Tuesday, February 10, 2015

Hemat. Hemat. Hemat.



Manage your money


Hari pertama di semester 4. Minggu kedua di bulan februari, hujan masih sering menyambangi kota khatulistiwa ini. 
Aku yang sudah tidak sabar ingin bertemu teman-teman di kampus merenung menatap ke luar jendela.
Harusnya aku sudah ada di kampus sejak 30 menit yang lalu, tapi hujan menghalangiku untuk berangkat ke sana. Aku duduk dengan malasnya, menunggu hujan yang tidak kunjung berhenti. Mataku nanar menatap tiap bulirnya yang jatuh deras menyerupai garisan-garisan kecil. Haruskah aku menonton dulu, menyaksikan tayangan tentang pertikaian dua instansi besar di negeri tercinta ini, ah terlalu membosankan. Aku juga belum membeli novel baru untuk ku baca. Baiklah baiklah, aku duduk saja di sini, semoga hujan cepat reda. Aku membangun sugesti positif di dalam diriku.
Alih-alih menunggu hujan aku membongkar tempat penyimpanan buku-bukuku, meraih buku tabungan yang sudah lama tidak ku sentuh. 
Ku buka buku tabungan itu, saldonya masih sama seperti saat pertama kali membuat rekening ini. Hah aku bahkan tidak pernah mengisinya lagi. Aku berpikir sejenak, ke mana larinya uang-uangku selama ini. Harusnya dengan uang jajan yang lebih dari cukup aku sudah mempunyai tabungan pribadi, jadi untuk mengganti handphone tidak perlu meminta lagi pada bapak. Aku juga jarang berbelanja pakaian, aku kan bukan shopaholic. Membeli buku juga akhir-akhir ini tidak sering, menonton juga sudah jarang. Sejak hubungan kami renggang aku malah belum menginjakkan kaki di bioskop itu, aku benar-benar menghindari tempat yang mengingatkanku pada kenangan kami. Aku terdiam, mungkin aku yang tidak bisa mengontrol diriku sehingga tidak tau pastinya untuk apa saja uangku ku gunakan.
Aku agak kecewa menyadari diriku seperti ini. Harusnya aku tidak hanya pandai berteori tentang keuangan saat menegur temanku yang sangat sering menuntut uang saku tambahan pada mamanya. Kebiasaan ini tidak baik, aku tidak ingin tumbuh menjadi seseorang yang tidak terkontrol saat mengelurakan uang, kemudian tanpa sadar telah menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak penting. Aku teringat pada Rebecca Blomwood, seorang sophaholic dalam novel Sophie Kinsela. Dia adalah seorang wanita (yang karirnya tidak sukses) yang sangat hobby berbelanja. Ia adalah tipe wanita yang sangat percaya diri tapi sesungguhnya bodoh dalam pekerjaannya, merasa harus selalu tampil sempurna dan jadi pusat perhatian, ia menghabiskan banyak uang hanya untuk menutupi kebodohannya itu, tiap kali ia merasa stress hiburan paling membahagiakan untuknya adalah berbelanja, ia menggunakan semua kartu kredit yang ia punya sampai akhirnya ia berhutang dan tidak mampu melunasi hutang-hutangnya. Dunia terasa kejam karena pola hidupnya yang boros.
Aku tentu saja tidak ingin menjalani hidup seperti itu, memangnya ada hidup seperti itu ? Mana ada manusia yang mampu hidup dengan berhutang. Aku ngeri membayangkannya, jangankan berhutang dalam jumlah banyak, meminjam uang untuk membayar biaya parkir pada teman kadang aku merasa tidak enak.
Kemudian sebuah pemikiran yang baik datang padaku, aku harus mengubah kebiasaanku membelanjakan uang untuk sesuatu yang tidak jelas. Aku harus mulai menabung dari sekarang, pokoknya sebisa mungkin aku harus bisa menyisakan uang jajan bulanan dari mama dan bapak. Bukankah aku senang menabung sewaktu masih kecil ? ke mana hilangnya kebiasaan baik itu sekarang.Mungkin karena jauh dari keluarga jadi tidak ada yang mengontrol. Sejak tinggal terpisah dengan orangtua aku sudah diberi kebebasan sendiri untuk mengatur uang jajanku, harusnya aku sudah ahli dalam hal mengatur keuangan. Tapi satu hal yang perlu aku catat baik-baik dari diriku yang tidak pintar dalam mengatur uang ini, Aku tidak pernah meminta uang tambahan. Mungkin itu bukan hal istimewa bagi sebagian orang, tapi bagiku itu luar biasa karena di antara teman-teman hanya aku yang tidak terlalu menuntut pada orangtua. Yah selamat selamat. Hahaha. Tapi tetap saja kan kesimpulannya tidak pandai mengatur uang, karena aku tidak tahu ke mana saja uangku ku belanjakan. Buka dompet uangnya udah menipis, buka buku tabungan saldonya nggak nambah-nambah. 
Akhirnya dengan tekad yang sangat kuat aku menanamkan pikiran positif itu. Bulan ini uang jajanku harus bersisa, tahun ini semua uang yang aku peroleh aku prioritaskan untuk mengisi tabunganku. Semoga diakhir tahun saat buku tabungan ini ku buka saldonya sudah berkali-kali lipat dari saldo hari ini.
Aku menutup buku tabunganku, ku pindahkan dari tempat penyimpanan buku. Tidak akan ku simpan di sana lagi karena itu tempat yang jarang ku sentuh. Aku lalu menyimpannya dalam map merah, menyatukannya dengan lirs dan jadwal kuliahku, sekarang buku tabungan ini menjadi hal yang sangat penting, sepenting kuliah yang harus ku selesaikan secepat mungkin. Aku menutup map itu dan menyimpannya, hujan sudah reda dan aku segera beranjak, aku harus ke kampus sekarang juga.
***

