Thursday, December 31, 2015

SEMANIS NASTAR NANAS

Jumat, 25 Desember 2015.
Merry Christmas universe!
Ini adalah Natal keduaku tanpa keluarga. Aku baru saja pulang dari gereja dan sedang duduk bersandar di sofa ruang tamuku yang sempit. Solo terasa sangat panas hari ini. Kunaikkan suhu pendingin  udara dan kututup pintu rapat-rapat. Tidak akan ada tamu yang datang untuk mengunjungiku, lagian siapa yang akan natalan, teman-temanku sudah pulang ke daerah masing-masing untuk merayakan Natal bersama keluarga. 
Tahun lalu cutiku kuhabiskan untuk pergi ke Macau, menemani Mas Uki meliput Macau International Fireworks yang berlangsung dari bulan September sampai Oktober. Dua minggu kami habiskan di sana sehingga tidak ada jatah untuk pulang ke Pontianak ketika Natal. Tahun ini aku tidak bisa pulang karena tuntutan pekerjaan. Besok aku dan beberapa teman dari kantor jurnalis tempatku bekerja akan berangkat ke Aceh, kami akan mendatangi desa Lamjame yang terletak di Kecamatan Jaya Baru, meliput keadaan di sana untuk mengenang sebelas tahun tragedi tsunami yang pernah memporakporandakan kampung nelayan itu.
Pengalaman Natal tahun lalu sudah membuatku mengerti betapa tidak berartinya sebuah perayaan jika hanya dirayakan seorang diri, karena perayaan adalah kemeriahan yang harus dibagikan, tidak akan bermakna jika hanya dilalui sendirian. Hari ini pun aku kembali merayakan sepi di tengah meriahnya Natal. Mungkin bagi mama dan papa, bingkisan Natal yang kutitip melalui seorang teman yang pulang ke Pontianak sudah cukup mewakili kehadiranku di tengah-tengah mereka. Sejak tadi malam tidak satu pun dari mereka yang menghubungiku. Seringkali kebahagaiaan membuat kita melupakan orang lain, aku agak melankolis karena merasa tidak ada yang mencariku. Panggilanku tidak diangkat, pesanku hanya dibaca. Papa hanya mengirimiku foto selfienya bersama empat keponakanku di depan pohon Natal tanpa pesan apa-apa, membuatku cemberut dan ingin tidur saja.
Mas Uki adalah satu-satunya orang yang menelponku tadi malam, mengingatkan agar aku tidak lupa makan sebelum pergi ke gereja untuk misa malam Natal. Mama yang biasanya mendongengiku dengan omelannya setiap malam bahkan lupa untuk sekedar menulis ucapan selamat Natal buat putri bungsunya ini.
Aku mewek. Dari sini dapat kurasakan hangatnya suasana Natal di kampung halaman. Ruang tamu yang ceria oleh warna merah dan putih dihiasi gua Natal lengkap dengan pohonnya, aroma cookies yang memenuhi ruangan sekalipun toples sudah tertutup rapat. Aku bisa melihat nastar nanas berukuran besar kecil tak beraturan buatan mama diletakkan ditoples bening ukuran sedang. Kue kering kesukaanku. Suara tawa yang tak asing dari mereka terdengar sangat dekat. Aku dapat melihat mereka berjabat tangan dan berpelukan, salam dan pelukan yang menggerahkan tapi meghangatkan hati. Riuh dan sesak di ruang tamu. Natal membuat meja makan terasa sangat kecil ketika semua keluarga makan bersama. Ramai, sangat ramai.
Rumah tidak pernah sepi karena selalu ada kerabat yang datang, obrolan hangat dan canda tawa yang membuat suasana kekeluargaan terasa sangat kental. Foto-foto bersama dengan berbagai pose, reuni mendadak bersama teman-teman semasa sekolah yang sudah lama tidak pernah bersua. Suasana Natal seperti itu tidak akan ada di sini, aku tidak akan merasakannya.
Satu-satunya dekorasi Natalku adalah pohon Natal ukuran sedang yang mas Uki belikan dan letakkan di sudut ruangan. Tidak ada hiasan lainnya. Kuangkat kakiku ke atas meja yang kosong, aku sudah sangat malas untuk berbuat apa-apa. Di rumah biasanya ada tiga meja berisi kue dan minuman yang diletakkan di bagian berbeda untuk para tamu. Di sini hanya ada satu meja dan yang mengisinya hanya sekotak tisu dan kakiku yang kubujurkan di sana. 
Keluarga adalah hal yang paling kurindukan saat ini. Bersama mereka Natal menjadi sangat meriah.
Beberapa saat berlalu, aku mendengar sebuah ketukan. Pasti Mas Uki, kami ada janji makan siang bersama. Aku bergegas bangkit menuju pintu, kubuka perlahan dan aku melihat sosoknya yang tinggi kurus berdiri di depan pintu membawa sebuah bingkisan di tangan kanannya. Senyumnya sangat lebar menampakkan giginya yang bergingsul.
Dia mengenakan kemeja merah maron berlengan panjang dengan topi santa Claus di kepalanya, padahal aku tidak bilang bahwa aku mengenakan dress berwarna merah, aku juga belum mengiriminya foto hari ini. Brewoknya yang tumbuh lebat sama sekali tidak membuatnya mirip tokoh gendut berjanggut pembawa hadiah yang berkendara dengan kereta terbang itu. Aku tertawa melihatnya.
"Masuk mas" kubuka pintu agak lebar dan mempersilahkannya masuk. Dia segera meletakkan bingkisan yang dibawanya di atas meja.
"Merry Christmas my little Sharon" direntangkannya tangannya selebar mungkin untuk memelukku. 
"Thankyou mamas Ukiku, Mas bawa apaan ?" aku melepaskan pelukannya yang membuatku gerah. 
"Cookies kesukaan kamu"
Buru-buru kubuka bungkusan plastik putih itu, satu toples nastar nanas dan kartu ucapan selamat Natal ada di dalamnya. Sesaat perasaan sedihku hilang. Aku hanya tersenyum membaca tulisan di kartu ucapan yang ditulisnya sendiri. Kubuka toples itu dan segera melumat satu buah nastar nanas. Kuberikan satu untuknya dan dia selalu jahil, digigitnya jariku yang sudah kuwarnai kukunya dengan warna merah.
Rasa nastarnya memang tidak seperti nastar buatan mama, tapi setidaknya ini manis, tambah manis karena mas Uki ada di sini. 
"Maaf ya tidak menjemput ke gereja, tadi ibadah dulu ke mesjid" 
Aku mengangguk sambil tetap mengunyah nastar di mulutku. Mas Uki berdiri dan menuju dapur, lalu kembali dengan dua gelas air dingin di tangannya. Diletakkannya gelas itu di meja. Langsung saja kuteguk karena kehausan. Dia geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Seringkali dia protes karena aku selalu terburu-buru ketika melakukan sesuatu, seperti tidak paham saja, wartawan mana ada yang kemayu. 
Penampilanku hari ini memang agak manis, jarang sekali aku mengenakan mini dress seperti ini. Apa lagi rambut diblow, setiap hari aku pergi bekerja dengan rambut dikuncir. Hari ini aku juga memoleskan kutek merah di jariku. Kemarin bahkan aku sempat bingung akan mengenakan dress putih atau merah hari ini, entah mengapa tadi pagi aku bangun dan langsung memikirkan dress merah yang kukenakan saat ini, lalu Mas Uki datang dengan kemeja yang warnanya tidak jauh berbeda.
"Kalau sudah, kita berangkat sekarang" dia memperhatikanku yang sudah duduk bersandar di sofa. Aku mengangguk dan berdiri. 
Sebelum menutup pintu Mas Uki berbalik ke ruang tamu dan mengambil toples nastar yang dibawanya tadi. Aku keheranan. lalu disodorkannya padaku dan kuterima saja. "makan di mobil" katanya cepat sambil mengunci pintu.
Aku tertawa dalam hati.
Di dalam mobil aku duduk nyaman sambil memangku setoples nastar nanas, sedari tadi mulutku tidak berhenti mengunyah. Lagu The First Noel mengalun lembut, menghantarkan kami berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku masih cemburu pada Natal di Pontianak, tapi juga pikiranku melayang pada pertemuan kami tiga tahun yang lalu. Siapa sangka, sampai hari ini dia masih jadi orang yang berada di sisiku.
"Sayang.." suaranya memecahkan hening yang hangat di antara kami. Aku meliriknya yang tetap fokus menyetir. "Kamu mau hadiah Natal apa ?" aku menatapnya dalam-dalam, tapi dia tetap melihat lurus ke depan. Aku lama tak menjawab, laju kendaraan agak lambat dan dia memandangku. "Hmm ?" tanyanya dengan gumaman.
"All I want for christmas is You, mas" aku mengucapkan kalimat itu dengan hati yang sangat tulus dan perasaan yang sangat tenang. Aku bahagia. Dia tersenyum lalu mengelus rambutku dengan lembut. "I love You Sharon" aku tidak membalas kalimat itu, tanpa kukatakan pun dia telah tahu bahawa aku sama sepertinya. 
Hari ini Natalku manis, semanis nastar nanas dari mas Uki. 
Kulayangkan pandanganku ke luar, menjelajahi apa saja yang kami lewati, lalu mataku terpaku pada sebuah mesjid, aku memandang bangunan itu lama tapi mas Uki mempercepat laju kendaraan. Kami berlalu.
Terimakasih telah memilihku mas, meski kita berbeda. 
***
This entry was posted in

Wednesday, December 23, 2015

SELAMAT HARI IBU, MA..

