Saturday, January 24, 2015

Patah hati


Aku memandangnya lekat-lekat, mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa dia benar-benar marah.
Aku mencoba meredam amarahnya, mencoba menenangkan hatinya.
 "Kamu marah ?"
Aku mencoba memulai obrolan kami dengan kalimat yang sama, selalu itu ketika kami sedang bertengkar.
 "Nggak kok, aku lagi sibuk makanya pesan kamu nggak dibalas".
Dan selalu itu jawabannya. Seperti sudah tersistem secara otomatis bahwa itu adalah jawaban yang harus disampaikan jika mendengar pertanyaan "Kamu marah".
Dia menjawabku tanpa memandang wajahku sama sekali. Aku hanya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan, mencoba menahan air mataku untuk keluar. 
Selalu begini, kami bertengkar dan aku selalu merasa menjadi pihak yang tersakiti tapi juga menjadi pihak yang meminta maaf. Entah apa yang salah dalam hubungan kami, kami selalu saja begini. Bertengkar, terdiam, saling sadar, memaafkan, lalu saling menjaga jarak. Tapi setelahnya kami akan saling memulai, menjadi lebih dekat, lagi.. dan lagi.
Tapi kali ini berbeda. Sudah tiga hari kami seperti orang lain, aku mencoba memulainya lagi, menghubunginya baik-baik dengan kalimat baik, Tanpa cacian, tanpa omelan. Tapi tidak digubrisnya, tidak dianggap dan terakhir dia mengatakan dia tidak harus membalasnya karena itu bukan hal penting. Aku gelisah dengan keadaan seperti ini. Entah apa yang ingin hatiku ketahui, sebuah harapan lagi ataukah sebuah kenyataan. Sesungguhnya selama ini akulah yang terlalu berharap dalam hubungan kami. Aku selalu berharap kami akan menjalani hubungan ini dengan kebahagiaan, sebahagia perasaan kami saat bergandengan mengitari bangku-bangku bioskop ketika pulang menonton. Aku selalu berharap kami bahagia, sebahagia kami tanpa pertengkaran. Tapi kenyataannya pertengkaran justru lebih sering terjadi dalam hubungan ini. Kadang karena aku yang terlalu egois, tapi kadang juga karena dia yang terlalu idealis. Aku menyadarinya, aku sadar jika kami sudah saling tersakiti. Tapi aku tidak ingin melepasnya, sama sekali tidak ingin berpisah.
Suasana kami semakin dingin, segelas mocca float dengan dua sedotan di meja belum tersentuh sama sekali. Ah harusnya pelayan cafe ini tidak menghantarkan pesanan seperti yang biasa kami pesan. Aku mulai putus asa dengan pertemuan kali ini, pasti tidak mengubah keadaan. Kami akan tetap seperti ini, seperti bermusuhan dan aku benci karena dia selalu bersikap seolah-olah aku ini musuh, seolah-olah aku ini orang paling bersalah dan yang paling aku benci diantara semua sikapnya adalah dia bersikap seolah-olah ingin mengakhiri hubungan kami, dia akan meninggalkanku.
 "Aku capek sama hubungan kita, kita harus berhenti, kita pisah sekarang"
Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutnya, dan telingaku langsung panas mendengarnya. Perlahan rasa panas itu menjalar menuju mataku dan keluarlah butiran-butiran bening yang hangat itu, aku menangis, menahan isakku agar tidak terdengar pengunjung cafe yang lain.
 "Kita baru balikan seminggu yang lalu. Aku nggak mau putus."
 "Tapi aku udah nggak bisa jalani hubungan kita. Aku nggak bisa. Kita nggak bahagia. Kamu nggak bahagia, aku sibuk dan kamu nggak pernah ngerti kesibukan aku. Kamu nggak pernah ngerti sama lingkungan aku, kamu selalu marah nggak jelas, kamu nangis tiap hari, merengek seperti anak kecil. Aku capek sama keadaan ini."
