Monday, February 02, 2015

Menjadi siswa yang menonjol

Sekolah merupakan tempat pertama kita mengenal lingkungan baru selain lingkungan keluarga, sekolah juga mengambil andil yang cukup besar dalam perkembangan pribadi seorang anak, bahkan karakter seorang anak bisa dipengaruhi oleh lingkungan sekolahnya. Aku sendiri sangat menyukai lingkungan sekolah, sejak dulu aku suka berada di lingkungan sekolah karena di lingkungan ini aku merasa keberadaanku diperhitungkan.
Aku pernah menjadi seorang siswa sebelum menjadi seorang mahasiswa, pernah merasakan duduk di bangku pelajar, dididik selayaknya anak-anak sampai merasakan kebebasan mengembangkan diri sebebas-bebasnya seperti sekarang ini. Sampai saat ini aku sudah melihat banyak fenomena dalam pendidikan Indonesia, mulai dari kisruh Ujian Nasional, pergantian kurikulum yang membingungkan, berita-berita mengenai kasus kekerasan oleh guru terhadap siswa, tawuran antar pelajar, penganiayaan yang dilakukan kakak kelas terhadap adik kelas, senioritas di kampus, OSPEK yang menjadi momok menakutkan bagi mahasiswa baru dan peristiwa-peristiwa lain yang telah menjadi image untuk pendidikan di negara kita, Indonesia.
Sejak menginjak Sekolah Dasar kita sudah berkenalan dengan dunia pendidikan formal. Sudah memasuki lingkungan baru, lingkungan sekolah. Sejak itu juga kita dibekali pengetahuan mengenai apa itu pendidikan. Kalau tidak salah dalam PPKN kita diberi pengertian mengenai pendidikan, pentingnya sebuah pendidikan dan hal-hal lain mengenai pendidikan yang waktu itu terasa membosankan dan tidak aku  mengerti sama sekali. Yang aku ingat mengenai pendidikan sewaktu SD adalah pendidikan diberikan supaya kita pintar, pelopor pendidikan di negara Indonesia adalah Ki Hajar Dewantara (ini juga dulu aku mati-matian harus ngafalinnya biar bisa mengisi soal ulangan IPS). Jujur saja sewaktu SD rasanya semua pelajaran tidak ada yang benar-benar membekas selain pelajaran membaca dan menghitung. Semua kalimat yang kubaca di buku paket terasa membingungkan, entah karena kalimatnya yang terlalu bertele-tele atau memang saat itu pemahamanku yang memang rendah, tapi aku tahu aku bukan satu-satunya pelajar yang mengalami ini. Pokoknya waktu SD sekolah bagiku adalah sebuah rutinitas, sebuah kegiatan. Aku melakukannya sebagai kegiatan harian. Aku senang ke sekolah karena bisa bertemu teman-teman, bisa bermain bersama. Aku ingat satu-satunya pelajaran yang aku suka adalah Bahasa Indonesia, aku benar-benar tidak suka belajar apa lagi menghitung, aku bahkan takut setiap pelajaran Matematika karena gurunya galak, aku agak terbelakang dalam pelajaran menghitung. Kalau disuruh mengerjakan soal ke depan aku sering gemetaran, takut salah, takut di marah, takut diejek teman sekelas. Aku menganggap Matematika sebagai hal yang menakutkan sejak SD. Dan aku tidak tahu kalau cara pandang yang ku bangun sejak itu ternyata berdampak besar sampai sekarang.
Memasuki bangku SMP aku mulai menyadari pentingnya pendidikan, dan cara pandangku mengenai sekolah sudah berubah. Sekolah bukan lagi hanya tempat bermain bagiku, banyak hal baru kutemui di sini. Bukan hanya sebatas teman baru, tapi juga kebiasaan baru, pengenalan personal yang lebih mendalam, aku tidak hanya puas bermain dengan mengetahui nama mereka tapi aku juga ingin tahu latar belakang mereka, pemahaman mengenai belajar juga sudah berubah. Sewaktu SD aku hanya belajar ketika ada PR tapi memasuki bangku SMP aku sudah mengenal persaingan, aku belajar karena tidak ingin nilaiku rendah dari temanku. Aku tidak ingin kalah karena itu aku harus belajar. 
