Saturday, January 24, 2015

Patah hati


Aku memandangnya lekat-lekat, mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa dia benar-benar marah.
Aku mencoba meredam amarahnya, mencoba menenangkan hatinya.
 "Kamu marah ?"
Aku mencoba memulai obrolan kami dengan kalimat yang sama, selalu itu ketika kami sedang bertengkar.
 "Nggak kok, aku lagi sibuk makanya pesan kamu nggak dibalas".
Dan selalu itu jawabannya. Seperti sudah tersistem secara otomatis bahwa itu adalah jawaban yang harus disampaikan jika mendengar pertanyaan "Kamu marah".
Dia menjawabku tanpa memandang wajahku sama sekali. Aku hanya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan, mencoba menahan air mataku untuk keluar. 
Selalu begini, kami bertengkar dan aku selalu merasa menjadi pihak yang tersakiti tapi juga menjadi pihak yang meminta maaf. Entah apa yang salah dalam hubungan kami, kami selalu saja begini. Bertengkar, terdiam, saling sadar, memaafkan, lalu saling menjaga jarak. Tapi setelahnya kami akan saling memulai, menjadi lebih dekat, lagi.. dan lagi.
Tapi kali ini berbeda. Sudah tiga hari kami seperti orang lain, aku mencoba memulainya lagi, menghubunginya baik-baik dengan kalimat baik, Tanpa cacian, tanpa omelan. Tapi tidak digubrisnya, tidak dianggap dan terakhir dia mengatakan dia tidak harus membalasnya karena itu bukan hal penting. Aku gelisah dengan keadaan seperti ini. Entah apa yang ingin hatiku ketahui, sebuah harapan lagi ataukah sebuah kenyataan. Sesungguhnya selama ini akulah yang terlalu berharap dalam hubungan kami. Aku selalu berharap kami akan menjalani hubungan ini dengan kebahagiaan, sebahagia perasaan kami saat bergandengan mengitari bangku-bangku bioskop ketika pulang menonton. Aku selalu berharap kami bahagia, sebahagia kami tanpa pertengkaran. Tapi kenyataannya pertengkaran justru lebih sering terjadi dalam hubungan ini. Kadang karena aku yang terlalu egois, tapi kadang juga karena dia yang terlalu idealis. Aku menyadarinya, aku sadar jika kami sudah saling tersakiti. Tapi aku tidak ingin melepasnya, sama sekali tidak ingin berpisah.
Suasana kami semakin dingin, segelas mocca float dengan dua sedotan di meja belum tersentuh sama sekali. Ah harusnya pelayan cafe ini tidak menghantarkan pesanan seperti yang biasa kami pesan. Aku mulai putus asa dengan pertemuan kali ini, pasti tidak mengubah keadaan. Kami akan tetap seperti ini, seperti bermusuhan dan aku benci karena dia selalu bersikap seolah-olah aku ini musuh, seolah-olah aku ini orang paling bersalah dan yang paling aku benci diantara semua sikapnya adalah dia bersikap seolah-olah ingin mengakhiri hubungan kami, dia akan meninggalkanku.
 "Aku capek sama hubungan kita, kita harus berhenti, kita pisah sekarang"
Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutnya, dan telingaku langsung panas mendengarnya. Perlahan rasa panas itu menjalar menuju mataku dan keluarlah butiran-butiran bening yang hangat itu, aku menangis, menahan isakku agar tidak terdengar pengunjung cafe yang lain.
 "Kita baru balikan seminggu yang lalu. Aku nggak mau putus."
 "Tapi aku udah nggak bisa jalani hubungan kita. Aku nggak bisa. Kita nggak bahagia. Kamu nggak bahagia, aku sibuk dan kamu nggak pernah ngerti kesibukan aku. Kamu nggak pernah ngerti sama lingkungan aku, kamu selalu marah nggak jelas, kamu nangis tiap hari, merengek seperti anak kecil. Aku capek sama keadaan ini."
Dia berbicara pelan tapi tegas, menatap mataku yang mulai sembab dengan tatapan tegas, penuh keyakinan.