Dia berbicara pelan tapi tegas, menatap mataku yang mulai sembab dengan tatapan tegas, penuh keyakinan.
 "Tapi aku nggak mau, aku nggak bisa, aku nggak mau putus lagi”. Tangisku semakin pecah dan mulai menarik perhatian pelayan cafe yang biasa menghantarkan pesanan kami, yang sudah tahu bahwa kami pengunjung setia mereka.
Dia memandag sekeliling kami dengan pandangan tidak nyaman, berpura-pura merapikan lengan kemejanya.
 "Dengerin aku, udah berapa kali kita bertengkar kayak gini. Udah berapa kali kamu nangis gara-gara aku ? Kamu nggak bahagia sama aku, kamu lagi maksa diri kamu, aku nggak mau terlihat jahat. Mau sampai kapan kita kayak gini ? kamu tersakiti, kamu jangan nyiksa diri kamu lagi.”
Aku semakin tertekan mendengar kalimatnya, dia tidak tahu bahkan dengan pertengkaranpun aku sanggup bersamanya, asalkan bersamanya.
“Aku bahagia kok sama kamu, aku senang bisa sama-sama kamu, aku senang... tolong jangan gini, jangan pisah.. aku nggak mau, aku nggak bisa..”
“Kamu bisa, kamu aja yang nggak pernah coba lupain aku, kamu nggak pernah ngasi waktu ke diri kamu sendiri untuk berpikir. Jangan bodoh, jangan memaksa.”
Ya Tuhan.. kalimatnya benar-benar memukulku. Aku benar-benar menangis sekarang. Tidak peduli lagi dengan tatapan pelayan cafe yang berdiri di samping meja kasir. Pandanganku bahkan kabur tertutup air mata.
“Kamu kenapa sih ? kenapa sampai putus ? aku nggak mau. Pokoknya nggak mau. Kamu nggak boleh pergi. Aku janji aku nggak bakal marah lagi, aku nggak marah kalau kamu nggak ngasi kabar seharian, nggak apa-apa asalkan kita jangan putus. Aku nggak akan nangis lagi, tapi aku mohon jangan putus. Aku janji...”
Aku mengucapkan kalimat itu terbata-bata.
Dia memandangku, akhirnya sebuah pandangan lembut. Diambilnya tisu dan dihapusnya air mataku. Aku ingin memeluknya saat itu juga. Kuraih tangannya, kugenggam erat, pandangannya lekat menatap mataku yang sembab. Dilepaskannya genggaman kami.
“Maaf.. tapi aku nggak bisa. Kita hanya akan saling menyakiti, kita udah terlalu jauh. Semakin lama mengulur waktu untuk berhenti kita akan semakin terluka. Aku tahu ini mungkin terlalu sakit untukmu, aku sayang sama kamu, sayang sekali. Tapi kita harus pisah. Kamu perempuan, tolong jangan terlihat seperti sedang mengemis. Maaf...”
Aku menutup wajahku, berharap ini hanya mimpi. Aku tidak ingin mendengar kalimat berikutnya. Dia benar-benar serius dengan ucapannya, dia akan pergi.
Kemudian yang aku dengar hanya suara kursi yang berderit dan aku bisa membayangkan dia berdiri untuk pergi. Aku memejamkan mataku, menyembunyikan wajah dengan telapak tangan.
“Aku pasti nyesal udah kayak gini, tapi ini untuk kamu juga, kamu nggak bisa menyiksa diri kamu sendiri. Aku sayang sama kamu, yang kuat, yang sabar, ini cuma masalah waktu..”
Selanjutnya yang aku dengar adalah lagkah kakinya, aku semakin erat memejamkan mataku, suara langkah itu semakin jauh. Dan saat aku membuka mataku yang kulihat hanya siluetnya, dia berjalan tenang tanpa menoleh ke belakang sama sekali. Akhirnya dia benar-benar meninggalkanku.
Aku patah hati.
Rasanya aku ingin berlari mengejarnya, memeluknya erat dan memintanya untuk tetap bertahan. Tapi lidahku kelu, kaki-kakiku terasa berat, air mataku semakin deras. Aku tidak peduli lagi pandangan orang-orang di sekitarku, ku kepalkan tanganku kuat-kuat, aku mencoba menguatkan hatiku, memeluk luka di dalamnya, aku benar-benar kehilangannya. Aku benar-benar patah hati.

