Wednesday, July 22, 2015

SAMPAI SAATNYA



Aku mengecilkan volume televisi saat pintu kamarku digedor. Suara bapak memanggilku dari luar, buru-buru kuperbaiki posisi dudukku. Lalu kupersilahkan masuk, ku tarik nafasku dalam-dalam, aku menatap wajahnya dan sebisa mungkin mencoba berbicara dengan wajar, tidak seperti orang yang baru menangis. "Semuanya baik-baik saja nak" suaranya yang berat seolah memelukku. ku gigit bibirku, menahan nyeri yang tiba-tiba menjalar di bagian dadaku saat mendengar suaranya. "iya pak, jangan khawatir, semuanya pasti baik-baik saja" aku berharap kalimat itu bisa membuatnya sedikit tenang. Kami adalah dua orang yang berusaha saling menenangkan saat ini. 
"Kamu tidak seharusnya berbicara seperti itu pada nenekmu, maksudnya baik nak" seperti biasa kalimat itu yang selalu diucapkannya setiap kali aku mengadu tentang perkataan nenek yang menyudutkannya. nenek yang selalu membandingkan bapak dengan menantu-menantunya yang lain. Nenek yang selalu menganggap bahwa bapak menyebabkan mama menderita karena gajinya tidak cukup untuk membayar tagihan bulanan kami sehingga mama harus bekerja juga. Bapak selalu menganggap nenek bermaksud baik tiap kali nenek mempermalukannya di depan menantunya yang lain, sikap yang kadang membuatku jengkel pada bapak. Bagaimana bisa dia membiarkan harga dirinya diijank-injak begitu saja.
Setiap Lebaran tiba saudara-saudara mama pulang kampung, merayakan Lebaran bersama nenek dan kakek di rumah yang kami huni bersama, rumah petak sederhana yang sudah diubah menjadi rumah berlantai dua, rumah yang selalu terasa sesak, bukan karena penuh oleh barang-barang tetapi terasa sesak oleh ocehan-ocehan nenek, oleh umpatan-umpatan kasarnya tentang perkerjaan bapak yang gajinya kecil, tentang ketidakmampuan bapak menyekolahkan kak Lis ke Melbourne padahal kakak lulus tes di salah satu perguruan tinggi ternama di sana. Dan setiap Lebaran juga nenek selalu mengeluarkan kalimat sindiran lebih panjang dari biasanya, karena Lebaran adalah kesempatan berkumpul bersama keluarga yang membuat kami jadi lebih sering duduk di ruang keluarga bersama-sama sambil minum es kopyor buatan kak Lis atau makan malam bersama, dan selalu selalu selalu nenek mempermalukan bapak. Seolah-olah pandangan sendu bapak adalah kemenangan baginya, dan aku selalu menangis ke belakang tiap kali menatap mata bapak, kadang aku mengurung diri dalam kamar mandi agar isak tangisku tidak terdengar oleh mereka, oleh sepupu-sepupuku yang selalu nampak bahagia dengan orangtua yang kerap kali disanjung dan dipuji nenek.
Nenek selalu menganggap remeh semua usaha bapak, kadang aku merasa nenek menganggap bapak seperti sampah, tidak berarti apa-apa di matanya, aku selalu marah tiap mendengar perkataan kasar nenek tentang bapak, aku menangis dan aku tidak bisa apa-apa, aku hanyalah gadis kecil di matanya. Aku hanya seorang bocah kecil yang tertidur dipangkuannya karena orangtuaku sibuk bekerja dan usaha mereka selalu nihil dimatanya. "bapak sama ibumu itu loh, kerja siang malam tapi cicilan di bank ndak lunas-lunas, sama aja ndak kerja" begitu kalimat yang diucapkannya sambil menyiapkan nasi di piringku ketika aku masih SD. Saat itu aku masih terlalu lunak untuk mengerti sebuah sindiran, aku hanya terdiam sambil menatap wajah mamaku yang selalu menunduk di depan nenek dan kakek, wajah penurut. Sampai aku beranjak dewasa kalimat-kalimat kasar berisi sindiran selalu terlontar dari mulutnya, dan orang-orang di rumah seolah tidak ada yang mendengarnya. Kakek tidak pernah memarahinya, mama juga tidak pernah membantah semua kalimat kasarnya, kak Lis lebih memilih mengurung diri di kamar tiap kali nenek mulai mengoceh, apa lagi bapak, dia hanya duduk diam mendengar ocehan-ocehan kasar itu sampai selesai. Hanya aku yang merasa protes dengan kalimat-kalimat itu tapi aksi protesku sepertinya hanya hal lucu di mata mereka, tidak ada yang tahu bahwa aku sudah muak, sudah ingin muntah, ingin mengeluarkan semua kemarahan yang ku pendam dari dulu, semua orang di rumah memilih diam dan tidak peduli pada