Saturday, February 07, 2015

Dear future me in 2018

Dear : Claudia Liberani in future

Apa kabar Ran ?
Ketika menulis surat ini aku sedang libur semester tiga. Dua hari lagi aku akan memasuki semester 4. Berat badanku masih 37 kilogram dan wajahku masih jerawatan. Aku masih senang-senangnya dengan warna rambutku yang baru. Sejak beberapa bulan yang lalu aku sudah mulai belajar memasak. Aku juga sedang berusaha menyelesaikan autobiografi kakek dan novel pribadi tentangku dan dia. Oh iya aku masih bersamanya saat aku menulis surat ini. Dia, abang gondrong yang entah kapan akan potong rambut.
Aku juga sedang berusaha menabung, menyisihkan uang jajanku sedikit demi sedikit. Hahaha. Karena itu jadi jarang menonton ke bioskop dan membeli novel baru. hiiiks.
Sebelum memutuskan untuk menulis surat ini aku sudah memutuskan untuk membuat beberapa goals yang harus sudah aku capai saat membuka surat ini di tahun 2018.
  • Semoga saat membaca surat ini kamu sudah menyandang gelar SH dan mempunyai pekerjaan yang layak. Aktivitasmu tidak hanya "Bangun-mengantar ma ua ke sekolah-makan-tidur- dan kuliah". Kamu sudah memiliki kesibukan dengan pekerjaanmu yang menyenangkan.
  • Kamu sudah mempunyai beberapa novel sang sudah diterbitkan, dan tabunganmu semakin banyak.
  • Hubunganmu dengan orang-orang terdekatmu juga semakin baik, nenek dan kakek masih sehat dan mama & bapak sudah tinggal di rumah yang baru.
 Baiklah, hanya ini yang kutuliskan. Semoga kamu tetap sehat dan lebih bahagia.

Regards,
your past..

