Thursday, December 31, 2015

SEMANIS NASTAR NANAS

Jumat, 25 Desember 2015.
Merry Christmas universe!
Ini adalah Natal keduaku tanpa keluarga. Aku baru saja pulang dari gereja dan sedang duduk bersandar di sofa ruang tamuku yang sempit. Solo terasa sangat panas hari ini. Kunaikkan suhu pendingin  udara dan kututup pintu rapat-rapat. Tidak akan ada tamu yang datang untuk mengunjungiku, lagian siapa yang akan natalan, teman-temanku sudah pulang ke daerah masing-masing untuk merayakan Natal bersama keluarga. 
Tahun lalu cutiku kuhabiskan untuk pergi ke Macau, menemani Mas Uki meliput Macau International Fireworks yang berlangsung dari bulan September sampai Oktober. Dua minggu kami habiskan di sana sehingga tidak ada jatah untuk pulang ke Pontianak ketika Natal. Tahun ini aku tidak bisa pulang karena tuntutan pekerjaan. Besok aku dan beberapa teman dari kantor jurnalis tempatku bekerja akan berangkat ke Aceh, kami akan mendatangi desa Lamjame yang terletak di Kecamatan Jaya Baru, meliput keadaan di sana untuk mengenang sebelas tahun tragedi tsunami yang pernah memporakporandakan kampung nelayan itu.
Pengalaman Natal tahun lalu sudah membuatku mengerti betapa tidak berartinya sebuah perayaan jika hanya dirayakan seorang diri, karena perayaan adalah kemeriahan yang harus dibagikan, tidak akan bermakna jika hanya dilalui sendirian. Hari ini pun aku kembali merayakan sepi di tengah meriahnya Natal. Mungkin bagi mama dan papa, bingkisan Natal yang kutitip melalui seorang teman yang pulang ke Pontianak sudah cukup mewakili kehadiranku di tengah-tengah mereka. Sejak tadi malam tidak satu pun dari mereka yang menghubungiku. Seringkali kebahagaiaan membuat kita melupakan orang lain, aku agak melankolis karena merasa tidak ada yang mencariku. Panggilanku tidak diangkat, pesanku hanya dibaca. Papa hanya mengirimiku foto selfienya bersama empat keponakanku di depan pohon Natal tanpa pesan apa-apa, membuatku cemberut dan ingin tidur saja.
Mas Uki adalah satu-satunya orang yang menelponku tadi malam, mengingatkan agar aku tidak lupa makan sebelum pergi ke gereja untuk misa malam Natal. Mama yang biasanya mendongengiku dengan omelannya setiap malam bahkan lupa untuk sekedar menulis ucapan selamat Natal buat putri bungsunya ini.
Aku mewek. Dari sini dapat kurasakan hangatnya suasana Natal di kampung halaman. Ruang tamu yang ceria oleh warna merah dan putih dihiasi gua Natal lengkap dengan pohonnya, aroma cookies yang memenuhi ruangan sekalipun toples sudah tertutup rapat. Aku bisa melihat nastar nanas berukuran besar kecil tak beraturan buatan mama diletakkan ditoples bening ukuran sedang. Kue kering kesukaanku. Suara tawa yang tak asing dari mereka terdengar sangat dekat. Aku dapat melihat mereka berjabat tangan dan berpelukan, salam dan pelukan yang menggerahkan tapi meghangatkan hati. Riuh dan sesak di ruang tamu. Natal membuat meja makan terasa sangat kecil ketika semua keluarga makan bersama. Ramai, sangat ramai.
Rumah tidak pernah sepi karena selalu ada kerabat yang datang, obrolan hangat dan canda tawa yang membuat suasana kekeluargaan terasa sangat kental. Foto-foto bersama dengan berbagai pose, reuni mendadak bersama teman-teman semasa sekolah yang sudah lama tidak pernah bersua. Suasana Natal seperti itu tidak akan ada di sini, aku tidak akan merasakannya.
Satu-satunya dekorasi Natalku adalah pohon Natal ukuran sedang yang mas Uki belikan dan letakkan di sudut ruangan. Tidak ada hiasan lainnya. Kuangkat kakiku ke atas meja yang kosong, aku sudah sangat malas untuk berbuat apa-apa. Di rumah biasanya ada tiga meja berisi kue dan minuman yang diletakkan di bagian berbeda untuk para tamu. Di sini hanya ada satu meja dan yang mengisinya hanya sekotak tisu dan kakiku yang kubujurkan di sana. 
Keluarga adalah hal yang paling kurindukan saat ini. Bersama mereka Natal menjadi sangat meriah.
Beberapa saat berlalu, aku mendengar sebuah ketukan. Pasti Mas Uki, kami ada janji makan siang bersama. Aku bergegas bangkit menuju pintu, kubuka perlahan dan aku melihat sosoknya yang tinggi kurus berdiri di depan pintu membawa sebuah bingkisan di tangan kanannya. Senyumnya sangat lebar menampakkan giginya yang bergingsul.
Dia mengenakan kemeja merah maron berlengan panjang dengan topi santa Claus di kepalanya, padahal aku tidak bilang bahwa aku mengenakan dress berwarna merah, aku juga belum mengiriminya foto hari ini. Brewoknya yang tumbuh lebat sama sekali tidak membuatnya mirip tokoh gendut berjanggut pembawa hadiah yang berkendara dengan kereta terbang itu. Aku tertawa melihatnya.
"Masuk mas" kubuka pintu agak lebar dan mempersilahkannya masuk. Dia segera meletakkan bingkisan yang dibawanya di atas meja.
"Merry Christmas my little Sharon" direntangkannya tangannya selebar mungkin untuk memelukku. 
"Thankyou mamas Ukiku, Mas bawa apaan ?" aku melepaskan pelukannya yang membuatku gerah. 
"Cookies kesukaan kamu"
Buru-buru kubuka bungkusan plastik putih itu, satu toples nastar nanas dan kartu ucapan selamat Natal ada di dalamnya. Sesaat perasaan sedihku hilang. Aku hanya tersenyum membaca tulisan di kartu ucapan yang ditulisnya sendiri. Kubuka toples itu dan segera melumat satu buah nastar nanas. Kuberikan satu untuknya dan dia selalu jahil, digigitnya jariku yang sudah kuwarnai kukunya dengan warna merah.
Rasa nastarnya memang tidak seperti nastar buatan mama, tapi setidaknya ini manis, tambah manis karena mas Uki ada di sini. 
"Maaf ya tidak menjemput ke gereja, tadi ibadah dulu ke mesjid" 
Aku mengangguk sambil tetap mengunyah nastar di mulutku. Mas Uki berdiri dan menuju dapur, lalu kembali dengan dua gelas air dingin di tangannya. Diletakkannya gelas itu di meja. Langsung saja kuteguk karena kehausan. Dia geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Seringkali dia protes karena aku selalu terburu-buru ketika melakukan sesuatu, seperti tidak paham saja, wartawan mana ada yang kemayu. 
Penampilanku hari ini memang agak manis, jarang sekali aku mengenakan mini dress seperti ini. Apa lagi rambut diblow, setiap hari aku pergi bekerja dengan rambut dikuncir. Hari ini aku juga memoleskan kutek merah di jariku. Kemarin bahkan aku sempat bingung akan mengenakan dress putih atau merah hari ini, entah mengapa tadi pagi aku bangun dan langsung memikirkan dress merah yang kukenakan saat ini, lalu Mas Uki datang dengan kemeja yang warnanya tidak jauh berbeda.
"Kalau sudah, kita berangkat sekarang" dia memperhatikanku yang sudah duduk bersandar di sofa. Aku mengangguk dan berdiri. 
Sebelum menutup pintu Mas Uki berbalik ke ruang tamu dan mengambil toples nastar yang dibawanya tadi. Aku keheranan. lalu disodorkannya padaku dan kuterima saja. "makan di mobil" katanya cepat sambil mengunci pintu.
Aku tertawa dalam hati.
Di dalam mobil aku duduk nyaman sambil memangku setoples nastar nanas, sedari tadi mulutku tidak berhenti mengunyah. Lagu The First Noel mengalun lembut, menghantarkan kami berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku masih cemburu pada Natal di Pontianak, tapi juga pikiranku melayang pada pertemuan kami tiga tahun yang lalu. Siapa sangka, sampai hari ini dia masih jadi orang yang berada di sisiku.
"Sayang.." suaranya memecahkan hening yang hangat di antara kami. Aku meliriknya yang tetap fokus menyetir. "Kamu mau hadiah Natal apa ?" aku menatapnya dalam-dalam, tapi dia tetap melihat lurus ke depan. Aku lama tak menjawab, laju kendaraan agak lambat dan dia memandangku. "Hmm ?" tanyanya dengan gumaman.
"All I want for christmas is You, mas" aku mengucapkan kalimat itu dengan hati yang sangat tulus dan perasaan yang sangat tenang. Aku bahagia. Dia tersenyum lalu mengelus rambutku dengan lembut. "I love You Sharon" aku tidak membalas kalimat itu, tanpa kukatakan pun dia telah tahu bahawa aku sama sepertinya. 
Hari ini Natalku manis, semanis nastar nanas dari mas Uki. 
Kulayangkan pandanganku ke luar, menjelajahi apa saja yang kami lewati, lalu mataku terpaku pada sebuah mesjid, aku memandang bangunan itu lama tapi mas Uki mempercepat laju kendaraan. Kami berlalu.
Terimakasih telah memilihku mas, meski kita berbeda. 
***
This entry was posted in

Wednesday, December 23, 2015

SELAMAT HARI IBU, MA..