Hari ini semua orang Indonesia mengucapkan selamat hari ibu untuk ibunya, karena ini hari ibu. 
Aku hanya mengirim pesan "selamat hari ibu, ma" ketika aku bangun pagi, dan beberapa menit setelah pesan itu kukirim mama menelpon. Aku memang jarang menelpon mereka duluan soalnya jarang ada pulsa. Hehe.
Pagi ini kami telponan, tidak menggunakan panggilan gratis dari line karena kuota internetku habis.
Obrolan kami seperti biasa, chit chat tentang keadaan cuaca di sana, panas, mendung atau hujan, hari ini mama dan bapak sarapan apa. Obrolan kami panjang, aku menceritakan perjalananku ke Mukok beberapa hari lalu dan mama berkali-kali mengingatkan agar aku tidak lupa minum vitamin supaya tidak kecapekan. 
Setiap hari kami selalu mengobrol panjang lebar, jarak tidak berpengaruh sama sekali karena line sangat membantu kami. Aku bisa melihat wajah mereka melalui video call kapanpun aku mau, setiap hari kirim-kiriman foto, aku merasa mereka ada di dekatku karena komunikasi yang sangat lancar. Berbeda dengan beberapa tahun yang lalu, saat belum ada aplikasi line kami hanya bisa telponan.
Sejak usia 8 tahun aku tidak serumah dengan mereka. Banyak sekali hal-hal yang kulalui tanpa mama dan bapak. Mereka juga melewati banyak hal tanpaku. Aku tumbuh dan besar jauh dari  pengawasan mereka.
Tapi, semua tidak mengurangi rasa sayangku pada mama dan bapak. Mereka telah memberiku kesempatan untuk melihat dunia, merawat ku sejak bayi, mendidikku, memenuhi semua kebutuhanku, memberikan cinta yang tak pernah berkesudahan. Semua itu tidak akan bisa terbayar. Tidak bisa terbalas karena hanya orangtua yang mampu berbuat seperti itu.
Aku seringkali beda pendapat dengan mama dan bapak, aku sangat keras kepala dan aku sering membuat mama menangis. 
Sungguh, tiap kali mengingat tangisan mama dan maaf yang diberikannya aku merasa menjadi orang paling berdosa. Banyak sekali perbuatanku yang membuatnya sedih. Khawatir dan takut. Membuat pikirannya tidak tenang karena merasa was-was sementara aku jauh dari mereka.
Setahun yang lalu diusiaku yang menginjak 18 tahun kami berdebat, adu pendapat dan aku membuatnya menangis. Untuk kesekian kalinya aku melukai perasaannya. Tapi kali itu mungkin adalah kesalahan terbesarku karena sampai membuatnya berpikir bahwa aku tidak ingin lagi menghubunginya.
Dia menanyaiku apakah aku menyesal telah lahir dari rahimnya. Pertanyaan yang membuatku merasa sangat menyesal dan berdosa. Rahimnya adalah tempat terbaik yang pernah kudiami, aku tidak pernah menyesal dilahirkan dari sana. Tidak pernah sama sekali.
Aku tahu mama sangat sedih dengan sikapku sehingga menanyaiku seperti itu. Aku sangat bebal. Tidak bisa diatur. Dan sangat sering melontarkan kalimat-kalimat yang membuatnya terdiam. Usiaku masih sangat muda tapi luka yang kuberikan pada mama sudah tidak bisa dihitung dan dia selalu mempunyai maaf yang tidak pernah habis, sama seperti cintanya. Aku menyesal. Sangat menyesal. Sejak hari itu aku berjanji tidak akan membuatnya menangis lagi.
Sejak pertengkaran itu aku tidak pernah membantah nasihatnya, tidak ingin membuatnya sedih. Apa lagi sampai membuatnya berpikiran bahwa aku tidak ingin punya mama yang cerewet dan banyak aturan sepertinya.
Membuat mama senang sebenanrnya sangat mudah, dia senang melihat anaknya bahagia. Jadi sebisa mungkin aku terlihat bahagia untuk mama. Aku tidak mengeluh tentang kuliahku, tidak sakit-sakitan karena dia sangat khawatir dengan kesehatanku, tidak pulang larut malam karena dia takut aku kenapa-napa.
Aku tidak pernah menceritakan hal-hal buruk yang menimpaku karena aku tidak ingin melihatnya sedih, sebisa mungkin jika aku ada masalah aku selesaikan dengan rapi, tanpa sepengetahuannya. Mama orang yang sangat khawatir, sebenarnya dia jarang mengomel tapi kadang nasihatnya panjang juga. 
Dia sering mengajukan pertanyaann yang sama berkali-kali hingga aku merasa bosan dan  kesal.
Aku sering menjawab pertanyaannya asal-asalan karena kesal dengan pertanyaan yang itu-itu saja.
Ah padahal aku ingin setiap hari berada di dekatnya. Ingin mengobrol langsung dengannya, baring-baring di pangkuannya dan dia menyisir rambutku dengan jemarinya. Sekedar menemaninya membuat anyaman manik atau menghabiskan sore bersama sambil mendengarkan siaran di radio selepas mandi.
Aku sangat ingin bersamanya setiap hari. 
Ketika libur dan aku pulang ke rumah, aku selalu tidur dengannya. Dulu waktu masih kecil kami masih muat tidur bertiga bersama bapak, tapi sejak SMA tempat tidur mereka tidak bisa menampung tubuh kami semua. 
Sebelum tidur mama selalu mengajakku berdoa, aku ini malas berdoa. Biasanya cuma tanda salib. Mama selalu menasihatiku supaya rajin berdoa, dia sendiri sangat rajin mendoakan orang-orang yang dikenalnya. Kami duduk berdampingan dan dia memimpin doa lalu kami tutup dengan doa bapa kami dan tiga kali salam Maria. Itu adalah kebiasaan sebelum tidur yang kurindukan darinya.
Aku benar-benar berdoa hanya saat aku di samping mama. Mama dan bapak adalah satu-satunya alasanku berdoa.
Setiap bangun aku tidak pernah mendapatinya terbaring di sampingku. Dia sudah sibuk di dapur atau menyapu, aku selalu bangun siang. 
Kebersamaan dengannya sangat jarang kurasakan. Kebersamaan secara nyata dia di sampingku dan aku di sampingnya.
Sedih dan iri setiap hari kurasakan karena aku tidak bisa seperti teman-teman lainnya yang tiap hari sarapan dengan masakan mama. Atau tidur di depan televisi dengan mama di samping mereka. Aku iri sekali pada mereka yang bisa memeluk mamanya kapanpun mereka mau.
Hari ini pun ketika mengobrol langsung aku tidak mengatakan "ma aku sayang mama" entah kenapa kalimat itu terasa sangat rancu untuk kuucapkan secara langsung.
Karena aku tahu, mama bisa merasakan sayangku padanya tanpa harus kuungkapkan.  Sepertipun mama yang tidak pernah secara langsung mengungkapkan "mama sayang kamu, nak". Mama mengungkapkan sayangnya melalui tindakan, melalui perbuatan dan perhatian yang tidak pernah berhenti.
Kami jarang bermanis-manis seperti ibu dan anak pada umumnya yang saling mengungkapkan kalimat sayang. Yang aku ingat dengan jelas mama mengungkapkan kalimat sayangnya padaku setelah menanyaiku pertanyaan yang membuatku menangis tersedu-sedu seperti anak kecil karena aku merasa sangat bersalah. 
Ketika aku ulang tahun juga mama tidak pernah mengucapkan kalimat-kalimat di luar kebiasaannya, dia hanya mengucapkan selamat ulang tahun lalu kalimat berikutnya adalah pesan-pesan yang disampaikannya tempo hari setiap kali kami telponan. Pesan mama selalu sama karena mama selalu mengharapkan sesuatu yang baik terjadi padaku setiap hari, bukan hanya di hari ulang tahunku. Sama seperti dia yang mendoakanku setiap hari, bukan hanya karena aku berulang tahun tapi karena setiap hari aku adalah hal yang tidak bisa dilewatkannya begitu saja tanpa doa.
Dia menyayangiku setiap hari, tak perlu dia ungkapkan pun aku sudah merasakannya. Aku juga sangat menyayanginya meski sampai saat ini aku tidak pernah mengucapkan kalimat itu secara langsung padanya.
Aku menyayanginya setiap hari, walaupun hanya bisa kuungkapkan melalui kalimat "ma, makan, tidur awal biar nggak kecapekan, hati-hati di sana" itu adalah kalimat sayang yang selalu kuucapkan tiap hari untuk mama. Aku tidak bisa mengubah kalimat itu menjadi kalimat yang lain lagi, ini adalah kalimat dengan komposisi sayang paling pas yang bisa kuungkapkan untuk mama. Aku belum bisa memberikan komposisi yang lebih seperti mengirimi uang setiap bulan untuknya dan membelikan keperluan bulanannya. Belum. Tapi akan.
Saat ini yang bisa kulakukan untuk menunjukkan rasa sayangku padanya adalah menghargai usaha yang dilakukannya untuk kebahagiaanku.
Aku tidak akan membantah lagi, tidak membuatnya khawatir dengan tingkah kekanak-kanakkanku yang berlebihan. 
Aku tidak bisa mengungkapkan kalimat manis bahkan ketika aku rindu padanya. Kami yang ketika rindu langsung saling menghubungi lalu mengobrol tanpa mengatakan "ma aku rindu" atau "nak, mama rindu". 
Setiap hari dia menghubungiku, karena setiap hari dia merindukanku. 
Setiap hari pertanyaan yang diajukannya tidak pernah berubah walaupun dia tahu jawaban dariku juga tetap sama. Itu karena dia tidak pernah bosan memberi perhatian padaku.
Terimakasih untuk cinta yang tidak pernah habis ma, maaf sampai hari ini hanya bisa merepotkan dan membuat khawatir. Semoga mama sehat dan panjang umur supaya kita bisa menghabiskan waktu sama-sama seperti dulu lagi, waktu aku masih kecil. Walaupun waktu yang telah kita lewati tidak bisa terganti, tapi semoga aku punya kesempatan untuk merawat mama di masa tua mama.
Selamat hari ibu ma. Aku rindu sekali.

