Sunday, August 30, 2015

MINI SHOW STAND UP COMEDY PONTIANAK FUN7ASTIC


FUN7ASTIC adalah mini show persembahan dari Stand up Comedy Pontianak.
Mini show ini menampilkan tujuh komika dengan latar belakang yang berbeda. Berbeda suku, agama, usia, dan jenis kelamin. Ada satu komika bersuku Dayak dan ini seolah menjadi angin segar dalam stand up comedy Pontianak. Kemudian ada seorang komika perempuan yang masih muda dan sangat berbakat.
Ini adalah pertunjukkan yang sangat istimewa menurutku, karena untuk pertama kalinya aku melihat seorang komika mengenakan Rosario dan membacakan Injil di panggung.
Paulus Aan, dia adalah seorang guru yang sedang menjajal kemampuannya di panggung stand up comedy, entah karena kecintaannya pada dunia komedi atau karena dia bosan mengajar. Malam ini dia berhasil membuka mini show ini dengan tawa pecah dari penonton. Tawa yang jelas menjadi nyawa bagi para komika yang akan tampil berikutnya, tawa yang menjadi nyawa bagi acara ini.
Dia berhasil mengemas materinya dengan apik, bit-bitnya tentang suku Dayak sangat menghibur dan jauh dari kesan SARA.
Minoritas berhasil diangkatnya ke permukaan, dan dijadikannya kekuatan. Aku terkesima saat dia membacakan salah satu ayat dari injil, bukan karena aku beragama Katolik, tapi karena ini tidak pernah terpikirkan sama sekali olehku. Kemudian penyampaiannya yang menggunakan bahasa Indonesia sangat mempengaruhi seberapa sering tawaku pecah. Karena jujur saja selama ini aku sedikit terganjal dengan bahasa. Bukan tidak mengerti, tapi jelas rasanya berbeda karena aku tidak tinggal di Kota ini sejak kecil. Dan terimakasih Paulus Aan malam ini kamu menyelamatkanku dari siksaan "bete di awal acara". Ini merupakan kali pertama aku menyaksikan pertunjukanmu, dan sangat tidak mengecewakan, lucu banget.
Pandji Pragiwaksono (komika favoritku) mengatakan bahwa Stand up Comedy itu bukan suatu trend, bukan sesuatu yang sesaat tapi Stand up Comedy adalah sebuah pilihan, sebuah pilihan komedi. Orang Indonesia menjadikan Stand up Comedy sebagai pilihan comedy karena sudah terlalu lama disuguhi dengan komedi yang menonjolkan gerakan dan lelucoan belaka, atau teka-teki jenaka. 
Stand up Comedy hadir sebagai sebuah aliran komedi yang baru di Indonesia. Dan eksistensinya tidak diragukan lagi, ini terbukti dengan banyaknya komunitas-komunitas pencinta Stand up Comedy bermunculan di berbagai daerah di Indonesia.
Untuk membuktikan bahwa Stand up Comedy bukan suatu trend sesaat makan para komika, para penabur tawa ini perlu dukungan dari masyarakat. Caranya sederhana, dukunglah komika lokal di daerah masing-masing. Ini sebagai bentuk loyalitas kita pada Stand up Comedy. Pada tawa yang merdeka.
Di sini kita bebas tertawa, bebas menertawakan diri sendiri, menertawakan kebodohan tanpa malu-malu, tanpa tersinggung, tanpa takut. 
Berbekal pemahaman tentang Stand up Comedy yang sedikit banyak kudapatkan dari buku Merdeka dalam Bercanda karya Pandji maka aku berkomitmen untuk selalu mendukung keberadaan Stand up Comedy, aksi nyatanya adalah mendukung kegiatan para komik lokal.
Ini bukan kali pertamaku menghadiri event-event dari Stand up Comedy Pontianak. Beberapa kali aku pernah menonton pertunjukan mereka sendirian, tanpa teman, karena aku jomblo. Abaikan itu.
Kali ini aku datang sendiri lagi, setelah diledek seorang teman dari komunitas stand up comedy Pekanbaru. "Mending cari teman dulu deh, nonton stand up comedy sendirian nggak enak loh". Tapi penampilan pertama dari Paulus Aan berhasil membuatku merasa nyaman, bahkan semakin antusias untuk menyaksikan pertunjukan berikutnya dari komika favoritku di komunitas ini.
Haris Rayista, dia adalah jagoanku di stand up comedy Pontianak. Hehe. Sejak 2013 sampai hari ini, aku baru menyadari gayanya di foto nggak berubah-ubah. Selalu mengacungkan salam perdamaian, peace. Salam V; Victoria yang artinya kemennangan, di Indonesia dijadikan jargon partai politik;salam dua jari.
Abaikan.
Jadi sejak pindah ke kota ini dan pertama kali menyaksikan performancenya aku langsung tertarik untuk mengikuti pertunjukan berikutnya. Karena itulah aku selalu meminta foto bareng tiap selesai acara. Dan setelah diperhatikan gaya bang Haris nggak berubah sejak dua tahun yang lalu. Hahaha.
Milikilah seorang jagoan dan selalu dukung mereka. Semoga dua komika lucu ini semakin rajin menulis materi dan semakin sering menjajal kemampuan stand up mereka.
Over all acara FUN7ASTIC sangat menghibur, mengocok perut dan membuatku melupakan lapar.
Semoga stand up comedy Pontianak semakin banyak menghasilkan komika lucu. Yang tidak hanya lucu tapi juga bisa membagikan wawasan mereka pada penikmat stand up comedy.


