Thursday, July 09, 2015

Ketika Gagal SBMPTN


Congratulation Indonesian. Selamat anak-anak Indonesia yang lulus SBMPTN.
Hari ini adalah pengumuman kelulusan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Banyak yang bahagia karena lulus tapi pasti lebih banyak yang sedih karena gagal. Mungkin saat kalian membaca tulisan ini, kalian sedang berada di pojok kamar, mengurung diri sambil menangis karena ternyata kalian tidak lulus seleksi. Mungkin juga kalian membaca tulisan ini ketika sedang berkumpul bersama keluarga, mendengar ucapan-ucapan syukur dan selamat yang dilontarkan ayah dan ibu, melihat betapa bangganya mereka pada anaknya, atau kalian membaca sambil sibuk membalas pesan-pesan berisi ucapan selamat dari teman-teman. Apapun hasilnya, selamat teman-teman, kalian sudah melalui salah satu hal penting dalam hidup kalian, tahapan yang bagi sebagian orang dijadikan patokan untuk menentukan tujuan hidup selanjutnya.
Akan ke mana sesudah kuliah sudah tergambar sejak kita mengklik pilihan program studi di formulir pendaftaran seleksi SBMPTN. Semua rencana-rencana kita sudah tertata dengan rapinya, rasa optimis sudah memenuhi semua ruang dalam diri kita, bayangan kampus, almamater, suasana penerimaan mahasiswa baru, teman-teman yang berasal dari berbagai daerah, semua hal tentang kuliah sudah sangat jelas di bayangan kita. Sampai akhirnya hari ini tiba, pengumuman SBMPTN, dan ternyata tidak lulus.

Aku tahu bagaimana rasanya kecewa, teman-teman. Bahkan sampai hari ini perasaan itu masih menjadi satu rasa yang membekas di hatiku, kegagalan pertamaku sejak aku mengenal yang namanya kompetensi. Dua tahun yang lalu, tepatnya tahun 2013 aku lulus ujian dengan nilai tertinggi di sekolahku, aku tau bagaimana bangaanya keluargaku, aku andalan kakek dan nenek, sejak dulu keluargaku mendukung habis-habisan semua kegiatanku yang berhubungan dengan pelajaran.

Jadi hasil kelulusan ujianku kemarin mereka anggap sebagai hadiah, sebagai pembuktian pada mereka bahwa tiga tahun masa SMA-ku memang tidak sia-sia. Dengan pembuktian yang telah ada kami sangat optimis bahwa aku pasti bisa masuk perguruan tinggi pilihanku. Waktu SMA aku memang tidak mengikuti SNMPTN, aku mengikuti SBMPTN memilih program studi impianku sejak SMA di salah satu perguruan tinggi negeri Provinsiku. Aku sangat yakin pasti aku lulus, karena aku juga tidak mengalami kesulitan ketika mengisi soal. Tapi ternyata hasilnya sangat mengecewakan. Aku gagal. Aku tidak lulus SBMPTN. Rasanya seperti.... pokoknya aku tidak percaya.

Aku logout lalu login lagi, berkali-kali mengecek dan ternyata tulisannya tetap sama, aku dinyatakan tidak lulus. Aku sangat amat kecewa, menangis sejadi-jadinya, untuk pertama kalinya aku mengalami kegagalan, untuk pertama kalinya aku gagal dalam kompetensi yang selama ini selalu bisa ku menangkan. Aku tidak percaya ini terjadi padaku. Bagimana bisa ? teman-temanku yang memiliki nilai jauh di bawahku bisa lulus sementara aku tidak, aku merasa ini tidak adil.