kalimat-kalimat kasar nenek bahkan ketika anak-anaknya yang bekerja di luar kota pulang dan dia mulai meracau, mereka tidak menggubrisnya sama sekali dan menganggap itu hanya kebiasaan nenek. "Ah kamu kayak nggak kenal nenekmu Ta, kan nenek memang begitu kalau ngomong" itulah kalimat tepanjang mereka selain "Ah biarin aja" atau "udah lah Ta" atau "Haha nenek kan memang gitu" tiap kali aku menangis di kamar karena nenek baru saja menjelek-jelekkan bapak di depan saudara-saudara mama. Semua orang mengabaikan kalimat-kalimat kasar itu, iya mereka tidak akan sakit hati karena bukan mereka yang disindir nenek, mereka tidak akan sakit hati karena mereka tidak pernah mendengar ada orang menjelek-jelekkan kakek di depan mereka. Tidak ada yang memarahi nenek karena mereka adalah orang yang sangat menghormati orangtuanya, yang mungkin dunia akan kiamat jika mereka menentang satu kalimat dari ibunya. Aku mulai merasa tidak ingin menjadi tua dan menghabiskan sisa hidupku dalam keluarga ini.
Kadang aku merasa aku sama sekali tidak diberi pilihan dalam hidupku. Aku seolah tau masa depanku bagaimana, kehidupan seperti apa yang akan kujalani nanti. Aku tahu bahwa aku akan jadi penghuni abadi rumah ini karena nenek dan kakek telah menjadikanku sebagai ahli waris. Aku tahu nenek dan kakek sangat menyayangiku, lebih dari yang anak-anaknya tahu. Karena akulah satu-satunya cucu yang dijaganya sedari kecil sampai sekarang, sedari plasentaku belum kering dan terlepas sampai aku beranjak dewasa dan duduk di bangku kuliah, sedari aku masih belum paham maksud kalimat-kalimat kasarnya yang tertuju untuk bapak sampai aku tahu bagaimana rasanya sakit hati menyaksikan orang yang kita sayang hanya diam menunduk ketika harga dirinya dijatuhkan, diam tanpa melakukan perlawanan apa-apa bahkan saat seseorang menganggapnya kotoran. Aku muak dengan semuanya, dengan sikap diam keluargaku, dengan sikap patuh bapak dan mama, dengan sikap kasar nenek- orang yang kuanggap malaikat. Aku ingin lepas dari mereka.
Aku kecewa.
Suara deheman bapak membuyarkan lamunanku, dengan cepat kucoba menyusun kalimat-kalimat yang tenggelam dalam pikiranku tadi.
"Baik gimana pak ? makin hari nenek ngomongnya makin ngawur, masa dia bilang bapak buat mama menderita, aku tahu selama ini bapak udah usaha keras untuk kita, lagian suami mana yang mau melihat istrinya menderita." aku mulai lupa pada rasa bersalahku karena telah meninggalkan meja makan dan membanting pintu kamar di depan nenek tadi. "Kamu seperti tidak kenal nenekmu saja, bapak kira kamu yang paling mengerti nenekmu nak, kamu itu dari kecil diasuh nenek jadi tidak boleh membantahnya, apa lagi berbuat kasar padanya."
"Tapi pak, kalimat nenek yang tadi membuat aku merasa sangat terpukul, aku sudah sering mendengarnya mengucapkan kalimat kasar tapi tidak pernah sekasar yang tadi" Aku sudah tidak sanggup menahan air mataku, aku menangis. "Kenapa bapak selalu diam tiap kali nenek mengucapkan kalimat kasar ? apa bapak tidak pernah sakit hati ? bapak tidak pernah merasa malu ?". Aku mengucapkan kalimat itu sambil mengingat ucapan nenek tadi siang sewaktu kami makan siang, sebelum aku meninggalkan meja makan lalu membanting pintu kamarku dan dia pingsan karena serangan jantung. "Kalian itu bukan apa-apa kalau tidak ada saya dan kakek, bapak kamu itu tidak mampu menghidupi kalian kalau kami tidak ada" itu kalimat yang dilontarkannya di depan kami semuanya, di depan kakek, bapak dan mama, kak Lis, saudara-saudara mama, ipar mama dan bapak, sepupu-sepupuku, semua memandang bapak dan aku melihat air mata di sudut matanya, air mata yang dibendungnya agar tak tumpah di depan kami. Dan itu membuatku tak tahan, aku menikamkan garpuku tepat mengenai permukaan meja di depannya, tanpa kalimat apa-apa aku beranjak meninggalkan meja makan itu, meninggalkan tatapan terkejut semua orang di ruang makan, orang-orang yang adalah keluargaku, yang selalu membuatku merasa hangat dan tenang tapi kadang membuatku merasa tak punya pilihan akan kehidupanku. Aku menyayangi nenek tapi aku juga sangat menyayangi bapakku. 
