berulangtahun, doa-doaku sudah kusampaikan secara pribadi di hadapan Tuhan. Yang sangat dan harus Tuhan kabulkan adalah semoga beliau berumur panjang. Dan di masa depan, ketika waktunya tiba, semoga aku tidak hanya memberikan sebuah surat di hari ulangtahunnya. Aku ingin membalas tiga tahun terbaik yang telah kami lalui di SMA Karya Budi.
Aku memang bukan satu-satunya murid beliau, dan beliau bukan satu-satunya guruku. Tapi beliaulah satu-satunya guru yang menghadiahiku sebuah buku dan menghiburku sewaktu patah hati, dan belakangan beliau juga membujukku untuk balikan dengan cinta masa SMA ku. Hahaha. Tidak bisa kusebutkan satu-persatu di sini tentang kebaikan apa yang telah diberikannya sebagai guru padaku, pada kami murid-muridnya.
Selamat ulang tahun pak, terimakasih sudah menjadi pembimbing, orangtua, dan sahabat. Tuhan memberkati.

This entry was posted in