Thursday, July 30, 2015

Bukit Saran, Tempat yang Harus Dikunjungi Pendaki di Kalimantan Barat



Akhir-akhir ini wisata alam memang sedang diminati, apalagi semenjak sebuah stasiun tv swasta menayangkan program penjelajahan alam. Well, sekarang ada banyak acara tv tentang petualangan yang menurut saya punya pengaruh besar terhadap minat masyarakat untuk mengenal wisata alam.
Wisata alam itu bermacam-macam, ada yang mendaki bukit, ada yang melakulan penjelajahan di hutan, bermain arung jeram, ada yang pergi ke pantai, menyelam atau sekadar bermain pasir.
Kalimantan menjadi salah satu tujuan liburan orang-orang yang senang petualangan berat. Penjelajahan di hutan untuk menaklukan diri sendiri menjadi alasan kedatangan para turis, Kalimatan memang terkenal dengan hutan belantaranya. Arung jeram di hulu sungai juga menjadi kegiatan yang disenangi.
Tulisan kali ini akan membawa pembaca berpetualang di tengah gagahnya hutan kalimantan, tepatnya adalah Bukit Saran, sebuah bukit yang terletak di Desa Riam, Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.
Salah seorang teman saya mengunjungi tempat ini dan mengabadikannya, hasil jepretannya benar-benar mengagumkan. 

BUKIT SARAN 1741 MDPL


Welcome to heaven. Untuk anak pecinta alam hutan lebat yang masih alami seperti ini adalah surga. Bukit Saran menyajikan panorama hutan tropis yang sangat alami karena memang belum terjamah oleh manusia-manusia bertangan kapitalis. Pohon-pohonnya tinggi berdiri kokoh dengan cabang yang banyak dan dan daun lebat sehingga membentuk kanopi.
Nuansa hijau di mana-mana. Tidak hanya pada dedaunan tapi juga batang-batang dan akar pepohonan yang berwarna hijau karena ditumbuhi lumut.


Perjalanan menuju bukit Saran dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari Desa Riam, sekitar 7-8 jam. Lumayan untuk olahraga kan. Yah namanya juga mendaki. Hahaha. Sepanjang perjalanan akan sering dijumpai sungai-sungai kecil seperti ini.


Untuk yang hobby makroan sebaiknya membawa lensa makro saat mendaki bukit Saran karena dijamin pasti akan bertemu serangga-serangga kecil atau kadal yang mungkin belum pernah ditemui sebelumnya. Seperti foto kadal di bawah ini. Foto ini diambil dengan lensa sigma 17-70 karena temanku tidak membawa lensa makro.


Setelah seharian menyusuri jalanan di tengah hutan maka sampailah di puncak bukit Saran. Haaaa inilah dia. Seperti berada tiga meter di bawah langit. Pohon-pohon seolah menyentuh awan. Beginilah hutan tropis di atas bukit.



Beberapa daerah di Kalimantan Barat menawarkan wisata alam yang tidak kalah menarik dengan wisata alam di daerah luar. Hanya saja belum terekspose karena memang masih sedikit yang menjajaki tempat-tempat menarik di Kalbar. Bukit Saran adalah hiburan sekaligus tantangan, dengan berjalan kaki 7-8 jam maka sensasi petualangannya benar-benar super. Meniti batang kayu untuk menyebrangi sungai kecil sampai beristirahat di bawah batu besar merupakan pengalaman menyatu bersama alam, temanku bilang bahkan alam menyediakan rumah untuk kita. heee.
Dengan melihat foto-foto ekspedisi Bukit Saran dari temanku kerinduanku akan suasana kampung yang hijau dan sejuk sedikit terobati. Yah walaupun tetap ngiri. Hiks. Ekspedisi bukit Saran ini dapat teman-teman lihat di youtube juga loh. Lihat di sini https://www.youtube.com/watch?v=WRyAa8OQBiU 
Dan terimakasih Theofilus Irwan sudah berbagi cerita tentang perjalanannya. Nah untuk teman-teman pecinta alam yang tertantang untuk berpetualang silahkan menjelajahi bukit Saran, untuk teman-teman di Kalbar yang pengen banget foto di puncak, hmmm udah deh nggak usah jauh-jauh, pergi ke Desa Batu di Sintang aja deh, nikmati pemandangan dari puncak bukit Saran. Semoga wisata alam Kalbar lainnya dapat kita nikmati seperti ini juga ya. Tidak hanya dinikmati oleh pengunjungnya tapi oleh teman-teman yang belum pergi ke sana, jadi siapkan kamera dan berpetualanglah.
This entry was posted in