Semester 3 sudah selesai


Selamat berlibur. Semoga liburan tidak menyebabkan jerawat bertambah. hahaha
Horeeee!!!!
Happy Holiday teman-teman!!!
Akhirnya ujian akhir semester tiga berakhir dengan mata kuliah Hukum Pidana dalam Kodifikasi sebagai penutup.
Waktu seperti berlalu dengan cepat, rasanya baru kemarin masuk kuliah, seru-seruan di Singkawang waktu kegiatan IKM, kenalan sama teman-teman sekelas. Ketemu teman yang sama gilanya terus akrab deh sampai sekarang.
Jadi malam ini kami merayakan penutupan semester tiga dengan menyambangi Mega Mall. Niat awalnya nyari wedges untuk ku pakai ke gereja hari minggu nanti tapi nyampe mall baru nyadar kalau dompetnya ketinggalan. Jadi rencananya diubah, kita cuma foto-foto di photobox dan nggak lupa mengunjungi tempat favorit kami (setelah XXI) Gramedia untuk membaca, ya menumpang membaca. Malam ini untuk pertama kalinya sejak pembukaan semester tiga kami ngemall bareng, entah kenapa semester tiga sepertinya beda sama semester sebelumnya. Kami jarang ketemu di kampus, padahal milih dosennya sama, sebenarnya sih kami jarang masuk. hihi kalo yang satu masuk pasti yang lainnya nggak, gitu terus sampe jadinya jarang ketemu. Tapi benar sih semester ini terasa lebih berat, rasanya godaan buat malas kuliah paling payah dikalahkan, semoga semester berikutnya nggak keulang lagi. Tambah melow juga soalnya si teteh makin sibuk kerja semester ini, trus nunna kegiatannya di gereja makin padat. Kita jarang keluar sama-sama, selesai kuliah langsung pulang, kalau ada yang keluar ya aku nggak ikut, soalnya semenjak nggak tinggal sendirian aku jadi jarang keluar malam kecuali kuliah. Jadi semester ini rasanya kayak ada jarak antara kami, padahal sebenarnya nggak, cuma waktunya aja yang nggak tersedia kayak semester-semester kemarin. 
Semester tiga juga kayaknya petaka banget, tiap hari Senin sama Jumat terasa horor. Soalnya dosennya killer, jadi tiap minggu terasa beban buat ketemu hari Senin sama Jumat, bawaannya jadi takut ketemu dosennya, ujung-ujungnya ya lari juga ke malas kuliah, bolos lagi. Jadi semester berikutnya kapok ah pilih dosen yang itu. Niat belajar juga turun banget, awal kuliah rajin ngulang catatan di rumah eh sekarang boro-boro mau ngulang, nyatat aja nggak pernah. Untunglah punya teman yang rajin nyatat, jadi tinggal pinjam dan difotocopy. Keahlian buat contekan juga semakin bertambah, trik-triknya makin komplek, hah udah balak pokoknya urusan yang satu ini. Iya sih malu-maluin kalo ketahuan, tapi.. ah ayolah kalian pasti mengerti, lingkungan bahkan bisa mengubah karakter seseorang. Nanti ajalah bahas tentang kebiasaan satu ini, aku lagi pengen nulis kesan kuliah di semester tiga. hehe.
Semester tiga juga semester galau ahau. Paling akut galaunya, benar-benar udah ngerasain deh yang namanya patah hati. Dari yang nangisnya cuma diperem eh sekarang diteriak-teriakin, awalnya cuma berani nangis di kamar (itu juga tunggu orang rumah udah tidur) sekarang nangisnya di mana-mana, di rumah, di rumah teman, di kampus, di kantin, di cafe, di biosokop. Ah pokoknya di mana kenangan di situ ada tangisan, galaunya paling lebay semester ini. Semester ini juga rasanya kantin ujung terasa jadi tempat angker, paling takut lewat kantin itu sendirian. Biasanya say hello aja sama anak-anak kantin sana, tapi semester tiga ini jangankan senyum, mandang ke sana aja nggak berani. Serem, nggak punya nyali pokoknya. Kuantitas berkunjung ke perpustakaan fakultas juga berkurang semester ini, mungkin cuma tiga kali masuk ke ruangan itu. Itu juga bukan untuk minjam buku, ikut si nunna bolak-balik nyariin dosen PA-nya, semester ini jarang buat tugas sendiri makanya jarang ke perpustakaan hehe.
Mata kuliah favorit di semester tiga sih masih tetap sama, ya selalu berhubungan dengan Hukum Perdata, tepatnya hukum acara perdata, ini mata kuliah favoritku di semester tiga. Bukan karena paham materinya tapi karena dosennya jarang masuk, hahaha bercanda, aku emang suka mata kuliah ini. Kayaknya sekarang udah mulai bisa nentuin mau pilih jurusan apa nantinya.
Jadi kesan di semester tiga ini "nano-nano", dapat semua kesan. Ada kesan sedih, senang, dan flat. Tapi intinya, semuanya mulai terasa berat sekarang. Udah mulai keliatan kalau untuk jadi seorang sarjana hukum usahanya harus lebih keras dari ini. Nggak boleh santai terus-terusan, nggak boleh ikutin mood melulu. Harapannya semoga semester berikutnya semua hal buruk tidak akan terulang, dan segala yang baik terus bertambah. Tuhan memberkati study kita semua. Amin.