Pada tingkatan berikutnya, Sekolah Menengah Atas (SMA) pandanganku mengenai sekolah terasa semakin matang. Sekolah bukan hanya keharusan tapi kebutuhan, belajar tidak kulakukan hanya karena takut nilaiku lebih rendah dari temanku tapi kulakukan karena memang aku mau belajar. Belajar kulakukan dengan penuh kesadaran bahwa aku memang ingin belajar, tanpa ada tekanan apa-apa. Hal seperti ini membuatku menjadi "pelajar yang bahagia". Aku belajar dengan senang, menerima materi yang disampaikan guru juga dengan mudah. Apa lagi fasilitas untuk belajar juga sudah banyak tersedia. Belajar tidak hanya harus membaca buku paket tapi bisa mengakses informasi dari internet, informasi yang tersedia seolah tanpa batas. Pokoknya belajar sangat menyenangkan. Tapi tetap saja tidak berlaku untuk pelajaran Matematika. bahkan sampai saat tulisan ini dibuat aku masih gagap menghafal kali (jangan salahkan guruku). Aku menyadari bahwa pola pikirku mengenai pelajaran ini sudah salah sejak dulu (sejak SD). Aku membangun ketakutanku sejak dini dan hasilnya ? sampai saat ini pikiran itu tidak bisa diubah. Aku selalu memandang Matematika sebagai pelajaran yang menakutkan, aku takut melakukan kesalahan karena itu aku menjadi siswa yang pasif di kelas ketika pelajaran ini berlangsung, aku selalu berpikiran guruku akan marah jika aku melakukan kesalahan karena itu pelajaran ini adalah pelajaran paling horor. Aku sering menghindari pelajaran ini, alasan ke WC selalu menjadi penyelamat. Padahal Matematika tidak semenakutkan itu, harusnya matematika menjadi pelajaran yang menyenangkan kalau saja pola pandangku tidak ku bentuk seperti ini sejak dulu.
Semua orang mempunyai pandangan yang berbeda-beda tentang sekolah. Ada yang memandang sekolah hanya sebagai tempat untuk belajar, ada yang ke sekolah hanya sebagai formalitas, ajang gengsi-gengsian, atau ada juga yang ke sekolah karena niat belajar tapi sesampainya di sekolah bukannya belajar malah main sama teman. Aku sendiri memandang sekolah sebagai tempat belajar dan bersosialisasi dengan orang lain, tempatku dikenal selain dilingkungan keluargaku. Di Sekolah seolah menjadi rumah kedua bagi pelajar, sebagian besar waktu dihabiskan di sini. Interaksi yang paling sering ditemui yaitu interaksi sesama pelajar dan pelajar dengan pengajar. Dan seringkali beberapa siswa tidak bisa menempatkan diri, tidak tahu bagaimana dan kapan harus menjadi pelajar dan menjadi dirinya sendiri saat berada di sekolah.
Aku mengelompokkan beberapa siswa sebagai berikut :
  • Ada siswa yang selalu menjadi pelajar tanpa pernah menunjukkan sisi "dirinya sendiri" ketika berada di sekolah, siswa jenis ini adalah mereka yang selalu tampak penurut bagi guru. Mereka yang tidak pernah melanggar aturan sekolah, mereka tidak terlalu menonjol tapi tidak juga terbelakang, mereka mengikuti arus begitu saja- datar. Siswa jenis ini selalu diam di kelas, tidak pernah ribut, dan selalu berpakaian rapi. Mereka hanya mendengarkan tapi sebenarnya tidak paham dengan apa yang guru jelaskan.
  • Jenis lainnya adalah siswa yang selalu ingin terlihat menonjol. Mereka adalah orang-orang yang ingin selalu diperhatikan. biasanya siswa seperti ini mempunyai karakter yang sudah kuat, sulit untuk diubah. Ada siswa yang tahu caranya agar menjadi  pusat perhatian di sekolah dengan menunjukkan prestasi, tapi bagi sebagian orang yang tidak bisa menempatkan diri, ini jelas menjadi masalah. Mereka ingin diperhatikan tapi mereka tidak tahu bagaimana caranya karena ternyata mereka tidak menonjol dalam mata pelajaran apapun. Menurutku inilah bibit-bibit yang menimbulkan siswa-siswa pembuat onar.