 "Tapi aku nggak mau, aku nggak bisa, aku nggak mau putus lagi”. Tangisku semakin pecah dan mulai menarik perhatian pelayan cafe yang biasa menghantarkan pesanan kami, yang sudah tahu bahwa kami pengunjung setia mereka.
Dia memandag sekeliling kami dengan pandangan tidak nyaman, berpura-pura merapikan lengan kemejanya.
 "Dengerin aku, udah berapa kali kita bertengkar kayak gini. Udah berapa kali kamu nangis gara-gara aku ? Kamu nggak bahagia sama aku, kamu lagi maksa diri kamu, aku nggak mau terlihat jahat. Mau sampai kapan kita kayak gini ? kamu tersakiti, kamu jangan nyiksa diri kamu lagi.”
Aku semakin tertekan mendengar kalimatnya, dia tidak tahu bahkan dengan pertengkaranpun aku sanggup bersamanya, asalkan bersamanya.
“Aku bahagia kok sama kamu, aku senang bisa sama-sama kamu, aku senang... tolong jangan gini, jangan pisah.. aku nggak mau, aku nggak bisa..”
“Kamu bisa, kamu aja yang nggak pernah coba lupain aku, kamu nggak pernah ngasi waktu ke diri kamu sendiri untuk berpikir. Jangan bodoh, jangan memaksa.”
Ya Tuhan.. kalimatnya benar-benar memukulku. Aku benar-benar menangis sekarang. Tidak peduli lagi dengan tatapan pelayan cafe yang berdiri di samping meja kasir. Pandanganku bahkan kabur tertutup air mata.
“Kamu kenapa sih ? kenapa sampai putus ? aku nggak mau. Pokoknya nggak mau. Kamu nggak boleh pergi. Aku janji aku nggak bakal marah lagi, aku nggak marah kalau kamu nggak ngasi kabar seharian, nggak apa-apa asalkan kita jangan putus. Aku nggak akan nangis lagi, tapi aku mohon jangan putus. Aku janji...”
Aku mengucapkan kalimat itu terbata-bata.
Dia memandangku, akhirnya sebuah pandangan lembut. Diambilnya tisu dan dihapusnya air mataku. Aku ingin memeluknya saat itu juga. Kuraih tangannya, kugenggam erat, pandangannya lekat menatap mataku yang sembab. Dilepaskannya genggaman kami.
“Maaf.. tapi aku nggak bisa. Kita hanya akan saling menyakiti, kita udah terlalu jauh. Semakin lama mengulur waktu untuk berhenti kita akan semakin terluka. Aku tahu ini mungkin terlalu sakit untukmu, aku sayang sama kamu, sayang sekali. Tapi kita harus pisah. Kamu perempuan, tolong jangan terlihat seperti sedang mengemis. Maaf...”
Aku menutup wajahku, berharap ini hanya mimpi. Aku tidak ingin mendengar kalimat berikutnya. Dia benar-benar serius dengan ucapannya, dia akan pergi.
Kemudian yang aku dengar hanya suara kursi yang berderit dan aku bisa membayangkan dia berdiri untuk pergi. Aku memejamkan mataku, menyembunyikan wajah dengan telapak tangan.
“Aku pasti nyesal udah kayak gini, tapi ini untuk kamu juga, kamu nggak bisa menyiksa diri kamu sendiri. Aku sayang sama kamu, yang kuat, yang sabar, ini cuma masalah waktu..”
Selanjutnya yang aku dengar adalah lagkah kakinya, aku semakin erat memejamkan mataku, suara langkah itu semakin jauh. Dan saat aku membuka mataku yang kulihat hanya siluetnya, dia berjalan tenang tanpa menoleh ke belakang sama sekali. Akhirnya dia benar-benar meninggalkanku.
Aku patah hati.
Rasanya aku ingin berlari mengejarnya, memeluknya erat dan memintanya untuk tetap bertahan. Tapi lidahku kelu, kaki-kakiku terasa berat, air mataku semakin deras. Aku tidak peduli lagi pandangan orang-orang di sekitarku, ku kepalkan tanganku kuat-kuat, aku mencoba menguatkan hatiku, memeluk luka di dalamnya, aku benar-benar kehilangannya. Aku benar-benar patah hati.