Wednesday, June 17, 2015

Pernikahan adat suku Dayak Tamambaloh


Di  bawah ini ada video dokumentasi tentang pernikahan suku Dayak Tamambaloh. Karena pernikahannya diadakan di Pontianak jadi perayaannya juga seadanya. Sebenarnya kalau diadakan di kampung suasana tradisionalnya akan lebih terasa. Tapi walaupun diadakan seadanya semoga video ini bisa memberikan gambaran tentang prosesi adat suku Dayak Tamambaloh.

Monday, June 01, 2015

Renungan untuk 18


Selamat 19 tahun.

18.
Kau membuaiku lembut dalam lelap bocahku kemudian dengan halus menyentuhku, membangunkanku, dan membuatku tersadar. Dewasalah ucapmu sambil menghantarkan rentetan cerita-cerita pilu ke depan mataku, kau bahkan mendorongku untuk memasukinya. Aku tenggelam di sana, di tengah ruangan kosong, di antara rak-rak meja, di dalam lemari kotor, di sebuah terowongan panjang, aku berlari. Melewati kekosongan itu, menjauhi berantakan dan aroma-aroma busuk yang bukannya membuat hidungku sakit tapi telingaku perih. Aku berlari menjauh, laju, mengabaikan panggilan dari mereka yang mencoba menghentikanku, aku tahu mereka tidak memanggilku tapi menertawaiku. Kemudian aku lelah, di sana ada perhentian dan aku diam sejenak, menikmati lagu-lagu lain yang kau ciptakan melalui makhluk-makhluk lain, aku menerka-nerka dendang siapakah yang mereka tembangkan, mencoba memilih lantunan siapakah yang paling merdu, aku terlena kemudian kembali tersadar ternyata mereka bukan penyanyi mereka hanya patung lilin yang lama berdiam di dari tong sampah. Mereka tidak bernyanyi, itu hanya barisan kalimat dari bualan yang mereka susun, mereka tulis pada lembaran kertas lecek dengan tinta hitam yang sangat kental, menjijikkan. Aku berlalu lagi, berlari menjauh, semakin laju. Lalu seolah semua tenagaku habis. Badanku ringan, seolah melayang aku tak tahu apakah sedang berdiri atau duduk atau mungkin terbaring terjerembab. Aku layu, kehausan, kerongkonganku kering, dan mereka berdua datang menghampiriku. Kedua orang yang jauh sebelum kau menjadi satu sudah menina bobokanku dalam lelap bocahku, mereka datang dengan mata terpejam, tangan dikatupkan, itu ayat bapa kami. Aku haus mama. Aku haus. Aku menangis karena ternyata mereka tidak benar-benar datang mendekatiku, itu hanya doa-doa yang mereka kirimkan yang ternyata sama sekali tidak mengobati hausku tapi memberanikanku untuk mengejar mereka. Lari lagi nak, seperti itulah suara bayangan itu. Aku berusaha lihatlah aku bahkan tidak memijak bumi. Aku melayang terseok-seok dan akhirnya entah bagaimana aku harus menceritakannya, aku menabrak sebuah rumah air. Ya benar, rumah air, rumah yang aku dapat minum dari bagian mana pun, dari pintunya, jendela, atap, lantai, dari dinding, dinding bagian depan, belakang, kiri, kanan, ah aku menghambur dalam kesejukan itu, menyatu dalam dingin yang tidak menyakitiku, menikmati hangat dari air yang segar. Kau kadang ajaib.  Bangsat, aku memakimu dalam hati ketika menyadari terlalu banyak duri di telapak kakiku. Kakiku berdarah, airnya mulai membuatku merasa perih, ah sakit. Bangsaaaat!!!! aku meneriakimu. Lalu "Plaaaaaak" kau menamparku dengan sebuah kotak hadiah. Aku tidak ingin membukanya, aku tahu itu masalah lain yang kau sediakan bukan ? seolah aku ini sang pemecah masalah kau selalu menghadirkan hal-hal menyakitkan untuk ku selesaikan. Dan yang membuatku tak tahan kau membiarkanku melakukannya sendirian, seorang diri. Aku tetap berdiri meski lututuku gemetaran, telapak kakiku mulai berdarah. Kau masih berdiri angkuh di depanku, berpikir mungkin aku akan berlutut menangis seperti saat aku kehausan, tidak akan. Setidaknya aku harus bisa menahan tangisku pecah sampai kau berlalu. Dan kita terdiam untuk beberapa saat. Lalu kau berlutut dan membuka kotak hadiah itu. Banyak hal yang ku lihat di sana, ada lap top dengan tulisan-tulisan tak jelas pada monitornya, bertumpuk-tumpuk kertas penuh tulisan lebih tak jelas, sepatu, dress-dress lucu, kanvas, kuas, pensil warna, ice cream, pop corn. Ah mereka terlalu banyak dan mataku kabur, lukaku semakin nyeri, kakiku lemas dan aku terjatuh, jatuh di lantai air itu. 
Saat aku terbangun kau sudah meninggalkanku, kakiku diperban dengan berantakan, khas dirimu. Aku menggeliat dengan tangan penuh memeluk kotak hadiah yang kau berikan. Aku memeluknya erat, ah bangsat semoga kisah-kisah yang kau dongengkan tidak terulang lagi. Haha aku mulai bisa tertawa dalam hati. Lalu masuklah yang lebih besar dari pada kau. Katanya dia si sembilan belas. "Berdirilah, lukamu sudah sembuh". Aku pun bediri dan ternyata benar, aku tertawa bahagia, meneriakkan Hahaha sebanyak tiga kali, lalu berjingkrak-jingkrak dengan tangan penuh memeluk kotak mimpi itu. Mari sembilan belas, kita keluarkan satu persatu mereka dari kotak.

01.59. 1 Juni 2015.
Dengan kotak mimpi di usia 18. Aku sudah 19 tahun sekarang.
This entry was posted in