Thursday, January 22, 2015

Karena bahagia bukan untuk dipandang, tapi dirasakan




Maaf harus mengutip kalimat orang bijak yang fenomenal ini. Hahaha. Yah sebagai penegasan kalau kali ini aku mau menuliskan uneg-uneg tentang resiko berpacaran dengan orang yang penampilannya berbeda dengan kita.
Kalian pasti pernah mengalami ini.
Dekat dengan seorang cowok/cewek yang secara out looking jauh beda sama kalian. Dan komentar orang-orang di sekitar kalian "Kok kamu mau dekat sama dia ?   
Aku sangat sering mendapat dan menjawab pertanyaan ini, aku sangat sering mendapati pandangan kaku orang-orang saat berjalan beriringan dengan pacarku, aku sangat sering melihat orang yang sudah berlalu melewati kami kembali membalikkan badan hanya untuk melihat dua sosok pasangan "aneh" berdiri mengantri tiket untuk menonton, aku sering mendapati wajah terkejut orang-orang yang kami lewati saat kami bergandengan tangan dengan tawa mengembang di wajah kami, aku sering melihat mereka seolah berteriak "Bagaimana Bisa???" dan masih banyak respon-respon yang tidak seharusnya ditunjukkan ketika melihat kami bersama.
Aku sebenarnya tidak pernah risih dengan hal ini, aku selalu merasa baik-baik saja saat bersama pacarku di tempat umum. Sebenarnya dia tidak seaneh itu, tidak seaneh pikiran yang kalian ciptakan. Hanya saja terlihat aneh saat mendapati seorang laki-laki berambut panjang melebihi bahunya berjalan menggandeng cewek mungil yang sangat manis di sebuah Mall. Sosok sepertinya tidak akan terlihat aneh jika berada di sekitar kampus, kalian pasti mengerti. Hahaha ya kira-kira begitulah penggambaran untuk mahasiswa semester atas yang sangat betah berlama-lama kuliah. 
Dia adalah orang yang berpenampilan selengean, coba bayangkan cara berpakaian personil grup band Slank. Seperti itulah penampilannya, Berantakan!. Sangat berbeda dengan aku yang berpenampilan maskulin, dengan wajah manis yang kadang disamakan dengan wajah Pevita Pearce (versi Dayaknya) hahaha. Oke ini berlebihan. Intinya aku berusaha menggambarkan perbandingan kami, dia berbadan tinggi sedangkan aku rendah, jadi ketika berjalan sambil bergandengan kadang aku merasa sedang berjalan bersama bapak. Karena aku suka menonton jadi tempat yang paling sering kami kunjungi adalah bioskop, dan satu-satunya bioskop yang ada di Pontianak adalah di Mega Mall, jadi kami harus ke Mall dan bertemu orang banyak, melewati pandangan kaku dan menerobos keramaian dengan sikap pura-pura tidak peduli pada ekspresi terkejut yang tidak mereka sembunyikan. Ya sebenarnya aku memang tidak peduli, aku merasa baik-baik saja. Aku sering keluar menggunakan pakaian rapi sementara dia berpakaian acak-acakkan, kadang celananya sobek-sobek. Aku sangat memperhatikan penampilan, sementara dia ? yah begitulah, dia dan rambut gondrongnya, dia berantakan itu intinya. Tapi aku tidak pernah merasa terganggu dengan itu, aku sudah sangat mengenalinya, akrab dengan semua yang ada pada dirinya. Bahkan dengan langkah kakinya yang terlalu cepat untukku.
Dan untuk orang-orang yang sering menilai orang lain dari penampilannya, Hmmmm.. kalian bahkan tidak mengenali orang yang kalian nilai itu. Penampilan yang berantakan tidak berarti menunjukkan pribadi yang berantakan, ah mungkin kali ini aku gagal mengurai kalimat untuk menunjukkan bahwa penampilan luar tidak selalu menunjukkan isi dalamnya. Tapi suatu saat kalian pasti mengalami ini. Intinya bahagia bukan untuk dipandang tapi dirasakan. Aku tidak takut pada pandangan orang-orang pada kami, aku tidak takut menunjukkan bahwa aku bahagia dengannya. Jadi untuk teman-teman yang pasti mengalami hal yang sama denganku, jangan takut pada penilaian orang lain, keluar saja dan tunjukkan saja. Kebersamaan tidak selamanya tercipta karena persamaan tapi karena saling melengkapi. Untuk apa bersama jika telah sama, bukankan perbedaan menjadikannya sesuatu yang lengkap ? sesuatu yang sempurna.