This entry was posted in

Thursday, August 27, 2015

SURAT UNTUK GURU IDOLA


Aku yakin semua murid di sekolah pasti mempunyai guru idola. Bisa Karena gurunya tampan atau cantik, humoris, ramah, maupun karena sosok keibuan yang mereka miliki.
Dalam film Laskar Pelangi, Ical dan teman-temannya sangat menyukai sosok Bu Muslimah dan Pak Harfan. Mereka menyukai kedua guru tersebut karena bu Muslimah dan pak Harfan merupakan orang-orang yang berpengaruh besar dalam kelangsungan pendidikan anak-anak di Gantong, tempat Ical dan teman-temannya merajut impian mereka untuk mengecap pendidikan.
Sebagai anak bangsa yang juga pernah merasakan hitam putihnya masa-masa sekolah, aku pun sama; mempunyai sosok guru idola.
Adalah guru Geografi dan wali kelas di tahun pertamaku ketika SMA, namanya pak Paulinus Totong.
Beliau merupakan sosok guru yang sangat ramah. Semangat mengajarnya juga menjadi inspirasiku dalam belajar. Tidak berlebihan rasanya jika kusematkan namanya dalam deretan nama orang-orang yang berpengaruh dalam perkembangan belajarku.
Sebenarnya aku ini bukan anak yang rajin belajar. Sejak duduk di Sekolah Dasar- tamat SMP aku belajar dengan terpaksa, seperti orang mabuk yang jalan sempoyongan, begitulah aku dalam belajar. Terseok-seok, malas-malasan.
Tapi kadang keadaan memang tidak bisa ditawar, seperti semua anak di dunia akupun menjalani hidup yang sama. Menjalankan kehidupan yang diinginkan keluargaku. Rajin belajar itu suatu keharusan, bukan karena keinginanku. Yang tulus ingin aku lakukan adalah membahagiakan orangtuaku, dan rajin belajar adalah salah satu cara yang bisa kulakukan. Jadi cara itu harus berhasil, dan memang berhasil.
Sampai akhirnya aku masuk SMA dan bertemu beliau. Bersamanya belajar tidak lagi membosankan. Dan satu hal yang paling berkesan, yang berhasil mengubah cara pandangku mengenai belajar adalah caranya memberikan pelajaran. Dia mengajar dengan hatinya. Menjadi guru bukan hanya sebuah profesi baginya tapi sebuah tanggung jawab. Caranya menyampaikan materi pembelajaran sangat menarik, seperti mengobrol bersama teman lama, seperti berbicara dengan bapak di rumah. Bersahabat dan berwibawa.
Berbeda dengan guru-guru lain, Pak Paul tidak hanya mengajar tapi mendidik. Memberikan nasihat-nasihat di sela-sela kegiatan belajar, berbagi cerita yang memacu semangat kami, memberikan pengetahuan baru yang selalu menakjubkan.
Aku tidak hanya belajar Geografi darinya. Aku tidak hanya memahami isi bumi dan palung-palung di dasar laut, aku juga belajar mengenai kehidupan. Ya kehidupan, mengenai cara pandang dan tujuan hidup, mengenai kedisiplinan dan tanggung jawab, mengenai tata krama dan etika bermasyarakat. 
Sederhananya didikan dan pengajaran yang diberikannya berhasil membuatku menjadi pribadi yang lebih baik.
Sejak berbagi semangat dengannya pandanganku mengenai belajar berubah menjadi positif. Perlahan-lahan kegiatan belajar mulai kusukai. Bukan karena suatu keharusan lagi tapi karena memang aku ingin. 
Dan pada tahun  terakhir aku menduduki bangku SMA aku mulai merasa sangat dekat dengan mimpi-mimpiku, sudah mulai melihat jalan menuju tujuanku.
Bahkan sampai detik-detik menjelang Ujian Nasional beliau masih berdiri di belakangku, menyokongku dengan semangatnya, menjejaliku dengan bertumpuk-tumpuk kumpulan soal latihan sebagai bekal untuk menghadapi tiga hari keramat itu.
Sungguh, kebaikan seperti ini yang mungkin tidak bisa terbalas. Satu hal yang pasti, aku harus berhasil. Jadi nasihat-nasihat tempo hari yang diberikannya tidak sia-sia. Perjuangan kami tidak nihil. 
Sampai detik ini semangat-semangat yang dibagikannya beberapa tahun lalu masih terasa hangat. Dan sosok beliau sampai sekarang masih sangat erat di hatiku. Sangat berkesan.
Hari ini beliau berulangtahun, doa-doaku sudah kusampaikan secara pribadi di hadapan Tuhan. Yang sangat dan harus Tuhan kabulkan adalah semoga beliau berumur panjang. Dan di masa depan, ketika waktunya tiba, semoga aku tidak hanya memberikan sebuah surat di hari ulangtahunnya. Aku ingin membalas tiga tahun terbaik yang telah kami lalui di SMA Karya Budi.
Aku memang bukan satu-satunya murid beliau, dan beliau bukan satu-satunya guruku. Tapi beliaulah satu-satunya guru yang menghadiahiku sebuah buku dan menghiburku sewaktu patah hati, dan belakangan beliau juga membujukku untuk balikan dengan cinta masa SMA ku. Hahaha. Tidak bisa kusebutkan satu-persatu di sini tentang kebaikan apa yang telah diberikannya sebagai guru padaku, pada kami murid-muridnya.
Selamat ulang tahun pak, terimakasih sudah menjadi pembimbing, orangtua, dan sahabat. Tuhan memberkati.

