Wednesday, April 15, 2015

Menyemangat Diri Sendiri

By here, by now...

Jangan terperangkap pada masa lalu.
Aku telah melalui sebuah masa, mungkin masa di mana Tuhan sedang mengujiku, hendak menunjukkan sedewasa apa aku dalam menghadapi sebuah masalah. Tahun 2013 dan 2014 rasanya masalah tidak pernah berhenti menghampiri. Rasanya itu adalah masa-masa tersuram yang berhasil aku lalui. Banyak kegagalan yang aku alami, menjalani hidup jauh dari keluarga, mencoba terbiasa dengan lingkungan baru yang tidak menyenangkan, sampai musibah dalam keluarga kami terjadi. Aku berhasil melaluinya, berhasil menepis perasaan pesimis dalam diriku akibat kegagalan berulang yang aku tak percaya bahwa aku melakukannya, aku tak pernah gagal dalam bidang itu sebelumnya. Kemudian harus berpisah dengan keluarga yang selama ini melindungku karena aku melanjutkan pendidikan, berpisah dari mereka adalah ketakutan terbesarku selama ini. Sejak kecil aku tak pernah jauh dari keluarga, mereka yang melindungiku, sungguh tanpa keluargaku aku merasa sangat kecil, tidak terlihat, aku bukan apa-apa tanpa mereka. Aku adalah sleeping child, aku takut jauh dari mereka. Tapi karena itu suatu keharusan, aku menguatkan tekad, dan kami berhasil, aku tak pernah kekurangan kasih sayang sekalipun jarak memisahkan. 
Dan lingkungan baruku sangat tidak menyenangkan, aku dikelas para pekerja dan mereka kebanyakan orang-orang dewasa, tidak seumuran denganku. Aku masih 17 tahun waktu aku masuk di semester pertama. Dan berada di lingkungan 20 tahun ke atas sangat amat tidak menyenangkan, hampir setiap malam aku menangis di perjalanan pulang menuju rumah, motorku ku pacu kencang-kencang dan tangisku ku biarkan tumpah begitu saja. Aku tidak ingin kuliah di sana. Sebenarnya.
Masa-masa sulit itu berhasil aku lewati, jauh dari keluarga dan berada di lingkungan yang membosankan. Sampai akhirnya musibah itu datang. Tahun 2014 kami kehilangan dua anggota keluarga sekaligus. Aku tidak akan menceritakan hal ini. Awal 2015 aku patah hati.
Rasanya jika  mengingat kesedihan-kesedihanku dari awal masuk kuliah sampai sekarang, mungkin akan sangat sulit untuk membangun pribadi yang seperti ini. Aku, menurut teman-temanku, adalah pribadi yang periang. Aku berhasil menyimpan semua masalahku rapat-rapat, berbagi dengan orang yang tepat.
Dan yang terpenting adalah jalanilah hari ini tanpa tenggelam pada masa lalu, baik masa susah maupun masa senang. Move, go on, kita tidak hidup untuk seribu tahun. Itulah yang sedang kujalani, aku tidak boleh malas hanya karena lingkungan yang tidak menyenangkan, dan tidak boleh berlarut dalam kesedihan karena aku ditinggalkan. Move and go on.

Kamu tidak pernah benar-benar sendiri...
Saat aku menulis ini, aku baru saja patah hati.
Aku adalah orang yang agak tertutup, pergaulanku sempit, aku tidak pernah keluar dari zona nyamanku. Sampai pada suatu hari di tahun lalu aku menemukan yang aku cari. Dia adalah orang yang mematahkan hatiku saat ini. Aku jatuh cinta padanya, pada seorang lelaki berambut gondrong, berpenampilan aneh, tapi sangat baik, dia santun walaupun penampilannya sangar. Dia seperti dunia baru bagiku, bersamanya aku seperti menemukan sebuah buku asik yang tidak membuat bosan, yang tidak pernah habis kubaca, kami memutuskan berpacaran, dan semua hal terasa indah, indah karena ada orang yang melindungimu selain keluargamu, aku merasa menjadi berarti bagi orang lain. Aku juga semangat kuliah sejak mengenalnya. Tapi ternyata kami tidak selamanya sejalan, kami berpisah. Dan setelah berpisah dengannya aku merasa sangat sendiri. Kehilangannya sama seperti kehilangan sosok teman juga. Aku merasakan sepi yang lebih panjang dari biasanya, sampai akhirnya aku menyadari bahwa sesungguhnya aku tidak benar-benar sendiri. Aku punya keluarga, aku punya teman, aku punya kehidupan yang bahagia bahkan sebelum aku mengenalnya.
Saat ditinggalkan kamu mungkin merasa sebagian dari duniamu seolah berakhir, bahkan hal-hal lucu terasa biasa saja dan tak mampu membuatmu tertawa. Mungkin juga kamu menangis seharian, meratapi kepergian seseorang yang sangat kamu inginkan berada di sampingmu, mengutuk keadaan bahwa ternyata kalian tidak bisa bersama. Itu wajar, semua orang yang pernah kehilangan pasti pernah melakukan hal ini. Hanya saja, sadarilah kamu tidak pernah benar-benar sendiri, kamu boleh saja kehilangan satu orang dalam hidupmu tapi percayalah ada orang lain yang tetap bersamamu dalam situasi apapun. Mereka adalah keluargamu, teman-temanmu. Berbagilah dengan mereka, rasakan bagaimana indahnya sebuah kepedulian. Berhenti meratapi sesuatu yang tidak pernah berhasil.