Tuesday, February 03, 2015

Novel Koala Kumal karya Raditya Dika


Hallo. Untuk penikmat karya Raditya Dika, ada kabar gembira karena buku Koala Kumal sudah diterbitkan. Horaaaaay!!!!
Kali ini aku mau mengulas tentang novel Raditya Dika yang baru diterbitkan awal tahun ini, judulnya Koala Kumal. Novel ini sangat direkomendasikan untuk teman-teman yang sedang mencari bacaan apa yang cocok untuk menemani waktu kosong, apa lagi untuk yang sedang libur semester dan tidak ada kerjaan di rumah. Dari pada bingung di rumah seharian mending baca novel. Apa lagi novel karya Raditya Dika memang fresh dan lucu. Cocok untuk membangkitkan mood.
Novel ini terdiri dari 12 bab dengan judul berbeda, dengan tebal 247 halaman buku ini tidak membosankan sama sekali, Raditya Dika memang tidak pernah membosankan. Disampaikan dengan kalimat yang ringan, mudah dimengerti dan khas seorang Raditya Dika, penuh komedi. Seperti yang diungkapkannya pada bagian prakata, sesuatu memang lebih mudah dipahami kalau kita tertawai.

Dengan bahasa-bahasa yang tidak kaku dan kalimat yang tidak berbelit-belit Raditya Dika berhasil menyampaikan segala kegundahannya dengan sempurna. Itu yang membuat aku sampai saat ini masih menempatkan Raditya Dika sebagai salah satu penulis favorit Indonesia di urutan atas. Dia tidak pernah menggunakan kalimat-kalimat melow dangdut untuk mengungkapkan kekecewaan, untuk menyampaikan rasa sakit dari patah hati, dia cool dengan kalimat-kalimat ajaibnya yang sangat memotivasi. 
 
Ada beberapa kalimat yang sampai novel ini selesai kubaca masih melekat dengan baik di ingatanku. Karena sama seperti novel-novel berikutnya semua cerita yang ada pada novel ini diangkat dari pengalaman pribadinya secara langsung. Jadi kejadian-kejadian yang diceritakan di novel ini memang kejadian yang sering dialami orang pada umumnya. 
 
Pada Bab 1 yang berjudul “Ada Jangwe di Kepalaku” Raditya Dika seolah mengajak pembaca untuk kembali ke masa kecil. Masa di mana kenakalan menjadi hal yang menyenangkan, masa di mana kita bisa berteman akrab sekali kemudian saling menjauh dan seolah tidak kenal sama sekali. Aku teringat pada beberapa teman yang sewaktu SD sangat dekat sekali, sampai mandi sama-sama, makan dan tidur siang sama-sama, tapi kemudian entah karena apa kami saling menjauh bahkan sekarang saat sudah dewasa seperti tidak pernah kenal dekat satu sama lainnya. Ketika bertemu hanya saling pandang lalu saling melempar senyum dan berlalu.
 
Raditya Dika juga membagi pengalamannya sebagai seorang sutradara, dia menceritakan bagaimana usaha yang dilakukannya untuk merintis serial Malam Minggu Miko pada bab yang berjudul “Menciptakan Miko., bagaimana susahnya menangani masalah-masalah saat shooting, mencari pemeran pengganti saat pemeran utamanya tiba-tiba tidak datang. Dia menceritakan usahanya dari nol untuk menjadikan Miko sebagai tontonan yang disaksikan dan diperhitungkan banyak orang seperti saat ini.

Banyak istilah-istilah yang berhubungan dengan dunia perfilman pada bagian ini, dan itu sangat menarik, menambah pengetahuan dan kosa kata pembaca. Pada bab ini juga Raditya Dika seolah memberi kode keras bahwa akan ada kelanjutan cerita tentang Miko dan malam minggunya yang selalu songong. Kemudian ada cerita tentang kucing peliharaannya, ya dia memang menyukai kucing (dan martabak).

Ada juga pengalaman lucunya saat menggunakan aplikasi tinder, aplikasi yang sengaja didownloadnya untuk mempermudah menghilangkan kutukan kejombloan yang sudah sangat akut. Dan tidak lupa ada satu bagian yang berisi tips gokil darinya yaitu pada cerita yang berjudul “Panduan Cowok dalam Menghadapi Penolakan” bagian ini sangat lucu. Pada novel-novel sebelumnya Raditya Dika memang selalu menyertakan beberapa tips gokil yang hanya akan ditiru oleh orang bego. Hahaha 
Beberapa cerita lainnya menceritakan tentang patah hati. Patah hati karena diselingkuhi, patah hati karena diputuskan padahal sudah merasa menjalani hubungan cukup lama. Meskipun terdengar sedih tapi Raditya Dika menyampaikannya melalui komedi. Bagian yang paling kusukai adalah cerita yang berjudul “Aku Ketemu Orang Lain”. Bukan karena ini menceritakan tentang sebuah hubungan jarak jauh tapi karena dari cerita ini aku seolah diingatkan pada kisah percintaanku semasa SMA. Hihi.

Teman-teman yang sedang galau pasti lebih menyukai bagian “Patah Hati Terhebat” karena pada cerita ini Raditya Dika benar-benar mengungkapkan bagaimana patah hati bisa mengubah seseorang, ini bagian yang paling serius dari novel ini. Pembaca setia karya-karya Raditya Dika pasti sudah tau bagaimana pembawaannya dalam menyampaikan cerita-cerita yang serius.

Dari cerita galau Raditya Dika banyak pencerahan yang kudapat. Aku jadi mengerti mengapa ada sebagian orang yang memilih tetap sendiri sekalipun banyak yang ingin mendekati, aku juga menjadi paham mengapa seseorang bisa dengan mudah berpisah dengan pasangannya. Novel ini sangat direkomendasikan untuk orang yang baru patah hati, ada banyak penguatan keren yang bisa ditemui di novel ini. Secara keseluruhan novel ini tetap lucu, kegalauan disampaikan dengan kalimat cool yang tidak basi dan benar-benar membuat kaget, kadang aku terkejut bagaimana bisa ada penulis yang sangat tahu perasaanku seperti ini.

Raditya Dika memang ajaib, karyanya selalu di tunggu. Semoga novel yang ini akan difilmkan seperti novel-novel sebelumnya juga.