This entry was posted in

Tuesday, August 25, 2015

TAHU TAPI TAK TAHU


Apa cuma aku yang begini; menghabiskan banyak waktu untuk tertunduk menatap gadget, punya banyak ide di kepala tapi akhirnya tak satupun yang berhasil tertuang.
Beberapa jam yang lalu aku menonton film Hitman. Sebuah film tentang agen yang sangat menarik. Keren. Bisa deh direkomendasikan untuk ditonton bareng pacar dari pada nonton film mejik hor. 
Tapi ini bukan tentang film itu.
Jadi begini, ada seorang gadis bernama Katia di film ini. Dia adalah anak dari ilmuwan yang membuat program untuk agen, agen yang diciptakannya adalah agen yang mempunyai kekuatan besar, tidak mempunyai hati dan perasaan. Mereka tidak takut apapun. Karena keberadaan agen yang dinilai cukup kuat ini maka ayah Katia pun takut, takut jika kekuatan besar seperti itu digunakan oleh orang jahat untuk tujuan yang jahat pula. Maka dimusnahkanlah program itu.
Tapi sebelumnya, dia telah memprogram anaknya sendiri. Gadis kecilnya, Katia. 
Katia tumbuh menjadi dewasa, keberadaannya diburu oleh orang-orang yang mencari keberadaan ayahnya juga. Katia ini punya kekuatan besar, tapi tak pernah berani menggunakannya. 
Sampai akhirnya dia bertemu Hitman. Dan Katia mulai tahu harus bagaimana.
Satu hal yang sebenarnya ingin kusampaikan (tapi sepertinya gagal karena ini terlalu bertele-tele) Hitman pada satu kesempatan pernah berkata seperti ini pada Katia "Kamu hanyalah gadis kecil yang berbakat, yang tahu punya kekuatan besar tapi tak pernah tahu bagaimana menggunakannya, kamu hanya pecundang". Kurang lebih begitu kalimatnya.
Dan entah kenapa aku merasa seperti Katia saat ini.
Tahu kalau punya bakat, tapi tak tahu cara menggunakannya.
Kita seringkali membiarkan ide-ide di kepala kita hilang begitu saja. Membiarkan ide liar tanpa menuangkannya hanya akan membuat ide itu menjadi hilang.
Ada yang sudah tahu dirinya mempunyai suara yang bagus, sering diminta menyanyi oleh teman-temannya tapi dia tidak pernah berniat mengembangkannya. Dia hanya menyanyi ketika diminta, ketika sedang ingin, tapi tidak pernah lebih dari itu. Tidak pernah berlatih atau bergabung dalam kelompok tertentu.
Ada yang jago mengedit video, membuat gambar vector, sangat handal menulis komposer tapi tidak pernah mengembangkannya. Hanya tahu, cukup tahu, lalu kemudian membiarkan pengetahuan itu mengendap begitu saja.
Kita ini adalah makhluk paling sempurna yang diciptakan Tuhan. Punya akal budi. Itu yang membedakan kita dengan makhluk yang lain, dengan binatang.
Harusnya bakat yang kita miliki tidak membeku begitu saja. Harusnya kita tidak membiarkan anugerah terbaik itu menjadi hal biasa saja.
Berkembanglah, jangan hanya menjaga ide tapi tumbuhkan.
Kalau jago melucu kembangkan, jajallah kemampuan dirimu dengan open mic, menulis materi serajin-rajinnya.
Kalau suka menulis, menulislah sebanyak-banyaknya. Mungkin kamu tidak menjadi penulis yang dikenal senegara tapi setidaknya kamu bisa membaca ceritamu sendiri ketika sudah tua kelak.
Berkembanglah. Apapun bakatmu, apapun idemu saat ini, tuangkanlah. Jangan biarkan mengendap begitu saja.