Hari ini semua orang Indonesia mengucapkan selamat hari ibu untuk ibunya, karena ini hari ibu. 
Aku hanya mengirim pesan "selamat hari ibu, ma" ketika aku bangun pagi, dan beberapa menit setelah pesan itu kukirim mama menelpon. Aku memang jarang menelpon mereka duluan soalnya jarang ada pulsa. Hehe.
Pagi ini kami telponan, tidak menggunakan panggilan gratis dari line karena kuota internetku habis.
Obrolan kami seperti biasa, chit chat tentang keadaan cuaca di sana, panas, mendung atau hujan, hari ini mama dan bapak sarapan apa. Obrolan kami panjang, aku menceritakan perjalananku ke Mukok beberapa hari lalu dan mama berkali-kali mengingatkan agar aku tidak lupa minum vitamin supaya tidak kecapekan. 
Setiap hari kami selalu mengobrol panjang lebar, jarak tidak berpengaruh sama sekali karena line sangat membantu kami. Aku bisa melihat wajah mereka melalui video call kapanpun aku mau, setiap hari kirim-kiriman foto, aku merasa mereka ada di dekatku karena komunikasi yang sangat lancar. Berbeda dengan beberapa tahun yang lalu, saat belum ada aplikasi line kami hanya bisa telponan.
Sejak usia 8 tahun aku tidak serumah dengan mereka. Banyak sekali hal-hal yang kulalui tanpa mama dan bapak. Mereka juga melewati banyak hal tanpaku. Aku tumbuh dan besar jauh dari  pengawasan mereka.
Tapi, semua tidak mengurangi rasa sayangku pada mama dan bapak. Mereka telah memberiku kesempatan untuk melihat dunia, merawat ku sejak bayi, mendidikku, memenuhi semua kebutuhanku, memberikan cinta yang tak pernah berkesudahan. Semua itu tidak akan bisa terbayar. Tidak bisa terbalas karena hanya orangtua yang mampu berbuat seperti itu.
Aku seringkali beda pendapat dengan mama dan bapak, aku sangat keras kepala dan aku sering membuat mama menangis. 
Sungguh, tiap kali mengingat tangisan mama dan maaf yang diberikannya aku merasa menjadi orang paling berdosa. Banyak sekali perbuatanku yang membuatnya sedih. Khawatir dan takut. Membuat pikirannya tidak tenang karena merasa was-was sementara aku jauh dari mereka.
Setahun yang lalu diusiaku yang menginjak 18 tahun kami berdebat, adu pendapat dan aku membuatnya menangis. Untuk kesekian kalinya aku melukai perasaannya. Tapi kali itu mungkin adalah kesalahan terbesarku karena sampai membuatnya berpikir bahwa aku tidak ingin lagi menghubunginya.
Dia menanyaiku apakah aku menyesal telah lahir dari rahimnya. Pertanyaan yang membuatku merasa sangat menyesal dan berdosa. Rahimnya adalah tempat terbaik yang pernah kudiami, aku tidak pernah menyesal dilahirkan dari sana. Tidak pernah sama sekali.
Aku tahu mama sangat sedih dengan sikapku sehingga menanyaiku seperti itu. Aku sangat bebal. Tidak bisa diatur. Dan sangat sering melontarkan kalimat-kalimat yang membuatnya terdiam. Usiaku masih sangat muda tapi luka yang kuberikan pada mama sudah tidak bisa dihitung dan dia selalu mempunyai maaf yang tidak pernah habis, sama seperti cintanya. Aku menyesal. Sangat menyesal. Sejak hari itu aku berjanji tidak akan membuatnya menangis lagi.
Sejak pertengkaran itu aku tidak pernah membantah nasihatnya, tidak ingin membuatnya sedih. Apa lagi sampai membuatnya berpikiran bahwa aku tidak ingin punya mama yang cerewet dan banyak aturan sepertinya.
Membuat mama senang sebenanrnya sangat mudah, dia senang melihat anaknya bahagia. Jadi sebisa mungkin aku terlihat bahagia untuk mama. Aku tidak mengeluh tentang kuliahku, tidak sakit-sakitan karena dia sangat khawatir dengan kesehatanku, tidak pulang larut malam karena dia takut aku kenapa-napa.
Aku tidak pernah menceritakan hal-hal buruk yang menimpaku karena aku tidak ingin melihatnya sedih, sebisa mungkin jika aku ada masalah aku selesaikan dengan rapi, tanpa sepengetahuannya. Mama orang yang sangat khawatir, sebenarnya dia jarang mengomel tapi kadang nasihatnya panjang juga. 
Dia sering mengajukan pertanyaann yang sama berkali-kali hingga aku merasa bosan dan  kesal.
Aku sering menjawab pertanyaannya asal-asalan karena kesal dengan pertanyaan yang itu-itu saja.
Ah padahal aku ingin setiap hari berada di dekatnya. Ingin mengobrol langsung dengannya, baring-baring di pangkuannya dan dia menyisir rambutku dengan jemarinya. Sekedar menemaninya membuat anyaman manik atau menghabiskan sore bersama sambil mendengarkan siaran di radio selepas mandi.
Aku sangat ingin bersamanya setiap hari. 
Ketika libur dan aku pulang ke rumah, aku selalu tidur dengannya. Dulu waktu masih kecil kami masih muat tidur bertiga bersama bapak, tapi sejak SMA tempat tidur mereka tidak bisa menampung tubuh kami semua. 
Sebelum tidur mama selalu mengajakku berdoa, aku ini malas berdoa. Biasanya cuma tanda salib. Mama selalu menasihatiku supaya rajin berdoa, dia sendiri sangat rajin mendoakan orang-orang yang dikenalnya. Kami duduk berdampingan dan dia memimpin doa lalu kami tutup dengan doa bapa kami dan tiga kali salam Maria. Itu adalah kebiasaan sebelum tidur yang kurindukan darinya.
Aku benar-benar berdoa hanya saat aku di samping mama. Mama dan bapak adalah satu-satunya alasanku berdoa.
Setiap bangun aku tidak pernah mendapatinya terbaring di sampingku. Dia sudah sibuk di dapur atau menyapu, aku selalu bangun siang. 
Kebersamaan dengannya sangat jarang kurasakan. Kebersamaan secara nyata dia di sampingku dan aku di sampingnya.
Sedih dan iri setiap hari kurasakan karena aku tidak bisa seperti teman-teman lainnya yang tiap hari sarapan dengan masakan mama. Atau tidur di depan televisi dengan mama di samping mereka. Aku iri sekali pada mereka yang bisa memeluk mamanya kapanpun mereka mau.
Hari ini pun ketika mengobrol langsung aku tidak mengatakan "ma aku sayang mama" entah kenapa kalimat itu terasa sangat rancu untuk kuucapkan secara langsung.
Karena aku tahu, mama bisa merasakan sayangku padanya tanpa harus kuungkapkan.  Sepertipun mama yang tidak pernah secara langsung mengungkapkan "mama sayang kamu, nak". Mama mengungkapkan sayangnya melalui tindakan, melalui perbuatan dan perhatian yang tidak pernah berhenti.
Kami jarang bermanis-manis seperti ibu dan anak pada umumnya yang saling mengungkapkan kalimat sayang. Yang aku ingat dengan jelas mama mengungkapkan kalimat sayangnya padaku setelah menanyaiku pertanyaan yang membuatku menangis tersedu-sedu seperti anak kecil karena aku merasa sangat bersalah. 
Ketika aku ulang tahun juga mama tidak pernah mengucapkan kalimat-kalimat di luar kebiasaannya, dia hanya mengucapkan selamat ulang tahun lalu kalimat berikutnya adalah pesan-pesan yang disampaikannya tempo hari setiap kali kami telponan. Pesan mama selalu sama karena mama selalu mengharapkan sesuatu yang baik terjadi padaku setiap hari, bukan hanya di hari ulang tahunku. Sama seperti dia yang mendoakanku setiap hari, bukan hanya karena aku berulang tahun tapi karena setiap hari aku adalah hal yang tidak bisa dilewatkannya begitu saja tanpa doa.
Dia menyayangiku setiap hari, tak perlu dia ungkapkan pun aku sudah merasakannya. Aku juga sangat menyayanginya meski sampai saat ini aku tidak pernah mengucapkan kalimat itu secara langsung padanya.
Aku menyayanginya setiap hari, walaupun hanya bisa kuungkapkan melalui kalimat "ma, makan, tidur awal biar nggak kecapekan, hati-hati di sana" itu adalah kalimat sayang yang selalu kuucapkan tiap hari untuk mama. Aku tidak bisa mengubah kalimat itu menjadi kalimat yang lain lagi, ini adalah kalimat dengan komposisi sayang paling pas yang bisa kuungkapkan untuk mama. Aku belum bisa memberikan komposisi yang lebih seperti mengirimi uang setiap bulan untuknya dan membelikan keperluan bulanannya. Belum. Tapi akan.
Saat ini yang bisa kulakukan untuk menunjukkan rasa sayangku padanya adalah menghargai usaha yang dilakukannya untuk kebahagiaanku.
Aku tidak akan membantah lagi, tidak membuatnya khawatir dengan tingkah kekanak-kanakkanku yang berlebihan. 
Aku tidak bisa mengungkapkan kalimat manis bahkan ketika aku rindu padanya. Kami yang ketika rindu langsung saling menghubungi lalu mengobrol tanpa mengatakan "ma aku rindu" atau "nak, mama rindu". 
Setiap hari dia menghubungiku, karena setiap hari dia merindukanku. 
Setiap hari pertanyaan yang diajukannya tidak pernah berubah walaupun dia tahu jawaban dariku juga tetap sama. Itu karena dia tidak pernah bosan memberi perhatian padaku.
Terimakasih untuk cinta yang tidak pernah habis ma, maaf sampai hari ini hanya bisa merepotkan dan membuat khawatir. Semoga mama sehat dan panjang umur supaya kita bisa menghabiskan waktu sama-sama seperti dulu lagi, waktu aku masih kecil. Walaupun waktu yang telah kita lewati tidak bisa terganti, tapi semoga aku punya kesempatan untuk merawat mama di masa tua mama.
Selamat hari ibu ma. Aku rindu sekali.