Bapak memelukku, dan untuk pertama kalinya sepanjang hidupku aku melihat bapak menangis. "Tatah, suatu saat kamu pasti mengerti. Hidup ini pilihan, bapak sudah memilih mama untuk jadi istri bapak, termasuk orangtua mama untuk menjadi orangtua bapak juga, tidak ada alasan untuk sakit hati pada ucapan nenekmu". Aku terperangah, harusnya aku tidak terkejut dengan jawaban bapak, bukankah aku sudah menyadari bahwa rumah ini isinya adalah orang-orang yang taat pada perkataan orangtua, mereka semua di sini adalah orang-orang yang patuh, yang tidak akan melawan sekalipun harga dirinya diinjak-injak karena yang melakukannya adalah orangtuanya. Yah, aku tahu bahwa aku satu-satunya orang yang keras kepala di sini. "Kalau hidup ini pilihan, mengapa aku tidak bisa memilih pak ? aku tidak ingin menghabiskan umurku di sini, di rumah ini". Aku menangis semakin keras menyadari bahwa sekarang aku mulai membenci hidupku, hidup yang mungkin dimimpikan semua anak yatim piatu di dunia, hidup bersama keluarga yang saling menjaga satu sama lain, begitulah orang memandang keluarga kami. Keluarga yang saling melindungi, keluarga yang saling mengasihi, keluarga yang berdiri atas rasa saling percaya, saling memberi, saling berbagi, keluarga yang selalu menjadi panutan di lingkungan masyarakat dan selalu membuat terkesan keluarga yang lain. Yah memang, hanya di keluargakulah seorang mertua tahu persis berapa gaji menantunya.
Bapak melepaskan pelukannya, aku segera membuat jarak di antara kami. Sekarang aku dapat melihat kerutan-kerutan pada bagian wajahnya, bapak mulai menua, aku selalu terpukul menyadari bahwa kami semakin jarang mengobrol sekarang. Sudah tidak ada PR yang bisa kami kerjakan bersama karena tugas kuliahku lebih berat dan aku lebih memilih mengerjakannya sendirian, kami juga semakin jarang menonton bersama karena aku lebih memilih menonton sendirian di kamar, makan malam juga tidak sehangat yang dulu karena aku lebih sering bersikap dingin akibat ocehan-ocehan nenek yang tidak pernah berujung. Saat menatap wajahnya aku merindukan masa kecilku, merindukan hal-hal yang pernah kami lakukan bersama di sini,  di rumah yang sekarang terasa bagaikan neraka nyata bagiku. Hening mengisi kamarku, suara Feni Rose di televisi hanya terdengar seperti suara nging nging, tersamarkan oleh air mata yang seolah keluar melalui telinga, melalui pori-poriku. Bapak menarik tanganku dan menggenggamnya kuat-kuat aku melepaskan pandang darinya. "Ayo kita jenguk nenek ke rumah sakit, semuanya pasti baik-baik saja". Aku mengangguk tanpa memandang wajahnya, wajah ayahku, orang yang paling sabar di dunia."Terimakasih nak" Bapak tersenyum dengan butiran bening di wajahnya, dia orang yang kuat yang pernah kukenal dan sekarang dia menangis di hadapan puteri kecilnya. Aku tersenyum kaku dan mengajaknya keluar. Semuanya akan baik-baik saja, itu yang selalu kami katakan, mantra ajaib kami, aku tahu memang semuanya akan baik-baik saja selagi aku bersama mereka, bersama keluargaku. Dan hari ini untuk pertama kalinya juga aku ingin mati muda, karena aku tahu aku tidak punya pilihan. 


Pontianak, 22 Juli 2015
This entry was posted in