Sunday, August 23, 2015

PAGI YANG SUNYI

Ini mungkin pagi paling kusukai sejak setahun dua bulan aku tinggal di sini.
Pagi tenang tanpa suara televisi yang keras. Pagi hangat tanpa dinginnya jalanan Siantan. Pagi yang segar tanpa debu-debu lantai yang disapu.
Ini pagi terbaik yang kupunya.
Pagi sunyi karena semua orang ke gereja dan hanya aku yang tersisa. Tenang sekali, dan aku sadar betapa ternyata aku merindukan sunyi-sunyi ini.
Sunyi yang waktu itu sengaja ku usir. Betapa ternyata selama ini aku keliru, mengira sunyi itu jahat nyatanya ia adalah teman terbaikku.
Dan pagi ini, ditemani sunyi aku menulis kembali. Aku melakukan hal paling menyenangkan di dunia, dan aku ingin sunyi hadir setiap hari.

Kadang kita sering bosan karena selalu sendirian, merasa jenuh karena melewati hari-hari yang sunyi. Tertawa keras hanya ketika berada di keramaian lalu merasa sepi ketika berada di rumah. 
Aku pernah mengalami itu. Merasa paling terkutuk karena harus mengalami hari-hari sepi karena selalu sendirian di rumah. Menyalakan televisi semalaman hanya untuk membuat suasana kamar ramai, ada yang berisik jadi seolah-olah ada yang menemaniku. 
Aku juga menyalakan lagu keras-keras kadang sampai aku pusing mendengar suara Hayley Williams. Aku berteriak kencang di kamar. Tertawa keras sendirian ketika menonton stand up comedy di kompas TV. Aku juga kesal sendirian ketika sedang sial di kampus atau diteriaki ibu-ibu di jalanan karena membawa motor amburadul. Bahkan menangis sendirian karena rindu keluarga sudah menjadi ritual khususku setiap malam di kamar kecil itu.
Semua bagian rumah ini sudah pernah ku maki. Kadang karena menemukan barang yang ku cari teronggok di sudut ruangan yang padahal sudah kuperiksa tadi tapi tidak kutemukan dan sekarang ketemu ketika aku sudah memeriksanya berkali-kali. Kadang karena aku lupa meletakkan bukuku di mana. Kadang karena aku terantuk di pintu lalu ku maki sepuasnya pintu itu dan ku banting setelahnya.
Ah aku tidak suka sepi dan sunyi atau apa lagi kata yang menggambarkan suasana dan perasaan menyiksa itu.
Sampai akhirnya aku pindah ke sini, bersama bibiku. Dan hidupku tak lagi sama.
Di sini selalu ramai, aku tak pernah sendiri. Tak pernah lagi merasa kesepian sebelum tidur dan disambut sunyi ketika bangun. Mereka sudah jarang menemuiku. Dan aku semakin jarang menulis. Hehe. Karena susah sekali menuliskan sesuatu dari hati dan pikiran ketika suasana selalu ramai, ah kadang bukan hanya ramai tapi meriah. Meriah oleh suara televisi yang keras dan karokean tetangga di sebelah. 
Aku pun mulai bertingkah lagi. Aku mulai merindukan suasana yang dulu. Hiks kalau suasana sepi pasti bisa nulis. Aku sering menggerutu seperti itu.
Kadang aku menulis di dapur, membaca bertumpuk-tumpuk novel di dapur, menjinakkan imajinasiku yang liar di sana. Menyalurkan isi di hati dan pikiranku di meja makan. Ditemani rak-rak piring, gelas-gelas yang tertata rapi, sarbet kotak-kotak yang terlipat, dan rice cooker yang berdampingan dengan laptop.

Ah sekarang aku yang mencari sunyi Dan sepi itu. 
 

0 comments:

Post a Comment