Tuesday, May 12, 2015

Aku Sudah Move on

Pagi ini seperti biasa aku melaksanakan tugas harian. Mengantar mama ke sekolah. Anak baik ya memang begitu, berbakti pada orangtua. Hee. Jadi tugas mengantar mama ke sekolah merupakan tugas turun temurun yang sebelumnya dilakukan oleh abangku, kemudian abangku yang satunya lagi, kemudian kakakku, kemudian aku. Tugas ini kami singkat dengan TMMKS yang adalah singkatan dari Tugas Mengantar Mama ke Sekolah dan itu artinya ucapkan selamat tinggal pada lembutnya kasur dan hangatnya selimut di pagi hari. Mama masih harus mengajar 8 tahun lagi, itu artinya mama perlu orang baru untuk mengantarnya ke sekolah nanti, karena aku sudah pasti akan bekerja di usia 21 tahun, mungkin sekarang kami perlu adik kecil yang harus sudah mahir mengendarai motor di usia 3 tahun. Hahaha.
Tugas Mengantar Mama ke Sekolah akan berakhir jika si pengemban tugas sudah menyelesaikan pendidikan dan mendapatkan pekerjaan. Karena tidak mungkin bolak-balik mengantar mama ke sekolah kemudian baru pergi ke kantor. Kecuali nanti kantor tempatku bekerja satu arah dengan tempat mama mengajar. Dan itu mustahil, Batu Layang terlalu jauh jadi aku tidak  akan bekerja di sana.
Aku bangun pagi-pagi, mencari handphone memeriksa pesan yang masuk kemudian menyempatkan diri melihat kandang kelinci, duduk sebentar di depan tv, cuci muka-gosok gigi, mengumpulkan niat daaan berangkaaat. 
Semua hal yang ku temui masih sama. Polisi lalu lintas yang ku temui masih berdiri di tempat biasa dengan peluit yang dikalungkan di leher dan kaca mata hitam yang menutup matanya. Penjual koran yang menunggu di perempatan lampu merah juga masih menggunakan atribut lengkapnya seperti biasa, kadang membuatku berpikir mungkin dia tidak pernah mencuci jaket, celana dan penutup wajahnya. Kios-kios bensin di tepi jalan masih juga di tutup, aroma busuk dari tempat pembuangan sampah yang ku lewati masih menyengat, seperti biasa asap rokok dan knalpot motor bercampur, menembus masker yang ku kenakan, udara terasa tajam, sesak, sumpek, gerah. Carut marut jalanan terasa semakin parah, pengguna motor yang berbelok tanpa menyalakan lampu sein, pejalan kaki yang menyebrang sembarangan, angkot yang berhenti tiba-tiba, suara klakson di mana-mana, teriakan yang berisi umpatan, semuanya berkumpul dalam waktu yang bersamaan. Melatih kesabaran, benar-benar sebuah cara menarik untuk merayakan kehidupan.
Di jalan pulang, aku mengendarai motorku dengan santai. Membiarkan orang-orang memacu kendaraannya dengan laju, terburu-buru mengejar waktu. Orang-orang berpakaian kantor, berdinas, berjaket tebal dengan sarung tangan dan masker penutup hidung, sebagian lagi masih mengenakan daster tidur, anak-anak berseragam sekolah yang sudah pasti terlambat, cowok-cowok berkemeja rapi yang mungkin akan ke kampus, para pedagang sayur yang membawa keranjang di atas motor, mereka saling susul menyusul mengejar warna hijau pada traffic light. Dan aku berhenti tepat di belakang garis marka, menunggu lampu merah berganti hijau.