Friday, December 18, 2015

MASA (?) BODOH



Jangan takut akan apa yang orang lain pikir tentang Anda. Orang tidak memikirkan Anda. Anda tidak penting-penting amat.-Ajahn Brahm, Hello Happiness
Selama ini aku memang tidak terlalu peduli penilaian negatif orang lain padaku, jika yang mereka katakan tidak baik untuk perkembangan diriku atau ketenangan batinku, aku memilih untuk mengabaikannya. Lagi pula aku juga merasa bahwa aku ini bukan siapa-siapa jadi aku santai saja, tidak merasa harus menjaga image atau berpura-pura tampil sempurna di hadapan orang lain. 
Tapi tadi siang, pernyataan seorang teman membuatku tersentuh, bukan karena itu pernyataan berupa ucapan terimakasih atau pujian, tapi sebaliknya, tentang penilaian negatif dari teman-teman yang lain tentangku. 
Jadi sore hari ini kuhabiskan waktuku untuk mengingat bagaimana caraku bersikap, perbuatan apa saja yang telah kulakukan hingga mereka menilaiku negatif atau bagaimana caraku berkomunikasi pada mereka selama ini.
Aku ini orang yang tidak bisa berpura-pura, pura-pura simpati atau sopan, atau pura-pura ramah. Aku bukan orang yang bisa langsung tersenyum pada orang yang baru kutemui, aku bukan orang yang bisa tersenyum ketika aku sedang tidak ingin melakukannya. Walapun dia teman baikku bahkan saudaraku sendiri, ketika kami berpapasan dan aku sedang tidak ingin tersenyum maka aku tidak akan tersenyum, aku sudah mencoba agar bisa sedikit manis seperti membalas senyum mereka ketika kami berjumpa, tapi tidak bisa. Karena itulah mereka mengatakan bahwa aku ini sombong, tidak ramah, tidak bersahabat.
Demi Tuhan, aku benci basa-basi, seperti mengucapkan hal-hal baik hanya untuk membuat orang lain merasa senang. Aku tidak menawari orang makan bersamaku untuk basa-basi, jika aku menawari mereka makan atau pergi bersamaku itu artinya aku memang ingin bersama mereka, bukan basa-basi. Aku juga tidak menawarkan bantuan pada seseorang hanya untuk berbasa-basi, jika aku berkata "kalau ada yang bisa kubantu, katakan saja" itu artinya aku memang ingin berbuat sesuatu untuk membantunya. 
Aku tidak suka basa-basi, sama halnya ketika membahas sesuatu yang serius, misalnya jika ada yang sedang curhat. Aku bisa saja langsung mengatakan dia itu bodoh jika kenyataannya dia memang bodoh, aku tidak bisa berbasa-basi menyembunyikan kata bodoh di balik kalimat "makanya jangan terlalu mudah percaya janji orang lain" ya ampun aku lebih sering mengucapkan kalimat "makanya jangan bodoh"
Aku memang sering berkata langsung seperti itu, mungkin ini kesalahan terbesarku; menganggap semua orang berpikiran sama denganku.
Kita harus melawan arus basa-basi taik kucing yang sudah ditanamkan oleh semua orang pada kita sejak kita masih bayi. Maksudku, kita harus bersikap jujur. Tidak munafik, tidak dibuat-buat.
Ketika aku tidak suka maka kutunjukkan bahwa aku tidak suka, ketika aku suka maka kutunjukkan aku suka. Tapi orang-orang di sekitarku berbeda. Mereka lebih senang melihat dan menunjukkan sikap baik yang dibuat-buat agar orang lain simpati pada mereka. Istilah sehari-harinya dalam bahasa anak muda adalah bermuka dua.
Aku sungguh tidak bisa menjadi orang bermuka dua seperti itu. Tidak bisa, karena aku sudah mencobanya dan aku merasa sangat kotor. Menjijikkan sekali ketika kita berpura-pura baik hanya untuk membuat orang lain menyukai kita.
Karena terbiasa tidak berbasa-basi, penilaian orang-orang tentangku adalah aku ini sinis, frontal ketika berbicara, tidak sopan, selengean, dan berbagai istilah-istilah lain yang dimaksudkan untuk kebiasaanku yang berbuat tanpa memikirkan penilian orang lain.
Ada juga seorang teman yang kuanggap termanku tapi ternyata menjelek-jelekkanku di belakang. Kalian tahu kan makna dijelek-jelekkan ? itu artinya seseorang berbicara tentang kejelekan dirimu, tapi kejelekan yang mereka ceritakan itu dikarang-karang, seperti fitnah.
Jadi begini, aku ini orang Dayak, tumbuh dan berkembang di lingkungan yang menggunakan bahasa Melayu Kapuas Hulu, lalu kuliah di Pontianak yang menggunakan bahasa Melayu Pontianak. Di rumah, kami hamya menggunkan dua bahasa, Dayak dan Bahasa Indonesia. Sangat janggal rasanya ketika menggunakan bahasa Melayu baik itu Kapuas Hulu maupun Pontianak. Aku luwes menyebutkan beberapa kata atau kalimat populer saja, seperti "ntah lah ye, mane ade, ndak tau, nisik ada, aok, kak ke mena" dan bahasa-bahasa ringan lainnya. Jadi wajar sekali jika aku jarang mengobrol menggunakan bahasa melayu.
Aku agak marah ketika temanku menceritakan bagian ini, bagaimana mungkin ada orang yang memperhatikanku sampai pada caraku berbicara, ya Tuhan mengapa tidak sekalian saja orang itu membiayai hidupku supaya dia bisa mengurusi lebih banyak hal tentangku.
Begitulah kehidupan sosial, memang memuakkan, muntah saja kalau ingin muntah. Aku juga sebenarnya sangat bosan dengan kehidupan sosial yang penuh kepalsuan dan kemunafikkan. Kalau saja aku ini sang penguasa, aku akan menciptakan dunia yang hanya diisi olehku dan keluargaku. Keluargaku walaupun menyebalkan mereka tetap keluargaku, mereka bisa menerima aku dengan segala keburukanku, dan mereka yang tidak pernah berpura-pura di depanku. Mereka jujur, apa adanya.
Hidup ini tidak sederhana lagi sejak kita memutuskan memikirkan penilaian orang lain. Hidup tidak pernah mudah lagi sejak kita mulai mempertimbangkan keinginan orang lain, hidup memang tidak akan asik lagi ketika kita mulai bertindak hanya untuk membuat orang lain terkesan.
Kesimpulan dari tulisan ini adalah, betapa basa-basi, kepalsuan, dan kemunafikan lebih disukai orang ketimbang kejujuran dan kenyataan yang sebenanrya.
Ah, semoga saja aku selalu menjadi orang yang masa bodoh pada hal-hal negatif yang dilabelkan orang lain padaku. Semoga kalian juga seperti itu.

Monday, December 14, 2015

NOVEL MENYENTUH TENTANG PERCINTAAN REMAJA, WHITE AS MILK RED AS BLOOD


Judul : White As Milk Red As Blood
Penulis : Alessandro D'Avenia
Penerbit: Bhuana Sastra

Novel ini mengisahkan tentang seorang remaja lelaki berusia 16 tahun bernama Leo.
Leo adalah seorang siswa yang sangat malas sekolah, dia benci sekolah dan guru-gurunya. Dibandingkan pergi ke sekolah, Leo lebih memilih menghabiskan waktunya untuk mendengarkan lagu atau balap motor bersama temannya, Niko. Dia juga memiliki seorang sahabat bernama Sylvia. 
Leo sangat membnci warna putih, tiap kali membayangkan warna putih dia selalu merasa tidak nyaman. Tidak seperti remaja lainnya yang punya banyak impian, satu-satunya impian Leo adalah Beatrice - si gadis berambut merah.
Dia jatuh cinta pada warna merah dari rambut Beatrice, warna merah itu adalah semangatnya. Salah satu alasannya untuk datang ke sekolah adalah untuk melihat Beatrice. Beatrice adalah mimpinya, benr-benar mimpinya karena dia hanya berani mengaguminya dari kejauhan, tidak pernah mendekat. Tapi mimpi itu hancur saat dia mengetahui bahwa Beatrice mengidap leukemia.
Penulis buku ini menuliskan cerita tentang Leo dan Betarice dengan rangkaian kata yang indah, sangat menyentuh hati.
Melalui tokoh Leo, aku yang muak dengan sekolah merasa sangat terwakili. Semua yang dirasakan Leo adalah yang juga kurasakan ketika aku sudah sangat jenuh dengan rutinitas di sekolah. Sementara melalui tokoh Betarice, penulis berhasil membuatku merenung, dan tersadar betapa banyaknya waktu yang kubuang dengan percuma selama ini. Penulis berhasil menjelaskan betapa berartinya waktu dalam kehidupan kita, betapa indahnya menjalani sesuatu dengan berserah dan bersyukur.
Aku sangat suka novel ini, salah satu novel yang berhasil menyentuh hatiku. Bukan hanya berbicara tentang cinta, tapi juga persahabatan antara Leo dan Sylvia, lalu konflik antar remaja lelaki yang dikisahkan melalui tokoh Niko. 
Banyak novel yang mengisahkan percintaan remaja, tapi sangat sedikit yang berhasil menyampaikan nilai-nilai yang terkandung di dalam kisah tersebut. Menurutku novel ini sangat tepat dibaca oleh para remaja yang baru memasuki dunia percintaan, atau mereka yang merasa muak dengan cinta.
Cinta itu luas, cinta itu berubah, cinta itu kadang pasang kadang surut, cinta itu bergejolak.