Thursday, February 05, 2015

D'plants (Dessert Plants) tempat dessert asik di Pontianak

Dessert Plants
Seperti kota-kota pada umumnya Pontianak menawarkan aneka kuliner yang beragam, salah satunya dessert.  
D'plants sebuah tempat dengan menu utama dessert yang bertempat di Matahari Mall Pontianak, jalan Jendral Urip Sumoharjo hadir untuk memuaskan keinginan pecinta kuliner supaya dapat menikmati dessert lezat yang unik.
Dengan mengangkat konsep western berpadu asian suasana di dalam ruangan ini sangat nyaman. interior ruangan yang ditata sedemikian rupa membuat tempat ini terlihat sangat menarik. Penyinaran yang tepat di beberapa bagian juga membuat pengambilan gambar jelas ketika berfoto terutama untuk teman-teman untuk yang senang selfie.



Dessert yang disediakan di sini sangat unik dengan tampilan yang lucu sehingga banyak peminatnya. Ketika dihidangkan dessertnya benar-benar tampak seperti pot tanaman berisi tanah dengan bunga yang tumbuh di atasnya. Dan uniknya lagi ketika disendok akan muncul cacing yang terbuat dari jelly bening. Topping yang disediakan juga beragam, ada red bean, taro, nanoo milk jelly dan bermacam-macam topping lainnya.


seperti dua pot berisi tanah dan pasir..



Ada beberapa menu yang disediakan di sini, salah satunya yang sangat kusukai adalah sand soil, yaitu milo dengan saoo dessert dan shaved ice dengan topping taro

 Sand Soil













Yang ini adalah Black Soil.
Selain sajiannya yang unik di sini kita juga bisa menentukan kadar gula yang akan digunakan, bisa satu sendok, dua atau tiga. Jadi untuk teman-teman yang sedang diet atau memiliki gula darah yang terlalu tinggi tidak usah takut mencoba dessert ini, kita tetap bisa mengontrol kadar gula untuk dessert yang kita nikmati. Oo iya sugar yang digunakan di sini adalah palm sugar. 

 Clovers menu ada di sini dengan harga yang cukup terjangkau yaitu 18K
Choose your sugar level girls. Jangan takut pada kalori lagi. hihi


Jadi untuk teman-teman yang sedang mencari tempat santai sambil menikmati dessert unik yang nikmat, tempat ini sangat direkomendasikan. Buka setiap hari di lantai satu Matahari Mall, dan jangan lupa berdandan secute mungkin karena aku yakin kalian tidak akan datang ke sini tanpa berfoto. .Hihi.


























