Sunday, March 29, 2015

Sebuah sore di Oishii

Pada akhirnya semua akan kembali seperti semula..
Aku duduk di pojok ruangan mungil ini, menunggu semangkuk ramen yang sudah ku pesan beberapa menit yang lalu. Jari-jariku memainkan layar handphone, membentuk pola-pola tidak beraturan. Aku benar-benar kembali pada kesendirian akhirnya. Setelah memutuskan berpisah dengannya aku mulai menjalani kehidupanku yang dulu. Seperti saat aku belum mengenalnya.
Sebagai orang yang tidak mempunyai banyak teman aku sudah terbiasa menjalani sesuatu sndirian, menonton sendirian, ke toko buku sendirian, belanja sendirian, memesan makanan sendirian, dan banyak hal lain yang biasanya orang-orang lakukan bersama temannya kulakukan sendirian. Sampai akhirnya aku bertemu dengannya. Tidak perlu ku uraikan seperti apa, yang jelas sejak mengenalnya aku tidak pernah benar-benar sendirian. Melewati banyak hal bersama membuatku sedikit mengutuk keadaan yang sekarang. Aku merindukannya.
Dan sore ini, aku sengaja berencana menghabiskan waktu di sini. Mengenangnya. 
Menjadi terbiasa dengan keadaan baru bukan hal yang mudah. Ada sesuatu yang kurang, seperti tidak lengkap. Kadang saat rindu mampir ketika aku sedang merasakan perasaan kurang lengkap ini maka menangis menjadi satu-satunya hal yang paling melegakan. Perasaan kehilangan akan sangat terasa saat aku mengunjungi tempat yang biasa kami kunjungi berdua. Tapi yah begitulah, tidak ada pertemuan yang abadi. Inilah kenyataan, inilah yang harus kujalani sekarang. 
Life must go on, tidak peduli sesedih apa perasaanmu hidup terus berjalan. Tidak akan ada yang berhenti hanya untuk menghibur hatimu yang sedih. Karena itu aku tahu aku tidak boleh terlalu tenggelam dalam sedih ini. Kehilangan itu suatu kepastian.
Ini memang tidak mudah. Tapi percayalah semua hanya masalah waktu. Dan sesungguhnya aku sedang kembali pada diriku yang sebenarnya, seorang penyendiri. Aku pernah sendirian sebelum aku mengenalnya, aku pernah bahagia bahkan sebelum berbagi tawa dengannya, jadi aku tidak akan takut lagi. 
Aku tidak takut lagi. 
Tidak masalah jika menangis masih sering mampir sebelum aku tidur, aku tidak bisa memaksa tawa untuk datang saat rindu sedang bertandang. Aku hanya harus lebih sering menghibur diri sendiri, seperti saat ini. Menghabiskan sore hari di Oishii, menuliskan catatan-catatan pendek untuk rindu yang panjang.


Kita tidak sedang saling melupakan. Hanya saja kita sedang menjalani hidup seperti saat kita belum saling mengenal satu sama lain.