Friday, December 18, 2015

MASA (?) BODOH



Jangan takut akan apa yang orang lain pikir tentang Anda. Orang tidak memikirkan Anda. Anda tidak penting-penting amat.-Ajahn Brahm, Hello Happiness
Selama ini aku memang tidak terlalu peduli penilaian negatif orang lain padaku, jika yang mereka katakan tidak baik untuk perkembangan diriku atau ketenangan batinku, aku memilih untuk mengabaikannya. Lagi pula aku juga merasa bahwa aku ini bukan siapa-siapa jadi aku santai saja, tidak merasa harus menjaga image atau berpura-pura tampil sempurna di hadapan orang lain. 
Tapi tadi siang, pernyataan seorang teman membuatku tersentuh, bukan karena itu pernyataan berupa ucapan terimakasih atau pujian, tapi sebaliknya, tentang penilaian negatif dari teman-teman yang lain tentangku. 
Jadi sore hari ini kuhabiskan waktuku untuk mengingat bagaimana caraku bersikap, perbuatan apa saja yang telah kulakukan hingga mereka menilaiku negatif atau bagaimana caraku berkomunikasi pada mereka selama ini.
Aku ini orang yang tidak bisa berpura-pura, pura-pura simpati atau sopan, atau pura-pura ramah. Aku bukan orang yang bisa langsung tersenyum pada orang yang baru kutemui, aku bukan orang yang bisa tersenyum ketika aku sedang tidak ingin melakukannya. Walapun dia teman baikku bahkan saudaraku sendiri, ketika kami berpapasan dan aku sedang tidak ingin tersenyum maka aku tidak akan tersenyum, aku sudah mencoba agar bisa sedikit manis seperti membalas senyum mereka ketika kami berjumpa, tapi tidak bisa. Karena itulah mereka mengatakan bahwa aku ini sombong, tidak ramah, tidak bersahabat.
Demi Tuhan, aku benci basa-basi, seperti mengucapkan hal-hal baik hanya untuk membuat orang lain merasa senang. Aku tidak menawari orang makan bersamaku untuk basa-basi, jika aku menawari mereka makan atau pergi bersamaku itu artinya aku memang ingin bersama mereka, bukan basa-basi. Aku juga tidak menawarkan bantuan pada seseorang hanya untuk berbasa-basi, jika aku berkata "kalau ada yang bisa kubantu, katakan saja" itu artinya aku memang ingin berbuat sesuatu untuk membantunya. 
Aku tidak suka basa-basi, sama halnya ketika membahas sesuatu yang serius, misalnya jika ada yang sedang curhat. Aku bisa saja langsung mengatakan dia itu bodoh jika kenyataannya dia memang bodoh, aku tidak bisa berbasa-basi menyembunyikan kata bodoh di balik kalimat "makanya jangan terlalu mudah percaya janji orang lain" ya ampun aku lebih sering mengucapkan kalimat "makanya jangan bodoh"
Aku memang sering berkata langsung seperti itu, mungkin ini kesalahan terbesarku; menganggap semua orang berpikiran sama denganku.
Kita harus melawan arus basa-basi taik kucing yang sudah ditanamkan oleh semua orang pada kita sejak kita masih bayi. Maksudku, kita harus bersikap jujur. Tidak munafik, tidak dibuat-buat.
Ketika aku tidak suka maka kutunjukkan bahwa aku tidak suka, ketika aku suka maka kutunjukkan aku suka. Tapi orang-orang di sekitarku berbeda. Mereka lebih senang melihat dan menunjukkan sikap baik yang dibuat-buat agar orang lain simpati pada mereka. Istilah sehari-harinya dalam bahasa anak muda adalah bermuka dua.
Aku sungguh tidak bisa menjadi orang bermuka dua seperti itu. Tidak bisa, karena aku sudah mencobanya dan aku merasa sangat kotor. Menjijikkan sekali ketika kita berpura-pura baik hanya untuk membuat orang lain menyukai kita.
Karena terbiasa tidak berbasa-basi, penilaian orang-orang tentangku adalah aku ini sinis, frontal ketika berbicara, tidak sopan, selengean, dan berbagai istilah-istilah lain yang dimaksudkan untuk kebiasaanku yang berbuat tanpa memikirkan penilian orang lain.
Ada juga seorang teman yang kuanggap termanku tapi ternyata menjelek-jelekkanku di belakang. Kalian tahu kan makna dijelek-jelekkan ? itu artinya seseorang berbicara tentang kejelekan dirimu, tapi kejelekan yang mereka ceritakan itu dikarang-karang, seperti fitnah.
Jadi begini, aku ini orang Dayak, tumbuh dan berkembang di lingkungan yang menggunakan bahasa Melayu Kapuas Hulu, lalu kuliah di Pontianak yang menggunakan bahasa Melayu Pontianak. Di rumah, kami hamya menggunkan dua bahasa, Dayak dan Bahasa Indonesia. Sangat janggal rasanya ketika menggunakan bahasa Melayu baik itu Kapuas Hulu maupun Pontianak. Aku luwes menyebutkan beberapa kata atau kalimat populer saja, seperti "ntah lah ye, mane ade, ndak tau, nisik ada, aok, kak ke mena" dan bahasa-bahasa ringan lainnya. Jadi wajar sekali jika aku jarang mengobrol menggunakan bahasa melayu.
Aku agak marah ketika temanku menceritakan bagian ini, bagaimana mungkin ada orang yang memperhatikanku sampai pada caraku berbicara, ya Tuhan mengapa tidak sekalian saja orang itu membiayai hidupku supaya dia bisa mengurusi lebih banyak hal tentangku.
Begitulah kehidupan sosial, memang memuakkan, muntah saja kalau ingin muntah. Aku juga sebenarnya sangat bosan dengan kehidupan sosial yang penuh kepalsuan dan kemunafikkan. Kalau saja aku ini sang penguasa, aku akan menciptakan dunia yang hanya diisi olehku dan keluargaku. Keluargaku walaupun menyebalkan mereka tetap keluargaku, mereka bisa menerima aku dengan segala keburukanku, dan mereka yang tidak pernah berpura-pura di depanku. Mereka jujur, apa adanya.
Hidup ini tidak sederhana lagi sejak kita memutuskan memikirkan penilaian orang lain. Hidup tidak pernah mudah lagi sejak kita mulai mempertimbangkan keinginan orang lain, hidup memang tidak akan asik lagi ketika kita mulai bertindak hanya untuk membuat orang lain terkesan.
Kesimpulan dari tulisan ini adalah, betapa basa-basi, kepalsuan, dan kemunafikan lebih disukai orang ketimbang kejujuran dan kenyataan yang sebenanrya.
Ah, semoga saja aku selalu menjadi orang yang masa bodoh pada hal-hal negatif yang dilabelkan orang lain padaku. Semoga kalian juga seperti itu.

Monday, December 14, 2015

NOVEL MENYENTUH TENTANG PERCINTAAN REMAJA, WHITE AS MILK RED AS BLOOD


Judul : White As Milk Red As Blood
Penulis : Alessandro D'Avenia
Penerbit: Bhuana Sastra

Novel ini mengisahkan tentang seorang remaja lelaki berusia 16 tahun bernama Leo.
Leo adalah seorang siswa yang sangat malas sekolah, dia benci sekolah dan guru-gurunya. Dibandingkan pergi ke sekolah, Leo lebih memilih menghabiskan waktunya untuk mendengarkan lagu atau balap motor bersama temannya, Niko. Dia juga memiliki seorang sahabat bernama Sylvia. 
Leo sangat membnci warna putih, tiap kali membayangkan warna putih dia selalu merasa tidak nyaman. Tidak seperti remaja lainnya yang punya banyak impian, satu-satunya impian Leo adalah Beatrice - si gadis berambut merah.
Dia jatuh cinta pada warna merah dari rambut Beatrice, warna merah itu adalah semangatnya. Salah satu alasannya untuk datang ke sekolah adalah untuk melihat Beatrice. Beatrice adalah mimpinya, benr-benar mimpinya karena dia hanya berani mengaguminya dari kejauhan, tidak pernah mendekat. Tapi mimpi itu hancur saat dia mengetahui bahwa Beatrice mengidap leukemia.
Penulis buku ini menuliskan cerita tentang Leo dan Betarice dengan rangkaian kata yang indah, sangat menyentuh hati.
Melalui tokoh Leo, aku yang muak dengan sekolah merasa sangat terwakili. Semua yang dirasakan Leo adalah yang juga kurasakan ketika aku sudah sangat jenuh dengan rutinitas di sekolah. Sementara melalui tokoh Betarice, penulis berhasil membuatku merenung, dan tersadar betapa banyaknya waktu yang kubuang dengan percuma selama ini. Penulis berhasil menjelaskan betapa berartinya waktu dalam kehidupan kita, betapa indahnya menjalani sesuatu dengan berserah dan bersyukur.
Aku sangat suka novel ini, salah satu novel yang berhasil menyentuh hatiku. Bukan hanya berbicara tentang cinta, tapi juga persahabatan antara Leo dan Sylvia, lalu konflik antar remaja lelaki yang dikisahkan melalui tokoh Niko. 
Banyak novel yang mengisahkan percintaan remaja, tapi sangat sedikit yang berhasil menyampaikan nilai-nilai yang terkandung di dalam kisah tersebut. Menurutku novel ini sangat tepat dibaca oleh para remaja yang baru memasuki dunia percintaan, atau mereka yang merasa muak dengan cinta.
Cinta itu luas, cinta itu berubah, cinta itu kadang pasang kadang surut, cinta itu bergejolak.

Novel ini sangat direkomendasikan bagi mereka yang ingin membaca tapi terlanjur malas karena muak dengan kalimat-kalimat payah yang sering ditemukan dalam novel-novel cinta, karena biasanya (berdasarkan pengalaman penulis) pengarang yang menulis novel tentang cinta seringkali menggunakan kalimat-kalimat puitis yang menggelikan. Di novel ini Alessandro menulis ceritanya dengan bahasa yang sederhana, bahkan indah. Mudah dimengerti dan membekas. Tidak terkesan puitis dan melankolis.