Thursday, January 22, 2015

Karena bahagia bukan untuk dipandang, tapi dirasakan




Maaf harus mengutip kalimat orang bijak yang fenomenal ini. Hahaha. Yah sebagai penegasan kalau kali ini aku mau menuliskan uneg-uneg tentang resiko berpacaran dengan orang yang penampilannya berbeda dengan kita.
Kalian pasti pernah mengalami ini.
Dekat dengan seorang cowok/cewek yang secara out looking jauh beda sama kalian. Dan komentar orang-orang di sekitar kalian "Kok kamu mau dekat sama dia ?   
Aku sangat sering mendapat dan menjawab pertanyaan ini, aku sangat sering mendapati pandangan kaku orang-orang saat berjalan beriringan dengan pacarku, aku sangat sering melihat orang yang sudah berlalu melewati kami kembali membalikkan badan hanya untuk melihat dua sosok pasangan "aneh" berdiri mengantri tiket untuk menonton, aku sering mendapati wajah terkejut orang-orang yang kami lewati saat kami bergandengan tangan dengan tawa mengembang di wajah kami, aku sering melihat mereka seolah berteriak "Bagaimana Bisa???" dan masih banyak respon-respon yang tidak seharusnya ditunjukkan ketika melihat kami bersama.
Aku sebenarnya tidak pernah risih dengan hal ini, aku selalu merasa baik-baik saja saat bersama pacarku di tempat umum. Sebenarnya dia tidak seaneh itu, tidak seaneh pikiran yang kalian ciptakan. Hanya saja terlihat aneh saat mendapati seorang laki-laki berambut panjang melebihi bahunya berjalan menggandeng cewek mungil yang sangat manis di sebuah Mall. Sosok sepertinya tidak akan terlihat aneh jika berada di sekitar kampus, kalian pasti mengerti. Hahaha ya kira-kira begitulah penggambaran untuk mahasiswa semester atas yang sangat betah berlama-lama kuliah. 
Dia adalah orang yang berpenampilan selengean, coba bayangkan cara berpakaian personil grup band Slank. Seperti itulah penampilannya, Berantakan!. Sangat berbeda dengan aku yang berpenampilan maskulin, dengan wajah manis yang kadang disamakan dengan wajah Pevita Pearce (versi Dayaknya) hahaha. Oke ini berlebihan. Intinya aku berusaha menggambarkan perbandingan kami, dia berbadan tinggi sedangkan aku rendah, jadi ketika berjalan sambil bergandengan kadang aku merasa sedang berjalan bersama bapak. Karena aku suka menonton jadi tempat yang paling sering kami kunjungi adalah bioskop, dan satu-satunya bioskop yang ada di Pontianak adalah di Mega Mall, jadi kami harus ke Mall dan bertemu orang banyak, melewati pandangan kaku dan menerobos keramaian dengan sikap pura-pura tidak peduli pada ekspresi terkejut yang tidak mereka sembunyikan. Ya sebenarnya aku memang tidak peduli, aku merasa baik-baik saja. Aku sering keluar menggunakan pakaian rapi sementara dia berpakaian acak-acakkan, kadang celananya sobek-sobek. Aku sangat memperhatikan penampilan, sementara dia ? yah begitulah, dia dan rambut gondrongnya, dia berantakan itu intinya. Tapi aku tidak pernah merasa terganggu dengan itu, aku sudah sangat mengenalinya, akrab dengan semua yang ada pada dirinya. Bahkan dengan langkah kakinya yang terlalu cepat untukku.
Dan untuk orang-orang yang sering menilai orang lain dari penampilannya, Hmmmm.. kalian bahkan tidak mengenali orang yang kalian nilai itu. Penampilan yang berantakan tidak berarti menunjukkan pribadi yang berantakan, ah mungkin kali ini aku gagal mengurai kalimat untuk menunjukkan bahwa penampilan luar tidak selalu menunjukkan isi dalamnya. Tapi suatu saat kalian pasti mengalami ini. Intinya bahagia bukan untuk dipandang tapi dirasakan. Aku tidak takut pada pandangan orang-orang pada kami, aku tidak takut menunjukkan bahwa aku bahagia dengannya. Jadi untuk teman-teman yang pasti mengalami hal yang sama denganku, jangan takut pada penilaian orang lain, keluar saja dan tunjukkan saja. Kebersamaan tidak selamanya tercipta karena persamaan tapi karena saling melengkapi. Untuk apa bersama jika telah sama, bukankan perbedaan menjadikannya sesuatu yang lengkap ? sesuatu yang sempurna.

