Thursday, February 05, 2015

Mama dan Mantra Ajaibnya

Terlalu indah dilupakan
Terlalu sedih dikenangkan
Setelah aku jauh berjalan
Dan kau ku tinggalkan
Betapa hatiku bersedih
Mengenang kasih dan sayangmu
Setulus pesanmu kepadaku
Engkau kan menunggu
Andaikan kau datang kembali
Jawaban apa yang kan ku beri
Adakah cara yang kau temui
Untuk kita kembali lagi
Bersinarlah bulan purnama
Seindah serta tulus cintanya
Bersinarlah terus sampai nanti
Lagu ini…ku…akhiri
Aku menutup laptop bersamaan dengan lantunan terakhir dari lagu yang dinyanyikan Ruth Sahanaya. Sebuah lagu penghantar tidur yang selalu didengarkan olehnya, dia yang telah tertidur lelap di sampingku.
Hari ini sangat  melelahkan, target untuk menyandang gelar SH tahun ini mulai pupus. Skripsiku ternyata harus melalui proses revisi, padahal aku merasa sudah melakukan yang terbaik, aku merasa kesalahan-kesalahan yang ditunjukkan dosen pembimbingku bukanlah kesalahan yang fatal. Hanya kekeliruan dalam meletakkan tanda baca dan kesalahan dalam menggunakan kata baku. Tapi apa hendak dikata, aku harus memperbaikinya lagi. Aku malas, benar-benar malas, aku tidak akan memperbaikinya lagi. Aku geram pada diriku sendiri. Hidup mulai terasa berat saat mengalami hal-hal seperti ini. Bahkan komedi seorang Raditya Dika tidak berhasil membuatku tersenyum sepanjang hari ini.
Aku membaringkan diri tepat di sampingnya, menatap dalam wajah yang sedang tertidur pulas itu. Guratan-guratan halus terdapat di beberapa bagian wajahnya. Dia mulai menua, mama sudah mulai mengeriput. Hih dia pasti mengomel jika aku mengungkapkan hal ini di depannya, dia tidak pernah terima saat aku mengatakan bahwa sekarang dia mulai tampak tua. Tangannya juga mulai keriput, ada urat-urat halus yang timbul di sana. 
Ah mama, waktu mungkin terlalu cepat berjalan. Aku sudah sedewasa ini, dan kau setua itu. Berapa lama kita telah bersama, 21 tahun ? oh beberapa bulan lagi 22 tahun kan ? sudah selama ini kita bersama. Terimakasih sudah menjadi teman hidup yang baik, terimakasih sudah menjadi sahabat sekaligus musuhku. Aku sangat berhutang budi padamu. Dan hutang-hutangku itu tidak akan pernah terlunaskan, karena kasih sayangmu tidak dapat digantikan dengan apapun di dunia ini. Tidak dengan tiket ziarah ke Yerusalem, atau cincin berlian untuk jari manismu yang tidak bercincin itu, tidak juga dengan sebuah rumah mewah dengan perpustakaan dan ruang bawah tanah, bahkan tidak juga dengan darahku yang ku donorkan untukmu. "Kau adalah yang paling mahal, paling berharga, sesuatu yang tak ternilai, tak tergantikan." Kalimat itu adalah kalimat ajaib milik kita berdua, kalimat yang selalu kau ucapkan sewaktu aku masih seorang bocah dan kerap kali menangis saat pulang sekolah karena diejek teman-temanku. Mereka mengatakan bahwa aku anak yang tak berayah, atau kadang-kadang mereka menceritakan sebuah kisah bahwa sesungguhnya aku mempunyai ayah tapi ayahku berubah menjadi anjing yang sering berkeliaran di sekitar halaman sekolah. Anjing itu berwarna putih, dengan bulu tebal membalut tubuhnya, entah siapa yang empunya. Anjing lucu itu selalu berada di halaman sekolah dan hilang saat kami keluar kelas, mungkin anjing itu keluar dan masuk pagar sekolah dengan meloncat. Aku hanya bisa menangis saat mendengar berbagai ejekan yang ditujukan untukku, saat itu aku masih terlalu dini untuk menertawai sebuah kesedihan. Kau pasti datang dan memelukku lalu mengucapkan mantra hebat itu, dan aku akan tersihir olehnya kemudian tersenyum dan aku melupakan kesedihanku karena ejekan mereka. Aku juga selalu melakukan hal yang sama saat menemuimu menangis seorang diri di meja makan, aku tidak pernah tahu apa penyebabnya. Yang aku lihat matamu memancarkan kesedihan yang teramat dalam, kesedihan yang terlambat aku mengerti karena usiaku yang masih sangat kecil saat itu. Yang jelas aku melakukannya, memelukmu dan membisikkan mantra ajaib kita, lalu berhasil. Kau akan menyeka air matamu lalu tersenyum dan memelukku. Sampai akhirnya aku beranjak dewasa dan tangis tidak sesering itu menghampirimu. Aku hanya sesekali memergokimu terdiam di ruang tamu kita yang sempit dengan tatapan lelah, dan aku selalu datang padamu, berpura-pura membereskan buku-buku latihan murid-muridmu atau benda apapun yang terdapat di meja tua kita lalu aku mengajakmu mengobrol, mecoba menghiburmu. Mantra kita memang sudah jarang aku bisikkan di telingamu, tapi percayalah itu kalimat yang selalu ku selipkan dalam doa-doaku, dalam doa-doamu juga tentunya.
Mama.. aku tahu beban yang kau pikul sangat berat, bahkan tanpa perlu kau ungkapkan aku telah merasakan lelah yang menjejalimu selama ini. Bersabarlah, sebentar lagi aku pasti lulus. Lalu aku akan bekerja dan gaji pertamaku akan kugunakan untuk membeli sebuah bath tube, dan kita akan berendam bersama sepanjang hari itu, mandi busa sambil menikmati susu hangat di pagi hari. Mungkin sebuah hadiah sederhana dapat menghiburmu, dan bebanmu akan sedikit berkurang jika aku telah bekerja. Setidaknya aku bisa membeli body lotion dan shampoo menggunakan uangku sendiri.
Kemudian aku beranjak bangun, membiarkan mama tetap tertidur pulas. Aku menyalakan laptopku untuk kesekian kalinya sepanjang hari ini. Kukumpulkan semua niatku, lalu ku buka file skripsiku. Aku harus segera membenahinya, aku harus segera wisuda tahun ini. Jam menunjukkan pukul 21.45 WIB dan aku segera tenggelam dalam dunia kecilku. sebelumnya ku putar lagi lagu berjudul Andai kau datang kembali yang dinyanyikan oleh Ruth Sahanaya, lagu kesukaan mama. Mungkin lagu itu untuk seseorang, untuk ayah yang tidak kami ketahui keberadaannya sampai saat ini mungkin.

(6 Februari 2015- untuk dikenang pada bulan-bulan terakhir tahun depan)

















This entry was posted in

0 comments:

Post a Comment