Di bawah ini adalah kutipan-kutipan menarik yang terdapat dalam novel Bianca Come Il Latte, Rossa Come Il Sangue.
  • "Aku memilih sendiri teman-temanku. Inilah indahnya pertemanan, sebab kaulah yang memilih mereka dan kau merasa nyaman dengan mereka sebab kau memilih sendiri sesuai keinginanmu."
  • "Guru pengganti memang identik dengan kesialan terbesar di seluruh jagat raya. Pertama : menjadi guru saja sudah merupakan kesialan, apalagi guru pengganti. Kedua : sebab dia hanya cadadangan saja. Hidup macam apa itu, bekerja hanya untuk menggantikan seseorang yang sedang sakit ?"
  • "Kita berbeda dari binatang yang hanya melakukan hal-hal yang disuruhkan alam saja. sebaliknya, kita bebas. Inilah karunia terbesar yang sudah kita terima. Berkat kebebasan ini, kita bisa menjadi seseorang yang berbeda dari diri kita sekarang. 
  • "Kebebasan memampukan kita untuk bermimpi, dan mimpi adalah denyut kehidupan kita, meskipun seringkali membutuhkan perjalanan panjang dan beberapa pukulan."
  • "Kasih yang kuterima. Kasih selalu merupkan utang, dan karena itulah warnanya merah."
  • "Semua hal yang tak kupunyai. Kasih selalu merupakan piutang yang tak akan pernah ibayar lunas."
  • "Malam hari adalah tempat bersarangnya kata-kata."
  • "Mencintai adalah kata kerja, bukan kata benda. Bukan sesuatu yang diciptakan sekali untuk selamanya, tetapi berevolusi, tumbuh, naik, turun, tenggelam.."
  • "Tetaplah mencintai. Kau selalu bisa melakukannya. Mencintai adalah suatu tindakan."
  • "Ada dua kategori orang yang melukai kita, mereka yang membenci kita dan mereka yang mencintai kita."
  • "Kau baru boleh khawatir saat seseorang yang mencintaimu tidak lagi melukaimu, sebab itu artinya dia sudah berhenti mencoba dan kau sudah berhenti peduli."
***

Saturday, December 05, 2015

BUNG!! BUNG!! BUNG FIERSA BESARI


Fiersa Besari adalah seorang musisi independen dari Bandung, dia akrab disapa Bung. Aku termasuk orang yang baru mengenal karyanya karena aku mendengarkan lagu miliknya di akhir tahun 2014. Setahun yang lalu saat aku patah hati dan seorang teman menyarankanku untuk mendengarkan lagu-lagunya. Ketika itu lagu yang paling membekas di hatiku adalah lagu yang berjudul April, salah satu lagu yang terdapat dalam album Tempat Aku Pulang
Bung Fiersa membuat album pertamanya pada tahun 2011, yaitu 11:11, kemudian tahun 2013 membuat mini album Tempat Aku Pulang yang ditambah menjadi empat belas lagu di tahun 2014, dan pada tahun 2015 Bung kembali merilis album Konspirasi Alam Semesta, nama album yang dikira judul buku tentang Geografi oleh bapak.  
Terlepas dari karya-karyanya, aku juga mengidolainya karena dia sangat suka membaca dan peduli pada pendidikan di Indonesia.
Perjalanannya dalam berkarya sangat memotivasi kaum muda. Aku adalah salah satu di antara mereka yang merasa termotivasi oleh kisah-kisah yang ditulis di jejaring sosial miliknya. Termotivasi untuk melakukan hal positif ketika patah hati (hahaha).
Di balik lirik-liriknya yang "ngena banget" dalam album 11:11 dan Tempat Aku Pulang ada patah hati besar yang pernah dialami Bung Fiersa.
Masa-masa galauku ditemani oleh lagu-lagu milik Bung. Lirik-liriknya sangat sesuai dengan perasaanku, menyentuh dan sangat membekas. Beberapa liriknya bahkan kujadikan kutipan dan kutempel di dinding kamarku.
Fiersa Besari sangat mencintai dunia literatur, kebetulan dia lulusan sastra asing. Kata-kata yang ditulisnya selalu menjadi barisan kalimat indah yang digilai banyak pembaca. Kecintaannya pada dunia membaca menghasilkan gagasan untuk mendirikan sebuah klub membaca. Dan itu terealisasi dengan dibentuknya komunitas Pecandu Buku. Pecandu Buku dibentuk oleh Bung pada pertengahan tahun 2015 bersama dua temannya. Saat ini anggota Pecandu Buku tidak hanya berasal dari Bandung tapi dari berbagai wilayah di Indonesia.
Membaca buku adalah bukti betapa hebatnya imajinasi kita membentuk ruang dan waktu. - Pecandu Buku
Sebagai bentuk kepedulian Bung terhadap dunia pendidikan dia bergabung dengan sebuah organisasi yang terjun langsung untuk mengajar di sekolah-sekolah yang terdapat pada daerah  terpencil di wilayah Jawa Barat. 
Mungkin berbagai pengalaman Bung bersentuhan langsung dengan orang-orang dari berbagai latar belakanglah yang membuat sosoknya menjadi rendah hati, menerima perbedaan dengan penuh toleransi. Perjalanan Bung mengelilingi Indonesia mempertemukannya dengan banyak orang yang menginspirasinya untuk berkarya. Bung sendiri melakukan perjalanan tidak untuk sekedar "Jalan-jalan". Dia melakukan perjalanan untuk keluar dari zona nyamannya, menjalani kehidupan yang jauh berbeda dengan apa yang biasa dijalaninya. Cerita-cerita perjalanan Bung ini menjadi bagian lain dari banyak bagian memukau yang kutemukan darinya.
Aku sangat suka caranya berbagi pengalaman, caranya menginspirasi. 
Dari Bung aku paham bahwa kita tidak perlu menjadi milioner untuk peduli pada sesama, tidak perlu mengorbankan nyawa bagi orang banyak untuk dikenang. Lakukan semuanya dengan hati dan jangan menunggu nanti.
Bung Fiersa Besari, aku adalah salah satu bocah dari sekian banyak penggemarmu yang menuliskan nama Fiersa Besari ke daftar sosok menginspirasi hidupku.
Mungkin aku tidak akan sebesar Bung, tapi aku ingin menjalani hidup dengan hal-hal yang positif, termasuk ketika patah hati.


Terimakasih sudah menghadirkan Pecandu Buku, Bung.

This entry was posted in

Sunday, November 29, 2015

TERIMAKASIH DEMABUKU

Selama toko buku ada selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi.”-Tan Malaka, Madilog

Sayangnya toko buku di Pontianak sangat terbatas begitu juga dengan buku-buku yang tersedia, mungkin karena minat baca masyarakat dan kepedulian terhadap dunia literasi yang masih rendah. Toko buku online memang solusi bagi para pencinta buku yang berada di tempat-tempat yang kekurangan toko buku. Aku sangat merasakan manfaatnya.
Sejauh ini Gramedia masih menjadi toko buku yang paling sering kukunjungi ketika ingin membeli buku yang baru terbit atau sekedar melihat-lihat dan menumpang membaca. Tapi Gramedia juga terbatas, beberapa buku dari penerbit tertentu jarang ditemukan nangkring di Gramedia, harus ulet mencarinya. Salah satunya adalah buku Pandji Pragiwaksono.
Aku tergila-gila pada karyanya sejak masih mengenakan seragam abu-abu, tepatnya saat aku jatuh cinta pada Stand up Comedy. Orang awam mungkin hanya mengenalnya sebagai seorang komedian atau presenter, tapi dibalik sosoknya yang kocak dan selalu lucu Pandji adalah seorang pemikir yang sangat menginspirasi, dia mampu mentransfer ilmunya melalui tulisan ringan. Ringan karena tidak menggunakan kalimat-kalimat berisi istilah tertentu yang hanya dimengerti kalangan akademis. Buku-buku Pandji adalah buku yang diperlukan oleh anak muda Indonesia, buku yang mampu membakar semangat kita untuk menjadi pemuda pemudi yang maju dalam berpikir dan bertindak. Tidak hanya hits sebagai anak gaul tapi juga hits sebagai anak Indonesia.
Karena tidak tersedia di Gramedia aku baru bisa memilki buku-buku Pandji pada tahun 2015. Adalah sebuah toko buku online yang bertempat di Jakarta – namanya Dema Buku, yang menjual buku-buku itu, aku memesan beberapa buku di sana dan berkatnya aku bisa memiliki buku karya Pandji Pragiwaksono. Dan tulisan ini sebenarnya aku tulis untuk seseorang di balik toko buku Dema Buku. Aku ingin berterimakasih karena dia menjual buku. Haha. Yaudah sih pokoknya makasih ya min, kalau aku main ke Jakarta nanti aku ke toko Dema Buku ya.
Aku merasa perlu mengucapkan terimakasih kaena ulasan buku Nasional is Me karya Pandji Pragiwaksono, aku menjadi anggota sebuah komunitas membaca buku. Komunitas yang kemudian mempertemukanku dengan orang-orang inspiratif, akan kutuliskan suatu saat nanti tentang komunitas para kutu buku ini. Aku merasa sangat beruntung bisa menjadi bagian dari mereka. Mendapat banyak ilmu dan diberi bonus satu grup bersama musisi idolaku.
Mungkin kemarin, jika aku tidak menghubungi kontak yang tertera pada akun instgaram Dema Buku – dan melakukan pemesanan, aku tidak akan bergabung dengan komunitas itu. Sekarang aku menjadi bagian dari mereka. Terimakasih Dema Buku, terimakasih telah menyediakan buku-buku yang original bagi para pencinta buku yang kadang tertipu oleh buku bajakan. Aku pasti bukan satu-satunya pembeli dari daerah yang jauh, pasti banyak yang mengalami hal sepertiku – kesusahan memperoleh buku - dan terimakasih sudah menyediakan buku-buku untuk kami. Terimakasih Dema Buku. Aku hanya ingin admin dibalik toko buku itu tersenyum ketika membaca tulisan ini. Semoga tetap semangat membagi kebahagiaan melalui buku-buku yang disebarkan ke berbagai wilayah Indonesia.
Sebuah buku bukan hanya setumpuk kertas berisi barisan kalimat, ada ilmu ditiap lembarnya, ada emosi yang tumpah ketika menyusuri kalimat demi kalimat yang tertuang di sana. Bagiku buku adalah teman.
Dan terberkatilah para penjual buku. Mereka yang berbaik hati menjadi penyambung tangan bagi orang-orang yang haus akan ilmu dan bahagia dengan membaca. Semoga semakin banyak orang yang suka membaca, semoga semakin banyak yang menyebarkan virus membaca. Terimakasih Dema Buku.