Novel ini sangat direkomendasikan bagi mereka yang ingin membaca tapi terlanjur malas karena muak dengan kalimat-kalimat payah yang sering ditemukan dalam novel-novel cinta, karena biasanya (berdasarkan pengalaman penulis) pengarang yang menulis novel tentang cinta seringkali menggunakan kalimat-kalimat puitis yang menggelikan. Di novel ini Alessandro menulis ceritanya dengan bahasa yang sederhana, bahkan indah. Mudah dimengerti dan membekas. Tidak terkesan puitis dan melankolis.

Di bawah ini adalah kutipan-kutipan menarik yang terdapat dalam novel Bianca Come Il Latte, Rossa Come Il Sangue.
  • "Aku memilih sendiri teman-temanku. Inilah indahnya pertemanan, sebab kaulah yang memilih mereka dan kau merasa nyaman dengan mereka sebab kau memilih sendiri sesuai keinginanmu."
  • "Guru pengganti memang identik dengan kesialan terbesar di seluruh jagat raya. Pertama : menjadi guru saja sudah merupakan kesialan, apalagi guru pengganti. Kedua : sebab dia hanya cadadangan saja. Hidup macam apa itu, bekerja hanya untuk menggantikan seseorang yang sedang sakit ?"
  • "Kita berbeda dari binatang yang hanya melakukan hal-hal yang disuruhkan alam saja. sebaliknya, kita bebas. Inilah karunia terbesar yang sudah kita terima. Berkat kebebasan ini, kita bisa menjadi seseorang yang berbeda dari diri kita sekarang. 
  • "Kebebasan memampukan kita untuk bermimpi, dan mimpi adalah denyut kehidupan kita, meskipun seringkali membutuhkan perjalanan panjang dan beberapa pukulan."
  • "Kasih yang kuterima. Kasih selalu merupkan utang, dan karena itulah warnanya merah."
  • "Semua hal yang tak kupunyai. Kasih selalu merupakan piutang yang tak akan pernah ibayar lunas."
  • "Malam hari adalah tempat bersarangnya kata-kata."
  • "Mencintai adalah kata kerja, bukan kata benda. Bukan sesuatu yang diciptakan sekali untuk selamanya, tetapi berevolusi, tumbuh, naik, turun, tenggelam.."
  • "Tetaplah mencintai. Kau selalu bisa melakukannya. Mencintai adalah suatu tindakan."
  • "Ada dua kategori orang yang melukai kita, mereka yang membenci kita dan mereka yang mencintai kita."
  • "Kau baru boleh khawatir saat seseorang yang mencintaimu tidak lagi melukaimu, sebab itu artinya dia sudah berhenti mencoba dan kau sudah berhenti peduli."
***

Saturday, December 05, 2015

BUNG!! BUNG!! BUNG FIERSA BESARI


Fiersa Besari adalah seorang musisi independen dari Bandung, dia akrab disapa Bung. Aku termasuk orang yang baru mengenal karyanya karena aku mendengarkan lagu miliknya di akhir tahun 2014. Setahun yang lalu saat aku patah hati dan seorang teman menyarankanku untuk mendengarkan lagu-lagunya. Ketika itu lagu yang paling membekas di hatiku adalah lagu yang berjudul April, salah satu lagu yang terdapat dalam album Tempat Aku Pulang
Bung Fiersa membuat album pertamanya pada tahun 2011, yaitu 11:11, kemudian tahun 2013 membuat mini album Tempat Aku Pulang yang ditambah menjadi empat belas lagu di tahun 2014, dan pada tahun 2015 Bung kembali merilis album Konspirasi Alam Semesta, nama album yang dikira judul buku tentang Geografi oleh bapak.  
Terlepas dari karya-karyanya, aku juga mengidolainya karena dia sangat suka membaca dan peduli pada pendidikan di Indonesia.
Perjalanannya dalam berkarya sangat memotivasi kaum muda. Aku adalah salah satu di antara mereka yang merasa termotivasi oleh kisah-kisah yang ditulis di jejaring sosial miliknya. Termotivasi untuk melakukan hal positif ketika patah hati (hahaha).
Di balik lirik-liriknya yang "ngena banget" dalam album 11:11 dan Tempat Aku Pulang ada patah hati besar yang pernah dialami Bung Fiersa.
Masa-masa galauku ditemani oleh lagu-lagu milik Bung. Lirik-liriknya sangat sesuai dengan perasaanku, menyentuh dan sangat membekas. Beberapa liriknya bahkan kujadikan kutipan dan kutempel di dinding kamarku.
Fiersa Besari sangat mencintai dunia literatur, kebetulan dia lulusan sastra asing. Kata-kata yang ditulisnya selalu menjadi barisan kalimat indah yang digilai banyak pembaca. Kecintaannya pada dunia membaca menghasilkan gagasan untuk mendirikan sebuah klub membaca. Dan itu terealisasi dengan dibentuknya komunitas Pecandu Buku. Pecandu Buku dibentuk oleh Bung pada pertengahan tahun 2015 bersama dua temannya. Saat ini anggota Pecandu Buku tidak hanya berasal dari Bandung tapi dari berbagai wilayah di Indonesia.
Membaca buku adalah bukti betapa hebatnya imajinasi kita membentuk ruang dan waktu. - Pecandu Buku
Sebagai bentuk kepedulian Bung terhadap dunia pendidikan dia bergabung dengan sebuah organisasi yang terjun langsung untuk mengajar di sekolah-sekolah yang terdapat pada daerah  terpencil di wilayah Jawa Barat. 
Mungkin berbagai pengalaman Bung bersentuhan langsung dengan orang-orang dari berbagai latar belakanglah yang membuat sosoknya menjadi rendah hati, menerima perbedaan dengan penuh toleransi. Perjalanan Bung mengelilingi Indonesia mempertemukannya dengan banyak orang yang menginspirasinya untuk berkarya. Bung sendiri melakukan perjalanan tidak untuk sekedar "Jalan-jalan". Dia melakukan perjalanan untuk keluar dari zona nyamannya, menjalani kehidupan yang jauh berbeda dengan apa yang biasa dijalaninya. Cerita-cerita perjalanan Bung ini menjadi bagian lain dari banyak bagian memukau yang kutemukan darinya.
Aku sangat suka caranya berbagi pengalaman, caranya menginspirasi. 
Dari Bung aku paham bahwa kita tidak perlu menjadi milioner untuk peduli pada sesama, tidak perlu mengorbankan nyawa bagi orang banyak untuk dikenang. Lakukan semuanya dengan hati dan jangan menunggu nanti.
Bung Fiersa Besari, aku adalah salah satu bocah dari sekian banyak penggemarmu yang menuliskan nama Fiersa Besari ke daftar sosok menginspirasi hidupku.
Mungkin aku tidak akan sebesar Bung, tapi aku ingin menjalani hidup dengan hal-hal yang positif, termasuk ketika patah hati.


Terimakasih sudah menghadirkan Pecandu Buku, Bung.

This entry was posted in

Sunday, November 29, 2015

TERIMAKASIH DEMABUKU

Selama toko buku ada selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi.”-Tan Malaka, Madilog

Sayangnya toko buku di Pontianak sangat terbatas begitu juga dengan buku-buku yang tersedia, mungkin karena minat baca masyarakat dan kepedulian terhadap dunia literasi yang masih rendah. Toko buku online memang solusi bagi para pencinta buku yang berada di tempat-tempat yang kekurangan toko buku. Aku sangat merasakan manfaatnya.
Sejauh ini Gramedia masih menjadi toko buku yang paling sering kukunjungi ketika ingin membeli buku yang baru terbit atau sekedar melihat-lihat dan menumpang membaca. Tapi Gramedia juga terbatas, beberapa buku dari penerbit tertentu jarang ditemukan nangkring di Gramedia, harus ulet mencarinya. Salah satunya adalah buku Pandji Pragiwaksono.
Aku tergila-gila pada karyanya sejak masih mengenakan seragam abu-abu, tepatnya saat aku jatuh cinta pada Stand up Comedy. Orang awam mungkin hanya mengenalnya sebagai seorang komedian atau presenter, tapi dibalik sosoknya yang kocak dan selalu lucu Pandji adalah seorang pemikir yang sangat menginspirasi, dia mampu mentransfer ilmunya melalui tulisan ringan. Ringan karena tidak menggunakan kalimat-kalimat berisi istilah tertentu yang hanya dimengerti kalangan akademis. Buku-buku Pandji adalah buku yang diperlukan oleh anak muda Indonesia, buku yang mampu membakar semangat kita untuk menjadi pemuda pemudi yang maju dalam berpikir dan bertindak. Tidak hanya hits sebagai anak gaul tapi juga hits sebagai anak Indonesia.
Karena tidak tersedia di Gramedia aku baru bisa memilki buku-buku Pandji pada tahun 2015. Adalah sebuah toko buku online yang bertempat di Jakarta – namanya Dema Buku, yang menjual buku-buku itu, aku memesan beberapa buku di sana dan berkatnya aku bisa memiliki buku karya Pandji Pragiwaksono. Dan tulisan ini sebenarnya aku tulis untuk seseorang di balik toko buku Dema Buku. Aku ingin berterimakasih karena dia menjual buku. Haha. Yaudah sih pokoknya makasih ya min, kalau aku main ke Jakarta nanti aku ke toko Dema Buku ya.
Aku merasa perlu mengucapkan terimakasih kaena ulasan buku Nasional is Me karya Pandji Pragiwaksono, aku menjadi anggota sebuah komunitas membaca buku. Komunitas yang kemudian mempertemukanku dengan orang-orang inspiratif, akan kutuliskan suatu saat nanti tentang komunitas para kutu buku ini. Aku merasa sangat beruntung bisa menjadi bagian dari mereka. Mendapat banyak ilmu dan diberi bonus satu grup bersama musisi idolaku.
Mungkin kemarin, jika aku tidak menghubungi kontak yang tertera pada akun instgaram Dema Buku – dan melakukan pemesanan, aku tidak akan bergabung dengan komunitas itu. Sekarang aku menjadi bagian dari mereka. Terimakasih Dema Buku, terimakasih telah menyediakan buku-buku yang original bagi para pencinta buku yang kadang tertipu oleh buku bajakan. Aku pasti bukan satu-satunya pembeli dari daerah yang jauh, pasti banyak yang mengalami hal sepertiku – kesusahan memperoleh buku - dan terimakasih sudah menyediakan buku-buku untuk kami. Terimakasih Dema Buku. Aku hanya ingin admin dibalik toko buku itu tersenyum ketika membaca tulisan ini. Semoga tetap semangat membagi kebahagiaan melalui buku-buku yang disebarkan ke berbagai wilayah Indonesia.
Sebuah buku bukan hanya setumpuk kertas berisi barisan kalimat, ada ilmu ditiap lembarnya, ada emosi yang tumpah ketika menyusuri kalimat demi kalimat yang tertuang di sana. Bagiku buku adalah teman.
Dan terberkatilah para penjual buku. Mereka yang berbaik hati menjadi penyambung tangan bagi orang-orang yang haus akan ilmu dan bahagia dengan membaca. Semoga semakin banyak orang yang suka membaca, semoga semakin banyak yang menyebarkan virus membaca. Terimakasih Dema Buku.