Mama dan Mantra Ajaibnya

Terlalu indah dilupakan
Terlalu sedih dikenangkan
Setelah aku jauh berjalan
Dan kau ku tinggalkan
Betapa hatiku bersedih
Mengenang kasih dan sayangmu
Setulus pesanmu kepadaku
Engkau kan menunggu
Andaikan kau datang kembali
Jawaban apa yang kan ku beri
Adakah cara yang kau temui
Untuk kita kembali lagi
Bersinarlah bulan purnama
Seindah serta tulus cintanya
Bersinarlah terus sampai nanti
Lagu ini…ku…akhiri
Aku menutup laptop bersamaan dengan lantunan terakhir dari lagu yang dinyanyikan Ruth Sahanaya. Sebuah lagu penghantar tidur yang selalu didengarkan olehnya, dia yang telah tertidur lelap di sampingku.
Hari ini sangat  melelahkan, target untuk menyandang gelar SH tahun ini mulai pupus. Skripsiku ternyata harus melalui proses revisi, padahal aku merasa sudah melakukan yang terbaik, aku merasa kesalahan-kesalahan yang ditunjukkan dosen pembimbingku bukanlah kesalahan yang fatal. Hanya kekeliruan dalam meletakkan tanda baca dan kesalahan dalam menggunakan kata baku. Tapi apa hendak dikata, aku harus memperbaikinya lagi. Aku malas, benar-benar malas, aku tidak akan memperbaikinya lagi. Aku geram pada diriku sendiri. Hidup mulai terasa berat saat mengalami hal-hal seperti ini. Bahkan komedi seorang Raditya Dika tidak berhasil membuatku tersenyum sepanjang hari ini.
Aku membaringkan diri tepat di sampingnya, menatap dalam wajah yang sedang tertidur pulas itu. Guratan-guratan halus terdapat di beberapa bagian wajahnya. Dia mulai menua, mama sudah mulai mengeriput. Hih dia pasti mengomel jika aku mengungkapkan hal ini di depannya, dia tidak pernah terima saat aku mengatakan bahwa sekarang dia mulai tampak tua. Tangannya juga mulai keriput, ada urat-urat halus yang timbul di sana. 
Ah mama, waktu mungkin terlalu cepat berjalan. Aku sudah sedewasa ini, dan kau setua itu. Berapa lama kita telah bersama, 21 tahun ? oh beberapa bulan lagi 22 tahun kan ? sudah selama ini kita bersama. Terimakasih sudah menjadi teman hidup yang baik, terimakasih sudah menjadi sahabat sekaligus musuhku. Aku sangat berhutang budi padamu. Dan hutang-hutangku itu tidak akan pernah terlunaskan, karena kasih sayangmu tidak dapat digantikan dengan apapun di dunia ini. Tidak dengan tiket ziarah ke Yerusalem, atau cincin berlian untuk jari manismu yang tidak bercincin itu, tidak juga dengan sebuah rumah mewah dengan perpustakaan dan ruang bawah tanah, bahkan tidak juga dengan darahku yang ku donorkan untukmu. "Kau adalah yang paling mahal, paling berharga, sesuatu yang tak ternilai, tak tergantikan." Kalimat itu adalah kalimat ajaib milik kita berdua, kalimat yang selalu kau ucapkan sewaktu aku masih seorang bocah dan kerap kali menangis saat pulang sekolah karena diejek teman-temanku. Mereka mengatakan bahwa aku anak yang tak berayah, atau kadang-kadang mereka menceritakan sebuah kisah bahwa sesungguhnya aku mempunyai ayah tapi ayahku berubah menjadi anjing yang sering berkeliaran di sekitar halaman sekolah. Anjing itu berwarna putih, dengan bulu tebal membalut tubuhnya, entah siapa yang empunya. Anjing lucu itu selalu berada di halaman sekolah dan hilang saat kami keluar kelas, mungkin anjing itu keluar dan masuk pagar sekolah dengan meloncat. Aku hanya bisa menangis saat mendengar berbagai ejekan yang ditujukan untukku, saat itu aku masih terlalu dini untuk menertawai sebuah kesedihan. Kau pasti datang dan memelukku lalu mengucapkan mantra hebat itu, dan aku akan tersihir olehnya kemudian tersenyum dan aku melupakan kesedihanku karena ejekan mereka. Aku juga selalu melakukan hal yang sama saat menemuimu menangis seorang diri di meja makan, aku tidak pernah tahu apa penyebabnya. Yang aku lihat matamu memancarkan kesedihan yang teramat dalam, kesedihan yang terlambat aku mengerti karena usiaku yang masih sangat kecil saat itu. Yang jelas aku melakukannya, memelukmu dan membisikkan mantra ajaib kita, lalu berhasil. Kau akan menyeka air matamu lalu tersenyum dan memelukku. Sampai akhirnya aku beranjak dewasa dan tangis tidak sesering itu menghampirimu. Aku hanya sesekali memergokimu terdiam di ruang tamu kita yang sempit dengan tatapan lelah, dan aku selalu datang padamu, berpura-pura membereskan buku-buku latihan murid-muridmu atau benda apapun yang terdapat di meja tua kita lalu aku mengajakmu mengobrol, mecoba menghiburmu. Mantra kita memang sudah jarang aku bisikkan di telingamu, tapi percayalah itu kalimat yang selalu ku selipkan dalam doa-doaku, dalam doa-doamu juga tentunya.
Mama.. aku tahu beban yang kau pikul sangat berat, bahkan tanpa perlu kau ungkapkan aku telah merasakan lelah yang menjejalimu selama ini. Bersabarlah, sebentar lagi aku pasti lulus. Lalu aku akan bekerja dan gaji pertamaku akan kugunakan untuk membeli sebuah bath tube, dan kita akan berendam bersama sepanjang hari itu, mandi busa sambil menikmati susu hangat di pagi hari. Mungkin sebuah hadiah sederhana dapat menghiburmu, dan bebanmu akan sedikit berkurang jika aku telah bekerja. Setidaknya aku bisa membeli body lotion dan shampoo menggunakan uangku sendiri.
Kemudian aku beranjak bangun, membiarkan mama tetap tertidur pulas. Aku menyalakan laptopku untuk kesekian kalinya sepanjang hari ini. Kukumpulkan semua niatku, lalu ku buka file skripsiku. Aku harus segera membenahinya, aku harus segera wisuda tahun ini. Jam menunjukkan pukul 21.45 WIB dan aku segera tenggelam dalam dunia kecilku. sebelumnya ku putar lagi lagu berjudul Andai kau datang kembali yang dinyanyikan oleh Ruth Sahanaya, lagu kesukaan mama. Mungkin lagu itu untuk seseorang, untuk ayah yang tidak kami ketahui keberadaannya sampai saat ini mungkin.