Sunday, July 26, 2015

Harapan

"Bapa, aku pernah berada di sini bersama mereka. Bersama ayah, ibu, dan kakak. Aku mohon padamu, suatu saat nanti perkenankan kami berkumpul kembali, bersama-sama seperti dulu di sini, di hadapanmu. Amin."

Dan untuk yang kesekian kalinya air mataku jatuh tiap kali berdoa di sini, untuk kesekian kalinya aku merindukan masa kecilku. Aku rindu keluargaku.


27 Juli 2015.
This entry was posted in

Wednesday, July 22, 2015

SAMPAI SAATNYA



Aku mengecilkan volume televisi saat pintu kamarku digedor. Suara bapak memanggilku dari luar, buru-buru kuperbaiki posisi dudukku. Lalu kupersilahkan masuk, ku tarik nafasku dalam-dalam, aku menatap wajahnya dan sebisa mungkin mencoba berbicara dengan wajar, tidak seperti orang yang baru menangis. "Semuanya baik-baik saja nak" suaranya yang berat seolah memelukku. ku gigit bibirku, menahan nyeri yang tiba-tiba menjalar di bagian dadaku saat mendengar suaranya. "iya pak, jangan khawatir, semuanya pasti baik-baik saja" aku berharap kalimat itu bisa membuatnya sedikit tenang. Kami adalah dua orang yang berusaha saling menenangkan saat ini. 
"Kamu tidak seharusnya berbicara seperti itu pada nenekmu, maksudnya baik nak" seperti biasa kalimat itu yang selalu diucapkannya setiap kali aku mengadu tentang perkataan nenek yang menyudutkannya. nenek yang selalu membandingkan bapak dengan menantu-menantunya yang lain. Nenek yang selalu menganggap bahwa bapak menyebabkan mama menderita karena gajinya tidak cukup untuk membayar tagihan bulanan kami sehingga mama harus bekerja juga. Bapak selalu menganggap nenek bermaksud baik tiap kali nenek mempermalukannya di depan menantunya yang lain, sikap yang kadang membuatku jengkel pada bapak. Bagaimana bisa dia membiarkan harga dirinya diijank-injak begitu saja.
Setiap Lebaran tiba saudara-saudara mama pulang kampung, merayakan Lebaran bersama nenek dan kakek di rumah yang kami huni bersama, rumah petak sederhana yang sudah diubah menjadi rumah berlantai dua, rumah yang selalu terasa sesak, bukan karena penuh oleh barang-barang tetapi terasa sesak oleh ocehan-ocehan nenek, oleh umpatan-umpatan kasarnya tentang perkerjaan bapak yang gajinya kecil, tentang ketidakmampuan bapak menyekolahkan kak Lis ke Melbourne padahal kakak lulus tes di salah satu perguruan tinggi ternama di sana. Dan setiap Lebaran juga nenek selalu mengeluarkan kalimat sindiran lebih panjang dari biasanya, karena Lebaran adalah kesempatan berkumpul bersama keluarga yang membuat kami jadi lebih sering duduk di ruang keluarga bersama-sama sambil minum es kopyor buatan kak Lis atau makan malam bersama, dan selalu selalu selalu nenek mempermalukan bapak. Seolah-olah pandangan sendu bapak adalah kemenangan baginya, dan aku selalu menangis ke belakang tiap kali menatap mata bapak, kadang aku mengurung diri dalam kamar mandi agar isak tangisku tidak terdengar oleh mereka, oleh sepupu-sepupuku yang selalu nampak bahagia dengan orangtua yang kerap kali disanjung dan dipuji nenek.
Nenek selalu menganggap remeh semua usaha bapak, kadang aku merasa nenek menganggap bapak seperti sampah, tidak berarti apa-apa di matanya, aku selalu marah tiap mendengar perkataan kasar nenek tentang bapak, aku menangis dan aku tidak bisa apa-apa, aku hanyalah gadis kecil di matanya. Aku hanya seorang bocah kecil yang tertidur dipangkuannya karena orangtuaku sibuk bekerja dan usaha mereka selalu nihil dimatanya. "bapak sama ibumu itu loh, kerja siang malam tapi cicilan di bank ndak lunas-lunas, sama aja ndak kerja" begitu kalimat yang diucapkannya sambil menyiapkan nasi di piringku ketika aku masih SD. Saat itu aku masih terlalu lunak untuk mengerti sebuah sindiran, aku hanya terdiam sambil menatap wajah mamaku yang selalu menunduk di depan nenek dan kakek, wajah penurut. Sampai aku beranjak dewasa kalimat-kalimat kasar berisi sindiran selalu terlontar dari mulutnya, dan