Saturday, November 28, 2015

HARI MENANAM POHON


Selamat hari menanam pohon. Hari ini aku kuliah pagi dan sekarang sudah ada di kampus.
Seperti biasa teman-temanku tidak ada yang tertarik untuk membicarakan hari menanam pohon, hanya aku yang sibuk mencari pohon untuk difoto dan dijadikan gambar untuk tulisan ini. Lah emang ngaruh ya ? harusnya aku ikut menanam pohon dong, ah.
Tahun 2008, Presiden Republik Indonesia - bapak Susilo Bambang Yudhoyono melalui Keputusan Presiden Indonesia tahun 2008 menetapkan tanggal 28 November sebagai hari menanam pohon dan bulan Desember sebagai bulan menanam pohon.
Mengapa dipilih bulan November dan Desember ? Karena bulan ini curah hujannya tinggi.
Tanggal 28 November 2008 itulah Pak SBY menanam 100 juta pohon. Selanjutnya ada banyak gerakan menanam pohon dibuat setiap tanggal 28 November, sayangnya aku sendiri belum pernah mengikuti kegiatan menanam pohon dan kali ini masih belum bisa ikut 
Kepedulian terhadap lingkungan memang harus ditingkatkan, apa lagi di kalangan anak muda. Selamat hari pohon. Semoga orang-orang tidak hanya peduli pada pohon hari ini, tapi setiap hari.

Wednesday, October 28, 2015

(SOEMPAH) PEMUDA



Selamat sumpah pemuda, Indonesia!!
Maafkan fotonya yang tidak nyambung sama tulisan ini. Harusnya menggunakan foto yang sedang menggambarkan suasana sumpah pemuda dong Clau, seperti foto berorasi di bundaran bambu runcing. Hahaha. Foto ini ajalah, suka-suka yang punya blog kan. 
Jadi hari ini adalah hari Rabu, tanggal 28 Oktober 2015 dan ini adalah hari Sumpah Pemuda. Aku sengaja memosting sebuah foto ketika aku sedang menggunakan kebaya di Instagram, ya kali aja ada yang ngirain aku baru selesai upacara gitu pakai kebaya segala macem. Hahaha. Padahal itu foto seminggu lalu waktu acara nikahan tante.
*garing, hening seketika*.

Sebagai mahasiswa yang tidak aktif di kampus aku tidak punya agenda apa-apa untuk mengenang hari bersejarah ini. Aku (seperti biasa) diam di rumah dan menyaksikan eforia teman-teman di seberang sana melalui televisi, mereka banyak melakukan aksi protes mengkritisi hal-hal yang dianggap salah pada negeri ini.
Di sini, aku tahu dari salah satu temanku bahwa akan ada aksi juga dari teman-teman mahasiswa. Entah apa yang mereka tuntut aku tidak tahu, dan tidak mau tahu.
Inilah mental pemuda masa kini. Tidak mau tahu. Mungkin tulisan ini bisa mewakili kalangan muda lainnya yang tidak mau tahu pada keresahan teman-teman seperjuangan mereka. Sebenarnya aku memilih tidak mau tahu. Kenapa ? Karena aku tidak setuju dengan cara itu.
Lalu apa cara yang tepat Clau ? Entahlah, aku belum tahu. Sebenarnya aku belum pernah mencoba salah satu carapun. Hehhe (lalu aku dibakar).
Begini, sebelumnya aku minta maaf karena aku sejujurnya tidak pernah melakukan aksi apa-apa untuk menunjukkan bahwa aku pemuda yang peduli, kenyataannya aku tidak peduli.
Karena itu, baiklah tulisan ini dinamai coretan mahasiswa yang tidak pernah demonstrasi. Hahaha.
Yang mau kutulis juga apa.
Ada beberapa teman yang kerap turun ke jalan untuk melakukan aksi ketika sedang ada moment-moment tertentu. Lalu menjadi orang masa bodoh ketika moment itu telah berlalu. Banyak dari mereka yang turun ke jalan tidak tahu menahu tentang apa yang sedang mereka suarakan. Dan itu seperti sebuah tamparan keras, mungkin sama memalukannya dengan menggunakan baju tidur untuk menghadiri sebuah pesta pernikahan.
Aku hanya prihatin melihat teman-teman yang biasanya teler di kantin kampus karena kebanyakan minum arak menjadi keras mengaum ketika melakukan aksi pada hari-hari tertentu (hari besar, bersejarah). Mereka berbicara keras menggunakan pengeras suara, mengkritik ini, menuntut itu. Lalu besoknya mereka lupa pada apa yang mereka teriakan di jalan, mereka lupa pada kalimat-kalimat yang mereka ucapkan. Kemudian ketika ada moment lain, mereka melakukannya lagi. Turun ke jalan dan berteriak-teriak, beramai-ramai menyerukan perubahan dan menuntut hak. Kadang membuat macet dan kesal pengguna jalan yang lain. Ah sudahlah. Perubahan apa yang akan tercipta dari kepala-kepala mabuk ? 
Tapi, ah sudahlah. Mereka hanya mencoba menjadi lebih peduli.
Banyak hal yang kurasa sangat menggelitik terjadi di kampus. Teman-teman yang protes diam-diam pada aturan kampus yang dirasa tidak masuk akal padahal mereka bisa menyampaikan ketidaksetujuan mereka dengan cara yang lebih masuk akal, lebih terpelajar. Contohnya aku punya teman yang berambut gondrong. Lalu kampusnya mengeluarkan aturan agar mahasiswa berambut gondrong segera merapikan rambut, jika masih ada mahasiswa berambut gondrong maka yang bersangkutan tidak diperkenankan mengikuti kegiatan belajar mengajar. Karena pihak kampus menganggap bahwa mahasiswa yang berpenampilan seperti ini selain merusak nilai estetika juga menujukkan pribadi dan kemampuan belajar yang buruk.
Temanku yang berambut gondrong ini sangat tidak terima dengan aturan yang baru dikeluarkan pihak kampus. Dia kemudian protes. 
Dengan cerdasnya dia menguraikan bahwa rambut gondrong tidak ada hubungannya dengan moralitas dan kemampuan belajar. Dia, dengan sangat tajam membuat pernyataan-pernyataan yang mematahkan pendapat pihak kampus tentang mahasiswa gondrong. Lengkap dengan hasil penelitian ini itu, pernyataan tokoh ini dan itu mengenai rambut gondrong. Secara keseluruhan tulisan yang dibuatnya sangat menggambarkan pemikiran yang terkonsep dengan baik, mahasiswa banget, kaum intelektual banget. Sayangnya, dia menuliskan itu pada status jejaring sosialnya lengkap dengan foto bersama teman-teman satu angkatannya yang berambut gondrong. Mereka berfoto bersama, telanjang dada dengan menonggakkan kepala ke atas, memperlihatkan rambut mereka yang panjang. 
Sangat disayangkan, mereka protes dengan berfoto bersama lalu mengoceh di sosial media. Perubahan apa yang mereka dapatkan ? Tidak ada. Aturan kampus tetap berjalan dan mereka potong rambut.
Itu adalah contoh sederhana bagaimana seringnya para mahasiswa yang idealis ini bertindak keliru, atau mungkin juga pikiran mereka yang telah dahulu keliru.
Entahlah.

Aku hanya berpendapat. Benar salahnya tergantung yang membaca.
Intinya ini hari Sumpah Pemuda, hari di mana kita mengingat kembali bagaimana semangat para pejuang kita untuk bersatu. Satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa, Indonesia. Tolong, jangan rusak moment ini.


This entry was posted in

Saturday, October 10, 2015

DERAWAN THE HIDDEN PARADISE



Pulau Derawan merupakan sebuah pulau yang terletak di Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Sebuah pulau dengan sejumlah objek wisata bahari yang sangat menawan. Nama pulau ini semakin tidak asing bagi para penyuka wisata bawah laut sejak tahun 2012, saat itu Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menjadikan pulau Derawan sebagai salah satu destinasi unggulan di Indonesia. Sebelumnya pulau ini hanya dikunjungi oleh wisatawan lokal yang kebanyakan berasal dari Tarakan dan Samarinda. Tapi saat ini pulau Derawan tidak hanya dikunjungi wisatawan lokal melainkan mancanegara. 