Sunday, August 23, 2015

PAGI YANG SUNYI

Ini mungkin pagi paling kusukai sejak setahun dua bulan aku tinggal di sini.
Pagi tenang tanpa suara televisi yang keras. Pagi hangat tanpa dinginnya jalanan Siantan. Pagi yang segar tanpa debu-debu lantai yang disapu.
Ini pagi terbaik yang kupunya.
Pagi sunyi karena semua orang ke gereja dan hanya aku yang tersisa. Tenang sekali, dan aku sadar betapa ternyata aku merindukan sunyi-sunyi ini.
Sunyi yang waktu itu sengaja ku usir. Betapa ternyata selama ini aku keliru, mengira sunyi itu jahat nyatanya ia adalah teman terbaikku.
Dan pagi ini, ditemani sunyi aku menulis kembali. Aku melakukan hal paling menyenangkan di dunia, dan aku ingin sunyi hadir setiap hari.

Kadang kita sering bosan karena selalu sendirian, merasa jenuh karena melewati hari-hari yang sunyi. Tertawa keras hanya ketika berada di keramaian lalu merasa sepi ketika berada di rumah. 
Aku pernah mengalami itu. Merasa paling terkutuk karena harus mengalami hari-hari sepi karena selalu sendirian di rumah. Menyalakan televisi semalaman hanya untuk membuat suasana kamar ramai, ada yang berisik jadi seolah-olah ada yang menemaniku. 
Aku juga menyalakan lagu keras-keras kadang sampai aku pusing mendengar suara Hayley Williams. Aku berteriak kencang di kamar. Tertawa keras sendirian ketika menonton stand up comedy di kompas TV. Aku juga kesal sendirian ketika sedang sial di kampus atau diteriaki ibu-ibu di jalanan karena membawa motor amburadul. Bahkan menangis sendirian karena rindu keluarga sudah menjadi ritual khususku setiap malam di kamar kecil itu.
Semua bagian rumah ini sudah pernah ku maki. Kadang karena menemukan barang yang ku cari teronggok di sudut ruangan yang padahal sudah kuperiksa tadi tapi tidak kutemukan dan sekarang ketemu ketika aku sudah memeriksanya berkali-kali. Kadang karena aku lupa meletakkan bukuku di mana. Kadang karena aku terantuk di pintu lalu ku maki sepuasnya pintu itu dan ku banting setelahnya.
Ah aku tidak suka sepi dan sunyi atau apa lagi kata yang menggambarkan suasana dan perasaan menyiksa itu.
Sampai akhirnya aku pindah ke sini, bersama bibiku. Dan hidupku tak lagi sama.
Di sini selalu ramai, aku tak pernah sendiri. Tak pernah lagi merasa kesepian sebelum tidur dan disambut sunyi ketika bangun. Mereka sudah jarang menemuiku. Dan aku semakin jarang menulis. Hehe. Karena susah sekali menuliskan sesuatu dari hati dan pikiran ketika suasana selalu ramai, ah kadang bukan hanya ramai tapi meriah. Meriah oleh suara televisi yang keras dan karokean tetangga di sebelah. 
Aku pun mulai bertingkah lagi. Aku mulai merindukan suasana yang dulu. Hiks kalau suasana sepi pasti bisa nulis. Aku sering menggerutu seperti itu.
Kadang aku menulis di dapur, membaca bertumpuk-tumpuk novel di dapur, menjinakkan imajinasiku yang liar di sana. Menyalurkan isi di hati dan pikiranku di meja makan. Ditemani rak-rak piring, gelas-gelas yang tertata rapi, sarbet kotak-kotak yang terlipat, dan rice cooker yang berdampingan dengan laptop.