(6 Februari 2015- untuk dikenang pada bulan-bulan terakhir tahun depan)

















This entry was posted in

Tuesday, February 03, 2015

Novel Koala Kumal karya Raditya Dika


Hallo. Untuk penikmat karya Raditya Dika, ada kabar gembira karena buku Koala Kumal sudah diterbitkan. Horaaaaay!!!!
Kali ini aku mau mengulas tentang novel Raditya Dika yang baru diterbitkan awal tahun ini, judulnya Koala Kumal. Novel ini sangat direkomendasikan untuk teman-teman yang sedang mencari bacaan apa yang cocok untuk menemani waktu kosong, apa lagi untuk yang sedang libur semester dan tidak ada kerjaan di rumah. Dari pada bingung di rumah seharian mending baca novel. Apa lagi novel karya Raditya Dika memang fresh dan lucu. Cocok untuk membangkitkan mood.
Novel ini terdiri dari 12 bab dengan judul berbeda, dengan tebal 247 halaman buku ini tidak membosankan sama sekali, Raditya Dika memang tidak pernah membosankan. Disampaikan dengan kalimat yang ringan, mudah dimengerti dan khas seorang Raditya Dika, penuh komedi. Seperti yang diungkapkannya pada bagian prakata, sesuatu memang lebih mudah dipahami kalau kita tertawai.

Dengan bahasa-bahasa yang tidak kaku dan kalimat yang tidak berbelit-belit Raditya Dika berhasil menyampaikan segala kegundahannya dengan sempurna. Itu yang membuat aku sampai saat ini masih menempatkan Raditya Dika sebagai salah satu penulis favorit Indonesia di urutan atas. Dia tidak pernah menggunakan kalimat-kalimat melow dangdut untuk mengungkapkan kekecewaan, untuk menyampaikan rasa sakit dari patah hati, dia cool dengan kalimat-kalimat ajaibnya yang sangat memotivasi. 
 
Ada beberapa kalimat yang sampai novel ini selesai kubaca masih melekat dengan baik di ingatanku. Karena sama seperti novel-novel berikutnya semua cerita yang ada pada novel ini diangkat dari pengalaman pribadinya secara langsung. Jadi kejadian-kejadian yang diceritakan di novel ini memang kejadian yang sering dialami orang pada umumnya. 
 