Saturday, November 28, 2015

HARI MENANAM POHON


Selamat hari menanam pohon. Hari ini aku kuliah pagi dan sekarang sudah ada di kampus.
Seperti biasa teman-temanku tidak ada yang tertarik untuk membicarakan hari menanam pohon, hanya aku yang sibuk mencari pohon untuk difoto dan dijadikan gambar untuk tulisan ini. Lah emang ngaruh ya ? harusnya aku ikut menanam pohon dong, ah.
Tahun 2008, Presiden Republik Indonesia - bapak Susilo Bambang Yudhoyono melalui Keputusan Presiden Indonesia tahun 2008 menetapkan tanggal 28 November sebagai hari menanam pohon dan bulan Desember sebagai bulan menanam pohon.
Mengapa dipilih bulan November dan Desember ? Karena bulan ini curah hujannya tinggi.
Tanggal 28 November 2008 itulah Pak SBY menanam 100 juta pohon. Selanjutnya ada banyak gerakan menanam pohon dibuat setiap tanggal 28 November, sayangnya aku sendiri belum pernah mengikuti kegiatan menanam pohon dan kali ini masih belum bisa ikut 
Kepedulian terhadap lingkungan memang harus ditingkatkan, apa lagi di kalangan anak muda. Selamat hari pohon. Semoga orang-orang tidak hanya peduli pada pohon hari ini, tapi setiap hari.

Friday, November 13, 2015

"NDAK APA, TUHAN JAK YANG TAHU"

 

"Ndak apa, Tuhan jak yang tahu" adalah sebuah mantra ampuh yang selalu kuucapkan untuk memperbaiki suasana hatiku tiap kali merasa kecewa atau marah, atau ingin menangis, atau ingin mencakar wajah seseorang.
Kalimat yang sering kukatakan di dalam hatiku ketika aku sudah berusaha sungguh-sungguh tapi hasilnya tidak dihargai sama sekali. Ah ndak apa, Tuhan jak yang tahu :')
Karena tidak semua orang tahu perjuangan apa yang telah kita lakukan hanya untuk membuat semuanya terlihat baik-baik saja.
This entry was posted in

Sunday, November 01, 2015

SELAMAT SATU TAHUN CLAUDIALIBERANI.COM


Selamat datang November, November rain. Satu bulan menuju Natal. Semoga keberuntungan datang berlipat-lipat padaku. Hihi.
Hari ini juga claudialiberani.com genap satu tahun. Yeaaaah blog random milik Claudia satu tahun yeah.
Satu tahun sudah..
Satu tahun berlalu sejak claudialiberani.blogspot.com diubah menjadi claudialiberani.com berkat kebaikan hati seorang Petrus Andre. Dan isinya masih sama. Hehe masih seputar curhatan random yang tidak informatif dan tidak penting sama sekali.
Tidak penting bagi orang lain. Sangat penting bagiku. Hehe. 
Raditya Dika, penulis idolaku itu (yang dulunya adalah seorang blogger juga) mengatakan "tulislah tulisan yang ingin kamu baca, buatlah film yang ingin kamu tonton, berkaryalah". 
Karena itu aku selalu menulis di sini, di blog yang jika bisa bicara mungkin sudah lama meneriakiku karena badannya selalu kucoret dengan tulisan-tulisan galau dan alay. Ahahaha. Aku ingin membaca tulisan-tulisan ini ketika aku tua, ah menunggu tua terlalu lama. Aku akan membaca hal-hal apa saja yang telah kutuliskan di sini tiap kali aku merasa perlu menilik kenanganku. Setiap hari aku selalu membaca apa yang telah kutulis di sini.
Tulisan-tulisan di sini tidak hanya tulisan galau yang alay bagiku. Mereka lebih dari itu. Walaupun beberapa tulisan sudah aku hapus dengan tujuan menghapus jejak mantan (hahaha) aku masih bisa menemukan sisa kegalauanku pada beberapa tulisan. Ketika membaca tulisan-tulisanku yang lalu aku bisa kembali ke masa itu. Mundur beberapa bulan ke belakang dan terkejut. Terkejut karena ternyata dalam hitungan bulan aku sudah banyak berubah. Iya, perubahan terjadi bahkan dalam hitungan detik. 
Satu tahun yang lalu, satu November 2015 aku mendapat hadiah dari bg Andre, sebuah domain. Waktu itu aku sedang galau karena pacarku sudah dua hari tidak memberi kabar. Tapi kemudian langsung tidak berarti karena aku mendapatkan sebuah domain. Hahaha.
Bang Andre sangat baik, dia ingin aku semakin semangat menulis. Tapi sayangnya aku memang pemalas. Berbulan-bulan kemudian blogku jarang di update kecuali pacarku kembali bertingkah dan muncul masalah. Menulis memang sangat mudah kulakukan ketika aku sedang emosi, emosi sedih dan marah.
Sekarang sudah satu tahun, aku sudah jomblo dan aku semakin jarang menulis karena aku jarang sedih atau marah -_-"
Aku memang malas menulis sekarang. Semester empat aku banyak membaca buku dan lagi lagi buku yang kubaca adalah buku-buku yang tidak penting (kata bapak) karena tidak berhubung dengan dunia hukum. Aku banyak membaca kumpulan cerpen dengan tujuan belajar. Aku ingin belajar menulis, aku harus banyak membaca. Sayangnya mereka tidak mengerti itu. Bagi mereka menulis adalah menulis. Benar-benar menulis.
Bagiku menulis adalah berbicara melalui tulisan. Ada kumpulan emosi di sana ; kebahagiaan-kesedihan-harapan- kekecewaan-semangat,yang kubagikan pada orang-orang yang membacanya.
Aku ingin menulis cerita. Cerita pendek, bukan novel. Karena itu aku harus banyak membaca, banyak mencerna, memahami, lalu menentukan cara penulisan seperti apa yang bersahabat denganku. Karena itulah yang kubaca bukan buku-buku filsafat, bukan buku motivasi, buka pula buku-buku hukum. Aku perlu membaca buku kumpulan cerpen kompas dan buku-buku Seno Gumira Ajidarma, aku perlu membaca tulisan yang tidak hanya menghibur tapi mendidikku. 
Aku hanya perlu waktu untuk belajar. Dan blog ini berperan besar dalam proses belajarku. Aku harus semakin rajin menulis di sini, aku akan rajin menulisnya.
Baiklah. Demikianlah tulisan untuk mengenang satu tahun claudialiberani.com
Semoga suatu hari impianku tercapai. Hahaha. Tulisanku akan diterbitkan seperti Raditya Dika. Hohoho 

This entry was posted in

Wednesday, October 28, 2015

(SOEMPAH) PEMUDA



Selamat sumpah pemuda, Indonesia!!
Maafkan fotonya yang tidak nyambung sama tulisan ini. Harusnya menggunakan foto yang sedang menggambarkan suasana sumpah pemuda dong Clau, seperti foto berorasi di bundaran bambu runcing. Hahaha. Foto ini ajalah, suka-suka yang punya blog kan. 
Jadi hari ini adalah hari Rabu, tanggal 28 Oktober 2015 dan ini adalah hari Sumpah Pemuda. Aku sengaja memosting sebuah foto ketika aku sedang menggunakan kebaya di Instagram, ya kali aja ada yang ngirain aku baru selesai upacara gitu pakai kebaya segala macem. Hahaha. Padahal itu foto seminggu lalu waktu acara nikahan tante.
*garing, hening seketika*.

Sebagai mahasiswa yang tidak aktif di kampus aku tidak punya agenda apa-apa untuk mengenang hari bersejarah ini. Aku (seperti biasa) diam di rumah dan menyaksikan eforia teman-teman di seberang sana melalui televisi, mereka banyak melakukan aksi protes mengkritisi hal-hal yang dianggap salah pada negeri ini.
Di sini, aku tahu dari salah satu temanku bahwa akan ada aksi juga dari teman-teman mahasiswa. Entah apa yang mereka tuntut aku tidak tahu, dan tidak mau tahu.
Inilah mental pemuda masa kini. Tidak mau tahu. Mungkin tulisan ini bisa mewakili kalangan muda lainnya yang tidak mau tahu pada keresahan teman-teman seperjuangan mereka. Sebenarnya aku memilih tidak mau tahu. Kenapa ? Karena aku tidak setuju dengan cara itu.
Lalu apa cara yang tepat Clau ? Entahlah, aku belum tahu. Sebenarnya aku belum pernah mencoba salah satu carapun. Hehhe (lalu aku dibakar).
Begini, sebelumnya aku minta maaf karena aku sejujurnya tidak pernah melakukan aksi apa-apa untuk menunjukkan bahwa aku pemuda yang peduli, kenyataannya aku tidak peduli.
Karena itu, baiklah tulisan ini dinamai coretan mahasiswa yang tidak pernah demonstrasi. Hahaha.
Yang mau kutulis juga apa.
Ada beberapa teman yang kerap turun ke jalan untuk melakukan aksi ketika sedang ada moment-moment tertentu. Lalu menjadi orang masa bodoh ketika moment itu telah berlalu. Banyak dari mereka yang turun ke jalan tidak tahu menahu tentang apa yang sedang mereka suarakan. Dan itu seperti sebuah tamparan keras, mungkin sama memalukannya dengan menggunakan baju tidur untuk menghadiri sebuah pesta pernikahan.
Aku hanya prihatin melihat teman-teman yang biasanya teler di kantin kampus karena kebanyakan minum arak menjadi keras mengaum ketika melakukan aksi pada hari-hari tertentu (hari besar, bersejarah). Mereka berbicara keras menggunakan pengeras suara, mengkritik ini, menuntut itu. Lalu besoknya mereka lupa pada apa yang mereka teriakan di jalan, mereka lupa pada kalimat-kalimat yang mereka ucapkan. Kemudian ketika ada moment lain, mereka melakukannya lagi. Turun ke jalan dan berteriak-teriak, beramai-ramai menyerukan perubahan dan menuntut hak. Kadang membuat macet dan kesal pengguna jalan yang lain. Ah sudahlah. Perubahan apa yang akan tercipta dari kepala-kepala mabuk ? 
Tapi, ah sudahlah. Mereka hanya mencoba menjadi lebih peduli.
Banyak hal yang kurasa sangat menggelitik terjadi di kampus. Teman-teman yang protes diam-diam pada aturan kampus yang dirasa tidak masuk akal padahal mereka bisa menyampaikan ketidaksetujuan mereka dengan cara yang lebih masuk akal, lebih terpelajar. Contohnya aku punya teman yang berambut gondrong. Lalu kampusnya mengeluarkan aturan agar mahasiswa berambut gondrong segera merapikan rambut, jika masih ada mahasiswa berambut gondrong maka yang bersangkutan tidak diperkenankan mengikuti kegiatan belajar mengajar. Karena pihak kampus menganggap bahwa mahasiswa yang berpenampilan seperti ini selain merusak nilai estetika juga menujukkan pribadi dan kemampuan belajar yang buruk.
Temanku yang berambut gondrong ini sangat tidak terima dengan aturan yang baru dikeluarkan pihak kampus. Dia kemudian protes. 
Dengan cerdasnya dia menguraikan bahwa rambut gondrong tidak ada hubungannya dengan moralitas dan kemampuan belajar. Dia, dengan sangat tajam membuat pernyataan-pernyataan yang mematahkan pendapat pihak kampus tentang mahasiswa gondrong. Lengkap dengan hasil penelitian ini itu, pernyataan tokoh ini dan itu mengenai rambut gondrong. Secara keseluruhan tulisan yang dibuatnya sangat menggambarkan pemikiran yang terkonsep dengan baik, mahasiswa banget, kaum intelektual banget. Sayangnya, dia menuliskan itu pada status jejaring sosialnya lengkap dengan foto bersama teman-teman satu angkatannya yang berambut gondrong. Mereka berfoto bersama, telanjang dada dengan menonggakkan kepala ke atas, memperlihatkan rambut mereka yang panjang. 
Sangat disayangkan, mereka protes dengan berfoto bersama lalu mengoceh di sosial media. Perubahan apa yang mereka dapatkan ? Tidak ada. Aturan kampus tetap berjalan dan mereka potong rambut.
Itu adalah contoh sederhana bagaimana seringnya para mahasiswa yang idealis ini bertindak keliru, atau mungkin juga pikiran mereka yang telah dahulu keliru.
Entahlah.

