Friday, May 22, 2015

SEJARAH SINGKAT PEKAN GAWAI DAYAK


Gawai Dayak adalah upacara adat sesudah panen yang rutin dilakukan setiap tanggal 20 Mei oleh suku Dayak di Pontianak, Kalimantan Barat. Upacara adat ini merupakan cara untuk mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Jubata (Tuhan) atas hasil panen yang melimpah.
Kalimantan Barat merupakan provinsi dengan mayoritas penduduk bersuku Melayu dan Dayak. Suku Dayak merupakan kelompok etnis terbesar di Kabupaten Bengkayang, Landak, Sanggau, Sintang, dan Sekadau, sementara di Kabupaten Kapuas Hulu suku Dayak dan Melayu tersebar merata. Masing-masing suku Dayak yang tersebar di berbagai wilayah ini mempunyai ritual tahunan yang dilaksanakan sesudah panen, sebuah upacara sebagai ungkapan syukur atas melimpahnya panen dan perlindungan yang diberikan oleh Jubata. Pelaksanaan upacara ini juga di lakukan di daerah masing-masing, dengan nama yang berbeda-beda pula. Ada yang menamainya dengan Gawai, Naik Dango', Maka' Dio', dan Pamole' Beo'. Perayaan ini dilakukan oleh semua penduduk kampung di daerah masing-masing, ritual di pimpin oleh seorang ketua adat atau orang yang ditunjuk untuk memimpin ritual tersebut (biasanya tetua kampung). Orang yang ditunjuk untuk memipin ritual akan berdoa dengan bahasa Dayak dan membaca mantra untuk roh para leluhur, kemudian sesudah berdoa dan membaca mantra dilanjutkan dengan makan bersama. Pada saat perayaan disuguhkan beraneka ragam makanan khas suku Dayak, semua penduduk akan menikmati santapan dengan diiringi tabuhan alat musik tradisional dan akan ada tari-tarian gembira, semua penduduk diperbolehkan menari bersama. Perayaan syukur sesudah panen dilakukan secara bertahap, ada rangkaian upacara yang sangat panjang dan memakan waktu yang lama sekitar tiga bulan, dalam rentang waktu April-Mei-Juni.
Pada tahun 1968 dibentuklah Sekretariat Kesenian Dayak (Sekberkesda) yang salah satu tugasnya adalah menggelar dan mengonsep pelaksanaan pergelaran seni budaya Dayak. Melihat loyalitas masyarakat Dayak yang tinggi pada upacara syukur sesudah panen di daerah masing-masing maka pada tahun itu juga, tepatnya pada 30 Juni 1986 Sekberkesda menyelenggarakan pergelaran kesenian Dayak yang pertama kalinya di Pontianak, yang disebut Gawai Dayak. Kemudian ditetapkanlah tanggal 20 Mei sebagai hari pelaksanaan Gawai Dayak setiap tahunnya.
Gawai Dayak merupakan perayaan acara syukur sesudah panen di tingkat Provinsi, di mana semua suku Dayak dari berbagai daerah berkumpul bersama untuk merayakan upacara ini, ini merupakan perayaan bersama. Beragam perlombaan tradisional dihelat untuk merayakan Gawai Dayak. Pertunjukkan tarian dan nyanyian dari daerah masing-masing diadakan, serta ada pameran barang-barang kebudayaan dan makanan khas tiap-tiap daerah. Ini adalah perayaan meriah yang menyatukan semua masyarakat Dayak. 
Sejak tahun 1986 Gawai Dayak sudah mendapatkan pendanaan dari pemerintah daerah dan bukan hanya sebagai pengembangan budaya sesungguhnya Gawai Dayak juga merupakan sarana pengembangan pariwisata bagi Kalimantan Barat. Gawai Dayak juga merupakan sebuah sarana pengikat hubungan kekeluargaan sesama suku Dayak, sebagai suatu tradisi yang sangat luhur, yang telah dilaksanakan secara turun temurun. Gawai Dayak selalu dilaksanakan setiap tahun. Pelaksanaannya terselenggara berkat kekompakkan masyarakat Dayak khususnya yang berada di Pontianak, kerjasama yang baik dengan masyarakat di daerah Kabupaten menjadikan acara ini sangat hidup, unsur tradisional yang diangkat benar-benar berhasil terlihat. Kemudian dukungan dari pemerintah setempat juga sangat berperan besar dalam pelaksanaan acara tahunan ini. 
Pada tahun 1992 nama Gawai Dayak diubah menjadi Pekan Gawai Dayak, yang artinya perayaan ini dicanangkan untuk dilaksanakan selama sepekan. Selama sepekan perayaan adat ini berlangsung dengan meriah. Sampai saat ini, Pekan Gawai Dayak merupakan sebuah event tahunan yang paling ditunggu-tunggu baik oleh masyarakat Dayak maupun masyarakat umum. Karena perayaan ini bukan hanya sebagai sebuah sarana mempererat hubungan antar suku Dayak tetapi juga sebagai sarana hiburan bagi masyarakat umum dan sebagai upaya untuk tetap melestarikan budaya leluhur.
This entry was posted in