Pada Bab 1 yang berjudul “Ada Jangwe di Kepalaku” Raditya Dika seolah mengajak pembaca untuk kembali ke masa kecil. Masa di mana kenakalan menjadi hal yang menyenangkan, masa di mana kita bisa berteman akrab sekali kemudian saling menjauh dan seolah tidak kenal sama sekali. Aku teringat pada beberapa teman yang sewaktu SD sangat dekat sekali, sampai mandi sama-sama, makan dan tidur siang sama-sama, tapi kemudian entah karena apa kami saling menjauh bahkan sekarang saat sudah dewasa seperti tidak pernah kenal dekat satu sama lainnya. Ketika bertemu hanya saling pandang lalu saling melempar senyum dan berlalu.
 
Raditya Dika juga membagi pengalamannya sebagai seorang sutradara, dia menceritakan bagaimana usaha yang dilakukannya untuk merintis serial Malam Minggu Miko pada bab yang berjudul “Menciptakan Miko., bagaimana susahnya menangani masalah-masalah saat shooting, mencari pemeran pengganti saat pemeran utamanya tiba-tiba tidak datang. Dia menceritakan usahanya dari nol untuk menjadikan Miko sebagai tontonan yang disaksikan dan diperhitungkan banyak orang seperti saat ini.

Banyak istilah-istilah yang berhubungan dengan dunia perfilman pada bagian ini, dan itu sangat menarik, menambah pengetahuan dan kosa kata pembaca. Pada bab ini juga Raditya Dika seolah memberi kode keras bahwa akan ada kelanjutan cerita tentang Miko dan malam minggunya yang selalu songong. Kemudian ada cerita tentang kucing peliharaannya, ya dia memang menyukai kucing (dan martabak).

Ada juga pengalaman lucunya saat menggunakan aplikasi tinder, aplikasi yang sengaja didownloadnya untuk mempermudah menghilangkan kutukan kejombloan yang sudah sangat akut. Dan tidak lupa ada satu bagian yang berisi tips gokil darinya yaitu pada cerita yang berjudul “Panduan Cowok dalam Menghadapi Penolakan” bagian ini sangat lucu. Pada novel-novel sebelumnya Raditya Dika memang selalu menyertakan beberapa tips gokil yang hanya akan ditiru oleh orang bego. Hahaha 
Beberapa cerita lainnya menceritakan tentang patah hati. Patah hati karena diselingkuhi, patah hati karena diputuskan padahal sudah merasa menjalani hubungan cukup lama. Meskipun terdengar sedih tapi Raditya Dika menyampaikannya melalui komedi. Bagian yang paling kusukai adalah cerita yang berjudul “Aku Ketemu Orang Lain”. Bukan karena ini menceritakan tentang sebuah hubungan jarak jauh tapi karena dari cerita ini aku seolah diingatkan pada kisah percintaanku semasa SMA. Hihi.

Teman-teman yang sedang galau pasti lebih menyukai bagian “Patah Hati Terhebat” karena pada cerita ini Raditya Dika benar-benar mengungkapkan bagaimana patah hati bisa mengubah seseorang, ini bagian yang paling serius dari novel ini. Pembaca setia karya-karya Raditya Dika pasti sudah tau bagaimana pembawaannya dalam menyampaikan cerita-cerita yang serius.

Dari cerita galau Raditya Dika banyak pencerahan yang kudapat. Aku jadi mengerti mengapa ada sebagian orang yang memilih tetap sendiri sekalipun banyak yang ingin mendekati, aku juga menjadi paham mengapa seseorang bisa dengan mudah berpisah dengan pasangannya. Novel ini sangat direkomendasikan untuk orang yang baru patah hati, ada banyak penguatan keren yang bisa ditemui di novel ini. Secara keseluruhan novel ini tetap lucu, kegalauan disampaikan dengan kalimat cool yang tidak basi dan benar-benar membuat kaget, kadang aku terkejut bagaimana bisa ada penulis yang sangat tahu perasaanku seperti ini.

Raditya Dika memang ajaib, karyanya selalu di tunggu. Semoga novel yang ini akan difilmkan seperti novel-novel sebelumnya juga.