Aku hanya berpendapat. Benar salahnya tergantung yang membaca.
Intinya ini hari Sumpah Pemuda, hari di mana kita mengingat kembali bagaimana semangat para pejuang kita untuk bersatu. Satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa, Indonesia. Tolong, jangan rusak moment ini.


This entry was posted in

Friday, October 16, 2015

CINTA MEMANG RANDOM

"Cinta itu kayak marmut lucu warna merah jambu yang berlari di sebuah roda, seolah berjalan jauh tapi nggak ke mana-mana, nggak tahu kapan berhenti. Ku jatuh cinta..."

Lagu marmut merah jambu yang didendangkan the Nelwans menemani perjalananku dari kampus menuju rumah malam ini.
Lagu itu sangat sering kuputar akhir-akhir ini.
Sepanjang jalan aku senyum-senyum sendiri mengingat betapa lucunya kita. Bertemu di sebuah kotak 140 karakter, saling sapa dan kenalan, menjadi akrab lalu sering berbagi kisah, berbagi mimpi dan semangat, kemudian dengan proses yang panjang saling mengaku bahwa kita jatuh cinta, tapi sampai hari ini kita tidak juga menjadi pasangan.
Mengapa aku baru menyadari kehadiaranmu ?
Mungkin waktu itu aku terlalu sibuk mengobati luka hatiku. Beberapa saat kemudian aku terlalu pongah dengan tawa bahagiaku karena akhirnya aku bisa merayakan kebebasanku dari bayang-bayang masa lalu. Aku terlalu kaku untuk menyadari bahwa selama ini aku punya kamu. Sekarang aku mulai sering memikirkan sedang apa kamu di sana. Aku mulai khawatir ketika pesanku lama tidak dibalas, dan aku mulai kesal ketika melihat seseorang mengunggah foto bersamamu padahal kalian berfoto ramai-ramai. Ah aku mulai menyadari sesuatu. Jatuh cinta.
Aku sadar ternyata kamu adalah orang yang selalu berdiri di sampingku sampai saat ini.
Kamu yang sampai saat ini masih setia untuk jatuh cinta padaku.
Kamu yang telah jatuh cinta sejak aku masih belajar menggunakan lipstik ketika akan pergi ke kampus di tahun pertama kita kuliah. Kamu yang dengan lapang dada kuabaikan karena aku memilih untuk bersama seseorang yang ternyata berengsek. Kamu yang tetap hangat memelukku ketika aku patah hati, yang selalu membuatku tertawa karena kebodohan dan kekonyolanmu.
Aku mungkin terlalu egois karena baru menyadarinya sekarang.
Setelah sekian lama aku baru benar-benar menyadari bahwa selama ini aku punya seorang "kamu" yang selalu ada, kamu yang menjadi tempat menitipkan keresahan dan kekecewaanku, kamu tak pernah lalai mengemasi kemarahanku yang berhamburan entah di mana-mana, membungkus mereka kembali lalu menyerahkannya dengan bentuk yang lain, yaitu sebuah kebahagiaan.
Entah bagaimana caramu, kamu selalu berhasil membuat kecewaku menjadi hal lucu untuk kutangisi.
Aku jatuh cinta padamu. 

Ah jatuh cinta memang random, datang tiba-tiba, kadang pada sosok yang maya.
Seseorang bertanya padaku, "Bagaimana mungkin kamu bisa jatuh cinta pada orang yang belum pernah kamu temui ?"
Jawabku "Mungkin saja, karena cinta itu bukan dilihat tapi dirasakan."
Semoga perasaan kita selalu sama.


Kamu yang malam ini sedang berusaha banget menjadi lucu di depan juri SUFL, jatuh cinta jenis bego atau kerenkah kita ini ? 

This entry was posted in

Saturday, October 10, 2015

DERAWAN THE HIDDEN PARADISE



Pulau Derawan merupakan sebuah pulau yang terletak di Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Sebuah pulau dengan sejumlah objek wisata bahari yang sangat menawan. Nama pulau ini semakin tidak asing bagi para penyuka wisata bawah laut sejak tahun 2012, saat itu Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menjadikan pulau Derawan sebagai salah satu destinasi unggulan di Indonesia. Sebelumnya pulau ini hanya dikunjungi oleh wisatawan lokal yang kebanyakan berasal dari Tarakan dan Samarinda. Tapi saat ini pulau Derawan tidak hanya dikunjungi wisatawan lokal melainkan mancanegara. 


Pulau Derawan menawarkan keindahan bawah laut yang luar biasa. Diving spot yang terdapat di pulau ini sangat menakjubkan, terdapat beragam biota laut dan terumbu karang yang masih alami.
Ini adalah surga bagi para penyelam.
Jika ingin berkunjung ke Pulau Derawan ada beberapa rute yang bisa menjadi pilihan, pertama kita dapat langsung menuju Kabupaten Berau kemudian melanjutkan perjalanan ke Derawan, jalur kedua apabila dari Jakarta kita harus menuju Balikpapan kemudian ke Tarakan dan dari Tarakan kita menggunakan boat menuju Derawan.


Perjalanan menggunakan boat dari Tarakan ke Pulau Derawan memakan waktu sekitar tiga jam. Karena menggunakan boat sebaiknya perjalanan dilakukan ketika gelombang laut tidak terlalu tinggi.
Sampai di tujuan semua perasaan lelah akan terbayar ketika melihat keindahan pulau ini. Airnya sangat jernih, pasir putih terhampar luas di sepanjang pantai.

 
Pulau Derawan juga terkenal dengan penyunya. Kita akan menjumpai anak-anak penyu di bibir pantai, mereka tidak lari sama sekali ketika didekati. Kita bisa menyaksikan matahari terbenam ditemani penyu, ketika malam tiba kita akan menyaksikan langit luas yang bertaburan bintang. Sebuah pemandangan langit malam yang tidak akan pernah kita temui di kota.


Hal menakjubkan lainnya dari pulau ini adalah, di sekitar Derawan terdapat beberapa pulau lainnya. Yaitu pulau Sangalaki, Kakaban, Maratua, dan Simama. Kelima pulau ini saling berhubungan. Derawan berarti anak perawan, Sangalaki berarti sang suami, Kakaban artinya sang kakak, Maratua adalah mertua dan Simama berarti sang mama. 

Pulau-pulau ini dipisahkan oleh jarak yang tidak terlalu jauh. Dan inilah yang menjadi pesona lain dari Pulau Derawan. Pada pulau Kakaban terdapat sebuah danau yang dinamai Danau Kakaban. Danau ini merupakan salah satu dari dua danau purba yang berisi ubur-ubur tak menyengat yang terdapat di dunia. Danau lainnya yang seperti ini terdapat di Republik Palau. 
Masing-masing pulau menawarkan keindahannya sendiri.

Pulau Derawan masih sangat alami, pemerintah daerah memang tidak menganjurkan adanya pembangunan yang memanfaatkan teknologi secara berlebihan.
Jika kalian adalah penyuka wisata bahari, mencintai pantai dan senja, maka Pulau Derawan harus kalian kunjungi.