Saat-saat menunggu seperti inilah aku biasanya menyadari betapa rendahnya ketaatan orang-orang pada aturan, bertapa rendahnya perasaan saling menghargai yang dimiliki orang-orang di sekitarku, lihatlah mereka, menyebrang sesuka hati. Mereka harusnya berhenti saat lampu berwarna merah dan memberi kesempatan pada pengguna lain untuk menyebrang, menggunakan hak warna hijau yang mereka miliki. Tapi kenyataannya aku selalu mendapati pemandangan yang sama setiap harinya, orang-orang saling menyerobot untuk menyebrang sehingga klakson kendaraan di mana-mana, kadang juga mereka saling mengumpat satu sama lain. Dan aku heran kenapa tidak pernah terjadi kecelakaan saat sedang ada pelanggaran seperti itu, kecelakaan hebat di tengah aksi perampasan hak menyebrang maksudnya supaya memberi pelajaran pada  pengguna kendaraan agar mematuhi rambu-rambu lalu lintas yang ada, agar taat pada traffic light yang telah susah payah diciptakan oleh Garrett Augustus Morgan. Walaupun Indonesia sudah merupakan negara yang berada di urutan ke lima sebagai penyumbang korban kematian akibat kecelakaan lalu lintas. Aku juga bingung bagaimana harus membuat kebijakan untuk orang-orang yang tidak bisa diatur seperti ini, untunglah aku bukan kepala Polisi Daerah di Pontianak jadi yah aku tidak perlu pusing memikirkan cara memperbaiki kerusakan-kerusakan di kota ini. Aku menunggu dengan sabar, di sampingku seorang bapak-bapak sedang merokok, asapnya membuat pernafasanku terasa sesak, aku memalingkan kepala ke arah kiri, dan mataku tepat memandang jalan itu.
Sebuah jalan yang tidak asing lagi, jalan itu sudah sangat akrab bersentuhan dengan scoopy-ku. Jalan yang pernah ku susuri dengan riang, dengan perasaan senang yang menghantarkanku pada sebuah rumah. Dulu aku sering ke sana, menghabiskan berpuluh-puluh menit bersamanya, aku sering datang ke sana sekedar menemaninya makan siang atau menonton sebuah film, mengerjakan tugas bersama dan mencoba menahan wantu yang seolah tak pernah cukup untuk kami berdua.
Aku pernah di sana bersamanya, bersama mereka, kami pernah tertawa bersama di sana, duduk berhadapan di sebuah meja, menghabiskan makan siang dengan bakso atau kadang nasi padang, aku pernah sangat dekat dengan orang-orang di rumah itu. Rumah yang penuh dengan tawa.
Dan kenangan-kenangan itu bergulir lagi di ingatanku, bayangan wajahnya, wajah kami, wajah mereka, bayangan saat kami tertawa, gitar, putung rokok, stick PS, kabel yang berbelit-belit, tumpukan pakaian kotor, keran air yang selalu menyala, kambing yang selalu mengembik di depan rumah, anak-anak yang berlarian di pekarangan mengejar layangan putus. Semuanya hadir seperti sebuah film lama yang diputar dengan cepat. Lalu aku tersadar oleh sebuah klakson dari pengguna motor di belakangku, aku pun berlalu seiring dengan warna hijau pada traffic light, berbaur dengan orang-orang yang selalu terburu-buru.
Aku berlalu dengan perasaan yang sangat ringan, seperti sebuah ballon yang baru diisi udara segar, seperti sebuah motor yang olinya baru diganti. Sudah tidak ada yang membuatku sedih sekarang. Aku sudah tidak takut untuk menoleh ke arah kiri tiap kali berhenti oleh warna merah, hatiku sudah tidak sesak saat mengingatnya, mengingat tawa yang pernah kami gelakkan bersama, sudah tidak ada perasaan kecewa, tidak lagi marah dan dendam, aku sudah sangat ringan dan lapang untuk berlalu dari kisah kami, aku sudah sangat siap untuk melanjutkan perjalananku, tidak buru-buru tapi pasti maju, aku sudah sangat kuat untuk menghadapi semuanya sendirian. Aku sudah move on.
Orang yang move on itu bukan orang yang baru putus dan langsung mendapat pasangan baru, move on tidak sekonyol itu.
Move on bukan siapa yang mendapatkan pengganti lebih dahulu, move on adalah saat mengingat sudah tidak menangis, saat bertemu sudah tidak menghindar. Move on berarti sudah tidak berharap, tidak mendendam, tidak membenci. Move on bukan juga tentang saling melupakan tapi bagaimana menghadapi semuanya secara nyata, tidak lagi menghindari hal-hal yang mengingatkan kita padanya, move on berarti tidak takut akan masa lalu itu sendiri, move on adalah saat kita menyadari bahwa kita bisa bahagia tanpanya. Dan aku sangat bahagia saat ini, menyongsong hari-hariku dengan rencana-rencana baru, menjadi crayon yang mewarnai gambar yang ku goreskan sendiri. Aku sempurna saat merasa bebas. Aku tau aku sudah move on.
This entry was posted in