Pulau Derawan menawarkan keindahan bawah laut yang luar biasa. Diving spot yang terdapat di pulau ini sangat menakjubkan, terdapat beragam biota laut dan terumbu karang yang masih alami.
Ini adalah surga bagi para penyelam.
Jika ingin berkunjung ke Pulau Derawan ada beberapa rute yang bisa menjadi pilihan, pertama kita dapat langsung menuju Kabupaten Berau kemudian melanjutkan perjalanan ke Derawan, jalur kedua apabila dari Jakarta kita harus menuju Balikpapan kemudian ke Tarakan dan dari Tarakan kita menggunakan boat menuju Derawan.


Perjalanan menggunakan boat dari Tarakan ke Pulau Derawan memakan waktu sekitar tiga jam. Karena menggunakan boat sebaiknya perjalanan dilakukan ketika gelombang laut tidak terlalu tinggi.
Sampai di tujuan semua perasaan lelah akan terbayar ketika melihat keindahan pulau ini. Airnya sangat jernih, pasir putih terhampar luas di sepanjang pantai.

 
Pulau Derawan juga terkenal dengan penyunya. Kita akan menjumpai anak-anak penyu di bibir pantai, mereka tidak lari sama sekali ketika didekati. Kita bisa menyaksikan matahari terbenam ditemani penyu, ketika malam tiba kita akan menyaksikan langit luas yang bertaburan bintang. Sebuah pemandangan langit malam yang tidak akan pernah kita temui di kota.


Hal menakjubkan lainnya dari pulau ini adalah, di sekitar Derawan terdapat beberapa pulau lainnya. Yaitu pulau Sangalaki, Kakaban, Maratua, dan Simama. Kelima pulau ini saling berhubungan. Derawan berarti anak perawan, Sangalaki berarti sang suami, Kakaban artinya sang kakak, Maratua adalah mertua dan Simama berarti sang mama. 

Pulau-pulau ini dipisahkan oleh jarak yang tidak terlalu jauh. Dan inilah yang menjadi pesona lain dari Pulau Derawan. Pada pulau Kakaban terdapat sebuah danau yang dinamai Danau Kakaban. Danau ini merupakan salah satu dari dua danau purba yang berisi ubur-ubur tak menyengat yang terdapat di dunia. Danau lainnya yang seperti ini terdapat di Republik Palau. 
Masing-masing pulau menawarkan keindahannya sendiri.

Pulau Derawan masih sangat alami, pemerintah daerah memang tidak menganjurkan adanya pembangunan yang memanfaatkan teknologi secara berlebihan.
Jika kalian adalah penyuka wisata bahari, mencintai pantai dan senja, maka Pulau Derawan harus kalian kunjungi.



(Tulisan di atas merupakan cerita perjalanan temanku Theofilus Irwan)

Sunday, September 27, 2015

EASY COME EASY GO


Easy come easy go. Sebenarnya maksud kalimat itu adalah rajin-rajinlah mencuci baju. Hahaha bukan bukan.
Jadi begini..
Yang mudah datang mudah pula pergi. Biasanya kita harus berkali-kali mengalami kehilangan dan merasakan  patah hati supaya mengerti kalimat ini. Supaya kita menyadari bahwa sebuah hubungan baik tidak akan terjalin tanpa waktu yang lama. 
Kenapa begitu ? karena orang yang datang tiba-tiba kemudian langsung menjadi kekasih kita, akan meninggalkan kita dengan mudah pula. Karena mereka tidak mengenal kita dengan cukup baik. Sebenarnya ini tentang waktu. Waktu tidak akan membuat semuanya menjadi tiba-tiba, karena waktu mengajarkan sebuah proses.
Waktu menunjukkan banyak hal. Waktu menunjukkan kepribadian seseorang, waktu pula yang menunjukkan kesetiaan seseorang, kesungguhan dan keseriusannya. 
Waktu yang menyediakan kesempatan supaya kita mengenal seseorang, menemukan kecocokan dan akhirnya merasa bahwa tidak ada yang bisa memisahkan selain waktu itu sendiri.
Waktu mengajarkan kita untuk menjadi gigih dan keras kepala dalam mempertahankan sesuatu, tapi kadang waktu memang kita butuhkan untuk mengikhlaskan sesuatu dan melupakan seseorang. 
Waktu tidak pernah membuat kita tiba-tiba memacari seseorang kemudian bisa dengan mudah memutuskannya.
Di bawah ini ada sebuah cerita yang membuatku benar-benar mengerti kalimat easy come easy go.

Ada seorang gadis yang telah bertahun-tahun kosong hatinya, dia adalah gadis keras kepala yang sangat idealis. Suatu hari dia berkenalan dengan seorang lelaki asing. Perkenalan mereka berlanjut dengan obrolan-obrolan manis lainnya. Sampai akhirnya gadis itu merasa bahwa lelaki itu mempunyai tujuan yang sama dengannya. Lelaki itu dengan segala keasingannya telah memberikannya sebuah dunia baru yang belum pernah dimasukinya, sebuah dunia yang membuatnya bahagia dan mampu melupakan masalah-masalah hidupnya. Kehadiran lelaki itu seperti sebuah jawaban atas doa-doa yang dipanjatkannya pada Tuhan selama ini. Gadis itu mulai merasa bahwa dia jatuh cinta pada lelaki asing itu. Sampai suatu hari lelaki gtepat dua minggu mereka berkenalan, lelaki itu memintanya untuk menjadi kekasihnya, tentu saja dia menerimanya.
Merekapun menjalani hubungan berpacaran, bukan sebagai teman. Tentu saja ada bebrapa hal yang berubah sejak mereka berpacaran, ada sebuah status yang mengikat mereka, ada sebuah ikatan yang harus mereka jaga, kemudian ada orang-orang di sekitar pasangan masing-masing yang mau tidak mau harus mereka kenali juga.
Lelaki itu mempunyai seorang sahabat perempuan yang sudah dikenalnya bertahun-tahun, dia sudah mengenal sahabtnya seperti dia mengenal adik perempuannya. Mereka selalu berdampingan, tolong menolong, saling menyaksikan kejadian demi kejadian yang mereka alami, saling menguatkan ketika salah satunya jatuh, saling mendukung ketika patah semangat, saling menghibur ketika kecewa, bahkan mereka berbagi pelukan ketika salah satunya patah hati. Mereka adalah sahabat.
Gadis keras kepala itu seringkali cemburu ketika menyadari bahwa kekasihnya lebih mengenali perempuan lain dari pada dirinya. Dia cemburu, tapi tidak pernah mengungkapkannya pada kekasihnya karena dia tahu bahwa mereka hanya bersahabat, tapi dia cemburu, dan dia tahu bahwa dia tidak boleh mengungkapkannya.
Gadis keras kepala yang sangat keras, dia meredam semua kesedihannya, tapi tidak mampu meredam kemarahannya, dia menjadi seperti seorang gadis yang agresif, seperti sering marah tanpa alasan yang jelas, padahal sebenarnya jelas, dia marah karena cemburu. Tapi kekasihnya tidak pernah meyadari kecemburuannya karena kekasihnya tidak mengenalnya dengan baik.
Sampai suatu ketika, karena kejadian yang membuatnya merasa sudah tidak tahan lagi, gadis itu mengungkapkan kecemburuannya selama ini. Dia merasa tidak mampu lagi melanjutkan hubungan itu dan dia ingin mereka mengakhirinya.
Lelaki itu datang padanya, dia memohon agar gadis itu memaafkannya, dia tidak ingin berpisah. 
Kemudian mereka kembali bersama. Kembali bersama karena gadis itu terlalu lemah hatinya.
Mereka menjalani hubungan mereka kembali sebagai kekasih, bulan demi bulan berlalu, waktu berlalu, dan mereka mulai mengenali kepribadian masing-masing.Gadis itu semakin mencintai kekasihnya. Tapi kekasihnya semakin berubah. Dia seringkali mengabaikannya dengan alasan-alasan yang sulit diterimanya.
Lambat laun hubungan mereka seolah menjadi beban, tidak mudah menjalaninya, dia ingin juga mengabaikan keberadaan lelaki itu, tapi ikatan mereka sebagai pasangan kekasih tidak bisa diabaikan begitu saja. Karena sesungguhnya gadis itu memang mencintai kekasihnya.
Gadis itu mencoba bertahan, karena dia memang keras kepala. Dia menciptakan harapan-harapan baik yang lambat laun mematahkan hatinya. Kekasihnya berubah total,dia seperti orang lain. Sikapnya tidak sama, perlahan dia menciptakan jarak di antara mereka. Waktunya dihabiskannya bersama teman-temannya, bersama sahabat perempuannya yang membuat gadis itu sering menangis, mereka jarang bertemu, komunikasi tidak lancar, dan gadis itu merasa ditinggalkan.
Dia sedih, merasa bahwa keberadaanya sudah tidak dianggap. Dan lagi, karena sebuah kejadian yang tidak berbeda dengan kejadian sebelumnya, gadis itu mengungkapkan kecemburuannya.
Ketika mengungkapkan kegamangannya, kekasihnya mengatakan bahwa dia jelas memilih teman-temannya dibanding dirinya, dan gadis keras kepala itu mengerti. Maksud kekasihnya adalah dia jelas memilih sahabatnya itu dibanding dirinya. Kekasihnya mengungkapkan bahwa tujuan mereka tidak sama, mereka berbdea, dan hubungan mereka tidak akan berhasil.
 Gadis itu merasa sangat sakit. Merekapun berpisah. Easy come, easy go.
Tidak lama setelah berpisah, gadis keras kepala itu mengetahui bahwa lelaki yang dulu pernah menjadi kekasihnya akhirnya berpacaran dengan perempuan yang sering dicemburuinya, sahabat lelaki itu.
Terkejut ? Tentu saja. Karena lelaki itu pernah mengatakan bahwa dia telah menganggap sahabatnya itu seperti saudaranya sendiri, dia mengatakan bahwa berpacaran dengan sahabatnya itu tidak mungkin. Itu tidak mungkin.
Tapi akhirnya mereka bersama, bukan sebagai teman tapi kekasih.