orang-orang di rumah seolah tidak ada yang mendengarnya. Kakek tidak pernah memarahinya, mama juga tidak pernah membantah semua kalimat kasarnya, kak Lis lebih memilih mengurung diri di kamar tiap kali nenek mulai mengoceh, apa lagi bapak, dia hanya duduk diam mendengar ocehan-ocehan kasar itu sampai selesai. Hanya aku yang merasa protes dengan kalimat-kalimat itu tapi aksi protesku sepertinya hanya hal lucu di mata mereka, tidak ada yang tahu bahwa aku sudah muak, sudah ingin muntah, ingin mengeluarkan semua kemarahan yang ku pendam dari dulu, semua orang di rumah memilih diam dan tidak peduli pada kalimat-kalimat kasar nenek bahkan ketika anak-anaknya yang bekerja di luar kota pulang dan dia mulai meracau, mereka tidak menggubrisnya sama sekali dan menganggap itu hanya kebiasaan nenek. "Ah kamu kayak nggak kenal nenekmu Ta, kan nenek memang begitu kalau ngomong" itulah kalimat tepanjang mereka selain "Ah biarin aja" atau "udah lah Ta" atau "Haha nenek kan memang gitu" tiap kali aku menangis di kamar karena nenek baru saja menjelek-jelekkan bapak di depan saudara-saudara mama. Semua orang mengabaikan kalimat-kalimat kasar itu, iya mereka tidak akan sakit hati karena bukan mereka yang disindir nenek, mereka tidak akan sakit hati karena mereka tidak pernah mendengar ada orang menjelek-jelekkan kakek di depan mereka. Tidak ada yang memarahi nenek karena mereka adalah orang yang sangat menghormati orangtuanya, yang mungkin dunia akan kiamat jika mereka menentang satu kalimat dari ibunya. Aku mulai merasa tidak ingin menjadi tua dan menghabiskan sisa hidupku dalam keluarga ini.
Kadang aku merasa aku sama sekali tidak diberi pilihan dalam hidupku. Aku seolah tau masa depanku bagaimana, kehidupan seperti apa yang akan kujalani nanti. Aku tahu bahwa aku akan jadi penghuni abadi rumah ini karena nenek dan kakek telah menjadikanku sebagai ahli waris. Aku tahu nenek dan kakek sangat menyayangiku, lebih dari yang anak-anaknya tahu. Karena akulah satu-satunya cucu yang dijaganya sedari kecil sampai sekarang, sedari plasentaku belum kering dan terlepas sampai aku beranjak dewasa dan duduk di bangku kuliah, sedari aku masih belum paham maksud kalimat-kalimat kasarnya yang tertuju untuk bapak sampai aku tahu bagaimana rasanya sakit hati menyaksikan orang yang kita sayang hanya diam menunduk ketika harga dirinya dijatuhkan, diam tanpa melakukan perlawanan apa-apa bahkan saat seseorang menganggapnya kotoran. Aku muak dengan semuanya, dengan sikap diam keluargaku, dengan sikap patuh bapak dan mama, dengan sikap kasar nenek- orang yang kuanggap malaikat. Aku ingin lepas dari mereka.
Aku kecewa.
Suara deheman bapak membuyarkan lamunanku, dengan cepat kucoba menyusun kalimat-kalimat yang tenggelam dalam pikiranku tadi.
"Baik gimana pak ? makin hari nenek ngomongnya makin ngawur, masa dia bilang bapak buat mama menderita, aku tahu selama ini bapak udah usaha keras untuk kita, lagian suami mana yang mau melihat istrinya menderita." aku mulai lupa pada rasa bersalahku karena telah meninggalkan meja makan dan membanting pintu kamar di depan nenek tadi. "Kamu seperti tidak kenal nenekmu saja, bapak kira kamu yang paling mengerti nenekmu nak, kamu itu dari kecil diasuh nenek jadi tidak boleh membantahnya, apa lagi berbuat kasar padanya."
"Tapi pak, kalimat nenek yang tadi membuat aku merasa sangat terpukul, aku sudah sering mendengarnya mengucapkan kalimat kasar tapi tidak pernah sekasar yang tadi" Aku sudah tidak sanggup menahan air mataku, aku menangis. "Kenapa bapak selalu diam tiap kali nenek mengucapkan kalimat kasar ? apa bapak tidak pernah sakit hati ? bapak tidak pernah merasa malu ?". Aku mengucapkan kalimat itu sambil mengingat ucapan nenek tadi siang sewaktu kami makan siang, sebelum aku meninggalkan meja makan lalu membanting pintu kamarku dan dia pingsan karena serangan jantung. "Kalian itu bukan apa-apa kalau tidak ada saya