Saturday, April 25, 2015

When i'm was a little girl

Suka makan sugus ? permen itu loh, permen buah campur susu yang banyak rasanya. Hmmm ini permen kesukaan aku dari kecil. Hee. Permen yang paling susah di dapat di Martinus hahaha. Yah if you know lah Martinus itu di mana. Jadi gini Martinus itu salah satu Kecamatan di Kapuas Hulu, dari kecil aku tinggal di sini. Sampai SMP barulah pindah ke Putussibau. Tadi seorang teman membawakan beberapa permen sugus. Aku lebih suka rasa jeruk sementara dia suka rasa anggur. Jadi sepanjang sore ini kami menghabiskan waktu untuk mengenang masa kecil kami. Mengenang masa-masa di mana kami masih berada dalam pelukan hangat keluarga, soalnya sore ini rasanya kangen banget sama orang rumah. 

Waktu masih kecil permen sugus selalu jadi pesanan pertama kalau kakek ke Putussibau dan aku tidak bisa ikut karena harus sekolah, dulu waktu aku masih SD transportasi dari Martinus ke Putussibau hanya bisa ditempuh menggunakan transportasi air. Jadi kalau ke Putussibau harus naik motor tambang, lamaaaa banget, perginya pagi sampainya besok pagi. Satu hari, satu malam. Makanya kalau tidak ada libur panjang aku tidak dibolehkan ikut pergi. Kalau kakek pulang oleh-olehnya pasti permen sugus sama agar-agar, majalah bobo, buku gambar baru dan pensil warna Luna. Itu bawaan wajib yang harus ada tiap ada orang rumah yang pergi ke Putussibau dan yang paling sering pergi kakek, bapak dari dulu jarang pulang :')

Sekarang sih enak, transportasi darat udah tersedia. Pembangunan udah ada. Mau pakai mobil sampai depan rumah juga tidak masalah. Permen sugus juga udah ada yang jual kok di sana. Hahaha. Tinggal pergi ke warung dapat deh barangnya, dulu perjuangan banget buat dapat permen ini. hee. Temanku bilang kalau dia ngambek biasanya bapaknya beliin permen ini trus udah deh dia hilang ngambeknya. Yah dasar anak kecil, marahnya bisa reda hanya dengan sebuah permen sugus rasa anggur. Coba kalau sekarang, harus mengeluarkan kalimat-kalimat bijak untuk meredakan kemarahan. Aku rindu berpikir sederhana seperti itu, seperti anak kecil. Bahagia dengan hal sederhana. Dulu cuma main boneka-bonekaan pakai jagung muda dari ladang nenek senangnya luar biasa. Tiap hari sesudah aku pulang sekolah nenek pergi ke ladang, aku ditinggal di rumah sama kakek. Tamu kakek selalu ada, rumah nggak pernah sepi. Kadang-kadang kalau malas tinggal aku ikut nenek ke ladang, hmmmm luar biasa menyenangkan. Di ladang kalau musim membakar ladang aku biasanya mengumpulkan kepiting-kepiting yang mati terbakar. Hahaha ya ampun itu menyenangkan pokoknya, aku suka. Kalau pulang ke rumah kotor-kotoran langsung mandi ke sungai, mandinya bawa bungkus agar-agar yang udah kosong. Nah nanti dijadikan cetakan tanah liat trus dibawa pulang ke rumah, besoknya tanah liat itu udah kering dan aku jadikan mainan. Kalau mandi di sungai biasanya aku naik di pundak kakek trus terjun di air. Main selam batu, mandi sampai badan menggigil, bibir membiru. Udah sore baru pulang, nungguin lampu nyala. Lampu nyalanya jam 5 sore trus langsung nonton Carita de Angel yang sekarang tayang lagi di MNC TV. Kalau malam nontonnya Tuyul dan Mbak Yul, Jhinniy oh Jhinny, Putri Duyung, pagi-pagi sebelum lampu padam nonton Telletubbiess, aku suka banget jadi Lala. Nggak tau kenapa waktu kecil aku suka sama warna kuning, ranger aja sukanya ranger kuning. Hahaha. kalau hari minggu nonton Power Rangers sama Pokemon soalnya listrik di sana nyalanya cuma malam, kalau hari minggu baru nyalanya siang jadi baru bisa nonton film-film kartoon yang tayang di siang hari deh. Kasihan banget. Hehe. 
Ah rindu suasana di kampung pokoknya. Mainan di kampung yang benar-benar kampungan. Hahaha main pipit (petak umpet) di depan rumah, memanjat pohon manggis ramai-ramai, mengumpulkan seri cerita rakyat dari susu dancow. Kalau ke sekolah berangkatnya aja rapi, pakai sepatu, topi, dasi segala macam, sampai di sekolah atributnya dilepas. Ya iyalah dari satu sekolahan yang pakai pakaian lengkap bisa dihitung pakai jari, jadi merasa aneh kalau pakai pakaian rapi sementara yang lain acak-acakan. Biasa, anak kampung. Hahaha. Tapi menjadi anak kampung membahagiakan, pokoknya aku bahagia deh dulu. Kapan lagi bisa sebahagia itu. Hal-hal seperti itu yang tidak akan terulang lagi. Sekarang udah beda zaman, aku pulang kampung kemarin mainan anak-anak udah beda. Nggak akan ketemu lagi yang kampungan kayak aku, anak TK di sana aja sekarang kalau main, mainannya udah bukan main cetak tanah mereka main candy crush pakai tab Mito. Yah gitulah, pokoknya sekarang udah beda. Mereka nonton sinetron cinta-cintaan, zaman aku dulu anak-anak nontonnya Pandji Millenium, Saras pahlawan kebajikan sekarang nonton serigala dan harimau-harimau, lagu-lagunya juga udah lagu cinta dulu aku lagunya lagu anak sekolah minggu. Hee

Kalau dilihat masa kecil aku kampungan banget ya. Hahaha ya iyalah kan tinggalnya di kampung, kalau tinggal di kota nenek kakek juga nggak mungkin biarin aku main cetak tanah di tepi selokan -_-
Intinya kebahagiaan yang bebas sebebas-bebasnya aku dapatkan waktu masih kecil. Sekarang lingkungannya udah beda. Aku semakin jarang bersentuhan dengan hal-hal yang bernuansa kampung, pergaulan aja udah beda. Kalau lihat aku yang sekarang mungkin ada yang nggak percaya kalau masa kecilku kuhabiskan dengan bermain bersama alam. Ladang, sungai, tanah becek, gigitan nyamuk yang jadi koreng Hahaha itu akrab banget sama aku. Sekarang pulang ke kampung juga nggak nemuin suasana itu lagi. Semua hal telah berubah.

Begitulah masa kecilku, masa kecil yang sangat menyenangkan. Keluarga juga masih ngumpul semua, nggak mencar-mencar kayak sekarang, pokoknya masa kecil adalah masa yang paling membahagiakan, masa di mana semua hal terasa mudah dan menyenangkan. Tidak banyak pikiran, tidak banyak kekhawatiran. Aku kangen sekali masa-masa itu.

Kenyataannya semakin dewasa seseorang, semakin ribet pikirannya, semakin banyak juga alasan yang dicarinya untuk menjadi bahagia hingga melupakan hal-hal sederhana yang sebenarnya cukup untuk membahagiakan.