Easy come easy go.
Dia yang mudah datang akan begitu mudah meninggalkanmu.
Dari cerita ini aku menyadari bahwa seseorang seringkali datang tiba-tiba dalam kehidupan kita kemudian meninggalkan kita. Gadis itu baru mengenal lelaki itu kemudian memutuskan berpacaran, tidak berapa lama mereka berpisah, gadis itu ditinggalkan karena lelaki itu akhirnya menyadari bahwa tujuan mereka ternyata tidak sama, sementara gadis itu masih belum menyadarinya.
Saat ini, semoga kalian sedang bersama orang yang benar-benar telah kalian kenal, orang yang telah melalui banyak waktu bersama kalian. Bukan orang yang datang tiba-tiba.
Sebaliknya..
Lelaki yang menghancurkan hati gadis keras kepala itu menunjukkan bahwa waktu menunjukkan pada kita sesuatu yang mungkin tidak pernah kita sadari, jatuh cinta pada orang yang telah bertahun-tahun menjadi sahabatnya. 
Semua hanya masalah waktu.
Yang datang dengan mudah akan pergi dengan mudah, tapi yang bersamamu melalui banyak waktu tidak akan meninggalkanmu dengan mudah.
Semua ini tentang waktu.

This entry was posted in

Sunday, August 30, 2015

MINI SHOW STAND UP COMEDY PONTIANAK FUN7ASTIC


FUN7ASTIC adalah mini show persembahan dari Stand up Comedy Pontianak.
Mini show ini menampilkan tujuh komika dengan latar belakang yang berbeda. Berbeda suku, agama, usia, dan jenis kelamin. Ada satu komika bersuku Dayak dan ini seolah menjadi angin segar dalam stand up comedy Pontianak. Kemudian ada seorang komika perempuan yang masih muda dan sangat berbakat.
Ini adalah pertunjukkan yang sangat istimewa menurutku, karena untuk pertama kalinya aku melihat seorang komika mengenakan Rosario dan membacakan Injil di panggung.
Paulus Aan, dia adalah seorang guru yang sedang menjajal kemampuannya di panggung stand up comedy, entah karena kecintaannya pada dunia komedi atau karena dia bosan mengajar. Malam ini dia berhasil membuka mini show ini dengan tawa pecah dari penonton. Tawa yang jelas menjadi nyawa bagi para komika yang akan tampil berikutnya, tawa yang menjadi nyawa bagi acara ini.
Dia berhasil mengemas materinya dengan apik, bit-bitnya tentang suku Dayak sangat menghibur dan jauh dari kesan SARA.
Minoritas berhasil diangkatnya ke permukaan, dan dijadikannya kekuatan. Aku terkesima saat dia membacakan salah satu ayat dari injil, bukan karena aku beragama Katolik, tapi karena ini tidak pernah terpikirkan sama sekali olehku. Kemudian penyampaiannya yang menggunakan bahasa Indonesia sangat mempengaruhi seberapa sering tawaku pecah. Karena jujur saja selama ini aku sedikit terganjal dengan bahasa. Bukan tidak mengerti, tapi jelas rasanya berbeda karena aku tidak tinggal di Kota ini sejak kecil. Dan terimakasih Paulus Aan malam ini kamu menyelamatkanku dari siksaan "bete di awal acara". Ini merupakan kali pertama aku menyaksikan pertunjukanmu, dan sangat tidak mengecewakan, lucu banget.
Pandji Pragiwaksono (komika favoritku) mengatakan bahwa Stand up Comedy itu bukan suatu trend, bukan sesuatu yang sesaat tapi Stand up Comedy adalah sebuah pilihan, sebuah pilihan komedi. Orang Indonesia menjadikan Stand up Comedy sebagai pilihan comedy karena sudah terlalu lama disuguhi dengan komedi yang menonjolkan gerakan dan lelucoan belaka, atau teka-teki jenaka. 
Stand up Comedy hadir sebagai sebuah aliran komedi yang baru di Indonesia. Dan eksistensinya tidak diragukan lagi, ini terbukti dengan banyaknya komunitas-komunitas pencinta Stand up Comedy bermunculan di berbagai daerah di Indonesia.
Untuk membuktikan bahwa Stand up Comedy bukan suatu trend sesaat makan para komika, para penabur tawa ini perlu dukungan dari masyarakat. Caranya sederhana, dukunglah komika lokal di daerah masing-masing. Ini sebagai bentuk loyalitas kita pada Stand up Comedy. Pada tawa yang merdeka.
Di sini kita bebas tertawa, bebas menertawakan diri sendiri, menertawakan kebodohan tanpa malu-malu, tanpa tersinggung, tanpa takut. 
Berbekal pemahaman tentang Stand up Comedy yang sedikit banyak kudapatkan dari buku Merdeka dalam Bercanda karya Pandji maka aku berkomitmen untuk selalu mendukung keberadaan Stand up Comedy, aksi nyatanya adalah mendukung kegiatan para komik lokal.
Ini bukan kali pertamaku menghadiri event-event dari Stand up Comedy Pontianak. Beberapa kali aku pernah menonton pertunjukan mereka sendirian, tanpa teman, karena aku jomblo. Abaikan itu.
Kali ini aku datang sendiri lagi, setelah diledek seorang teman dari komunitas stand up comedy Pekanbaru. "Mending cari teman dulu deh, nonton stand up comedy sendirian nggak enak loh". Tapi penampilan pertama dari Paulus Aan berhasil membuatku merasa nyaman, bahkan semakin antusias untuk menyaksikan pertunjukan berikutnya dari komika favoritku di komunitas ini.
Haris Rayista, dia adalah jagoanku di stand up comedy Pontianak. Hehe. Sejak 2013 sampai hari ini, aku baru menyadari gayanya di foto nggak berubah-ubah. Selalu mengacungkan salam perdamaian, peace. Salam V; Victoria yang artinya kemennangan, di Indonesia dijadikan jargon partai politik;salam dua jari.
Abaikan.
Jadi sejak pindah ke kota ini dan pertama kali menyaksikan performancenya aku langsung tertarik untuk mengikuti pertunjukan berikutnya. Karena itulah aku selalu meminta foto bareng tiap selesai acara. Dan setelah diperhatikan gaya bang Haris nggak berubah sejak dua tahun yang lalu. Hahaha.
Milikilah seorang jagoan dan selalu dukung mereka. Semoga dua komika lucu ini semakin rajin menulis materi dan semakin sering menjajal kemampuan stand up mereka.
Over all acara FUN7ASTIC sangat menghibur, mengocok perut dan membuatku melupakan lapar.
Semoga stand up comedy Pontianak semakin banyak menghasilkan komika lucu. Yang tidak hanya lucu tapi juga bisa membagikan wawasan mereka pada penikmat stand up comedy.


This entry was posted in

Thursday, August 27, 2015

SURAT UNTUK GURU IDOLA


Aku yakin semua murid di sekolah pasti mempunyai guru idola. Bisa Karena gurunya tampan atau cantik, humoris, ramah, maupun karena sosok keibuan yang mereka miliki.
Dalam film Laskar Pelangi, Ical dan teman-temannya sangat menyukai sosok Bu Muslimah dan Pak Harfan. Mereka menyukai kedua guru tersebut karena bu Muslimah dan pak Harfan merupakan orang-orang yang berpengaruh besar dalam kelangsungan pendidikan anak-anak di Gantong, tempat Ical dan teman-temannya merajut impian mereka untuk mengecap pendidikan.
Sebagai anak bangsa yang juga pernah merasakan hitam putihnya masa-masa sekolah, aku pun sama; mempunyai sosok guru idola.
Adalah guru Geografi dan wali kelas di tahun pertamaku ketika SMA, namanya pak Paulinus Totong.
Beliau merupakan sosok guru yang sangat ramah. Semangat mengajarnya juga menjadi inspirasiku dalam belajar. Tidak berlebihan rasanya jika kusematkan namanya dalam deretan nama orang-orang yang berpengaruh dalam perkembangan belajarku.
Sebenarnya aku ini bukan anak yang rajin belajar. Sejak duduk di Sekolah Dasar- tamat SMP aku belajar dengan terpaksa, seperti orang mabuk yang jalan sempoyongan, begitulah aku dalam belajar. Terseok-seok, malas-malasan.
Tapi kadang keadaan memang tidak bisa ditawar, seperti semua anak di dunia akupun menjalani hidup yang sama. Menjalankan kehidupan yang diinginkan keluargaku. Rajin belajar itu suatu keharusan, bukan karena keinginanku. Yang tulus ingin aku lakukan adalah membahagiakan orangtuaku, dan rajin belajar adalah salah satu cara yang bisa kulakukan. Jadi cara itu harus berhasil, dan memang berhasil.
Sampai akhirnya aku masuk SMA dan bertemu beliau. Bersamanya belajar tidak lagi membosankan. Dan satu hal yang paling berkesan, yang berhasil mengubah cara pandangku mengenai belajar adalah caranya memberikan pelajaran. Dia mengajar dengan hatinya. Menjadi guru bukan hanya sebuah profesi baginya tapi sebuah tanggung jawab. Caranya menyampaikan materi pembelajaran sangat menarik, seperti mengobrol bersama teman lama, seperti berbicara dengan bapak di rumah. Bersahabat dan berwibawa.
Berbeda dengan guru-guru lain, Pak Paul tidak hanya mengajar tapi mendidik. Memberikan nasihat-nasihat di sela-sela kegiatan belajar, berbagi cerita yang memacu semangat kami, memberikan pengetahuan baru yang selalu menakjubkan.
Aku tidak hanya belajar Geografi darinya. Aku tidak hanya memahami isi bumi dan palung-palung di dasar laut, aku juga belajar mengenai kehidupan. Ya kehidupan, mengenai cara pandang dan tujuan hidup, mengenai kedisiplinan dan tanggung jawab, mengenai tata krama dan etika bermasyarakat. 
Sederhananya didikan dan pengajaran yang diberikannya berhasil membuatku menjadi pribadi yang lebih baik.
Sejak berbagi semangat dengannya pandanganku mengenai belajar berubah menjadi positif. Perlahan-lahan kegiatan belajar mulai kusukai. Bukan karena suatu keharusan lagi tapi karena memang aku ingin. 
Dan pada tahun  terakhir aku menduduki bangku SMA aku mulai merasa sangat dekat dengan mimpi-mimpiku, sudah mulai melihat jalan menuju tujuanku.
Bahkan sampai detik-detik menjelang Ujian Nasional beliau masih berdiri di belakangku, menyokongku dengan semangatnya, menjejaliku dengan bertumpuk-tumpuk kumpulan soal latihan sebagai bekal untuk menghadapi tiga hari keramat itu.
Sungguh, kebaikan seperti ini yang mungkin tidak bisa terbalas. Satu hal yang pasti, aku harus berhasil. Jadi nasihat-nasihat tempo hari yang diberikannya tidak sia-sia. Perjuangan kami tidak nihil. 
Sampai detik ini semangat-semangat yang dibagikannya beberapa tahun lalu masih terasa hangat. Dan sosok beliau sampai sekarang masih sangat erat di hatiku. Sangat berkesan.
Hari ini beliau berulangtahun, doa-doaku sudah kusampaikan secara pribadi di hadapan Tuhan. Yang sangat dan harus Tuhan kabulkan adalah semoga beliau berumur panjang. Dan di masa depan, ketika waktunya tiba, semoga aku tidak hanya memberikan sebuah surat di hari ulangtahunnya. Aku ingin membalas tiga tahun terbaik yang telah kami lalui di SMA Karya Budi.
Aku memang bukan satu-satunya murid beliau, dan beliau bukan satu-satunya guruku. Tapi beliaulah satu-satunya guru yang menghadiahiku sebuah buku dan menghiburku sewaktu patah hati, dan belakangan beliau juga membujukku untuk balikan dengan cinta masa SMA ku. Hahaha. Tidak bisa kusebutkan satu-persatu di sini tentang kebaikan apa yang telah diberikannya sebagai guru padaku, pada kami murid-muridnya.
Selamat ulang tahun pak, terimakasih sudah menjadi pembimbing, orangtua, dan sahabat. Tuhan memberkati.