dan kakek, bapak kamu itu tidak mampu menghidupi kalian kalau kami tidak ada" itu kalimat yang dilontarkannya di depan kami semuanya, di depan kakek, bapak dan mama, kak Lis, saudara-saudara mama, ipar mama dan bapak, sepupu-sepupuku, semua memandang bapak dan aku melihat air mata di sudut matanya, air mata yang dibendungnya agar tak tumpah di depan kami. Dan itu membuatku tak tahan, aku menikamkan garpuku tepat mengenai permukaan meja di depannya, tanpa kalimat apa-apa aku beranjak meninggalkan meja makan itu, meninggalkan tatapan terkejut semua orang di ruang makan, orang-orang yang adalah keluargaku, yang selalu membuatku merasa hangat dan tenang tapi kadang membuatku merasa tak punya pilihan akan kehidupanku. Aku menyayangi nenek tapi aku juga sangat menyayangi bapakku. 
Bapak memelukku, dan untuk pertama kalinya sepanjang hidupku aku melihat bapak menangis. "Tatah, suatu saat kamu pasti mengerti. Hidup ini pilihan, bapak sudah memilih mama untuk jadi istri bapak, termasuk orangtua mama untuk menjadi orangtua bapak juga, tidak ada alasan untuk sakit hati pada ucapan nenekmu". Aku terperangah, harusnya aku tidak terkejut dengan jawaban bapak, bukankah aku sudah menyadari bahwa rumah ini isinya adalah orang-orang yang taat pada perkataan orangtua, mereka semua di sini adalah orang-orang yang patuh, yang tidak akan melawan sekalipun harga dirinya diinjak-injak karena yang melakukannya adalah orangtuanya. Yah, aku tahu bahwa aku satu-satunya orang yang keras kepala di sini. "Kalau hidup ini pilihan, mengapa aku tidak bisa memilih pak ? aku tidak ingin menghabiskan umurku di sini, di rumah ini". Aku menangis semakin keras menyadari bahwa sekarang aku mulai membenci hidupku, hidup yang mungkin dimimpikan semua anak yatim piatu di dunia, hidup bersama keluarga yang saling menjaga satu sama lain, begitulah orang memandang keluarga kami. Keluarga yang saling melindungi, keluarga yang saling mengasihi, keluarga yang berdiri atas rasa saling percaya, saling memberi, saling berbagi, keluarga yang selalu menjadi panutan di lingkungan masyarakat dan selalu membuat terkesan keluarga yang lain. Yah memang, hanya di keluargakulah seorang mertua tahu persis berapa gaji menantunya.
Bapak melepaskan pelukannya, aku segera membuat jarak di antara kami. Sekarang aku dapat melihat kerutan-kerutan pada bagian wajahnya, bapak mulai menua, aku selalu terpukul menyadari bahwa kami semakin jarang mengobrol sekarang. Sudah tidak ada PR yang bisa kami kerjakan bersama karena tugas kuliahku lebih berat dan aku lebih memilih mengerjakannya sendirian, kami juga semakin jarang menonton bersama karena aku lebih memilih menonton sendirian di kamar, makan malam juga tidak sehangat yang dulu karena aku lebih sering bersikap dingin akibat ocehan-ocehan nenek yang tidak pernah berujung. Saat menatap wajahnya aku merindukan masa kecilku, merindukan hal-hal yang pernah kami lakukan bersama di sini,  di rumah yang sekarang terasa bagaikan neraka nyata bagiku. Hening mengisi kamarku, suara Feni Rose di televisi hanya terdengar seperti suara nging nging, tersamarkan oleh air mata yang seolah keluar melalui telinga, melalui pori-poriku. Bapak menarik tanganku dan menggenggamnya kuat-kuat aku melepaskan pandang darinya. "Ayo kita jenguk nenek ke rumah sakit, semuanya pasti baik-baik saja". Aku mengangguk tanpa memandang wajahnya, wajah ayahku, orang yang paling sabar di dunia."Terimakasih nak" Bapak tersenyum dengan butiran bening di wajahnya, dia orang yang kuat yang pernah kukenal dan sekarang dia menangis di hadapan puteri kecilnya. Aku tersenyum kaku dan mengajaknya keluar. Semuanya akan baik-baik saja, itu yang selalu kami katakan, mantra ajaib kami, aku tahu memang semuanya akan baik-baik saja selagi aku bersama mereka, bersama keluargaku. Dan hari ini untuk pertama kalinya juga aku ingin mati muda, karena aku tahu aku tidak punya pilihan. 


