Thursday, August 06, 2015

Batu Akik dan meja-meja dadakan di depan gang


Akhir-akhir ini banyak hal menyebalkan yang ku temui di tepi jalan di depan gang rumahku. Salah satunya meja-meja kecil yang sejak Januari lalu mendadak jadi ramai disinggahi orang-orang bermotor dan bermobil ketika sore hari.
Gang kami adalah gang sempit di mana mobil kesusahan masuk, karena itu ketika ada mobil hendak keluar dan motor hendak masuk maka harus diputuskan kendaraan apakah yang lebih dahulu dipersilahkan lewat. Karena itu kerap kali banyak motor berjejer menunggu giliran masuk gang ketika ada mobil hendak keluar.
Semenjak muncul meja-meja dadakan itu suasana di depan gang semakin menyesakkan. Debu jalanan, motor yang diparkir sembarangan, mobil yang berhenti di tepi jalan, semuanya terlihat berantakan. 
Tambah parah sewaktu bulan puasa, sore hari adalah waktu yang paling ku hindari untuk keluar rumah. Suasana di depan gang itu kacau balau. Meja-meja kecil semakin bertambah banyak, batu Akik itu berbaur dengan aneka gorengan, puding, kue lapis dan minuman-minuman segar. 
Sampai hari ini meja-meja kecil itu masih ada, tapi sekarang jumlahnya berkurang. Dan pengunjung sudah tidak seramai yang dulu. Tidak seperti Januari-Februari -Maret - April- Mei dan Juni yang sudah berlalu.
Sekarang sudah memasuki Agustus. bulan kemerdekaan negara ini. Kabar baiknya logo kemerdekaan kita sudah diubah sekarang, angka 70 tidak saling kait mengait atau bersambungan atau apalah pola logo angka kemerdekaan kita sebelumnya. Angka 70 itu sudah didesain dengan gaya yang baru. Aku juga berharap semoga rakyat ini merdeka dari aneka batu Akik itu.
Mungkin tidak akan ada perubahan besar pada negeri ini, tapi setidaknya jika meja-meja di depan gang itu berkurang, keadaan di depan gang lebih tenang, lebih teratur, atau mungkin akan ada hubungan keluarga yang terselamatkan dari pertengkaran antara suami dan istri yang disebabkan berkurangnya jatah uang belanja istri karena suami doyan membeli batu Akik. Aku juga tidak perlu mengumpat dan memaki orang-orang yang tidak kukenal dan mungkin tidak bersalah hanya karena bebatuan warna-warni yang bisa ku jumpai di jari-jari gendut dosenku atau jari-jari kasar para tukang parkir.