Ah sekarang aku yang mencari sunyi Dan sepi itu. 
 

Saturday, August 08, 2015

ANTARA MEA (MASYARAKAT EKONOMI ASEAN) DAN MAHASISWA SALAH JURUSAN

Selamat pagi para mahasiswa salah jurusan. Bagaimana malammu tadi ? apa ada yang mimpi buruk karena berita di televisi lebih horor dari film hantu ?
Akhir-akhir ini pemberitaan di televisi tidak jauh dari berita tentang perekonomian negara ini. Nilai rupiah yang anjlok,harga barang yang semakin naik, sampai tindak kriminal yang meningkat akibat tuntutan hidup.
Hidup mulai terasa tidak asik kalau kita melihat berita, tapi akan kembali asik kalau gebetan kita ngajak ketemuan. Eak.
Bicara mengenai perekonomian negara, ini jelas merupakan sebuah masalah yang butuh penyelesaian secepatnya. Dan sebagi seorang mahasiswa yang salah jurusan dan pemalas maka aku hanya bisa berdoa semoga pemerintah diberi kekuatan untuk menghadapi badai besar ini. Ahhhhkkkkkk jangan baca jangan baca. Itu bercanda. Lupakan.
Jadi gini, akhir tahun ini MEA akan dibuka. Serius ni nggak tau MEA ? Haahhhh ??? Jadi MEA itu adalah singkatan dari Masyarakat Ekonomi Asean, merupakan istilah untuk pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara. 
Dibukanya MEA menyebabkan persaingan di dunia kerja semakin meningkat, terutama profesi khusus. Kita tidak hanya bersaing dengan teman sekantor kita tapi juga dengan orang-orang dari negara tetangga. 
Semua orang harus bisa menunjukkan kemampuannya, profesi-profesi khusus seperti dokter, pengacara dan akuntan akan banyak bersaing dengan orang-orang dari luar negeri.
Ini terdengar seperti kabar buruk bagiku.
Aku adalah seorang mahasiswa salah jurusan, tidak tahu skillnya apa, setiap hari berleha-leha di rumah, tidak tahu menahu tentang organisasi kampus apa lagi kegiatan yang bersangkutan dengan itu. 
Aku mulai galau. Sangat galau. Keresahanku ini kemudian kusampaikan pada abangku. Aku menceritakan padanya ketakutanku menjadi seorang sarjana tanpa keahlian, aku tidak ingin jadi seorang pengangguran. Dan dia menanggapinya dengan ejekan "Makanya tiap hari jangan baca novel,jangan waktunya habis buat autis sama gadget".
Aku cemberut. Lalu berpikir. Benar juga ya.
Aku tahu tantangan di dunia kerja akan besar, dan aku ini bukan Nobita yang punya teman seajaib Doraemon. Tidak ada yang bisa membantuku kalau bukan diriku sendiri. Aku harus berbenah.
Meskipun aku salah jurusan bukan berarti aku ini telah gagal, tidak aku tidak gagal. Aku hanya harus lebih serius menekuni jurusan yang telah kupilih (dengan terpaksa). Kalau ingin unggul di dunia kerja maka aku harus jadi tenaga kerja yang handal. Aku harus jadi sumber daya yang diperhitungkan nantinya sehingga aku tidak akan kalah bersaing dengan orang-orang dari luar itu.
Aku sadar bahwa aku punya tanggung jawab pada oranguta dan keluargaku. Aku tidak ingin jadi pengangguran. Sungguh MEA, hari ini kau telah menjernihkan pikiran seorang mahasiswa salah jurusan. Terimakasih (memeluk televisi).
This entry was posted in