Pontianak, 22 Juli 2015
This entry was posted in

Saturday, July 11, 2015

Lirik Lagu Ulangan Matematika by Chandra Liow feat Christian Bong, Anantavinnie, Skinnyindonesian24



Lagu See you again yang dibawakan Wiz Khalifa dan Charlie Puth merupakan salah lagu yang muncul dalam film fast and furious 7 dan lagu ini langsung digandrungi oleh banyak kalangan, di Indonesia sendiri lagu ini merupakan lagu yang paling sering diputar sejak film fast and furious 7 tayang. Banyak orang yang menyukainya, tidak hanya musiknya yang membuat pendengar goyang-goyang kepala sambil merem, suara penyanyinya yang sangat merdu dipadu dengan hentakan beat yang sangat epik juga membuat kita benar-benar hanyut dalam lagu ini. Walaupun nggak ngerti artinya (soalnya nggak paham bahasa inggris) tetap aja lagu ini diputar siang malam sebelum tidur dan sesudah bangun hahaha. Karena lagu ini merupakan lagu yang asik dan semua kalangan menyukainya tidak salah lagi keputusan Chandra Liow dan kawan-kawannya untuk membuat parodi lagu See you again.
Kali ini Chandra Liow berkolaborasi dengan Christian Bong, dia sudah beberapa kali ikut kerjasama dalam proyek Chandra Liow, dengan karakter suara yang lembut Christian Bong memang orang yang tepat untuk membawakan lagu ini. Selain itu Chandra Liow juga bekerjasama dengan Ananta Giovanni dan Skinnyindonesian24. Ini merupkana kolaborasi yang sangat menarik, melibatkan youtuber muda yang sedang naik daun dan memang penuh bakat. Sesuai dengan judulnya "Ulangan Matematika" lagu ini memang menceritakan tentang mata pelajaran Matematika (mata pelajaran horor bagi sebagian siswa) yang sering membuat pusing, ulangannya yang bisa membuat stress dan kepala serasa hampir pecah. Dalam lagu ini, Chandra Liow dan kawan-kawan memang berhasil menggambarkan bagaimana menyebalkannya ulangan matematika. Lagu ini diciptakan untuk pelajar-pelajar yang nggak pernah paham sama mata pelajaran Matematika, untuk kita-kita yang selalu merasa dunia jadi tempat membosankan karena satu pelajaran yaitu matematika. Ini lagu untuk kita teman-teman. hahaha. Untuk kesekian kalinya aku jatuh cinta pada karya Chandra Liow, jatuh cinta juga pada suara Christian Bong dan keahlian Ananta Giovanni dalam mengolah musik dan tidak ketinggalan juga semakin cinta pada dua bersaudara kak Jo dan Dovi. Jadi ini dia lirik lagu Ulangan Matematika karya Chandra Liow. Dan jangan lupa menonton sendiri bagaimana kerennya lagu ini di
https://www.youtube.com/watch?v=dLApA4FxGGc