(Tulisan di atas merupakan cerita perjalanan temanku Theofilus Irwan)

Tuesday, October 06, 2015

BAHAGIA ITU SEDERHANA 1


Siang ini aku ada janji untuk menonton film hotel Transylvania 2 bersama temanku. Sayangnya ketika aku baru saja selesai mengoleskan NYX nude ke bibirku hujan turun. Aku berencana menerobosnya saja menggunakan mantel, tapi kuurungkan karena semakin deras. Di dalam hati aku juga senang, akhirnya hujan turun. Walaupun gagal menonton, aku tidak sedih karena terganti dengan hujan yang kuharapkan bisa menghapus kabut asap yang telah menutupi seluruh wilayah kota sejak satu bulan yang lalu.
Aku bergegas mengganti pakaianku kembali dan tidur siang. Aku tidur sekitar hmm 120 menit, biasanya lebih parah sampai tiga jam.
Ketika aku bangun, aku bergegas keluar rumah dan mendapati langit berwarna biru degan arak-arakkan putih.
Aku dengan spontan terkejut senang dan berteriak di teras, "haaaa langit udah biru lagiiii". Aku memanggil mama yang sepertinya masih baring-baring di kamar, aku ingin semua orang di rumah melihat langit itu. Mungkin karena terkejut melihatku yang berteriak kegirangan dengan wajah kusut karena bangun tidur, anak-anak yang bermain di sekitar rumah pun ikut tertawa sambil menengadah ke langit. Tak lama mama dan bapak keluar juga, mereka terlihat keheranan melihatku berdiri girang di teras rumah.
Kami sama-sama berdiri di sana, menatap langit yang sudah sebulan lebih tertutup kabut asap itu. Memandang langit yang sudah kami rindukan. Rasanya sangat bahagia melihat ada warna biru dan putih lagi di sana.
Aku terharu, setelah sekian lama aku merindukan biru itu, sore ini Tuhan berbaik hati menurunkan hujan dan menghapus kabut yang menutupinya.
Langit Pontianak telah kembali. 
Mungkin di luar sana, di daerah yang tidak mengalami bencana kabut asap, langit tidak ada istimewanya sama sekali. Tidak akan ada yang menangis karena warnanya biru, di sini aku hampir menangis di teras rumah melihat langit itu  kembali berwarna lagi, tidak sendu seperti biasanya.
Pontianak yang tanpa matahari karena kabut asap sore itu kembali cerah setelah diguyur hujan deras. 
Sungguh, bahagia itu sederhana Tuhan, seperti melihat langit berwarna biru kembali. Terimakasih :)

This entry was posted in

Monday, October 05, 2015

KITA PASTI BERTEMU

Sebelum kalimat-kalimat yang kutuliskan ini menjelma menjadi barisan paragraf aku ingin mengawali tulisan ini dengan ucapan terimakasih.
Terimakasih untuk Jack Dorsey, Biz Stone, dan Evan William. Tanpa mereka Twitter tidak akan ada.
Terimakasih untuk Stand up Comedy Indonesia dan film Comic 8 yang telah mempertemukan kami, secara tak langsung kesukaan kami pada hal yang sama menjadi penyebab mention-mention lucu di pertengahan Maret 2014 itu terjadi. Mention yang berlanjut pada obrolan di DM dan pertukaran pin BBM.
Aku tidak akan lupa bulan Maret, ketika film Comic 8 sedang dipromosikan di twitter dengan gencarnya oleh para pemainnya, yang adalah komik-komik idolaku. Aku tidak akan lupa bulan Maret, di mana semua stasiun televisi menayangkan kondisi Kepulauan Riau yang tertutup kabut asap. Aku tidak akan lupa bulan itu, karena bulan Maret adalah bulan perjumpaan kami.
Aku tidak ingat siapa yang memulai, yang jelas kami adalah orang yang saling mengikuti di Twitter, saling follow. Lalu malam itu ketika aku sedang membaca linimasaku, aku mendapati sebuah tweet aneh yang lucu. Lalu dengan refleks kubalas. Setelah terlibat beberapa kali mention aku mendapati pesan masuk. Seperti perkenalan pada umumnya, kami pun saling tukar pin BBM.
Menyenangkan rasanya ketika kita menemui seseorang yang memiliki banyak kesamaan dengan kita. Kami sepertinya memiliki selera humor yang sama, percakapan dengannya selalu membuatku tertawa. 
Aku bukan orang yang mudah akrab dengan orang lain, kadang kaku, tidak pandai berbasa basi dan terkesan tidak sopan ketika mengobrol. Tapi dengannya obrolan kami seperti tidak berakhir, selalu saja ada hal yang kami bicarakan. 
Dari pembicaraan-pembicaraan itu mulai mengalir banyak cerita, lambat laun kami saling mengenal.
Tidak sepenuhnya mengenal karena kami masih membatasi beberapa obrolan agar sebisa mungkin tidak dibahas, mungkin dia tidak melakukannya. Tapi aku memang membatasi beberapa hal untuk diobrolkan. 
Waktu berlalu dan kami semakin berbagi banyak hal. Tidak hanya berbagi cerita tentang kuliah yang membosankan, kami juga saling curhat tentang seseorang yang sedang kami sukai, kami berbagi semangat agar tidak menyerah karena ternyata kami sama-sama salah jurusan. Aku adalah mahasiswi fakultas hukum dia juga mengambil jurusan itu di salah satu Universitas di Pekanbaru, Riau. Iya dia bukan orang Pontianak. Kami satu angkatan, walaupun dia lebih tua setahun dariku. Kami sebenarnya orang yang malas kuliah, tapi terpaksa harus melakukannya karena kewajiban untuk menyenangkan orangtua.
Kami juga saling menyemangati agar tetap menggenggam impian kami. Mimpi kami sederhana, aku ingin mempunyai sebuah buku yang kutulis sendiri, sedangkan dia ingin menjadi penghibur bagi banyak orang, dia adalah sosok periang yang mudah mengundang tawa. Stand up comedy, itu adalah bagian dari mimpinya. Kami saling mengingatkan agar tidak bosan mencoba mendekati mimpi-mimpi itu.
Aku mulai menganggapnya teman, teman cerita yang artinya teman baik. Jarak bukan lagi suatu masalah, media sosial sangat membatu kami menjadi dekat dan seolah nyata.
Walaupun tidak nyata tapi kehadirannya setiap kali aku perlu pendengar membuatku merasa bahwa dia benar-benar ada. Kadang teman di dunia maya memang lebih asik daripada teman di dunia nyata. Aku mulai menciptakan kehadirannya dalam pikiranku.
Ketika aku jadian dengan seniorku dan obrolan kami tidak seintens yang dulu dia tetap tidak mengabaikanku, aku selalu menghubunginya ketika sedang kecewa dan perlu teman untuk berbagi. Bahkan ketika aku patah hati berkali-kali aku tidak bisa melewati namanya begitu saja untuk kujadikan tempat berkeluh kesah, dia seperti biasa, selalu ada di sana.
Meski sempat beberapa kali kehilangan kontaknya, aku selalu berhasil menemukannya kembali. Tidak masalah aku berganti pin BBM puluhan kali, selagi Twitter masih aktif aku pasti menemukannya.
Aku tidak tahu apa dia memiliki perasaan yang sama padaku. Perasaanku adalah bahwa dia bukan teman di dunia maya, tapi nyata. 
Aku sangat senang bisa mengenalnya, bisa dengan ajaib dan anehnya menjadi dekat dan merasa nyaman dengannya. Dia tidak setampan Avan Jogia, tidak secool Al, tidak keren seperti anak-anak skinny yang selalu bergaya oke bahkan di tengah terik matahari. Dia biasa-biasa saja, foto profil di Twitternya juga tidak menggunakan kamera berlensa mahal, tidak diedit agar jadi sempurna. Dia bukan fotografer, bukan blogger, bukan ilustrator, bukan akademisi, dia adalah lelaki periang yang lucu dan mengerti aku, dia adalah komik idolaku. Dia adalah seorang lelaki yang dengan kesederhanaan dan apa adanya membuatku merasa bahwa aku menemukan orang yang kucari.
Aku ingin dia tahu bahwa ketika dia merasa gagal, merasa kecil di tengah luasnya semesta, merasa ingin menyerah karena ternyata semua hal menyulitkan, dia masih mempunyai satu orang yang selalu berpihak padanya. 
Teruntukmu, yang ada di Pekanbaru, kamu spesial bagiku.
Entah kapan kita bertemu. Tahun depan, dua tahun yang akan datang, sepuluh tahun lagi, atau entah kapan, ketahuilah aku sangat ingin kita bertemu. Sekedar menghabiskan beberapa jam untuk mengobrol, duduk berhadap-hadapan. Aku sangat beruntung karena Tuhan dengan anehnya mempertemukan kita dan semoga rencana Tuhan selanjutnya sesuai dengan doa yang selalu kupanjatkan padanya. Aku ingin bertemu denganmu. 


This entry was posted in

Sunday, September 27, 2015

EASY COME EASY GO


Easy come easy go. Sebenarnya maksud kalimat itu adalah rajin-rajinlah mencuci baju. Hahaha bukan bukan.
Jadi begini..
Yang mudah datang mudah pula pergi. Biasanya kita harus berkali-kali mengalami kehilangan dan merasakan  patah hati supaya mengerti kalimat ini. Supaya kita menyadari bahwa sebuah hubungan baik tidak akan terjalin tanpa waktu yang lama. 
Kenapa begitu ? karena orang yang datang tiba-tiba kemudian langsung menjadi kekasih kita, akan meninggalkan kita dengan mudah pula. Karena mereka tidak mengenal kita dengan cukup baik. Sebenarnya ini tentang waktu. Waktu tidak akan membuat semuanya menjadi tiba-tiba, karena waktu mengajarkan sebuah proses.
Waktu menunjukkan banyak hal. Waktu menunjukkan kepribadian seseorang, waktu pula yang menunjukkan kesetiaan seseorang, kesungguhan dan keseriusannya. 
Waktu yang menyediakan kesempatan supaya kita mengenal seseorang, menemukan kecocokan dan akhirnya merasa bahwa tidak ada yang bisa memisahkan selain waktu itu sendiri.
Waktu mengajarkan kita untuk menjadi gigih dan keras kepala dalam mempertahankan sesuatu, tapi kadang waktu memang kita butuhkan untuk mengikhlaskan sesuatu dan melupakan seseorang. 
Waktu tidak pernah membuat kita tiba-tiba memacari seseorang kemudian bisa dengan mudah memutuskannya.
Di bawah ini ada sebuah cerita yang membuatku benar-benar mengerti kalimat easy come easy go.