This entry was posted in

Sunday, August 23, 2015

PAGI YANG SUNYI

Ini mungkin pagi paling kusukai sejak setahun dua bulan aku tinggal di sini.
Pagi tenang tanpa suara televisi yang keras. Pagi hangat tanpa dinginnya jalanan Siantan. Pagi yang segar tanpa debu-debu lantai yang disapu.
Ini pagi terbaik yang kupunya.
Pagi sunyi karena semua orang ke gereja dan hanya aku yang tersisa. Tenang sekali, dan aku sadar betapa ternyata aku merindukan sunyi-sunyi ini.
Sunyi yang waktu itu sengaja ku usir. Betapa ternyata selama ini aku keliru, mengira sunyi itu jahat nyatanya ia adalah teman terbaikku.
Dan pagi ini, ditemani sunyi aku menulis kembali. Aku melakukan hal paling menyenangkan di dunia, dan aku ingin sunyi hadir setiap hari.

Kadang kita sering bosan karena selalu sendirian, merasa jenuh karena melewati hari-hari yang sunyi. Tertawa keras hanya ketika berada di keramaian lalu merasa sepi ketika berada di rumah. 
Aku pernah mengalami itu. Merasa paling terkutuk karena harus mengalami hari-hari sepi karena selalu sendirian di rumah. Menyalakan televisi semalaman hanya untuk membuat suasana kamar ramai, ada yang berisik jadi seolah-olah ada yang menemaniku. 
Aku juga menyalakan lagu keras-keras kadang sampai aku pusing mendengar suara Hayley Williams. Aku berteriak kencang di kamar. Tertawa keras sendirian ketika menonton stand up comedy di kompas TV. Aku juga kesal sendirian ketika sedang sial di kampus atau diteriaki ibu-ibu di jalanan karena membawa motor amburadul. Bahkan menangis sendirian karena rindu keluarga sudah menjadi ritual khususku setiap malam di kamar kecil itu.
Semua bagian rumah ini sudah pernah ku maki. Kadang karena menemukan barang yang ku cari teronggok di sudut ruangan yang padahal sudah kuperiksa tadi tapi tidak kutemukan dan sekarang ketemu ketika aku sudah memeriksanya berkali-kali. Kadang karena aku lupa meletakkan bukuku di mana. Kadang karena aku terantuk di pintu lalu ku maki sepuasnya pintu itu dan ku banting setelahnya.
Ah aku tidak suka sepi dan sunyi atau apa lagi kata yang menggambarkan suasana dan perasaan menyiksa itu.
Sampai akhirnya aku pindah ke sini, bersama bibiku. Dan hidupku tak lagi sama.
Di sini selalu ramai, aku tak pernah sendiri. Tak pernah lagi merasa kesepian sebelum tidur dan disambut sunyi ketika bangun. Mereka sudah jarang menemuiku. Dan aku semakin jarang menulis. Hehe. Karena susah sekali menuliskan sesuatu dari hati dan pikiran ketika suasana selalu ramai, ah kadang bukan hanya ramai tapi meriah. Meriah oleh suara televisi yang keras dan karokean tetangga di sebelah. 
Aku pun mulai bertingkah lagi. Aku mulai merindukan suasana yang dulu. Hiks kalau suasana sepi pasti bisa nulis. Aku sering menggerutu seperti itu.
Kadang aku menulis di dapur, membaca bertumpuk-tumpuk novel di dapur, menjinakkan imajinasiku yang liar di sana. Menyalurkan isi di hati dan pikiranku di meja makan. Ditemani rak-rak piring, gelas-gelas yang tertata rapi, sarbet kotak-kotak yang terlipat, dan rice cooker yang berdampingan dengan laptop.

Ah sekarang aku yang mencari sunyi Dan sepi itu. 
 

Saturday, August 08, 2015

ANTARA MEA (MASYARAKAT EKONOMI ASEAN) DAN MAHASISWA SALAH JURUSAN

Selamat pagi para mahasiswa salah jurusan. Bagaimana malammu tadi ? apa ada yang mimpi buruk karena berita di televisi lebih horor dari film hantu ?
Akhir-akhir ini pemberitaan di televisi tidak jauh dari berita tentang perekonomian negara ini. Nilai rupiah yang anjlok,harga barang yang semakin naik, sampai tindak kriminal yang meningkat akibat tuntutan hidup.
Hidup mulai terasa tidak asik kalau kita melihat berita, tapi akan kembali asik kalau gebetan kita ngajak ketemuan. Eak.
Bicara mengenai perekonomian negara, ini jelas merupakan sebuah masalah yang butuh penyelesaian secepatnya. Dan sebagi seorang mahasiswa yang salah jurusan dan pemalas maka aku hanya bisa berdoa semoga pemerintah diberi kekuatan untuk menghadapi badai besar ini. Ahhhhkkkkkk jangan baca jangan baca. Itu bercanda. Lupakan.
Jadi gini, akhir tahun ini MEA akan dibuka. Serius ni nggak tau MEA ? Haahhhh ??? Jadi MEA itu adalah singkatan dari Masyarakat Ekonomi Asean, merupakan istilah untuk pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara. 
Dibukanya MEA menyebabkan persaingan di dunia kerja semakin meningkat, terutama profesi khusus. Kita tidak hanya bersaing dengan teman sekantor kita tapi juga dengan orang-orang dari negara tetangga. 
Semua orang harus bisa menunjukkan kemampuannya, profesi-profesi khusus seperti dokter, pengacara dan akuntan akan banyak bersaing dengan orang-orang dari luar negeri.
Ini terdengar seperti kabar buruk bagiku.
Aku adalah seorang mahasiswa salah jurusan, tidak tahu skillnya apa, setiap hari berleha-leha di rumah, tidak tahu menahu tentang organisasi kampus apa lagi kegiatan yang bersangkutan dengan itu. 
Aku mulai galau. Sangat galau. Keresahanku ini kemudian kusampaikan pada abangku. Aku menceritakan padanya ketakutanku menjadi seorang sarjana tanpa keahlian, aku tidak ingin jadi seorang pengangguran. Dan dia menanggapinya dengan ejekan "Makanya tiap hari jangan baca novel,jangan waktunya habis buat autis sama gadget".
Aku cemberut. Lalu berpikir. Benar juga ya.
Aku tahu tantangan di dunia kerja akan besar, dan aku ini bukan Nobita yang punya teman seajaib Doraemon. Tidak ada yang bisa membantuku kalau bukan diriku sendiri. Aku harus berbenah.
Meskipun aku salah jurusan bukan berarti aku ini telah gagal, tidak aku tidak gagal. Aku hanya harus lebih serius menekuni jurusan yang telah kupilih (dengan terpaksa). Kalau ingin unggul di dunia kerja maka aku harus jadi tenaga kerja yang handal. Aku harus jadi sumber daya yang diperhitungkan nantinya sehingga aku tidak akan kalah bersaing dengan orang-orang dari luar itu.
Aku sadar bahwa aku punya tanggung jawab pada oranguta dan keluargaku. Aku tidak ingin jadi pengangguran. Sungguh MEA, hari ini kau telah menjernihkan pikiran seorang mahasiswa salah jurusan. Terimakasih (memeluk televisi).
This entry was posted in