Hari itu aku merasa jadi manusia tersial di dunia, aku benci dengan hasil SBMPTN, aku benci ternyata aku gagal. Aku benci bahwa aku mengecewakan keluargaku, orangtuaku, mereka yang sangat percaya bahwa aku bisa melakukan ini. Belum lagi komentar dari teman-teman dan guru di sekolahku. Aku malu, aku sangat malu, ternyata aku bodoh. Itulah perasaanku sewaktu mengetahui hasil tesku. Dan aku berdoa "Tuhan tolong jangan biarkan aku mengalami kegagalan seperti ini lagi".
Perasaan paling besar yang aku rasakan adalah rasa kecewa, bersalah, dan malu. Kecewa pada diri sendiri, merasa bersalah pada keluarga dan orang-orang yang sangat mendukungku, serta malu pada teman-temanku.  Hari itu aku merasa bahwa aku orang paling gagal. Aku tenggelam dalam kesedihan, menangisi semua rencana-rencanaku yang ternyata tidak satu pun akan menjadi kenyataan, semua yang tertata rapi secara perlahan jadi berantakan, seperti gelas yang pecah, berhamburan, berserakan, tidak bisa diutuhkan kembali. Aku gagal.
Dua tahun sejak peristiwa itu, sekarang aku sudah menjadi mahasiswi semester 4 di fakultas hukum pada perguruan tinggi yang sama dengan pilihanku sewaktu tes SBMPTN. Aku menjalani masa kuliahku dengan sangat bahagia, aku bertemu teman-teman baru yang sangat asik, aku belajar, menjalani rutinitas sebagai anak kuliahan, aku mempelajari banyak hal, aku memiliki rencana-rencanaku kembali. Satu persatu kepercayaan diriku ku bangun kembali, satu per satu rencana-rencanaku yang sempat berantakan aku susun kembali, aku mulai tahu ke mana arahku setelah ini.

Kalau aku ingat kekecewaanku akibat kegagalan SBMPTN dua tahun yang lalu mungkin aku tidak akan berada di sini. Kalau saat itu aku mengikuti sakit hatiku, mungkin aku tidak akan mencoba tes lagi dan aku tidak akan kuliah di sini, tidak akan bertemu mereka; teman-temanku. Kalau kemarin aku membiarkan rencana-rencanaku hilang begitu saja aku tidak akan seperti ini, menjadi seorang perencana dan pemimpi besar kembali. Teman-teman, jangan menyerah begitu saja, gagal itu biasa (kata orang banyak).

Kita boleh menangis kecewa, merasa sedih karena ternyata kita gagal, tapi jangan biarkan rencana-rencana dan impian kita hilang tertelan perasaan jatuh. Jangan biarkan diri kita terpuruk oleh penyesalan dan perasaan bersalah pada keluarga kita, jangan biarkan kepercayaan diri kita hilang oleh komentar negatif orang-orang di sekeliling kita. Ingat ini, kamu bukan satu-satunya orang yang mengalami ini. Sekarang menangis saja kalau masih ingin menangis, minta maaf pada orang-orang yang mengandalkanmu karena ternyata kamu gagal dan mungkin mereka turut kecewa, berpikir positiflah, ini manusiawi, semua manusia mengalami kegagalan.

Orangtuamu tidak akan menyesalimu, perasaan bersalahmu saja yang terlalu besar, sama dengan perasaan negatifmu pada orang-orang di sekelilingmu, pada teman-teman dan gurumu, kamu terlalu takut dianggap bodoh, padahal gagal itu wajar. Came on guys, inilah hidup, sesuatu yang baik dan buruk akan terjadi. Berpikir positiflah, maafkan diri sendiri, maafkan penyesalan-penyesalan dalam dirimu, pikirkan lagi harapan-harapanmu, rencana-rencanamu, mimpi-mimpimu, kebahagiaanmu.

Jangan menyerah, jangan berhenti di sini saja. Ini memang sangat sulit diterima, tapi mengertilah hal buruk dapat terjadi kapanpun, cepat atau lambat kita akan  mengalami kegagalan, jadikan ini pelajaran. Jadilah orang yang optimis, berpikir positiflah, coba lagi, berusahalah semaksimal mungkin, buat rencana baru, pasti berhasil. Jangan terlalu larut dalam kekecewaan. Karena saat rencana kita gagal, kita hanya perlu mengubah rencana tersebut, bukan menghapusnya.

Semangat, teman-teman. Masih ada tes mandiri, ayo berusaha lebih keras. Dari pada terus-terusan menyesal, lebih baik mulailah menyibukkan diri untuk menghadapi tes berikutnya. Percayalah, hasil tidak pernah mengkhianati proses.
This entry was posted in