Ulangan Matematika

(Christian Bong)
Matematika bikin kepala pusing tujuh galaksi bikin galau asli
Waktu latihan easy to get done, waktu ulangan otak jadi sariawan
Otak sariawan..
(Chandra Liow)
Gue elo kita pernah sekolah, dari TK sampai SMA ada pelajaran yang semua sekolah punya
Bagi, kali, kurang, tambah, aljabar sampe logika
PR nya bisa gue kerjain begitu juga PS bisa gue selesaiin
Gue jawab yakin, serasa ngebalikin telapak tangan gue dari atas ke bawah
Tapi waktu ulangan dunia terasa berbeda
Dari PR beda latihannya juga beda
Itulah kenapa gua KZL sama
(Christian Bong)
Matematika..
Bikin kepala pusing tujuh keliling rambut sampai keriting
Waktu latihan easy to get done, waktu ulangan otak jadi sariawan
otak sariawan...

(Skinnyindonesian24)
Bahkan waktu gua di kelas, gua lagi malas, ya gua tidur di kelas
Eh ada panggilan maju ke depan gua bisa jawab itu soal latihan
PR 100 latihan 100, gue sampe putus,
cinta gue putus, gue putus asa
Kagak punya fulus untuk ngedate konser tulus
dipake buat bayar ngeles terus biar ulangan lulus

(Chandra Liow)
Tapi waktu ulangan dunia tersa berbeda,
dari pr beda latihannya juga beda,
itulah kenapa gue KZL sama

(Together)
Ini buat semua anak-anak TK, SD, SMP, dan SMA, buat kalian yang KZL sama ulangan matematika
all hands up and we slow selow..
(Christian Bong)
Matematika bikin kepala pusing tujuh galaksi bikin galau asli
Waktu latihan easy to get done wktu ulgn otak jd sariawan
otak sariawan...
****
This entry was posted in

Thursday, July 09, 2015

Ketika Gagal SBMPTN


Congratulation Indonesian. Selamat anak-anak Indonesia yang lulus SBMPTN.
Hari ini adalah pengumuman kelulusan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Banyak yang bahagia karena lulus tapi pasti lebih banyak yang sedih karena gagal. Mungkin saat kalian membaca tulisan ini, kalian sedang berada di pojok kamar, mengurung diri sambil menangis karena ternyata kalian tidak lulus seleksi. Mungkin juga kalian membaca tulisan ini ketika sedang berkumpul bersama keluarga, mendengar ucapan-ucapan syukur dan selamat yang dilontarkan ayah dan ibu, melihat betapa bangganya mereka pada anaknya, atau kalian membaca sambil sibuk membalas pesan-pesan berisi ucapan selamat dari teman-teman. Apapun hasilnya, selamat teman-teman, kalian sudah melalui salah satu hal penting dalam hidup kalian, tahapan yang bagi sebagian orang dijadikan patokan untuk menentukan tujuan hidup selanjutnya.
Akan ke mana sesudah kuliah sudah tergambar sejak kita mengklik pilihan program studi di formulir pendaftaran seleksi SBMPTN. Semua rencana-rencana kita sudah tertata dengan rapinya, rasa optimis sudah memenuhi semua ruang dalam diri kita, bayangan kampus, almamater, suasana penerimaan mahasiswa baru, teman-teman yang berasal dari berbagai daerah, semua hal tentang kuliah sudah sangat jelas di bayangan kita. Sampai akhirnya hari ini tiba, pengumuman SBMPTN, dan ternyata tidak lulus.