Aku sendiri masuk  dalam kelompok kedua. Aku adalah siswa yang ingin menonjol. Aku ingin diperhatikan banyak orang, aku tidak ingin hanya menjadi pengikut, aku ingin orang lain mengikutiku. Karena ini lingkungan sekolah berarti aku harus belajar keras. Karena kenyataannya bahwa siapapun kamu, kamu hanya akan dipandang sebagai seorang siswa ketika memasuki lingkungan sekolah, keberadaan kita sama. Karena itu agar menjadi pusat perhatian kamu harus menjadi siswa yang pintar, tekunlah belajar, kuasai semua materi dan ketika proses belajar mengajar dimulai akan terlihat hasilnya. Siswa yang benar-benar belajar akan berinteraksi baik dengan gurunya, interaksi itu akan menjadi perhatian banyak siswa yang lain. Bayangkan bagaimana kerennya saat semua orang di kelas tertunduk diam memikirkan jawaban dari pertanyaan guru dan kamu memecahkan keheningan itu dengan jawabanmu yang sangat tepat, kamu keren sekali, kamu pintar sekali, dan sebaliknya siswa yang tidak menguasai materi hanya akan menjadi pendengar tanpa menjadi pusat perhatian sama sekali. Aku tidak ingin hanya menjadi pendengar, aku bahkan kadang malu ketika ada guru yang bertanya dan tidak ada satupun yang mampu menjawabnya, karena itu aku belajar keras. Aku selalu mendapat ranking di kelas, dan keberadaanku diperhitungkan.
Tapi sebagian siswa lainnya ingin diperhatikan dengan cara yang berbeda, mereka tidak mampu menjadi sosok siswa yang pintar karena itu mereka melakukan hal-hal menyebalkan yang membuat mereka menjadi pusat perhatian. Misalnya rambut yang sengaja diwarnai atau laki-laki yang berambut panjang, mereka berpenampilan tidak rapi agar menjadi perhatian siswa lain, ada yang sengaja melanggar peraturan sekolah sejak awal masuk sampai kelulusan sehingga nama merekapun dikenang sepanjang masa sebagai penguasa daftar buku kasus sekolah.
Kadang aku bingung dengan siswa yang seperti ini, mereka biasanya mempunyai karakter yang memang kuat. Karakter buruk, sangat susah mengubah karakter mereka. Bahkan kadang guru merasa harus menggunakan kata-kata kasar untuk menggugah hati mereka, bahkan kadang ini yang menyebabkan guru melakukan kekerasan fisik. Karena itu aku tidak setuju jika orangtua menyalahkan guru ketika guru memarahi dan melakukan kekerasan terhadap anak mereka, karena kadang siswa yang menerima perlakuan seperti ini memang siswa yang kenakalannya sudah serius dan selalu mengulanginya. Tapi tentu saja hukuman yang diterima tidak keterlaluan.
Intinya sekolah merupakan tempat yang menyenangkan. Aku belajar banyak hal di sekolah, mulai dari hal positif sampai negatif, mengenali banyak karakter, berinteraksi dengan banyak orang. Ketika kamu menjadi pelajar dan ingin menjadi pusat perhatian maka hal yang harus kamu lakukan adalah belajar tekun, menguasai mata pelajaran sehingga interaksi dengan guru baik, semua orang akan memandangmu dan memperhitungkan keberadaanmu. Sebalikanya kalau kamu ingin menjadi pusat perhatian tetapi menunjukkannya dengan cara yang negatif, maka bersiap-siaplah mendapat perlakuan tidak baik dari sesamamu di sekolah. Kamu jelas diperhatikan, tapi tidak dianggap apa-apa, bahkan kadang kamu akan dianggap perusak suasana. Karena itu pandai-pandailah menempatkan diri. Kapan harus menjadi seorang pelajar dan kapan harus menjadi dirimu sendiri.
This entry was posted in