Thursday, August 06, 2015

Batu Akik dan meja-meja dadakan di depan gang


Akhir-akhir ini banyak hal menyebalkan yang ku temui di tepi jalan di depan gang rumahku. Salah satunya meja-meja kecil yang sejak Januari lalu mendadak jadi ramai disinggahi orang-orang bermotor dan bermobil ketika sore hari.
Gang kami adalah gang sempit di mana mobil kesusahan masuk, karena itu ketika ada mobil hendak keluar dan motor hendak masuk maka harus diputuskan kendaraan apakah yang lebih dahulu dipersilahkan lewat. Karena itu kerap kali banyak motor berjejer menunggu giliran masuk gang ketika ada mobil hendak keluar.
Semenjak muncul meja-meja dadakan itu suasana di depan gang semakin menyesakkan. Debu jalanan, motor yang diparkir sembarangan, mobil yang berhenti di tepi jalan, semuanya terlihat berantakan. 
Tambah parah sewaktu bulan puasa, sore hari adalah waktu yang paling ku hindari untuk keluar rumah. Suasana di depan gang itu kacau balau. Meja-meja kecil semakin bertambah banyak, batu Akik itu berbaur dengan aneka gorengan, puding, kue lapis dan minuman-minuman segar. 
Sampai hari ini meja-meja kecil itu masih ada, tapi sekarang jumlahnya berkurang. Dan pengunjung sudah tidak seramai yang dulu. Tidak seperti Januari-Februari -Maret - April- Mei dan Juni yang sudah berlalu.
Sekarang sudah memasuki Agustus. bulan kemerdekaan negara ini. Kabar baiknya logo kemerdekaan kita sudah diubah sekarang, angka 70 tidak saling kait mengait atau bersambungan atau apalah pola logo angka kemerdekaan kita sebelumnya. Angka 70 itu sudah didesain dengan gaya yang baru. Aku juga berharap semoga rakyat ini merdeka dari aneka batu Akik itu.
Mungkin tidak akan ada perubahan besar pada negeri ini, tapi setidaknya jika meja-meja di depan gang itu berkurang, keadaan di depan gang lebih tenang, lebih teratur, atau mungkin akan ada hubungan keluarga yang terselamatkan dari pertengkaran antara suami dan istri yang disebabkan berkurangnya jatah uang belanja istri karena suami doyan membeli batu Akik. Aku juga tidak perlu mengumpat dan memaki orang-orang yang tidak kukenal dan mungkin tidak bersalah hanya karena bebatuan warna-warni yang bisa ku jumpai di jari-jari gendut dosenku atau jari-jari kasar para tukang parkir.

Sunday, August 02, 2015

SEBIRU LANGIT PAGI

 
Langit biru, awan luas, cahaya mentari yang hangat. Selamat pagi dunia. 
Selalu ada harapan baru dibalik langit biru. Warna biru yang selalu mengingatkanku untuk mengucap syukur karena pagi masih bisa kujelang. Warna biru yang selalu memberiku semangat dari keputusasaan semalam suntuk, kegelisahaan karena tak berhasil menyelesaikan tumpukan draft di laptop ku, warna biru yang luas, seluas impian-impian yang sampai detik ini kuperjuangkan. Impian yang kadang seolah lenyap seiring tenggelamnya matahari, rencana-rencana yang pupus seiring berlalunya senja, menggiring gelisah lain sepanjang malam yang berakhir dengan jari-jari kaku di keyboard laptop, lalu pikiran kosong pun menari liar memanggil kantuk di subuh buta. Kemudian lelap dalam kehampaan. Dan untungnya, pagi selalu datang, menyapaku dengan birunya yang luas. Lembut. Seolah merengkuhku agar aku bangun dan memulai lagi dari awal, meski kadang yang ku ulangi tak lain adalah kegagalan dan berujung kesia-siaan. Dia selalu menawarkan kelembutannya, dan dengan ikhlas penuh merelakan mimpi-mimpiku ku tuliskan di sana, ya di langit biru itu. Menggantung dan selalu terlihat oleh mataku ketika aku menatap ke atas. Dia tinggi, luas, lembut, dia biru, seperti mimpi-mimpiku.
Selalu ada harapan saat aku menatap biru.
Selalu ada kesempatan ketika aku menjumpai biru.
Biru terang di langit luas. Biru lembut yang selalu menawarkan ketenangan, biru langit tempatku menggantungkan cita-cita, impian, dan semua bagian terkecil dari rencana kehidupanku. Di sana, di langit berwarna biru itu, biru yang selalu datang setiap hari, menyapa ramah di tiap pagiku. Aku tahu, kau akan menjumpaiku besok, lagi dan lagi, setiap hari.