Aku tahu bagaimana rasanya kecewa, teman-teman. Bahkan sampai hari ini perasaan itu masih menjadi satu rasa yang membekas di hatiku, kegagalan pertamaku sejak aku mengenal yang namanya kompetensi. Dua tahun yang lalu, tepatnya tahun 2013 aku lulus ujian dengan nilai tertinggi di sekolahku, aku tau bagaimana bangaanya keluargaku, aku andalan kakek dan nenek, sejak dulu keluargaku mendukung habis-habisan semua kegiatanku yang berhubungan dengan pelajaran.

Jadi hasil kelulusan ujianku kemarin mereka anggap sebagai hadiah, sebagai pembuktian pada mereka bahwa tiga tahun masa SMA-ku memang tidak sia-sia. Dengan pembuktian yang telah ada kami sangat optimis bahwa aku pasti bisa masuk perguruan tinggi pilihanku. Waktu SMA aku memang tidak mengikuti SNMPTN, aku mengikuti SBMPTN memilih program studi impianku sejak SMA di salah satu perguruan tinggi negeri Provinsiku. Aku sangat yakin pasti aku lulus, karena aku juga tidak mengalami kesulitan ketika mengisi soal. Tapi ternyata hasilnya sangat mengecewakan. Aku gagal. Aku tidak lulus SBMPTN. Rasanya seperti.... pokoknya aku tidak percaya.

Aku logout lalu login lagi, berkali-kali mengecek dan ternyata tulisannya tetap sama, aku dinyatakan tidak lulus. Aku sangat amat kecewa, menangis sejadi-jadinya, untuk pertama kalinya aku mengalami kegagalan, untuk pertama kalinya aku gagal dalam kompetensi yang selama ini selalu bisa ku menangkan. Aku tidak percaya ini terjadi padaku. Bagimana bisa ? teman-temanku yang memiliki nilai jauh di bawahku bisa lulus sementara aku tidak, aku merasa ini tidak adil.

Hari itu aku merasa jadi manusia tersial di dunia, aku benci dengan hasil SBMPTN, aku benci ternyata aku gagal. Aku benci bahwa aku mengecewakan keluargaku, orangtuaku, mereka yang sangat percaya bahwa aku bisa melakukan ini. Belum lagi komentar dari teman-teman dan guru di sekolahku. Aku malu, aku sangat malu, ternyata aku bodoh. Itulah perasaanku sewaktu mengetahui hasil tesku. Dan aku berdoa "Tuhan tolong jangan biarkan aku mengalami kegagalan seperti ini lagi".
Perasaan paling besar yang aku rasakan adalah rasa kecewa, bersalah, dan malu. Kecewa pada diri sendiri, merasa bersalah pada keluarga dan orang-orang yang sangat mendukungku, serta malu pada teman-temanku.  Hari itu aku merasa bahwa aku orang paling gagal. Aku tenggelam dalam kesedihan, menangisi semua rencana-rencanaku yang ternyata tidak satu pun akan menjadi kenyataan, semua yang tertata rapi secara perlahan jadi berantakan, seperti gelas yang pecah, berhamburan, berserakan, tidak bisa diutuhkan kembali. Aku gagal.
Dua tahun sejak peristiwa itu, sekarang aku sudah menjadi mahasiswi semester 4 di fakultas hukum pada perguruan tinggi yang sama dengan pilihanku sewaktu tes SBMPTN. Aku menjalani masa kuliahku dengan sangat bahagia, aku bertemu teman-teman baru yang sangat asik, aku belajar, menjalani rutinitas sebagai anak kuliahan, aku mempelajari banyak hal, aku memiliki rencana-rencanaku kembali. Satu persatu kepercayaan diriku ku bangun kembali, satu per satu rencana-rencanaku yang sempat berantakan aku susun kembali, aku mulai tahu ke mana arahku setelah ini.