Amarah



Dia sangat ringan, riang dalam wujud tangis. Dia bebas melangkah ke mana saja, ke satu pijakan menuju pijakan yang lain, ke satu alasan berpindah ke alasan lain.
Kadang hadir hanya karena perihal kecil, sebuah pesan yang terasa lama tidak dibalas misalnya, atau karena janji yang hanyalah tinggal janji.
Dia juga menghilang begitu saja, kadang tanpa meninggalkan jejak tapi sebagian lagi meninggalkan bekas yang disebut luka. Ah tentang itu aku tak begitu paham, yang ku tahu amarahku datang tiba-tiba dan pergi tanpa bekas, semoga tidak pernah berbekas, kemudian kembali lagi, seperti itu seterusnya.
Pernah dia datang sewaktu tawa baru saja berhenti mendendangkan lagu manisnya di bibirku, dia datang begitu saja, dan aku selalu merangkulnya dalam rupa tangis. Memeluk kecewa yang dibawanya erat-erat, mencoba menahannya agar tidak beringas. Aku selalu bersabar saat ia datang dengan sebuah bara yang sangat panas, aku selalu menahannya, membendungnya dalam tangisan, aku tak pernah berani membiarkannya bebas menunjukkan rupa yang sebenarnya.
Ia juga pernah mampir sewaktu hatiku masih hangat oleh perasaan rindu, dia singgah dan baru saja hendak meracau saat sebuah pelukan menenangkannya. Kadang sesederhana itu untuk menghilangkannya tanpa bekas. Tapi kadang perlu maaf berulang dan sebuah bujukan kekanak-kanakkan untuk menjadikannya teman dan perlahan membiarkannya pergi. Karena Amarah tak pernah tahan berdiam diri terlalu lama pada pikiran yang tenang. Amarah tidak menakutkan saat kita hanya membiarkannya menjadi air mata, dia tidak akan menyakiti jika kita tidak membebaskannya begitu saja. Bahkan kadang aku merasa dia adalah teman yang setia. Air mata itu.
This entry was posted in

