Friday, April 03, 2015

Semacam Masturbasi

Aku menghubunginya lagi. Entahlah ini yang keberapa kalinya aku melanggar janji yang kubuat sendiri. 
Dia adalah orang yang sampai hari ini menjadi tokoh utama dalam kisahku, masih menjadi yang pertama kuingat saat hendak tidur, suaranya masih menjadi suara yang paling sering kudengarkan setiap hari dan lagu-lagunya masih menjadi lagu penyemangat pagiku. Dia adalah sepenggal kisah yang hilang dari cerita bahagiaku, dia sesungguhnya adalah sebuah lagu cinta yang berakhir tanpa refren, sebuah tea hangat yang terlanjur menjadi dingin bahkan sebelum gula dicampurkan, dia adalah yang seharusnya sudah berlalu tapi dengan sengaja kutahan entah untuk alasan apa.
Janji yang paling sering aku ingkari adalah "Aku janji nggak akan hubungi kamu lagi". 
Seharusnya tidak perlu membuat janji seperti ini kalau saja aku sama dengan yang lainnya, sama bisa menerima keadaan. Nyatanya aku berbeda, akulah si keras kepala yang pantang menyerah. Tanpa alasan yang penting selain rindu aku selalu mengusiknya, aku tahu itu mengganggunya tapi aku masih saja melakukannya. Kadang pesanku tak berbalas, kadang juga tak terbaca, yang jelas aku tahu itu sengaja dilakukannya. Karena dia paling tahu cara membuat perempuan sakit hati, yaitu diabaikan. Hanya saja aku bukan perempuan yang sama, aku berbeda, hal-hal menyakitkan seperti itu tidak akan membuatku menyerah.
Yang jelas, menjadi keras kepala dan pantang menyerah itu tidak enak. Sebenarnya tidak ada yang enak saat semuanya sudah mulai dipaksakan. Tapi aku tidak terlalu menyesali diriku menjadi begini, karena benar kata penulis favoriteku Raditya Dika, bahwa seseorang belum pernah jatuh cinta jika dia belum merasakan susah tidur karena kangen. Dan itulah yang kualami, susah tidur karena kangen. Setiap malam aku mencoba tertidur dengan suara-suaranya dalam nyanyian, memutar ulang lagu terakhir yang dinyanyikannya untukku sebelum kami berpisah. Setiap malam aku memandangi fotonya, dan menangisi pesan-pesanku yang sengaja tak dibaca. 
Tidak mudah melewati hari-hari seperti ini, hari-hari penuh rasa kehilangan, kerinduan, dan saat semuanya bercampurakan  menjadi sakit yang teramat dalam di hati. Karena itulah aku masih sering mengingkari janjiku, karena sakit yang teramat itulah aku jadi kebal, kadang tidak tahu untuk apa aku menghubunginya. Yang jelas aku sangat senang setelah mengungkapkan perasaanku lewat pesan-pesan dengan emoticon menangis atau merengut, meskipun pesan itu tak terbalas. Untuk apa aku melakukannya ? hubungan kami bahkan tidak akan membaik karena aku sering menghubunginya. Semuanya berakhir dengan kesia-siaan belaka. Tapi kenapa aku masih melakukannya ? kenapa aku masih menghubunginya padahal itu tidak akan berdampak apa-apa untuk hubungan kami ?
Semacam masturbasi. Aku melakukannya hanya untuk membuat hatiku senang, seperti memuaskan nafsu semata. Tidak ada yang berubah setelah aku megiriminya pesan. Dia tidak akan merespon apa-apa karena saat ini hubungan kami tidak lebih dari sebuah pertemanan. Lalu kenapa aku masih keras kepala dan pantang menyerah untuk meghubunginya meskipun aku tahu itu tidak akan dipedulikan ? yah itu dia, karena aku melakukannya hanya untuk kepuasan semata. Hanya untuk menuangkan rindu terpanjang yang pernah kurasakan, hanya untuk memuaskan sakit. Seperti masturbasi, tidak berdampak apa-apa, hanya untuk memuaskan diri sendiri.
This entry was posted in