Ada seorang gadis yang telah bertahun-tahun kosong hatinya, dia adalah gadis keras kepala yang sangat idealis. Suatu hari dia berkenalan dengan seorang lelaki asing. Perkenalan mereka berlanjut dengan obrolan-obrolan manis lainnya. Sampai akhirnya gadis itu merasa bahwa lelaki itu mempunyai tujuan yang sama dengannya. Lelaki itu dengan segala keasingannya telah memberikannya sebuah dunia baru yang belum pernah dimasukinya, sebuah dunia yang membuatnya bahagia dan mampu melupakan masalah-masalah hidupnya. Kehadiran lelaki itu seperti sebuah jawaban atas doa-doa yang dipanjatkannya pada Tuhan selama ini. Gadis itu mulai merasa bahwa dia jatuh cinta pada lelaki asing itu. Sampai suatu hari lelaki gtepat dua minggu mereka berkenalan, lelaki itu memintanya untuk menjadi kekasihnya, tentu saja dia menerimanya.
Merekapun menjalani hubungan berpacaran, bukan sebagai teman. Tentu saja ada bebrapa hal yang berubah sejak mereka berpacaran, ada sebuah status yang mengikat mereka, ada sebuah ikatan yang harus mereka jaga, kemudian ada orang-orang di sekitar pasangan masing-masing yang mau tidak mau harus mereka kenali juga.
Lelaki itu mempunyai seorang sahabat perempuan yang sudah dikenalnya bertahun-tahun, dia sudah mengenal sahabtnya seperti dia mengenal adik perempuannya. Mereka selalu berdampingan, tolong menolong, saling menyaksikan kejadian demi kejadian yang mereka alami, saling menguatkan ketika salah satunya jatuh, saling mendukung ketika patah semangat, saling menghibur ketika kecewa, bahkan mereka berbagi pelukan ketika salah satunya patah hati. Mereka adalah sahabat.
Gadis keras kepala itu seringkali cemburu ketika menyadari bahwa kekasihnya lebih mengenali perempuan lain dari pada dirinya. Dia cemburu, tapi tidak pernah mengungkapkannya pada kekasihnya karena dia tahu bahwa mereka hanya bersahabat, tapi dia cemburu, dan dia tahu bahwa dia tidak boleh mengungkapkannya.
Gadis keras kepala yang sangat keras, dia meredam semua kesedihannya, tapi tidak mampu meredam kemarahannya, dia menjadi seperti seorang gadis yang agresif, seperti sering marah tanpa alasan yang jelas, padahal sebenarnya jelas, dia marah karena cemburu. Tapi kekasihnya tidak pernah meyadari kecemburuannya karena kekasihnya tidak mengenalnya dengan baik.
Sampai suatu ketika, karena kejadian yang membuatnya merasa sudah tidak tahan lagi, gadis itu mengungkapkan kecemburuannya selama ini. Dia merasa tidak mampu lagi melanjutkan hubungan itu dan dia ingin mereka mengakhirinya.
Lelaki itu datang padanya, dia memohon agar gadis itu memaafkannya, dia tidak ingin berpisah. 
Kemudian mereka kembali bersama. Kembali bersama karena gadis itu terlalu lemah hatinya.
Mereka menjalani hubungan mereka kembali sebagai kekasih, bulan demi bulan berlalu, waktu berlalu, dan mereka mulai mengenali kepribadian masing-masing.Gadis itu semakin mencintai kekasihnya. Tapi kekasihnya semakin berubah. Dia seringkali mengabaikannya dengan alasan-alasan yang sulit diterimanya.
Lambat laun hubungan mereka seolah menjadi beban, tidak mudah menjalaninya, dia ingin juga mengabaikan keberadaan lelaki itu, tapi ikatan mereka sebagai pasangan kekasih tidak bisa diabaikan begitu saja. Karena sesungguhnya gadis itu memang mencintai kekasihnya.
Gadis itu mencoba bertahan, karena dia memang keras kepala. Dia menciptakan harapan-harapan baik yang lambat laun mematahkan hatinya. Kekasihnya berubah total,dia seperti orang lain. Sikapnya tidak sama, perlahan dia menciptakan jarak di antara mereka. Waktunya dihabiskannya bersama teman-temannya, bersama sahabat perempuannya yang membuat gadis itu sering menangis, mereka jarang bertemu, komunikasi tidak lancar, dan gadis itu merasa ditinggalkan.
Dia sedih, merasa bahwa keberadaanya sudah tidak dianggap. Dan lagi, karena sebuah kejadian yang tidak berbeda dengan kejadian sebelumnya, gadis itu mengungkapkan kecemburuannya.
Ketika mengungkapkan kegamangannya, kekasihnya mengatakan bahwa dia jelas memilih teman-temannya dibanding dirinya, dan gadis keras kepala itu mengerti. Maksud kekasihnya adalah dia jelas memilih sahabatnya itu dibanding dirinya. Kekasihnya mengungkapkan bahwa tujuan mereka tidak sama, mereka berbdea, dan hubungan mereka tidak akan berhasil.
 Gadis itu merasa sangat sakit. Merekapun berpisah. Easy come, easy go.
Tidak lama setelah berpisah, gadis keras kepala itu mengetahui bahwa lelaki yang dulu pernah menjadi kekasihnya akhirnya berpacaran dengan perempuan yang sering dicemburuinya, sahabat lelaki itu.
Terkejut ? Tentu saja. Karena lelaki itu pernah mengatakan bahwa dia telah menganggap sahabatnya itu seperti saudaranya sendiri, dia mengatakan bahwa berpacaran dengan sahabatnya itu tidak mungkin. Itu tidak mungkin.
Tapi akhirnya mereka bersama, bukan sebagai teman tapi kekasih.

Easy come easy go.
Dia yang mudah datang akan begitu mudah meninggalkanmu.
Dari cerita ini aku menyadari bahwa seseorang seringkali datang tiba-tiba dalam kehidupan kita kemudian meninggalkan kita. Gadis itu baru mengenal lelaki itu kemudian memutuskan berpacaran, tidak berapa lama mereka berpisah, gadis itu ditinggalkan karena lelaki itu akhirnya menyadari bahwa tujuan mereka ternyata tidak sama, sementara gadis itu masih belum menyadarinya.
Saat ini, semoga kalian sedang bersama orang yang benar-benar telah kalian kenal, orang yang telah melalui banyak waktu bersama kalian. Bukan orang yang datang tiba-tiba.
Sebaliknya..
Lelaki yang menghancurkan hati gadis keras kepala itu menunjukkan bahwa waktu menunjukkan pada kita sesuatu yang mungkin tidak pernah kita sadari, jatuh cinta pada orang yang telah bertahun-tahun menjadi sahabatnya. 
Semua hanya masalah waktu.
Yang datang dengan mudah akan pergi dengan mudah, tapi yang bersamamu melalui banyak waktu tidak akan meninggalkanmu dengan mudah.
Semua ini tentang waktu.

This entry was posted in

Friday, September 18, 2015

BEGINI YA RASANYA TERTIMPA BENCANA

Biasanya aku cuma melihat berita mengenai bencana alam melalui televisi.
Banjir bandang, gunung meletus, tanah longsor dan bencana-bencana alam lainnya.
Selama ini aku hanya bisa melihat penderitaan orang-orang yang mengalaminya melalui televisi dan media sosial, tidak pernah benar-benar merasakan penderitaan mereka.
Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu saat aku yang mengalami hal itu. 
Sampai akhirnya Pontianak tertutup kabut asap.
Bulan September mungkin akan menjadi bulan paling panjang bagi warga Pontianak. Semua orang gelisah menunggu kapan kabut asap ini hilang, kapan hujan akan turun, kapan bencana ini berlalu.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku mengalami penderitaan yang biasanya hanya kulihat di televisi.
Untuk pertama kalinya aku mengalami bencana alam, kabut asap yang sesungguhnya disebabkan oleh ulah manusia sendiri.
Keadaan kota gelap tertutup kabut asap, matahari tidak pernah nampak sejak dua minggu terakhir, asap di mana-mana, sekolah-sekolah diliburkan, semua orang mengenakan masker.
Di Puskesmas dan rumah sakit pasien penderita ISPA setiap hari semakin bertambah, dominannya balita dan lansia. Setiap hari aku mengikuti perkembangan berita mengenai asap tebal ini, Kalbar bukan satu-satunya yang tertimpa bencana kabut asap.
Di luar sana ada Kalteng, Kalsel, Riau, dan Sumatera.
Udara tercemar, tidak ada satu wilayah pun yang luput dari asap di Pontianak. Penerbangan sempat diistirahatkan selama beberapa hari, banyak orang saling menyalahkan.
Ada yang menyalahkan Pemerintah, ada yang menyalahkan pihak perusahaan, ada yang menyalahkan petani. Semuanya saling tuduh penyebab kebakaran hutan.
Aku sendiri saat ini sedang terbaring lemah di kamar, tidak pergi ke kampus karena dadaku sesak. Pilek yang menyerangku semakin parah, keadaannya semakin buruk karena cairan ingusku tidak bisa dikeluarkan. Orang rumah sempat panik, aku tidak diperbolehkan keluar rumah. 
Sekarang keluar rumah bukan sekedar jalan-jalan biasa. Keluar rumah seakan sebuah perjuangan hidup, bernafas merupakan hal yang menakutkan. Aroma asap sangat menyengat, seolah cairan pekat yang masuk ke rongga pernafasan dan langsung menusuk dada, aku tidak tahu apa cuma aku yang merasakan itu. Dadaku terasa berat setiap kali menghela nafas, semakin lama semakin mual. Terasa sesak karena hidung tertutup masker. Ketika mengenakan motor mata terasa perih, setiap dikedipkan mata terasa panas.
Ya Tuhan, semoga bencana ini cepat berlalu.
Doa semua orang mungkin saat ini sama. Memohon agar hujan turun secepatnya.
Sementara Pemerintah yang telah terlanjur dihujat sibuk menanggulangi bencana orang-orang peduli yang berada di seberang sana sibuk menggalang dana untuk didonasikan bagi daerah-daerah yang tertimpa bencana kabut asap, Pontianak salah satunya.
Banyak gerakan yang bermunculan untuk mengumpulkan dana yang kemudian akan dibelikan masker lalu dikirim ke tiap-tiap daerah yang membutuhkan. Salah satunya adalah komunitas Pecinta Buku yang bertempat di Bandung.
Aku sudah hampir dua bulan ini bergabung bersama komunitas berisi orang-orang gemar membaca itu. Dan sangat terharu melihat kepedulian mereka.
Saat ini mereka sedang berusaha menggalang dana untuk korban kabut asap di daerah Sumatera dan Kalimantan. Semoga niat baik ini dilancarkan oleh Tuhan. 
Ternyata begini ya rasanya tertimpa bencana. Rasanya waktu berlalu sangat lambat, menunggu-nunggu kapan hujan turun, setiap pagi bangun dan terburu-buru berlari ke arah jendela. Menatap ke luar dan berharap mendapati kabut asap telah hilang. Setiap hari aku bangun dan berharap kabut asap telah berakhir. Ingin secepatnya September berlalu.

This entry was posted in