Tuesday, January 13, 2015

Flashback 2014

 
Selamat pagi di hari ke-13 tahun 2015 masih ada 355 hari yang tersedia untuk kembali merayakan tahun baru. Semoga kita selalu sehat.
Tahun baru resolusi baru, tapi kali ini aku mau mengingat kembali hal apa saja yang aku lewati di tahun 2014.
Awal tahun, bulan Januari yang menyambutku adalah Ujian Akhir Semester genap, aku semester dua waktu itu. Aku masih tinggal di kontrakan berdua dengan kakak, masih dengan pola hidup berantakan. Karena tinggal sendirian bersama kakak pola hidupku tidak teratur, makan tidak tepat waktu, tidur subuh bangunnya siang menjelang sore, malas-malasan tapi kuliah tetap rajin.
Bulan Februari tanggal 21 kami merayakan hari ulang tahun kakakku yang bertepatan dengan hari ulang tahun teman baikku juga, Erfy Fitriani. Selain itu tidak ada yang berkesan.
Bulan Maret. Bulan ini banyak hal menarik. Bulan kelahiran temanku Nindya Elisya Lidsya dan kakekku tercinta. Bulan ini juga dua film favoritku tayang, film Divergent dan Comic 8. Nah bulan ini juga comic idolaku mengirimiku pesan via twitter. Hahaha Fico Fachriza mengirimiku pesan dan aku sangat bahagia.
Bulan April aku merayakan Paskah pertamaku sejak duduk di bangku kuliah, jauh dari keluarga yang ada di Putussibau. Bulan ini juga aku banyak bertemu dengan orang-orang baru di Stand up Comedy Pontianak.
Bulan Mei. Yipiiiii. ini bulan paling spesial, bulan ulangtahun kami. Ini adalah bulan ulang tahunku dan bulan ulang tahun sepupu-sepupuku. Hahaha. Pembukaan ulangtahun adalah Margareth Manique May Thoda yang dirayakan pada tanggal 4 Mei, besoknya pada tanggal 5 Mei yang merayakan hari lahir adalah mama tersayang- ma ua dan kakakku yang selalu cantik Evifadriani Meysilvana Nia Cathy. Beberapa hari kemudian yaitu tanggal 8 Mei adik sepupuku yang paling rajin berdoa dan bakal jadi Pastor Sirilus Rugin merayakan hari ulangtahunnya dan tanggal 19 Sirila Meiti Ringgan genap berusia 8 tahun, dan terakhir tanggal 30 Mei adalah hari ulangtahunku. Aku merayakannya dengan sukacita hahaha. Ini benar-benar ulangtahun yang berkesan, tak ada tepung dan telur seperti ulangtahun sebelumnya. Malam itu, pergantian tanggal 29 menuju 30 aku dan kakakku berdoa bersama. Dan ada kejutan darinya, dia dan pacarnya. Itu perayaan pembukaan karena sorenya teman baikku di kampus Erfy dan Nindya membuat kejutan. Seharian mereka tidak menghubungiku, dan sorenya mereka tiba-tiba datang membawa birthday cake dan kado. Mereka berhasil membuatku terharu. Perayaan penutup adalah malamnya, kami merayakannya di rumah teman SMA ku, mereka yang menyiapkan semuanya. Itu adalah saat-saat membahagiakan dan tidak terlupakan, aku beruntung memiliki orang-orang yang sangat sayang padaku. Bulan Mei selalu menjadi bulan kesukaanku, banyak ucapan, banyak kado, banyak pelukan dan banyak doa dari keluarga serta sahabat.
Dan akhirnya selamat datang di bulan penuh duka. Bulan Juni. Bulan kelahiran bapak dan mama.
Bulan ini tidak ingin kuceritakan, semua kesedihanku berawal dari sini, duka keluargaku. Duniaku seakan terbalik, semuanya berubah. Aku memotong pendek rambut panjangku.
Juli. Kepergian adik kecilku, adik kecil kami Octavius Rendescars-Agung Ferdinand. Aku pindah dari kontrakan. Dan pola hidupku berubah sejak pidah ke sini, berubah menjadi lebih baik.
Agustus aku kembali menyapa tempat asalku, berkumpul bersama orang-orang terkasih yang sedang terluka. Kami ditinggalkan. Dan aku berusaha tegar di depan orangtuaku, aku menjadi satu-satunya harapan mereka. Aku berusaha kuat di depan keluarga besarku, agar mereka yakin bahwa aku bisa. Aku tidak ingin membagi cerita ini. 
September. Aku memasuki semester baru. Bulan ini juga aku berkenalan dengan the best tutor ever Petrus Andre yang mengajariku banyak hal di dunia blogger, yang mengajakku bergabung di komunitas Buda' Blogger Pontianak, terimakasih banyak.
Oktober adalah seratus harinya kepergian adikku Octavius Rendescars sekaligus bulan kelahirannya. Kami merindukannya. Selalu.
November. Aku patah hati.
Desember adalah Natal dan bulan terakhir di tahun 2014. Aku mengubah warna rambutku. Semuanya akhirnya benar-benar sudah ku lalui. Januari-Desember akhirnya terlewati. Aku siap melangkah ke depan, melupakan semua duka di tahun ini. Aku siap.

Yaaaa itu dia. Itu yang aku lalui di tahun yang lalu. Bulan Juni-Desember kulalui dengan kesedihan :'D
semoga kali ini banyak kebahagiaan yang bapa limpahkan, semoga segala kekecewaan di tahun yang lalu menjadi berkat di tahun ini. Amin.