Kalau aku ingat kekecewaanku akibat kegagalan SBMPTN dua tahun yang lalu mungkin aku tidak akan berada di sini. Kalau saat itu aku mengikuti sakit hatiku, mungkin aku tidak akan mencoba tes lagi dan aku tidak akan kuliah di sini, tidak akan bertemu mereka; teman-temanku. Kalau kemarin aku membiarkan rencana-rencanaku hilang begitu saja aku tidak akan seperti ini, menjadi seorang perencana dan pemimpi besar kembali. Teman-teman, jangan menyerah begitu saja, gagal itu biasa (kata orang banyak).

Kita boleh menangis kecewa, merasa sedih karena ternyata kita gagal, tapi jangan biarkan rencana-rencana dan impian kita hilang tertelan perasaan jatuh. Jangan biarkan diri kita terpuruk oleh penyesalan dan perasaan bersalah pada keluarga kita, jangan biarkan kepercayaan diri kita hilang oleh komentar negatif orang-orang di sekeliling kita. Ingat ini, kamu bukan satu-satunya orang yang mengalami ini. Sekarang menangis saja kalau masih ingin menangis, minta maaf pada orang-orang yang mengandalkanmu karena ternyata kamu gagal dan mungkin mereka turut kecewa, berpikir positiflah, ini manusiawi, semua manusia mengalami kegagalan.

Orangtuamu tidak akan menyesalimu, perasaan bersalahmu saja yang terlalu besar, sama dengan perasaan negatifmu pada orang-orang di sekelilingmu, pada teman-teman dan gurumu, kamu terlalu takut dianggap bodoh, padahal gagal itu wajar. Came on guys, inilah hidup, sesuatu yang baik dan buruk akan terjadi. Berpikir positiflah, maafkan diri sendiri, maafkan penyesalan-penyesalan dalam dirimu, pikirkan lagi harapan-harapanmu, rencana-rencanamu, mimpi-mimpimu, kebahagiaanmu.

Jangan menyerah, jangan berhenti di sini saja. Ini memang sangat sulit diterima, tapi mengertilah hal buruk dapat terjadi kapanpun, cepat atau lambat kita akan  mengalami kegagalan, jadikan ini pelajaran. Jadilah orang yang optimis, berpikir positiflah, coba lagi, berusahalah semaksimal mungkin, buat rencana baru, pasti berhasil. Jangan terlalu larut dalam kekecewaan. Karena saat rencana kita gagal, kita hanya perlu mengubah rencana tersebut, bukan menghapusnya.

Semangat, teman-teman. Masih ada tes mandiri, ayo berusaha lebih keras. Dari pada terus-terusan menyesal, lebih baik mulailah menyibukkan diri untuk menghadapi tes berikutnya. Percayalah, hasil tidak pernah mengkhianati proses.
This entry was posted in

Tuesday, July 07, 2015

Tentang Kata-kata

Aku mencintaimu.
Tidak hanya karena kaulah pembentuk kalimat bahagia yang menyatukan kami, karena kaulah penjelas saat tanda tanya menjadi pengisi ruang di hati kami, karena kaulah penegas untuk sebuah keraguan. 
Kata-kata, bersusun menjadi kalimat. Mengungkapkan perasaan dan pikiran. Menjelma menjadi sebuah ucapan, tulisan, sebagiannya mengendap dan tak terungkapkan.
Tak ada kecintaan yang besar melebihi kecintaanku padamu. Pada setiap penggalanmu, pada kalimat yang terbentuk olehmu, pada buku yang menjadi rumah tertulismu. Aku (dengan kata-kata) sangat amat mencintaimu.

Pontianak, 7 Juli 2015
This entry was posted in